Indonesia
NovelToon NovelToon
KISAH CINTA CICAK

KISAH CINTA CICAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Percintaan Konglomerat / Romansa
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lila Widya

Bagaimana jika dua anak yang berasal dari golongan konglomerat menikah? Akan semewah apa hidupnya nanti? Dan seberapa besar kebahagiaan yang mereka dapatkan?

Kisah cinta romansa yang dibumbui dengan bermacam pelajaran yang akan mengantarkan mereka ke perjalanan perjalanan kehidupan tingkat dua.

Tokoh utama laki-laki bernama Cakra Argamentasi. Cakra yang menghabiskan hari-harinya didalam kamar hanya untuk bermain aplikasi Tuktuk, memutuskan untuk melanjutkan hidupnya ke tingkatan lebih serius. Agar dirinya lepas dari zona malas dan ingin mencari kenyamanan dari dunia luar.

Sedangkan si tokoh utama wanita bernama Gabrillae Citra Piyaninka. Perempuan yang memiliki cita-cita menikah muda. Keinginan gila, membuat semua laki-laki berbondong-bondong menginginkannya sebagai seorang Istri. Terlebih lagi, Citra itu kaya, mempunyai karir & citra bagus. Banyak lelaki yang ingin memilikinya, namun harapan itu kandas mengingat Citra adalah perempuan kaya. Mereka mundur karena insencure.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lila Widya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Haii! 💓

Sebelum membaca, silahkan absen terlebih dahulu. Kalian asal mana, nih?🤩

Kita kenalan, yuk!💙❤️💐

...Selamat membaca 🔥...

...-CICAK🦎-...

"Fiuhh!"

Citra terus meniup satu lalat yang telah menganggu acara makan paginya. "Kenapa lalat ini bisa masuk?" geram Citra kesal.

"Fiuhh! Bibik Apel! Tolong tangkap lalat nakal ini!" teriak Citra panik ketika si lalat berani menyentuh hidung mancungnya.

"Preak priuk!" Citra berlarian kesana kemari mengejar si lalat. Sementara Bibik Apel hanya diam sembari tertawa.

Sampai Citra tiba di depan kamar bawah, Citra menghentikan langkahnya dan menatap sang Suami. Terlihat di sana Cakra yang tengah berolahraga. Citra tercengang melihatnya.

"Ayo Pak, tahan, tahan."

Citra mengerutkan keningnya menatap Pak Nanas aneh. Ketika Citra mendekati Suaminya, Pak Nanas segera kabur dari sana.

Cakra terus fokus berlari di tempat dan sesekali ia melirik Istrinya. "Kenapa?" tanya Cakra ketus.

"Cakra Argamentasi olahraga pagi? Ini beneran?" tanya Citra dengan eskpresi berlebihan.

Citra diam-diam tersenyum kecil, "Berarti para penggemarnya harus tau, nih!"

Seketika Cakra mendudukkan dirinya di lantai, lalu meminum sebotol air putih. Cakra menatap malas Istrinya. "Lo punya aplikasi Tuktuk? Udah mulai kepoin Suaminya, nih?"

Sontak Citra terdiam. "Hm, pantesan udah jadi seorang aktris. Gak nge follback akun Suaminya. Ternyata sombong, hm." Cakra memutar bola matanya malas.

"Jadi latihan balet gak?" Namun, Citra masih diam.

"Mumpung gue lagi olahraga."

"Enggak, deh."

Cakra mendengkus kesal. "Lo gak mau olahraga, karena ngerasa badan lo udah langsing kayak triplek? Citra, lo juga harus olahraga. Sebagai Istri yang baik hati, lo olahraga lari juga. Jangan terus-terusan nari balet," ujar Cakra.

"Cakra juga tumben olahraga," balas Citra membuat Cakra bungkam.

