Indonesia
NovelToon NovelToon
Melawan Ajal

Melawan Ajal

Status: tamat
Genre:Kutukan / Kebangkitan pecundang / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dimaz Pray

Cerita ini adalah kisah sekumpulan orang-orang dengan inner child bermasalah. Mereka tumbuh dengan luka psikologis masing-masing.

Agus adalah karakter utamanya, sesuatu terjadi dengan orangtuanya membuat ia memiliki dendam paling absurd sedunia: mendendam malaikat maut. Ia terobsesi membunuh malaikat Izrail si pencabut nyawa.

Pertemuannya dengan gadis misterius serbatahu, Maya. Mengubah segala hal. Di satu sisi ia harus menyaksikan kematian tragis teman-temannya: Joe, Zidan, Angel dan Tantri. Siapa sebenarnya Maya? Berhasilkah ia membunuh Izrail?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimaz Pray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertangkap!

Agus menyadari Zidan kini sendirian. Tantri tak berada di sisi sahabatnya itu sedari tadi. Entah kemana.

Sebenarnya, itu bukan urusannya. Agus bukan tipikal orang yang posesif, apalagi berkaitan dengan urusan rumah tangga orang. Pun begitu saat ia bersama teman-temannya, ia bukan tipe teman yang posesif. Setiap mereka saling mengerti satu lain.

Namun, entah mengapa kali ini ia merasa ada yang tidak beres. Mungkin juga karena terpengaruh kata-kata Maya saat mereka bertemu terakhir kali. Semakin lama Agus semakin yakin bahwa Mata benar-benar gadis spesial. Ia seperti seseorang yang serbatahu. Ia menyimpan banyak rahasia yang menarik untuk diketahui.

Agus memutuskan meninggalkan hall utama hotel tempat berlangsungnya acara gathering malam itu. Ia melewatkan drama keluarga Wongso tadi dan memutuskan mencari tahu keberadaan Joe dan Tantri.

Ia berpapasan dengan beberapa pelayan yang membawa minum. Pelayan-pelayan yang ia jumpai melempar senyum ramah padanya. Agus membalas mereka dengan ramah.

Ia keliru masuk ke ruangan dapur. Ia berjalan lagi ke arah lain. Ia juga tak begitu hafal tempat itu.

Agus menelusuri koridor panjang dan berbelok-belok. Rupanya koridor itu terhubung dengan beberapa ruangan lain. Beberapa ruangan pintunya tertutup dan terdapat keterangan dilarang masuk selain petugas, atau semacam ruangan khusus staff hotel saja.

Agus memeriksa bagian lain sepanjang koridor itu. Ada pintu darurat serta tangga darurat di samping pintu yang menghubungkan lantai itu dengan basemen. Agus hendak naik ke tangga darurat itu namun ia ragu, berhenti untuk berpikir sejenak. Kemudian ia memutuskan kembali turun dan membuka pintu darurat tadi.

Ia keluar. Tembusan dari koridor tadi adalah sebuah parkiran mobil. Tak ada security yang biasa terlihat berjaga-jaga. Agus menoleh ke kiri dan kanan, entah mengapa ia begitu ingin tahu kemana kedua sahabatnya itu dan mengapa ia berpikir mereka berada di sana. Ada kegelisahan dan rasa kuatir di hatinya kalau apa yang dikatakan Maya ternyata benar.

Walau gadis itu tak spesifik menyebut rahasia apa di antara Joe dan Tantri. Ada rasa sayang yang besar di hati Agus kepada para sahabatnya yang sudah seperti keluarga baginya itu. Terutama pada Zidan, sahabat masa kecilnya. Ada sejarah panjang yang menjelaskan mengapa ia begitu ingin menjaga Zidan.

Agus mencoba menghubungi ponsel Joe, tak diangkat. Lalu mencoba menghubungi Tantri, sama. Agus kecewa.

"Kembali saja. Mereka bukan urusanmu." Teriak suara di kepala Agus. Agus tampak ragu.

Diam-diam ia menyalahkan dirinya sendiri yang sudah terlalu jauh mencampuri urusan orang lain. Kemana rasa percaya pada sahabat-sahabatnya?

Baru saja Agus hendak kembali masuk melalui pintu tadi, sekilas matanya menangkap penampakan mobil milik Joe yang berwarna putih. Mencolok di antara mobil lainnya yang dominan berwarna hitam. Agus hafal benar mobil sahabatnya tersebut.

Ia terlihat berpikir sejenak, sambil matanya terus mengawasi mobil itu. Lalu akhirnya ia memutuskan menghampiri mobil itu.

