Aku kira hidupku akan terus dirundung oleh masa lalu. Hinaan, cacian, makian. Aku sudah kenyang dengan semuanya, parahnya lagi Keluargaku sendiri yang memberikannya.
Pergi jauh tidak bisa memastikan kalau aku bisa terlepas dari masa laluku. Perlakuan tidak adil mereka terekam jelas di otak dan hatiku, bahkan meninggalkan Trauma parah padaku. Aku berusaha menjadi orang yang keras selama hidup di ibu kota dengan ibuku, menutup diri dan tidak mudah menjalin hubungan dengan orang.
Tapi setelah bertemu dengan teman lamaku, aku perlahan sembuh bahkan aku menemukan cinta. Lebih tepatnya aku begitu dicintai dan dihargai.
Ternyata ini adalah ujung yang indah yang telah Tuhan berikan untukku setelah melewati 'bukit' terjal dan curam dengan badai yang menggelegar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kata buku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
"Lo yakin baik-baik aja?" tanya Alif padaku, dia benar-benar seperti seorang leader yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan anggotanya.
"Lo liat gue sekarang udah bisa ngomong kan lif?. Gue udah nggak papa, percaya deh sama gue, janji deh. Kalo gue ngerasa nggak enak badan, gue bakal minta pulang ke kalian. Tapi please jangan pulang sekarang" aku memohon kepada mereka yang saling berpandangan, dan akhirnya mereka memutuskan untuk tetap melanjutkan liburan.
"ya udah, mending kita istirahat dulu. Tadi kan cukup menguras tenaga juga. Kita kumpul lagi nanti sekalian sholat maghrib berjamaah" semua orang setuju dengan pendapat Alif, kemudian mereka bertiga keluar dari kamarku dan Siska.
...****************...
Setelah adzan Maghrib berkumandang. Alif, Aldo dan Rendi menghampiri vila kami. Mereka menyiapkan tempat untuk sholat di depan teras vila yang cukup luas. Salah satu alasan kenapa mereka bisa aku terima adalah karena mereka menjaga dan saling mengingatkan kewajiban kita, tidak membuat siapapun risih karena melakukan ibadah sendiri.
"udah siap semua kan?" tanya Aldo ketika aku dan Siska sampai, kami pun langsung melaksanakan sholat dengan di imami Alif.
Meskipun sholat dalam keadaan dingin, tapi entah kenapa terasa hangat dan tentram hati ini, apa mungkin karena aku mulai melepas semua beban yang terus bergelayut di dalam hati. Mungkin saja seperti itu.
Setelah sholat Maghrib berjamaah, kami tetap duduk di tempat masing-masing. Mempertahankan wudhu agar tidak batal, sepertinya mereka sedikit trauma dengan air disini. Makanya lebih memilih menjaga wudhunya sampai adzan isya tiba.
...****************...
Ini adalah hari terakhir aku dan teman-teman berlibur. Untung saja aku menolak ajakan mereka untuk pulang di hari kita sampai. Kalau tidak, aku akan melewatkan pengalaman berharga bersama dengan teman yang aku rasa sekarang tambah dekat dan kompak.
Sambil menunggu mobil siap. Kami memutuskan untuk makan di cafe yang cukup unik. Cafe itu berada di sungai, tentu saja sungai yang dangkal dan alirannya tidak deras sama sekali. Sekilas itu terlihat seperti sungai buatan yang membuat pengunjung menikmati hidangan dengan merendam kakinya.
"Lo nggak papa Dis kita makan disini?" tanya Siska ketika sepatu kami sudah terlepas, dia benar-benar mengkhawatirkanku yang trauma dengan sungai.
"Sis... Gue emang takut sama sungai. Tapi Lo lihat deh kalo begini bentuknya! Ini bukan sungai, lebih ke selokan" ucapku sombong kemudian berjalan mendahului mereka menuju bibir sungai.
Meskipun ini sungai kecil. Tapi ternyata tetap saja aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku terkejut saat menginjak dasar sungai berupa tumpukan batu yang akan bergerak jika kita pijak.
Aku hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Untung saja sebuah tangan yang langsung meraih tanganku, dengan sigap aku cengkeram tangannya.
Jantungku kembali berdetak tidak stabil, nafasku jadi tersengal. Aku panik dan masih terlintas kejadian-kejadian menyakitkan itu.
"dis. Tenang... Lo aman, Lo nggak papa" ucap seseorang yang tangannya masih aku genggam dengan erat.
Aku menoleh pada sumber suara. Dia masih orang yang sama, orang yang menyelamatkan ku ketika tenggelam kemarin. Alif.
"lihat.. Lo nggak papa kan? Lo bahkan bisa masuk ke sungai dengan suka rela, perlahan tapi pasti, Lo bisa sembuhin trauma Lo Dis" ucap Alif memberiku afirmasi positif.
Dia bak mentor yang berhasil mempengaruhi muridnya dengan pidato yang tenang, tapi syarat akan makna.
