Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hangat di Luar, Dingin di Rumah
Entah siapa yang memulai, kedua insan beda usia itu kini larut dalam pelukan hangat di atas pembaringan yang empuk.
Winta terbuai arus, mengikuti setiap usapan Rangga, sosok pria yang gagah. Mereka saling menyalurkan kehangatan hingga akhirnya menyudahi pergumulan itu dengan napas terengah-engah.
"Sayang, siapa bilang Umi tua? Umi luar biasa,"
bisik Rangga.
"Abi yang luar biasa."
"Umi, nikah yuk."
"Nikah bagaimana? Abi kan punya istri. Yang ada, nanti Abi malah meninggalkan Umi."
"Tidak, Sayang. Abi sungguh-sungguh cinta sama Umi."
"Anak-anak Umi tidak akan pernah memberi izin."
"Biar Abi yang bicara langsung pada mereka. Abi serius, Umi. Dosa kalau kita terus-terusan seperti ini."
"Apa Abi nekat bicara dengan anak-anak Umi? Lalu bagaimana dengan istri Abi?"
"Abi tidak mendapat pemenuhan hak sebagai suami secara utuh dari dia. Dia terlalu sibuk sampai tidak bisa lagi memperhatikan kebutuhan Abi."
"Alasan klasik."
"Abi serius, Umi. Sikapnya dingin dan dia sering mengeluh lelah."
"Sudahlah, Sayang. Percuma bicara dengan anak-anak, tidak akan diizinkan."
"Tapi, Umi..."
Winta membungkam bibir Rangga dengan kecupan manis, mengundang kembali gairah yang sempat mereda.
Saat sore menjelang, Rangga dan Winta melangkah keluar dari hotel menuju kantor Rangga untuk mengambil mobilnya.
"Umi, hati-hati di jalan ya. Beri kabar kalau sudah sampai."
"Iya, Sayang. Terima kasih."
Setibanya di rumah yang masih sepi karena anak dan cucunya belum pulang, Winta menyandarkan tubuhnya di kamar. Sorot matanya memancarkan rona kebahagiaan yang membuncah.
Begitu pula dengan Rangga. Wajahnya berseri-seri hingga memancing rasa penasaran Viona, istrinya.
"Papa tampak senang sekali?"
tanya Viona saat Rangga tiba di rumah.
"Biasa saja."
"Kok sampai bernyanyi-nyanyi?"
"Papa memang sering bernyanyi, kan?"
Malamnya, Rangga langsung tertidur lelap, terlelah oleh pertemuannya dengan Winta siang tadi. Viona merapat, melingkarkan tangannya di pinggang sang suami.
"Papa, cepat sekali tidurnya?"
bisik Viona pelan.
Rangga terbangun samar.
"Kamu belum tidur?"
"Belum... Papa, boleh?"
"Bukannya kamu lelah?"
"Malam ini lagi ingin, Pa..."
"Papa lelah, Ma. Besok saja ya,"
jawab Rangga datar, membalikkan ucapan yang kerap dialamatkan Viona padanya setiap kali ia membutuhkan kehangatan.
"Ya sudah..."
Rangga kembali terlelap hingga mendengkur halus, tanpa menyadari Viona terisak perlahan di sampingnya.
"Aku memang salah selama ini mengabaikanmu. Tapi kenapa hati ini terasa begitu cemburu melihat binar bahagiamu? Aku sangat takut ada wanita lain di hatimu,"
bisik Viona meratapi nasibnya dalam hati.
Malam berlalu berganti pagi.
"Pa, nanti pulang makan siang ya? Mama masak khusus buat Papa,"
ujar Viona lembut saat menyiapkan keperluan Rangga.
"Kamu tidak pergi keluar?"
"Tidak, Pa. Mama di rumah saja."
"Teman-temanmu tidak berkunjung?"
"Tidak ada. Mama di rumah saja, mau memasak buat Papa."
"Oh, baiklah. Nanti Papa pulang untuk makan siang."
Sesampainya di kantor, Rangga memeriksa ponselnya dan mendapati pesan dari Winta.
“Assalamualaikum, Abi. Nanti Umi temani makan siang ya? Di restoran kemarin saja, makanannya enak.”
“Iya, Sayang. Umi langsung tunggu Abi di sana ya.”
“Siap, Sayang.”
Sementara itu di rumah, suasana dapur tampak lebih hangat dari biasanya. Viona sibuk meracik hidangan favorit Rangga dengan telaten. Jemarinya yang biasa enggan menyentuh alat masak, kini sibuk memotong bumbu dan menata piring-piring terbaik di meja makan.
Penyesalan mendalam merayapi hatinya. Viona sadar betul betapa bertahun-tahun ini ia terlalu egois, melupakan kewajibannya sebagai istri karena sibuk dengan urusannya sendiri dan mengabaikan sang suami. Hari ini, ia ingin memperbaiki semuanya. Ia ingin menghangatkan kembali dinginnya pernikahan mereka.
Sekitar pukul sebelas tiga puluh, semua hidangan telah tertata rapi. Viona mematut diri di depan cermin, mengenakan pakaian terindahnya, lalu duduk setia di ruang makan menunggu kepulangan Rangga. Setiap kali mendengar deru mesin kendaraan lewat di depan rumah, matanya berbinar dan ia bergegas melihat ke luar jendela.
Namun, jarum jam terus bergulir. Pukul satu siang lewat, pintu rumah belum juga terbuka. Hidangan di atas meja mulai mendingin, seperti hatinya yang perlahan digerogoti rasa cemas.
Di tempat lain, di sebuah restoran bernuansa hangat, Rangga sedang tertawa lepas sambil menyuapkan makanan ke mulut Winta. Sama sekali tak teringat pada sosok istri yang kini duduk terdiam di meja makan rumah mereka, menatap masakan yang mendingin dengan linangan air mata yang menetes perlahan.
Bersambung