Indonesia
NovelToon NovelToon
Memiliki Anak Dengan Presdir

Memiliki Anak Dengan Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius / Chicklit
Popularitas:59.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ellani

Guan Lin adalah seorang alkemis yang paling berbakat di akademi. Suatu hari Guan Lin tiba-tiba saja dibunuh oleh seseorang dan saat terbangun Guan Lin sudah berada ditubuh orang lain.

“Li Mei kamu akan tamat sampai di sini.” Seorang wanita berbicara dengannya.

Guan Lin melihat sekeliling, banyak sekali pria yang mengelilinginya.

“kalian … lakukan sesuka kalian,” ucap wanita itu sambil berjalan keluar.

“hehe kami akan membuatmu merasa nyaman,” ucap seorang pria kepada Guan Lin dengan senyum bahaya.

Saat Guan Lin ingin melawan, Guan Lin merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya.

Apa ini? Siapa mereka? Mengapa tubuhku merasa tidak nyaman? Sial.

Akankah Guan Lin bisa melepaskan diri?

*******************
Cover by pinterest

*******************
ini adalah novel keduaku, mohon dukungannya dan jangan lupa like, subcribe serta vote ya..

terimakasih ^^

baca juga novel pertamaku Menikah dengan penjahat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Lab Profesor

Setelah berdiskusi dengan profesor, Li Mei diantar kerumah profesor dan tinggal di rumah profesor selama meneliti. Profesor memiliki bangunan disekitar lab pribadinya untuk memudahkan pekerjaannya, disanalah Li Mei akan tinggal.

Evan yang mengantar Li Mei ke kediaman Profesor. “Hei Evan … aku sudah lama memikirkannya, apakah kamu seorang peneliti?” tanya Li Mei.

Evan melirik kaca untuk melihat Li Mei. “Ya … aku seorang peneliti, tetapi sekarang aku menjadi asisten Profesor dan aku ditugaskan untuk menguji keakuratan riset yang dilakukan peneliti lain,” jawab Evan.

“Benarkah? Itu berarti kamu sangat pintar!”

“Haha … banyak yang bilang begitu, tetapi aku merasa biasa saja,” ucap Evan malu.

“Aku tidak sabar untuk memulai membuat obatku,” ucap Li Mei.

“Aku sangat menantikan penemuan pertamamu,” ucap Evan.

“Yah … aku juga,” ucap Li Mei.

Evan dan Li Mei sudah mulai dekat, mereka melakukan obrolan ringan disepanjang perjalanan dan membicarakan tentang peneliti luar biasa yang ada diluar sana. Li Mei sangat tertarik dengan topik itu dan Evan juga termasuk penggemar berat para peneliti – peneliti hebat, jadi dengan sangat bangga dan senang hati Evan menjelaskan tentang semua yang dia idolakan.

Setelah beberapa menit mereka mobil yang mereka naiki akhirnya berhenti disuatu rumah yang sangat besar dan terpencil, namum penjagaannya tidak perlu diragukan.

“Apa ini? Apa menjadi Profesor bisa sekaya ini?” tanya Li mei dengan kagum.

“Hahaha … kamu orang baru jadi wajar jika kamu tidak tahu,” ucap Evan.

“Profesor adalah keturunan salah satu keluarga terkaya.” Lanjut Evan.

“Benarkah?!” tanya Li Mei.

Li Mei melihat lagi kerumah yang besar itu. “Pantas saja rumahnya sangat besar.”

“Ya … selain meneliti, Profesor juga seorang yang memiliki bisnis atau perusahaan,” ucap Evan bangga.

Evan mulai memekan bell rumah profesor, beberapa saat kemudian pelayan membukanya.

“Apakah Rolin ada dikamarnya?” tanya Evan. Rolin adalah cucu Profesor yang buta.

“Maaf tuan, saya rasa ini bukan waktu yang tepat.” Pelayan itu melirik Li Mei dengan tatapan rumit.

“Baiklah … Ayo aku antar keumah belakang.” Evan mengajak Li Mei kebangunan belakang.

Bangunan itu sederhana namun cukup luas untuk ditinggali Li Mei dan anaknya nanti jika lahir. Li Mei melihat sekeliling ruangan ada beberapa furnitur dan juga kasur yan bersih. Profesor pasti sudah memerintahkan pelayannya untuk membersihkan rumah ini sebelum Li Mei sampai ke tempat ini. Li Mei cukup puas dengan rumahnya dan mulai membereskan barangnya dibantu dengan Evan.

Setelah membereskan barang, beberapa pelayan mengantarkan makanan untuk Li Mei dan Evan. Mereka berdua memang sangat lelah dan mulai makan dalam diam. Makanan telah dihabiskan dengan cepat, mereka mulai memasuki lab pribadi profesor.

