Karena memiliki masalah keluarga yang cukup rumit, membuat Ranaya melampiaskan hidupnya di lantai disko. Motonya: Boleh nakal, asal tahu batas. Sayangnya, malam itu, batasnya benar-benar terlewati. Sebuah kecelakaan brutal membuat tubuhnya koma, sementara rohnya malah asyik gentayangan!
Sialnya, jadi arwah itu enggak segampang di film-film. Niat hati melompat elegan masuk kembali ke tubuhnya, Ranaya malah nyungsep di kolong ranjang. Masalah bertambah pelik ketika ia tau apa penyebab kecelakaan yang menimpanya. Ternyata ada udang di balik bakwan.
Berbekal status hantu amatiran dan bantuan seorang cowok indigo yang super cuek bebek, Ranaya harus menyelamatkan nyawanya sendiri. Kalau gagal? Ya wassalam, siap-siap saja jadi Kuntilanak Gen-Z selamanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunti Berakhlak
Masih pagi buta. Ranaya sudah nangkring di Pohon Nangka dekat kosan Arka. Iyem, si penunggu asli, duduk tak jauh dari Ranaya dengan wajah tegang.
"Lu tau kamar Dipta, eh maksud gue, si Arka itu di mana?" tanya Ranaya. Ia sudah tidak sabar untuk menjalankan ide barunya.
Iyem mengangguk pelan. "Tau. Tapi jam segini Arka pasti masih tidur."
"Ayok anterin gue!" ucap Ranaya. Seperti sebelumnya, Ranaya memerintahkan, bukan meminta bantuan. Tak mengindahkan informasi dari Iyem kalau kemungkinan Arka masih tidur.
Ragu-ragu, Iyem melayang terlebih dulu sebagai penunjuk jalan. Sebenernya ia takut masuk ke area kosan karena katanya di sana sudah ada pagar gaib yang membuat setan-setan akan mental jika melewatinya.
"Eh, kok bisa?" gumam Iyem keheranan saat ia bisa masuk ke dalam area kosan tanpa ada penghalang apapun.
"Bisa apanya?" tanya Ranaya.
"Itu, kemarin aku sempat denger. Salah satu penghuni kos bilang kalau ada Dukun yang udah magerin kosan supaya setan-setan enggak bisa masuk dan gangguin penghuni kos."
"Dukunnya paling Dukun abal-abal," sahut Ranaya. Karena kan jaman sekarang banyak yang suka ngaku-ngaku, demi mendapatkan uang.
Kini, kedua Kuntilanak itu berhenti di depan sebuah kamar paling ujung yang berada di lantai dua.
"Ini kamarnya," ucap Iyem.
"Kok lu tau banyak hal sih tentang Arka?" Ranaya menatap Iyem dengan mata yang menyipit, penuh curiga.
"Eum, anu, i-itu—" Iyem gelagapan tak tau harus menjawab apa. "Aku balik dulu, ya!" Kuntilanak Pohon Nangka itu melayang pergi, kabur seperti maling yang kepergok pemilik rumah.
"Ck! Dasar Kunti Penguntit!"
Ranaya menatap pintu kamar Arka. Menimbang-nimbang, antara masuk atau tidak. Meskipun dia dikenal nakal, tapi Ranaya masih punya sedikit sopan santun, kok, tidak asal nyelonong masuk ke rumah orang!
"Misi..." Ranaya mengentuk pintu kamar Arka. "Arka, lu udah bangun?"
Hening, tak ada jawaban. Ranaya celingak-celinguk, kamar-kamar lain juga masih sepi, wajar sih, masih jam lima pagi.
"Aduh, kayak beneran masih tidur, deh." Ranaya mondar-mandir di depan pintu. Cukup lama, sampai ia sadar korden jendela kamar Arka sedikit terbuka.
Ranaya mengintip dari sana, hanya ingin memastikan, apakah Arka masih tidur atau pura-pura tidak mendengar suaranya tadi.
Di dalam kosan yang tertata rapi itu, tepat di atas kasur tipis dengan seprai berwarna hitam bermotif garis-garis putih, Arka tampak tertidur pulas, tengkurap tanpa menggunakan baju, hanya celana pendek berwarna merah marun.
Ranaya bisa melihat dengan jelas punggung dan bahu Arka yang tampak lebar. Spontan, Ranaya langsung menjauhkan kepalanya. Merasa tidak sopan karena sudah mengintip ke kamar orang, apalagi yang diintip dalam keadaan seperti itu.
Buru-buru Ranaya kembali melayang ke arah Pohon Nangka. Memang sebaiknya ia menunggu saja sampai Arka bangun.
Iyem yang melihat Ranaya kembali tak berani bertanya kenapa. Takut Ranaya malah kembali menanyakan tentang ia yang tau banyak hal tentang Arka.
Alhasil, keduanya duduk dengan saling diam-diaman cukup lama di atas pohon nangka.
"Lu mati karena apa?" tanya Ranaya untuk mengalihkan pikirannya dari bayangan Arka yang tidur tanpa baju. Karena sial, hal itu terus berputar di kepalanya.
Iyem menoleh. "Kecelakaan," jawabnya dengan nada yang sangat pelan.
"Terus, kenapa lu masih gentayangan?"
Iyem menggeleng. "Aku enggak tau."
"Emangnya lu enggak ngerasa gitu, kalau ada urusan lu yang belum selesai, atau apa?"
Iyem menggeleng lagi. Ranaya pun jadinya tidak tau harus berkata apalagi.
"Kamu, kenapa ada di sini?" Iyem balik bertanya.
"Kecelakaan juga. Lu kan pernah masuk kamar rawat gue. Tau itu kamar gue dari mana?" Tatapan Ranaya kini terlihat serius.
"Eum, itu." Iyem tertunduk. "Aku diam diam ikutin kamu. Maaf, ya."
"Hmm. Udah gue maafin, tapi awas aja ya kalau lu berani ganggu nyokap gue lagi, gue sikat lu!"
"Aku janji, enggak akan lakuin itu lagi! Janji!"
Ranaya tersenyum puas melihat raut wajah takut Iyem. Lumayan juga untuk mengisi kegabutan Ranaya yang sepertinya harus menyusun banyak agenda lagi agar ia tidak gabut seperti ini karena harus menunggu seseorang bangun pagi.
lnjut kk, aku makin penasaran, ditunggu bab selanjutnya nnti malem
🏃♀️