Perlahan aku pun menegakkan badan. Mencoba berdiri di atas kakiku sendiri, merasakan kalau mereka kuat melawan aliran air yang tidak deras ini. Menarik nafas, kemudian meyakinkan diri sendiri kalau aku bisa menerjang sungai ini.
Aku berusaha mencengkeram batu-batu di dalam sungai, sulit rasanya. Tapi aku yakin bisa melakukannya. Perlahan aku lepaskan tangan Alif, berjalan menuju meja yang masih kosong.
Aku terburu-buru saat meraih meja, jujur saja merasa bangga dan tidak percaya karena bisa melalui sungai 'kecil' ini. Setelah sampai, aku langsung duduk dengan membuang nafas, dan ternyata mata semua pengunjung tertuju kepadaku.
Mereka menatap dengan berbagai ekspresi. Ada yang bertanya-tanya, ada yang menduga dan ada juga yang menyimpulkan sesuka hati mereka. Jujur aku gugup, tapi sebuah pelukan aku dapatkan. Entah sejak kapan Siska sudah ada di sampingku.
"Lo keren dis. Gue yakin kalau trauma Lo bisa sembuh" ucapan Siska membuatku percaya diri. Aku tidak peduli terhadap orang-orang yang memandangku sebagai 'pick me', yang terpenting adalah aku mempunyai saudara yang mengerti keadaanku dan mau menerimanya.
Aku semakin bertekad untuk menyembuhkan trauma dan semua luka yang ada di hatiku. Dengan cara, aku harus hidup bahagia bersama dengan orang-orang yang mencintaiku, dan tidak boleh terus menerus mengingat masa lalu. Apalagi mengekang rasa sakitnya.
...****************...
"nak... Ayo makan dulu" sayup-sayup aku mendengar suara ibu setelah bunyi ketukan pintu beberapa kali. Sesampainya di rumah tadi, aku menyempatkan diri untuk mandi dan menyantap sarapan yang ibu masak, kemudian wanita yang sudah melahirkanku itu memintaku untuk istirahat.
Ibu memang pengertian sekali terhadap anaknya. Selalu saja memintaku untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri, padahal aku baru pulang dari liburan. Bukannya pulang dari lemburan.
Dengan badan yang cukup segar, aku bangun dan meregangkan badan, kemudian berjalan menuju pintu yang masih diketuk oleh ibu.
"udah dhuhur ya Bu?" aku bertanya sambil melirik jam dinding yang menempel tepat di atas lukisan mawar. Jarum pendeknya masih di angka dua belas, tapi jarum panjangnya sudah lengser ke angka enam.
"sudah.. Kamu sholat dulu gih, baru nanti makan. Ibu tungguin" aku tersenyum lebar mendengar kata-kata ibu yang terakhir. Apa sih yang tidak ibu ketahui tentang aku. Dia selalu tahu apa yang membuatku senang, paham betul kalau anaknya tidak bisa makan sendirian. Bahkan aku masih sering disuapi oleh ibu.
Setelah berucap demikian, ibu kembali ke meja makan. Sedangkan aku bergegas mengambil air wudhu agar ibu tidak terlalu lama menunggu.
"mau ibu suapi?" tanya ibu setelah mengambilkan lauk untukku.
"nggak deh, Disa makan sendiri aja" ucapku sok dewasa. Padahal nyatanya aku menyesal sudah menolak tawaran ibu, bukannya tidak mau. Aku hanya ingin ibu juga mengisi perutnya, aku yakin ibu belum makan siang karena menungguku saja.
Setelah makan. Aku dan ibu duduk santai di halaman belakang. Meskipun tidak luas, tapi untungnya lumayan asri. Cocok sekali untuk membahas hal yang tidak penting, tapi kegiatan seperti itu menjadi penting agar hubungan tetap hangat.
Aku bercerita tentang bagaimana liburanku kemarin, tentu saja cerita aku tenggelam aku hapus. Bukannya berbohong, hanya saja berusaha menjaga kondisi ibu.
Orang tua mana yang tidak akan khawatir jika anaknya bercerita tentang pengalaman tenggelamnya. Meskipun sekarang anaknya sudah di depan mata. Tapi tetap saja aku tidak akan bercerita. Jika ditanya kenapa tidak cerita, maka aku akan menjawab dengan tenang, 'tidak ada yang bertanya padaku'.
"ibu jadi pengen jalan-jalan. Gimana kalo malem ini kita pergi ke alun-alun?" ucapan ibu sungguh membuatku heran, ibu tidak pernah keluar rumah. Tapi kenapa tiba-tiba ingin keluar bersamaku.
"sekalian belanja aja gimana?" ibu kembali berkata karena aku masih diam. Biasanya ibu menolak ketika aku memintanya keluar untuk sekedar menonton. Tapi kali ini ibu inisiatif memintanya langsung padaku.
"tadi ibu lihat vidio anak lagi belanja sama ibunya" aku juga ingin melakukan hal yang ibu sebutkan tadi, tapi aku belum bisa merespon ajakan ibu karena masih syok.