Di tengah kegelapan jalanan kota yang dipenuhi asap rokok dan neon menyala, Luna Noire memulai pencarian putus asa untuk adiknya yang dijual oleh pamannya ke dunia gelap mafia. Luna memasuki tempat-tempat gelap yang hanya dikenal oleh kalangan tertentu, menemui karakter-karakter misterius yang bisa menjadi sekutu atau musuh. Dengan setiap langkahnya, dia menyusun petunjuk-petunjuk yang membentuk puzzle keberadaan adiknya. Di tengah-tengah perjalanan, Luna terlibat dalam pertarungan fisik dan mental, mempertaruhkan nyawanya untuk mendapatkan informasi yang dia butuhkan.
Dalam upayanya untuk menyusup ke dunia mafia yang kejam, Luna harus menyamar, membangun jaringan intelijen, dan terlibat dalam perjudian moral yang sulit. Di balik pintu-pintu tertutup rapat, dia menemukan kebusukan dan kekejaman yang melebihi imajinasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gestiagt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transformasi
Suara kicau burung, Matahari yang menembus jendela ternyata pagi telah tiba, dan Luna turun dari kamarnya dengan langkah yang agak ragu. Di bawah, Luca sudah menunggunya dengan penuh kesabaran. Meja sarapan telah disiapkan dengan banyak makanan lezat.
"Waktunya untuk mengahadapi apapun.." Gumamnya menguatkan diri sendiri.
"Selamat pagi, Rachel," sapa Luca dengan senyum tenangnya.
Sejujurnya, Luna masih merasa asing dengan nama itu. Rasanya seperti memakai topeng yang tidak pernah benar-benar cocok di wajahnya. Bahkan saat orang memanggilnya, itu terasa bukan untuknya.
"Iya... selamat..pagi," jawab Luna dengan nada ragu.
Luca menatapnya dengan serius, "Lebih percaya diri! Tubuhmu harus tegap dan anggun," perintahnya nya dengan nada yang menuntut.
Luna menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri di tengah tekanan yang semakin terasa."Demi Freya," gumamnya dalam hati, sambil mencoba tersenyum pada Luca.
"Selamat pagi, Tuan Luca," sambut Luna kali ini dengan sedikit lebih banyak keyakinan dalam suaranya.
Namun wajarkan, jika iya masih canggung, ini pertama kalinya untuknya. pria ini benar benar menuntut dirinya dengan penuh. Itu membuat Luna sedikit kesal.
Ia duduk di meja makan, dihadapkan pada aneka hidangan yang tersaji. Namun, Luna keliru dalam tata cara makannya,membuatnya merasa semakin canggung di hadapan Luca. Ia belum pernah makan dengan banyak peralatan seperti ini.
Melihat kebingungan Luna, Luca dengan lembut berdiri dari kursinya. Langkahnya yang mantap melintasi ruangan membuatnya terlihat begitu gagah.
"Dengar, Rachel," katanya dengan suara yang tenang namun tegas, "ada tata cara yang harus kau ikuti di sini."
Suara Luca yang berbisik dekat telinganya membuat bulu kuduk gadis ini merinding. Luna mendengarkan dengan seksama, mencoba menyerap setiap kata yang diucapkan Luca. Baginya, semua ini seperti pelajaran baru yang harus dia kuasai dengan cepat.
Luca memegang tangan Luna dengan lembut, memberikan arahan yang sangat dibutuhkan. ia merasakan getaran kehangatan dari sentuhan tangan Luca, membuatnya merasa sedikit lebih tenang di tengah kecanggungan.
"Ingat Rachel," ucap Luca dengan suara rendah, "tata cara di meja adalah cerminan dari sopan santun dan rasa hormat kita kepada tuan rumah serta tamu lainnya."
Luna mengangguk, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia mengetahui pentingnya kesempurnaan dalam tata cara makan, terutama di lingkungan seperti ini. Dengan hati-hati, ia mulai mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh Luca.
Luca membimbing Luna mulai dari cara memegang sendok dan garpu, hingga teknik mengunyah dengan pelan dan sopan. Ia memberikan contoh yang jelas dan membantu Luna mengatasi setiap kesulitan.
Meskipun awalnya canggung, Luna semakin percaya diri seiring berjalannya latihan. Ia belajar tidak hanya tentang bagaimana makan dengan sopan, tetapi juga tentang bagaimana bersikap dengan percaya diri di hadapan orang lain.
"Terima kasih.."
Luna tersenyum mengangguk, merasa lega bahwa ia telah melalui bagian yang mungkin paling menegangkan dari hari itu.
"Hari ini seseorang akan merombak penampilanmu," kata Luca dengan senyum samar di wajahnya.
Luna mengangkat alisnya, sedikit terkejut. "Benarkah?" tanyanya, merasa penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Luca mengangguk mantap. "Ya, kita akan memastikan bahwa kamu siap untuk peran barumu dengan sempurna."
