anak dan istriku sudah pergi.
kehidupan semakin sulit.
mau bagaimana lagi.
mesti di lalui dengan penuh semangat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 3112, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
“Beli…“
Ada yang memanggil.
‘Yah kakek kakek. Lalu saja….“
Aku terus melaju. Aku mengira kalau dia hanya main-main saja. Soalnya begitu. Masa kakek suka cilok. Walau tidak menutup kemungkinan sih. Tapi begitulah. Segalanya bisa.
“E, Saya mau beli.“
‘Nah gitu dong.“
Nampak si kakek dengan cincin.
“Jalan aja lu.“
“Hehe…“
‘Maklum lagi sibuk.’
Aku hanya cengengesan. Soalnya tak mengira si kakek ini begitu suka dengan makanan beginian. Makanan anak-anak yang kurang lebih sama dari hari ke harinya. Namun dia dengan senang membelinya. Dan bakalan makan banyak-banyak. Memang terkadang sesuatu yang aneh begitu membuat si orang tua bakalan menyukainya. Yang bisa jadi terkenang. Sebab mas kanak-kanak terkadang bisa membangkitkan suasana sedikit beda. Di mana akan hadir dengan sendirinya, supaya bisa menikmati masa lalu yang terulang itu dalam fantasinya sendiri. Sehingga kala ada jajanan yang murah begitu membuat dia terkenang dan ingin menikmatinya lagi. Serta kalau perlu berbagi dengan anak-anak lain. Sehingga pada suka juga dengan yang murah begitu saja. Soalnya yang mahal juga belum tentu mau melakukan hal yang sama di sepanjang jalan, sembari menawarkannya tanpa mereka lakukan dengan sungguh-sungguh, untuk kemudian berbagi dengan sekitarnya. Sebab orang-orang yang membutuhkan begini sudah pasti mau melakukan, dengan tujuan supaya laku saja. Sehingga banyak pengalaman yang lewat, atau peristiwa yang tidak sama di setiap harinya terjadi namun dibiarkan lalu begitu saja. Sebab walaupun jalur yang di lalui sama saja, tapi yang melintas serta apa yang terjadi sepanjang perjalanan itu sedikit berbeda, yang mewarnai kisah kesehariannya.
“Mana. gua mau beli. banyak lagi.“
‘Berapa…’
“Ini. Seratus.“
‘Wih banyak itu.’ Aku hanya manggut. Jumlah yang tidak sedikit. Bayangkan kalau satu bungkus saja Cuma lima ribu saja, maka bisa dua puluhan. Mana habis kalau di makan sendiri. Kecuali sangat lapar. Jika merasakan demikian juga bakalan merasa bosan. Walau untuk lauk juga bisa, dengan nasi yang mengiringinya. Namun kalau banyak begitu tentu bakalan membuat rasa yang tidak bagus. Hanya untuk di nikmati sendiri juga kurang pas jika alasannya hanya soal kelaparan saja. Kan bisa membeli gulai kambing, atau tengkleng gajah, yang jika di takar dengan nilai uang tersebut masih di rasa cukup. Atau kalau ingin makanan berkuah lain, semisal daging cincang di warung padang juga masih bisa. Tapi ada kalanya kalau untuk berbagi dengan sesama, maka hal ini tentu sangat baik untuk di hargai. Dengan demikian, kitab isa menikmati sebuah makanan nikmat, namun juga bisa di rasakan juga oleh orang lain yang belum tentu kala itu lagi punya uang. Walau tentu saja tak mahal, tapi terkadang ada uang yang mesti di gunakan untuk perkara lain, sehingga uang yang sedikit itu kalau di pakai untuk membeli barang lain, maka kebutuhan pokoknya menjadi akan terabaikan. Inilah terkadang yang di pikirkan oleh orang berkebutuhan khusus, yang merasa tidak punya uang walau di kantongnya ada uang. Karena ada satu kebutuhan utama yang mesti di dahulukan, di bandingkan satu kebutuhan lain yang di rasa masih bisa di tahan untuk di nikmati lain waktu.
“Ya…“
“Aku sih minta sebungkus saja. Nanti yang lain di bagi ke orang ya?“
‘Oke.’
Aku senang. Aku lalu memberi dia sebungkus. kemudian dia balik.