demi menjaga adiknya yang disayang huzaifi memilih teman baru adiknya menjadi istri kontraknya dengan syarat jangan berharap untuk dirinya jatuh cinta.
akan tetapi dengan ketulusan istrinya menggoyahkan hatinya, bisakah istrinya mendapatkan cinta suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ana jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 14 Kejadian malam itu
"Jelas itu nggak mudah untuk aku putuskan, ini hubungan dua keluarga, nggak mungkin aku memutuskan sepihak". Jawab Nara dengan tegas. Mendengar jawaban nara membuat huzaifi tersenyum tipis, tidak tahu dengan dirinya sekarang.
"Waktu itu kita yang keras kepala untuk menikah, dan sekarang tiba-tiba membatalkan pernikahan, itu terlihat jelas aku yang mempermainkan perasaan Om dan tante." Timpal Nara kembali menjelaskan. Melihat nara yang memperdulikan perasaan kedua orang tuanya, membuat huzaifi tidak asing dengan kehangatan tersebut, dalam sekejap bayangan tiara seakan berada dihadapannya dengan tersenyum lebar.
"Tiara. " Ujar huzaifi lirih. Tanpa sadar dirinya memegang pipi nara dengan lembut.
"Sepertinya kamu salah orang deh." Ucap nara dengan sewot hingga membuat Huzaifi tersadar dari lamunannya lalu melihat jam seolah tak terjadi apa-apa.
"Ehem... jika sudah selesai, ayo pulang, adetra dari tadi nanyain kamu." Ujarnya tanpa bersalah.
"Kamu merindukan mantan kamu ya? kenapa nggak kamu temui dia? walaupun dia sudah tiada, kamu bisa berkunjung ke makamnya." Tanya Nara dengan penasaran.
"Kamu? kenapa kamu tidak berkunjung ke makam kedua orang tua kamu?" Huzaifi balik bertanya kepada.ya. Nara terdiam sejenak kemudian tersenyum.
"Karena mereka udah tenang, aku yang belum bisa merelakan mereka, tapi karena aku juga yang menyebabkan kecelakaan itu." jawab Nara dengan sendu berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh.
Masih teringat dengan jelas oleh nara apa yang telah terjadi pada malam kecelakaan tersebut.
Malam itu hujan deras hingga membuat jalanan sepi kecuali mobil yang melintas. Nara bersama kedua orang tuanya sedang makan malam bersama diluar dengan penuh bahagia.
"Pah, nara akan ikut lomba seni." Ujar Nara memberi tahu dengan penuh semangat dan gembira.
"Seni?" Jawab papah merasa tidak suka.
"Ya, Universitas Riau mengadakan lomba dari jurusan bahasa Indonesia dan sastra, jadi nara mau ikut." Ujarnya dengan penuh semangat.
"Tapi nara, itu nggak ada kaitannya dengan kedokteran, bukannya kamu mau jadi dokter?" Tanya papah dengan dingin.
"Apa salahnya sih pah, menurut mamah itu juga bagus kok, biarkan dia mengembangkan hobinya." Jawab mamah mendukung keinginan putri tercintanya.
"Papah nggak setuju, nara harus fokus dengan tujuannya yaitu dokter, yang tidak berkaitan dengan dokter nggak perlu ikut!." Ucap papah dengan tegas, mendengar perkataan papah dirinya sedih kemudian pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang makan malam.
Mamah mengejar nara dan menenangkannya agar tidak sedih atas perkataan papah. "Kamu jangan sedih, papah hanya khawatir kamu tidak fokus dengan cita-cita kamu yang ingin menjadi dokter." Mamah memeluk nara dengan hangat, tidak lama kemudian papah datang menyusul nara dan mamah untuk pulang.
Diperjalanan nara hanya diam dan melihat keluar jendela mobil, terlihat hujan yang masih turun dengan derasnya.
"Kamu harus fokus untuk ujian, jangan sampai kamu gagal masuk universitas kedokteran, ingat kamu yang ingin menjadi dokter!" Tegas Papah kembali menekan.
"Tapi pah, hanya ikut lomba seni itu juga nggak buruk, setidaknya beri nara sedikit kebebasan." Nara membantah perkataan papah dan meminta sedikit kebebasan untuk dirinya.
"Sudahlah, mau sampai kapan kalian akan bertengkar?" Balas mamah berusaha melerai.
"Kebebasan? kamu itu masih sekolah, masih butuh bimbingan, jangan karena ini membuat kamu menyesal." Jawab papah dengan penuh amarah. Karena tidak melihat jalan, membuat papah hilang kendali dan menabrak pembatas jalan hingga membuat mobil terguling.