Luna mengangguk, mencerna informasi tersebut.
"Selesai sarapan, bersiap-siaplah," lanjut Luca, memberikan instruksi lebih lanjut.
"Baiklah,"
Selang beberapa jam benar saja seseorang datang dengan penampilan yang nyentrik, memasuki ruangan dengan langkah mantap. Ia langsung memeluk hangat Luca, seolah mereka memiliki ikatan yang kuat.
"Apa apaan kau baru menghubungi ku saat membutuhkan ku," ucapnya dengan nada santai, namun tatapan matanya penuh dengan kehangatan.
Luca, tanpa menjawab pertanyaan itu, hanya menatapnya dengan ekspresi serius. "Aku serahkan dia padamu," katanya singkat, mengisyaratkan Luna yang berdiri di sampingnya.
"Haha, tenang saja, aku tahu penampilan seperti apa yang kau mau," ujarnya sambil tersenyum ramah kepada Luna."Tuan Luca, janganlah bersikap dingin terus," tambahnya, mencoba meredakan ketegangan di udara.
"Leona, kau terlalu banyak bicara," Luca merespons dengan dingin, lalu pergi meninggalkan ruangan dengan langkah mantap.
"Dasar..." Leona menghela napas, mengekspresikan ketidaksetujuannya atas sikap Luca.
Lalu, Leona mendekati Luna, mengelilinginya dengan penuh perhatian, menganalisis setiap detail penampilannya dengan seksama.
"Hmm, sesuai seleranya," gumam Leona, memberikan godaan tentang penampilan Rachel."Nona Rachel, apa kamu siap dengan penampilan barumu?" Tanyanya dengan ramah.
"Tentu saja..." Jawab Rachel dengan mantap, mencoba menyembunyikan ketegangan di hatinya.
"Kau sudah cantik, jadi aku akan menambahkan aura yang akan membuat semua orang terpikat padamu," kata Leona sambil tersenyum hangat.
Rachel hanya tersenyum sebagai balasan atas kata-kata Leona.
"Ikuti aku..." ajak Leona dengan penuh semangat, membawa Rachel menuju perubahan yang akan mengubah hidupnya.
Mereka masuk kesebuah ruangan, Leona mempersilahkan Rachel duduk disebuah kursi.Duduk di depan cermin besar, Rachel merasa tegang, mencermati setiap gerakan Leona dengan hati-hati.
Leona mencoba menenangkan suasana, "Santai saja, tidak usah gugup begitu.." dia tersenyum sambil berusaha meredakan ketegangan Rachel.
Rachel mulai merapikan rambutnya, mencoba menenangkan diri di hadapan cermin yang memantulkan bayangan dirinya.
"Nona Rachel, menurutmu bagaimana Tuan Luca? Kau tergoda padanya kan? Haha," goda Leona dengan santai.
"Tidak.." jawab Rachel singkat, meskipun ada keraguan dalam suaranya.
"Jangan bohong, setiap wanita pasti akan menyukainya, walaupun sifatnya agak nyebelin.." Leona tertawa kecil, mencoba membuka percakapan.
"Sudah berapa lama kau mengenalnya?" tanya Rachel, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku, hmm, mungkin sudah 12 tahun.." jawab Leona sambil merapikan rambut Rachel dengan cermat.
Rachel merasa penasaran dengan sisi lain Luca, dan Leona sepertinya memiliki banyak informasi tentangnya.
"Kau pasti sudah sangat mengenalnya ya.." Rachel bertanya dengan rasa ingin tahu yang tidak bisa dibendung, mencoba mengetahui lebih banyak tentang Luca dari sudut pandang Leona.
"Tidak juga, ia selalu menyembunyikan apa yang dirasakannya," jawab Leona dengan nada ragu, memperlihatkan bahwa Luca tidaklah mudah dibaca seperti yang banyak orang pikirkan.
"Bagaimana mungkin, biasanya orang akan tahu sendiri karena sudah lama mengenalnya.." Rachel merespon, mencoba memahami sisi lain dari Luca yang mungkin tidak diketahui banyak orang.
"Mungkin saja kalau manusia normal..haha dia tidak normal.." Leona menjawab dengan nada canda, namun di matanya terlihat ada kebenaran, memberikan kesan bahwa Luca adalah sosok yang misterius dan tidak bisa diprediksi.
"Kau berani berbicara seperti itu karena sudah dekat kan?"
"Ya walaupun agak dingin tapi dia baik.." Leona menjelaskan, mencoba memberikan gambaran yang lebih baik tentang Luca, meskipun terkadang sikap dinginnya menimbulkan kesan sebaliknya.
Selang satu jam, penampilan gadis itu telah berubah.
"Bagaimana, apa kau suka?" tanya Leona dengan senyum puas, memperhatikan reaksi Rachel.
Rachel menatap dirinya di cermin dengan lama. "Ini seperti bukan diriku.." gumamnya, tercengang dengan transformasi yang begitu drastis.
.
.