“Ini adalah lab pribadi profesor, kamu boleh melihatnya dulu.” Evan membuka pintu lab.

Li Mei memasuki lab dan sangat takjub. “Ini seperti versi mini dari lab utama,” teriak Li Mei menutup mulutnya dengan tangan.

“Sangat hebat bukan? Aku bahkan tidak menyangka profesor akan membuat ini semua demi cucunya,” ucap Evan.

Memikirkan cucu profesor Li Mei mulai sedikit prihatin. “Hei apakah tidak apa – apa jika kita tidak menyapa cucu profesor?” tanya Li Mei.

“Tidak masalah … Rolin memang tidak suka berinteraksi dengan orang lain,” ucap Evan sambil menghela nafas.

“Begitu.” Li Mei tidak melanjutkan topik itu lagi dan mulai berkeliling lab dan mencoba mempelajari robot yang dikatakan profesor.

“Ini sedikit kaku,” ucap Li Mei sambil memegang kendali robot.

“Yah … ini hanya buatan manusia jadi tidak ada yang sempurna,” ucap Evan mengangkat kedua bahunya.

“Benar … walaupun begitu aku masih bisa menggunakannya untuk kemananku,” ucap Li Mei percaya diri.

Walaupun tidak seakurat tangan manusia. Tetapi ini sudah cukup untuk penelitian awal dan lagi aku juga akan memiliki teman satu team.

Li Mei terus mencoba robot itu untuk berlatih sebelum teman satu temanya datang nanti.

“Kurasa kamu harus beristirahat dulu.” Evan melihat Li Mei dengan perut besar berjuang mengendalikan robot itu sangat serius sehingga membuatnya takut nanti akan kelelahan dan membahayakan bayinya.

Li Mei mendengar apa yang dikatakan Evan. Aku hampir lupa kalau aku baru saja tiba. “Maafkan ibu … ibu sepertinya terlalu bersemangat,” ucap Li Mei mengelus perutnya.

“Kalau begitu aku akan beristirahat dulu.” Li Mei turun dari kursi.

“Baiklah … kalau begitu aku pergi dulu.” Evan berpamitan dengan Li Mei dan kembali bekerja seperti biasa.

Li mei kembali kerumah yang telah disiapkan profesor. Dia memang sangat lelah dan mulai membersihkan diri , lalu tidur sebentar. Saat Li Mei bangun hari sudah mulai gelap, para pelayan sudah menaruh makanan. Li Mei duduk dan memakan makanan itu. Setelah makan Li Mei memberi kabar kepada Fen Lian dan mulai berjalan keluar dengan senter karena merasa bosan.

Diluar terdapat taman yang sangat indah dan kunang – kunang malam yang sangat banyak menambah kecantikan taman tersebut.

“Ini sangat indah,” gumam Li Mei.

Saat Li Mei hendak berjalan maju, Li Mei mendengar suara seseorang datang dari belekang. Li Mei melihat kebelakang dan melihat seorang anak yang berusaha berjalan menggunakan tongkatnya dan anjing kecilnya membantunya menuntun jalan.

“Auk … Auk …” Anak anjing itu menggonggong setelah melihat Li Mei.

“Siapa disana?” ucap Rolin.

“Maaf telah mengganggumu … perkenalkan aku Li Mei dan mulai sekarang akan melakukan pekerjaan disini atas perintah profesor,” ucap Li Mei dengan sopan. Ini seperti dia menghadapi bangsawan dikehidupan sebelumnya.

Rolin hanya diam dan terus menyentuh anjingnya sebagai kode agar tetap jalan. Li Mei diabaikan oleh Rolin. “Em … permisi apa saya membuat kesalahan?” tanya Li Mei dengan bingung.

Anak kecil itu berhenti berjalan dan berbalik kearah Li Mei. “Sebaiknya kamu berhenti dengan penelitianmu itu, itu semua akan sia – sia pada akhirnya.” Ucap Rolin mengepalkan kedua tangannya dengan erat.

“Kamu- … kamu hanya menginginkan perhatian dan uang kakekku saja kan?!” teriak Rolin menahan air mata yang hampir jatu.

“Sebaiknya kamu pergi sekarang … aku tidak mempercayaimu,” lanjut Rolin.

Li Mei terkejut dengan teriakan tiba – tiba ini. “Maaf apa maksudmu?” tanya Li Mei.

Anak kecil itu terus diam dan menggigit bibirnya. “Beberapa bulan lalu ada kakak yang aku anggap baik datang membawa harapan kepadaku mengatakan bahwa dia akan membuat obat untukku tanpa harus menjalankan operasi.” Rolin sangat takut dengan ruangan operasi.