Padahal, Joe telah memarkir mobilnya cukup jauh dari pintu darurat tempat Agus berdiri. Namun feeling Agus didorong suara-suara dari Maya tentang rahasia besar di antara Joe dan Tantri yang terus berputar-putar di kepalanya membuat langkahnya tergerak mendekati mobil itu.

Pelan dan perlahan. Agus menghampiri mobil Joe yang terparkir paling ujung di antara deretan mobil lain, tepat di samping tembok bergambar anak panah petunjuk keluar gedung.

Semakin dekat Agus dengan mobil Joe, semakin aneh perasaannya. Apalagi semakin jelas terlihat jika mobil tersebut ternyata sedikit bergoyang-goyang, seolah digerakkan sesuatu di dalamnya.

Agus langsung berputar ke arah belakang mobil, mengendap-endap agar tidak mudah terlihat. Penasaran sekali dirinya apa yang terjadi di sana.

Saat ia akhirnya berhasil sampai di mobil Joe. Ia perlahan menempelkan wajahnya ke kaca mobil yang gelap, coba mengintip.

DEG.

Jantung Agus rasanya mau copot. Nafasnya berhenti sesaat.

Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat di dalam sana.

Tantri dan Joe, ada di sana. Di atas kursi depan di belakang setir.

Kursi kemudi agak sedikit diluruskan agar Joe dapat berbaring di sana dengan nyaman. Ia sudah tak memakai pakaian satupun.

Tantri, gadis yang sempat menjadi pujaannya semasa SMA namun ia relakan perasaannya demi sahabatnya, Zidan. Kini duduk nyaman di atas Joe, tepat di bagian bawah pusarnya. Ia tak mengenakan bawahan, hanya tinggal atasan berupa bra saja.

Goyangan Tantri lah rupanya penyebab mobil Joe terlihat bergetar dari luar. Joe dan Tantri terlihat sangat menikmati momen mereka saat itu.

Agus rasanya ingin menghancurkan kaca mobil dan menyeret keduanya keluar. Terutama untuk Joe, ia tak menyangka sahabatnya itu bisa merusak hubungan rumah tangga Zidan dan Tantri.

Tantri, ia turut merasa dikhianati oleh wanita itu.

Tangannya mendadak kaku, tubuhnya seperti kehilangan jiwa. Agus tak tahu hendak berbuat apa. Sesaat kemudian kakinya terasa lemas, tubuhnya melorot ke lantai, dan tiba-tiba perasaannya hancur

Tanpa sadar muncul kekuatan yang mendorongnya untuk meninggalkan tempat itu. Agus berlari. Ia shock. Ia berlari menuju pintu darurat di mana ia keluar tadi setelah meninggalkan hall utama. Ia berlari menyusuri koridor sambil menangis. Beberapa kali ia tak sengaja bertabrakan dengan pelayan hotel yang baru saja keluar dari ruangan di sepanjang koridor. Namun Agus tak sempat lagi untuk berhenti dan meminta maaf. Ia terus berlari, membawa semua amarah di dadanya.

Ia berhenti di depan toilet dan masuk ke sana. Agus menyalakan keran dan mencuci mukanya seolah itu dapat menghapus ingatan tentang kejadian yang baru ia lihat.

Ia berdiri di hadapan cermin selama beberapa saat. Memandangi air dari keran yang terus mengalir jatuh ke wastafel melewati lubang kecil di tengahnya, menuju pipa pembuangan. Hening. Tak ada satupun orang di toilet saat itu.

Agus mencoba menenangkan pikirannya dan berharap dia baru saja bermimpi.

"Hai." Sapa sebuah suara laki-laki yang menepuk punggungnya dari belakang.

Agus menoleh dengan cepat dan menangkap sosok Zidan telah berdiri di sana.

Zidan tersenyum dan mengambil tempat pada wastafel di sebelah Agus. Ia terlihat mencuci tangannya sambil merasa heran karena Agus tampak linglung.

"Mengapa kau menatapku seperti itu? Baru melihat hantu?" Tanya Zidan keheranan.

Banyak yang ingin Agus segera ucapkan. Semuanya tertahan di tenggorokannya. Ia merasa kasihan pada Zidan. Ingin rasanya saat itu juga ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk sahabatnya itu.

Zidan menutup keran sambil memeriksa wajahnya di cermin. Lalu mengeringkan tangannya pada hand dryer yang terpasang di dinding samping cermin.

Ia kembali menatap Agus yang terlihat terus berdiri memperhatikannya dengan tatapan yang aneh.

"Ada masalah?" Tanya Zidan lagi.

Agus menelan ludah. Ia bingung bagaimana memulai obrolan saat itu.

Masih sibuk berpikir cara mengatasi kekikukan di sana, pintu toilet tiba-tiba terbuka dan sosok Joe muncul. Ia tampak berkeringat.