Tanpa disadari air mata nara mengalir begitu saja, "kebebasan yang aku inginkan bukan seperti ini, aku ingin papah mengerti apa yang ingin ku lakukan, walaupun hanya sekedar lomba". Nara menangis terisak-isak hingga membuat huzaifi melepaskan jasnya dan meletakkan di kepala nara, agar orang tidak melihatnya yang sedang menangis. Huzaifi terus menunggu nara dan sesekali melihat jam di tangannya, dan kembali melihat nara yang masih tenggelam dalam kesedihannya.
Bintang masih tidak menerima dengan kenyataan yang pahit ini, rasa kecewa, iri dan kebencian telah tertanam di dalam hati dan pikirannya, ia melihat ayah yang telah pulang dari kantor, bergegas bintang menghampiri ayahnya.
"Ayah udah pulang?" Sambut bintang dengan hangat.
"Ya, kamu belum tidur?" Tanya ayah dengan sikap dinginnya.
"Belum yah, lagi belajar untuk ujian besok." Ujar bintang dengan manja.
"Jangan memaksakan diri, kalau lelah kamu bisa istirahat dulu." Pesan ayah dengan sorot mata dingin
"Iya yah." Bintang menjawab dengan tersenyum walaupun sebenarnya hati kecilnya terasa sakit.
"Oh iya bintang, apa kamu mendengar pembicaraan ayah dan bunda?" Tanya ayah dengan mencari tahu. Bintang terdiam, takut akan kemarahan ayah baginya itu untuk pertama kalinya dirinya melihat ayah marah besar.
"Maafkan bintang yah." Jawabnya dengan takut
"Bintang, kamu masuk kamar sana, belajar jangan sampai kamu kalah dengan nara!" titah bunda yang keluar dari kamarnya.
"Tapi bun."
"Masuk." Bentaknya bunda menyela perkataan bintang, karena takut dengan kedua orang tuanya, bintang bergegas masuk kamar dan menguncinya.
"Kenapa bunda galak banget, nggak biasanya, apa lagi minta aku ngalahin kak nara." Bintang rebahan di kasur dengan suasana hati yang kesal dengan semuanya.
"Lagi pula, ayah penyayang, kenapa aku bukan anak kandung ayah? aku harus cari tahu siapa ayah kandung ku." Bintang menyusun rencana untuk masa depannya, namun semua buyar karena pertengkaran ayah dan bunda yang kembali mengambil perhatiannya.
"Jam segini baru pulang? yakin kamu kerja mas? aku lihat kamu makan siang bareng perempuan, siapa dia? pacar kamu?" Tanya bunda penuh dengan rasa curiga bercampur kemarahan.
"Apa hubungannya dengan kamu? setelah surat cerai keluar, kamu harus angkat kaki dari rumah ini!" Tegasnya.
"Enggak bisa gitu dong mas, aku ini istri kamu, yang menemani kamu untuk kesuksesan kamu." Sahut bunda tidak setuju.
"Menemani? ini yang kamu sebut menemani?" Ayah mengeluarkan foto bunda dengan pria lain dengan sekejap membuat bunda terdiam karena terkejut.
"Apakah dia ayah kandung bintang? atau dia pria lain yang selalu membawa kamu jalan-jalan dan melupakan suami kamu?" Cecar ayah dengan emosi.
"Cukup mas." Pinta bunda dengan tegas.
"Cukup apa? cukup semua bukti yang telah aku dapatkan?" Tanya ayah dengan sorot mata yang tajam. Bintang keluar dari kamar dan mengambil foto diatas meja.
"Bintang." Sahut ayah yang terkejut ketika bintang tiba-tiba datang, Dengan sedih dan kecewa bintang berlari keluar dari rumah, ayah bergegas mengejarnya.
Mata sembab dan memerah membuat nara malu memperlihatkan wajahnya kepada huzaifi. "Sudah selesai?" Tanya huzaifi dengan lembut, Nara hanya menganggukkan kepalanya dengan menutup wajahnya.
"Ayo kita pulang" Huzaifi menyodorkan saputangan kepada nara, dengan rasa malu nara mengambil saputangan tersebut untuk membersihkan ingusnya, kemudian huzaifi mengulurkan tangannya dengan tatapan hangat, dengan senang hati nara meraih tangan huzaifi lalu mereka pulang.
Semangat kk, aku juga pemula. kita sama-sama belajar 🥰