Dulu dia pernah mencoba untuk melakukan operasi namun obat biusnya tidak mempan terhadapnya sehingga dia terbangun saat operasi berlangsung. Itu hampir menghilangkan nyawanya dan dokter menambah dosis untuk menenangkan Rolin. Operasi tersebut gagal karena darah yang hilang sangat banyak karena saat terbangun Rolin terkejut dan meronta sehingga tangannya terkena pisau bedah yang tajam menusuk pergelangan tangannya. Itu meninggalkan trauma yang cukup medalam kepadanya.

Rolin memegang matanya dan mulai menangis mengingat kejadian itu, dia juga sangat membenci kakak yang berbohong itu.

Li Mei melihat anak itu mulai menangis, hati keibuannya melunak. Li Mei duduk didepan anak itu dengan lutut ditanah untuk menahan badannya. “Namamu Rolin kan? Itu nama yang cukup indah,” ucap Li Mei menghapus air mata anak itu.

“Aku tidak tahu siapa wanita yang Rolin sebutkan, tetapi aku berbeda dengan dia … aku adalah seorang genius yang tak terkalahkan,” ucap Li Mei percaya diri.

“dikehidupan sebelumnya aku adalah seorang alkemis yang dicari banyak bangsawan dan guru – guru hebat.”

“dan aku juga pernah membuat obat seperti ini dikehidupanku sebelumnya,” ucap Li Mei lagi dengan bangga.

“Jadi kamu tidak perlu khawatir.”

“Pfft.” Anak itu tidak bisa menahan tawanya.

“Hahaha … meskipun aku anak kecil tetapi aku cukup tercerahkan, berbohong juga harus masuk akal,” tawa Rolin terdengar di tengah heningnya malam.

“Ha? aku serius,” ucap Li Mei dengan wajah merah.

“Yah … ya… lakukan saja apa yang kamu inginkan,” Rolin tersenyum dan berbalik menuju taman. Dia tidak tahu apa kakak ini benar tulus, tetapi dia memiliki perasaan bahwa kali ini akan berbeda dengan kakak yang sebelumnya.

“Hei mau kemana? Aku belum selesai menjelaskan.” Li Mei berjalan cepat kearah Rolin dan mulai membual tentang kehidupan masa lalunya.

Keesokan harinya para team yang dikirim oleh profesor datang. Li Mei berdiri di depan keempat orang ini dengan canggung.

“Heh … kakek tua itu mengirim kita hanya untuk merawat wanita hamil?” seorang pria dengan tubuh besar meremehkan Li Mei.

“Hmm … ini tempat yang sangat cocok untuk meneliti berbagai hal gila dan ledakan pun tidak apa – apa terjadi,” ucap seorang wanita dengan wajah bersemangat.

“Hei hei kakak … apa kamu dari china … aku selalu penasaran bagaimana rasanya membedah perut wanita hamil.” Ucap seorang remaja sambil melihat perut Li Mei dengan semangat.

“Berhentilah ini bukan hewan.” Seorang pria menarik remaja itu menjauh dari Li Mei.

“Tch … “ remaja itu pergi dan mulai melihat – lihat rumah.

Li Mei berdiri diam dan melihat semua orang kacau ini. Apa profesor salah mengirim orang?!

“Aku tahu isi pikiranmu … tetapi merekalah yang dikirim oleh profesor,” ucap Evan menepuk pundak Li Mei sambil menghela nafas.

Akhir dari Bab 14.

1
Lhina Bright
yuhuuuu aku mampir yah thor
twilight aetheria
lanjut kak
twilight aetheria
kak terima kasih sudah up🥳🥳🥳
twilight aetheria
kak bener up lagi ya
zkiafslll
Biasa
zkiafslll
Kecewa
Maysa
lanjut donk thoorr
Pandagabut🐼
novelnya gak ada yg jelek. bagus semua karya author ini👍👍🤲
Anindya Fauziah Abidin
Kecewa
Anindya Fauziah Abidin
Buruk
Alfatih Cell
Up lagi thor jangan lama2 semangat
Koesianingsih Ing
Lumayan
Nora♡~
Tetap 💪💪💪thor... lanjut ke bab2 seterusnya..
Sri Wahyuningsih
jgn lm2 thor apdetx
Krislin Meeilin
ceritanya begus 🥰🥰🥰🥰
Nora♡~
💪💪💪terus thor... lanjut... ke bab2 seterusnya..
Nora♡~
lanjut... ke bab2 seterusnya..
ELLANI: terimakasih telah membaca novel ini ^^)/

bab terbaru sudah update ..
maaf atas keterlambatan update >_<)
total 1 replies
Anita Anita
hahaha....kasian Zhang min dikerjain🤭
Anita Anita
kapan ketemuannya
Anita Anita
perkenalan pertama dengan ayah mereka 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!