Cakra terus berpikir, bahwa Istrinya ini pasti sedang memikirkan sesuatu. Sebenarnya jika dipikir-pikir, Cakra lah yang di sini berhak marah kepada Istrinya.

Karena Minggu lalu, Citra mendaftar menjadi seorang Aktris, dan siapa sangka, kemarin malam—tepatnya saat mereka akan tidur, sang Sutradara menghubungi Citra  memberikan kabar buruk untuk Cakra.

"Olahraga sini," ajak Cakra kembali.

Citra menggelengkan kepalanya pelan, "Citra harus latihan balet."

Cakra sungguh menyesal. Kenapa juga dirinya mengabulkan cita-cita Istrinya ini dengan cepat? Kabar baik untuk Citra, bahwa dirinya akan membintangi film remaja. Kabarnya, Citra mendapat peran sebagai penari balet profesional.

"Gak bisa besok? Nanti? Olahraga pemanasan dulu sama gue. Lo mau punya kaki keram?"

"Cakra, nanti cara Citra olahraga berbeda. Kaki Cakra, 'kan, lebih panjang. Jadi beda," kata Citra membuat Cakra cemberut.

"Lo kenapa sih?!"

Tiba-tiba, Citra berlari kecil—ikut bergabung dengan Suaminya. "Cakra," panggil Citra.

"Hm?"

Kini Citra merasa sangat bersalah, karena sudah mengatakan kalimat menyakitkan kepada Suaminya. Citra mencolek lengan Cakra, lalu mencabut bulu tangan Cakra. "Akh!" ringis Cakra terkejut.

"Mau pisang," pinta Citra.

"Gue gak mau lo main peran sama cowok itu!" Cakra tidak bisa menahan rasa cemburunya.

Cakra tidak suka peran itu. Jelas Cakra cemburu. Suami siapa yang rela, jika lekuk tubuh Istrinya di tonton oleh banyak orang? Apalagi di tempat syuting, pasti akan banyak pria gatal yang menggoda Istrinya. Memikirkan itu membuat Cakra cemberut kesal. Cakra ingin menyueki Istrinya ini, namun apa daya, dia tidak setega itu.

"Cakra," panggil Citra pelan.

Cakra memejamkan matanya sejenak, "Gue gak mau, Citra. Dia Aktor papan atas. Dan dia lebih ganteng daripada gue."

Citra bimbang. "Kamu tampan. Kamu tampan, baik, penyabar, suka bikin ketawa. Kamu Suami aku. Masa iya, aku suka sama cowok lain?" Cakra mengalihkan pandangannya.

"Tapi gue kebo."

Mendengar itu, Citra mengulum senyumnya. "Kebo? Enggak kok. Kamu itu kelinci, lucu," ujar Citra sembari tertawa kecil.

Namun pujian Citra tidak membuat Cakra senang, melainkan Cakra bertambah kesal mendengarnya. Kelinci? Rasanya Cakra ingin mengamuk sekarang juga. Telinganya memang lebar, tapi tidak panjang seperti kelinci!

"Pokoknya gue gak setuju! Gue cemburu, ngerti?!" Cakra segera pergi meninggalkan Istrinya.

Citra menghembuskan napasnya pelan. Kata cemburu membuat jantungnya berdetak gila. Citra menatap pak Nanas yang ternyata diam-diam mendengar percakapan dirinya dengan Suaminya.

"Pak Nanas, aku aduin sama Bibik Anggur, ya!" teriakan Citra berhasil membuat Pak Nanas ketakutan, dan berlari. Jelas ia takut, karena Bibik Anggur adalah Istrinya.

"Cakra sayang sama Citra dan Cakra sendiri udah jujur, kalo dia cemburu. Tapi kok, gak romantis, ya?" monolog Citra.

...-CICAK🦎-...

"Cakra, Citra mau pisang."

"Ambil sendiri di dapur," respon Cakra datar.

Citra memudarkan senyumnya. Citra tau Suaminya ini sedang berpura-pura tidur. Buktinya saja, Cakra merespon ucapannya.

