Usai mengalami gagal nikah sebanyak tiga kali membuat Sabrina tidak mau lagi membuka hati untuk semua pria yang mencoba mendekatinya. Hingga pada satu kesempatan dimana ia harus kembali dipertemukan dengan sosok pria sombong dan egois bernama Evan yang notabene adalah musuh bebuyutannya pada zaman kuliah dulu. Entah sebuah kebetulan atau takdir dimana Evan adalah bos perusahaan konstruksi tempat Sabrina melamar pekerjaan.
Tapi apa yang terjadi ketika Evan tiba-tiba saja melamar Sabrina di hadapan kedua orang tuanya? Dan hebatnya lagi Evan berhasil meyakinkan orang tua Sabrina untuk menikahi putri mereka. Tidak punya pilihan lain, Sabrina terpaksa menerima lamaran Evan dan akhirnya resmi menjadi suaminya.
Motif apa yang dimiliki Evan sebenarnya hingga pria itu mau menikahi Sabrina? Bagaimana nasib Sabrina selanjutnya ketika ia harus menjalani pernikahan dengan pria yang ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Parasian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Rasa yang Tidak Terucapkan
"Capek?" tanya Evan usai pergulatan panasnya dengan sang istri beberapa saat lalu.
"Menurut ngana?" sahut Sabrina yang matanya sudah terpejam, sambil memeluk guling dengan posisi memunggungi Evan.
Satu lengan kekar Evan membelit pinggang Sabrina yang polos tanpa sehelai benang pun. Tubuh keduanya hanya ditutupi selimut setelah bercintaa.
"Brin..." panggil Evan, lembut.
"Hem."
"Orang tuaku akan pulang ke Indonesia," ucap Evan, membuat Sabrina langsung berbalik badan menghadapinya. "Tenang aja. Bunda sama Ayah gak makan orang."
Sabrina memukul pelan dada Evan yang berotot itu. "Ck, yang bilang orang tua kamu makan orang siapa?" cibirnya.
"Terus mukanya kok kayak takut-takut gitu?" Evan mengucapkannya dengan lembut sambil menyelipkan helaian rambut sang istri di balik daun telinga. "Aku sudah bilang sejak awal, kamu itu adalah wanita pilihanku. Jadi tenang aja, seperti apapun reaksi ayah dan bunda, aku akan tetap memilihmu, hm?"
Entah Sabrina harus berbahagia mendengarnya atau tidak. Memang sejauh ini sikap Evan padanya terbilang baik. Ya, meskipun terkadang ia ditindas di kantor. Tapi sejauh ini masih bisa diterima oleh Sabrina.
Namun ada yang kurang dalam pernikahan mereka. Dan sampai detik ini, Sabrina belum mendapatkannya. Walaupun Evan menjalankan kewajiban sebagai seorang suami, memberinya nafkah lahir batin layaknya pasangan suami istri. Tapi pria itu tidak pernah sekalipun mengungkapkan cinta padanya.
Hal tersebut membuat Sabrina masih tidak bisa yakin sepenuhnya kalau Evan menikahinya tanpa ada maksud lain selain karena memang ia butuh pendamping.
"Kok diam?" Evan kembali bersuara.
"Hah?"
Evan tersenyum, "Ada yang mau kamu katakan atau tanyakan?"
"Ehm, boleh aku nanya sesuatu?" ucap Sabrina pada akhirnya. Itu pun dengan volume suara yang sangat pelan.
Evan kemudian mengubah posisi tidur jadi telentang. Tatapannya tertuju pada langit-langit kamar. "Mau tanya apa, Brin?"
Sabrina sebelumnya menipiskan bibir, membiarkan kata-kata apa yang cocok untuk dikeluarkan. "Kamu nikahin aku, ehm... maksudnya itu, ehm... ini apa kamu tidak punya perasaan sama sekali sama aku?"
Evan menoleh pada Sabrina, alisnya mengerut. "Punya," jawabnya singkat.
Jawaban yang diberikan Evan tidak memuaskan Sabrina. "Perasaan apa?" tanya wanita itu.
Evan diam. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut pria itu.
Hal itu membuat Sabrina semakin merasa yakin kalau Evan menikahinya bukan karena cinta atau suka padanya. Akan tetapi pria itu memiliki motif tersembunyi yang Sabrina sendiri tidak tau apa.
Entahlah. Sabrina pusing sendiri.
"Lupakan saja, Van. Anggap aku gak pernah nanya. Lagi pula, aku yang harus makasih sama kamu. Kamu secara tidak langsung sudah mengurangi beban rasa bersalah sama orang tuaku." Sabrina tersenyum tipis. Evan balik merangkul Sabrina.
"Kamu ngomong apa sih?" gumam Evan.
"Entah kamu gak tau atau pura-pura tidak tau. Sebelum kamu nikahin aku, sebenarnya aku ini sudah pernah gagal nikah sebanyak tiga kali," Sabrina tertawa miris. "Kalau kamu mau meledek, silakan. Gak apa-apa. Atau mungkin kamu bilang kalo aku wanita yang banyak kurangnya."
"Husstt, ngomong apa sih?" sela Evan menggeleng kepala. "Aku gak pernah permasalahin itu kok. Karena semua orang punya masa lalu. Apalagi aku sudah membuktikan sendiri, meskipun aku bukan pria pertama yang pernah mengajakmu menikah, tapi aku bisa memastikan kalau aku adalah yang pertama menyentuhmu. Dan untuk hal yang satu itu, aku sangat berterima kasih. Terima kasih karena sudah menjaganya dengan baik. Aku diberikan sesuatu yang sangat berharga dari istriku. Jangan pernah nganggap rendah diri sendiri. Manusia itu gak ada yang sempurna," pungkasnya kemudian.