"Oh, hai!" Sapa Joe melambaikan tangan. Walau Joe berusaha senormal mungkin, Agus kini tahu apa yang ia sembunyikan.

Zidan membalas sapaan Joe dengan anggukan. Sementara Agus mengawasi Joe seolah sedang mengawasi pelaku pembunuhan. Tatapan Agus pada Joe kini penuh rasa permusuhan.

"Kalian melihat istriku? Dia tidak terlihat dari tadi." Tanya Zidan, polos.

Tatapan Agus tak beranjak dari sosok Joe di depan mereka.

"Coba tanyakan Joe. Dia pasti tahu di mana Tantri berada." Jawab Agus, dingin.

Zidan melirik Joe. Sedang Joe memasang tampang bingung, ia menggeleng cepat. Ia terlihat gugup.

"Eh, gue juga belum melihat dia dari tadi. Mungkin dia ke toilet?" Jawab Joe sekenanya.

Agus tersenyum kecut. Bermaksud meledek Joe karena telah berbohong. Dengan acuh ia berjalan melewati Joe dan langsung menuju keluar toilet. Meninggalkan Joe dan Zidan yang saling berpandangan.

"Dia kenapa?" Joe keheranan.

Zidan mengangkat bahu.

...****************...

1
Girl Moon Maker
Makasih udh berkarya thor! Lumayan banget buat bantu aku ngabisin waktu luang! Semangat terus pokoknya
booksand peonies
Thor up nya yang cepet dong...
Prabu Marbun
Lanjut dong Thor! Aku mah nangis kalau cerita ini gak lanjut :(
Rendam Bintang
Ahh andai ku bisa bertemu denganmu Thor. Aku bakal minta tanda tangan yang banyak!!
Ksatria Pena: why. Haha terimakasih sudah mampir
total 1 replies
moonstrucktraveller
waaah... makin seru aja nih... like for u...
Ksatria Pena: trims yaa
total 1 replies
monsoonblooms
Ayok thor mana nih kelanjutannya?
Ksatria Pena: sudah baca sampai bab berapa emang? 45? Hehe
total 1 replies
RainbowSweety
Lanjuting dong thor, seru!
Ksatria Pena: insyaallah nanti lanjut lagi.
total 1 replies
Wahyu Zae
Yang saya tangkap di bab pertama:

1. Penulis berani bernarasi panjang lebar untuk menggambarkan suasana sekitar. Setelah sekian lama, saya baru kali ini menemukan cerita bernarasi panjang di pf digital. Yang mana cerita semacam ini adalah kesukaan saya.

2. Penulis berani menerapkan sejumlah analogi pada dialog karakternya. Saya sangat mengapresiasi hal ini karena, sebagai penulis fiksi, kemampuan semacam ini mutlak harus dikuasai.

Secara keseluruhan, saya sangat menggemari cerita ini, terutama cara penulis membangun narasinya dengan bubuhan suspense yang acap kali ditemukan di cerita thriller misteri.

Jangan khawatir, Penulis. Meskipun karya dengan narasi sepadat ini tak lagi digemari para pembaca kebanyakan, paling tidak masih ada saya dan sebagian kecil pembaca lain yang telah terbiasa dengan gaya bercerita sebaik ini.
Ksatria Pena: terimakasih. Belakangan semangat memang agak menurun karena ternyata di sini jarang bgt, bahkan tadinya sy pikir ga ada, yg nulis novel dgn gaya SPT ini😅.
total 1 replies
Wahyu Zae
Sepertinya Agus ini punya dua sisi kepribadian. Ucapan yang terlontar dari mulut Agus ini justru mengindikasikan keberaniannya dalam berkomunikasi, terlebih dengan perempuan. Ini sangat kontras dengan bayangan saya di awal ketika Agus tenggelam dalam sejumlah perenungan tentang pencarian terhadap takdir Tuhan.
Wahyu Zae
Deskripsinya agak futuristik ya? Wkwkwkw.
Tetapi jujur ini sesuatu yang baru. Sebuah terobosan segar di dunia kepenulisan novel.
Wahyu Zae
Sepertinya saya merasa terwakili dengan karakter ini. Kondisi psikologis semacam inilah yang mengganggu saya sejauh ini dalam menjalani hidup. Tertarik dengan premisnya.
Ksatria Pena: Agus memang agak lain Dia pny luka yg cuma dia sendiri yg tau. Dia bingung harus jadi seperti apa di kehidupan sosialnya, harus bagaimana ke orang2. Di sini posisinya sbg life observer, engga mau terlalu terlibat pada kehidupan teman-temannya sekaligus tnp disadari justru tenggelam di dalamnya
total 1 replies
FitrianiYuriKwon
Lanjut
Ksatria Pena: terimakasih Kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!