"Tapi kamu gak cinta sama aku kan?" gumam Sabrina pelan dengan mata tertutup menempel pada dada bidang Evan.
Tak lama setelahnya, tanpa menunggu jawabannya, biar Evan rasakan embusan napas teratur pada permukaan kulit dadanya.
"Sudah bobi ya?" tanya Evan, walaupun ia tau kalau sang istri sudah masuk ke alam mimpi. "Maafkan aku, Brin. Aku belum bisa ngasih apa yang diminta. Tapi aku janji akan terus di sisimu selamanya." Ucapan itu tulus disampaikan Evan walaupun Sabrina sudah tidak bisa mendengarnya.
Evan melabuhkan kecupan di kening Sabrina sebelum akhirnya ia menyusul sang istri, memejamkan mata dan masuk alam mimpi.
......................
Sabrina harus berlari terbirit-birit begitu ia selesai memarkirkan mobilnya di basement gedung kantor.
Penyebabnya adalah karena ia terlambat bangun tadi pagi. Belum lagi drama ban mobilnya yang kempes. Beruntung ada pria baik yang menolongnya mengganti ban serep. Alhasil dia bisa sampai di kantor tidak telat-telat amat.
Sabrina menyeka keringat yang membasahi pelipisnya sebelum ia keluar lift ketika sampai di lantai paling atas gedung kantor Ocean Tbk. Ia berdoa dalam hati semoga saja belum sampai kantor. Misalnya terjebak macet atau ban mobilnya kempes seperti yang dialaminya tadi.
Akan tetapi harapannya itu tinggal harapan saja. Melihat Evan yang berdiri di depan kerjanya sambil bersedekap tangan melihat ke arahnya dengan sorot mata tak terbaca.
Ya, Sabrina memang tidak bisa mengartikan tatapan Evan padanya saat ini. Seperti kesepakatan mereka, jika di kantor keduanya akan bersikap profesional layaknya atasan dan bawahan.
Pelan-pelan Sabrina berjalan mendekati pada Evan. Campur aduk yang Sabrina rasakan saat ini. Ia pasrah saja kalau Evan akan mengomelinya karena datang telat.
"Selamat pagi, Pak." Sabrina menyapa, dengan bahasa formal seperti biasa seraya menunduk hormat.
Beberapa detik Evan menelisik tampilan sekretaris yang merangkap istrinya di sana. Seingatnya sebelum berangkat, penampilan Sabrina tidak awut-awutan seperti sekarang. "Kamu kenapa berantakan seperti ini?" tanyanya bernada lembut.
Sabrina yang sudah bersiap menerima omelan pedas dari Evan lantas mengangkat wajah sehingga pandangan mereka bertemu. "Ya, kenapa, Pak?" tanya Sabrina ulang karena merasa kurang jelas.
Bukan jawaban yang langsung Evan berikan. Pria itu merogoh saku celananya, mengambil sapu tangan bermotif kotak biru. Disekanya keringat yang masih tersisa di kening Sabrina.
Hk! (Sabrina menahan napasnya beberapa detik)
'Demi apa coba, si Evan baik bener. Eh, memang dia baik sih. Cuman, untuk sesuatu yang sweet kayak gini, jarang Evan lakukan. Mungkin belum pernah selain jika sedang kalau lagi making love. Duh, jantung gua kok deg-degan ya?' ujar Sabrina membatin, meski di luar ia masih tetap menampilkan wajah biasa saja. Seolah tidak terpengaruh dengan perlakuan pria itu.
"P-Pak, biar aku aja yang lap keringatnya," ucap Sabrina yang akhirnya mengambil alih sapu tangan dari Evan untuk menyeka sendiri keringatnya. Bisa gawat kalau lama-lama Evan yang melakukannya.
"Ya udah. Habis ini kamu ikut aku meeting di luar," kata Evan, lalu meninggalkan Sabrina masuk ruangannya, di sana Sabrina menatap punggung Evan dengan penuh kegamangan hingga menghilang di balik pintu.
Bagaimana tidak. Semakin hari sikap Evan padanya semakin membuatnya bingung. Bahkan perlakuan judes Evan padanya sudah mulai berkurang. Tapi meskipun begitu, tak sekalipun terucap dari bibir Evan jika ia suka dan cinta pada Sabrina. Tidak pernah. Walaupun kata orang-orang, terkadang segala sesuatunya itu tidak perlu untuk selalu dikatakan cukup dengan tindakan saja. Itu sudah cukup.
Namun bagi Sabrina, ia butuh pengakuan. Ia mau dengar secara langsung kalau suaminya itu menikahinya bukan karena hanya sekedar butuh pendamping. Tapi juga karena pria itu mencintainya.
"Apaan sih lu, Sabrina. Kebanyakan mikir. Lu dan Evan kan sudah melakukan semua yang dilakukan pasangan pada umumnya. Jadi tidak usah menuntut yang lain," gumam Sabrina, mengomeli dirinya sendiri.
Tapi bisakah ia berharap kalau Evan menikahinya, memang karena pria itu mencintainya? Atau memang ada alasan lain yang Sabrina tidak tau kenapa Evan tiba-tiba menikahinya?
...----------------...
...--bersambung--...
masih lanjut ada episode yang lain atau ngegantung kayak gini
next pen
ngamuk lagi kayanya🤭🤭🤭