"Males," gumam Citra putus asa.

Mencari topik pembicaraan itu tidak mudah. Citra terus berusaha untuk mencari topik unik—yang membuat Suaminya ini tertarik. Namun sepertinya, Cakra masih dalam mode cemburu. Jadi sia-sia saja, seberapa besar pun usaha Citra, rasa cemburu Cakra lebih besar.

Klik

"Bik Jeruk, bawain buah pisang se kebon sekarang juga," ujar Cakra berbicara lewat ponsel kecilnya.

Belum dua menit lamanya, pintu terbuka memperlihatkan Bik Jeruk yang tengah menyengir lebar ke arah Tuan dan Nyonyanya. Panik, Citra segera menjauhkan tubuhnya dari Suaminya.

"Maaf Tuan, pisangnya habis." Cakra menaikkan sebelah alisnya, "Em, tadi pagi Nyonya Citra sudah menghabiskan buah pisangnya."

Cakra melirik Istrinya, lalu kembali menutup matanya. "Ini masih ada 12 buah pisang. Maafkan saya, saya belum sempat membeli buah pisang lagi. Pasarnya lagi di tutup Tuan, PPKM," jelas Bik Jeruk panjang, tak ingin Tuannya salah paham.

"Hm."

"Pisangnya sudah saya cuci dengan bersih. Saya sudah pastikan jika jeruk—pisangnya segar. Rasanya juga bisa dipastikan sangat enak. Enak," tutur Buk Jeruk.

"Enak Tuan, saya yakin, enak. Ini pasti enak."

"Duh, Istri gue belum coba. Gimana sih, lo?" geram Cakra di bawah bantal.

Bibik Jeruk terdiam. Merasa tak enak hati dengan Bik Jeruk, Citra mengambil buah pisangnya, lalu memakannya. "Enak! Beneran enak. Makasih ya, Bik. Pisangnya manis banget. Nanti beliin lagi ya, hehe," ungkap Citra.

Cakra bergumam tak jelas. Sementara Bik Jeruk tersenyum tipis mendengar ucapan Nyonyanya. "Yey! Baik Nyonya. Permintaan Nyonya akan terkabulkan paling lambat sore ini. Saya pergi dulu, selamat pagi dan selamat tidur kembali." Bik Jeruk segera keluar dari kamar.

Citra mengangguk-anggukkan kepalanya menikmati buah pisang. "Enak. Cakra, Cakra, kamu tau, gak?"

"Kalori pisang itu 89 per 100 gram nya," ucap Citra memberitahu.

"Gak peduli."

"Citra lagi memberikan ilmu sama Cakra. Cakra dengerin, ya."

"Aku tak peduli," sahut Cakra cuek.

Merasa geli dengan tingkah Suaminya, Citra mengelus rambut Cakra acak. "Coba deh, liat aku. Citra cantik, gak?" tanya Citra random.

Cakra membuka sebelah matanya, "Cantiklah, buktinya lo incaran cowok-cowok diluaran sana."

Bukannya pipi Citra berubah merah, namun Citra merasa bahwa Suaminya ini masih cemburu. "Cara bicaranya Cakra berubah-ubah. Random banget. Barusan ngomong pake lo gue. Sekarang, aku kamu. Nanti anda dan saya," kekeh Citra.

"Nyenyenyenye. Nyadar diri, Istri. Lo juga kalo di luar ngomong sama orang pake lo gue," balas Cakra.

"Cakra masih cemburu? Udahan, ya cemburunya. Citra gak bakalan khianatin Suami Citra. Cita-cita Citra udah terujud." Citra cemberut.

"Gak pasti. Semua orang bisa tergoda," gumam Cakra terdengar lirih.

Citra merasakan dadanya sesak. Membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Suaminya, kemudian Citra memeluk Suaminya erat. Citra mengerjap-ngerjapkan matanya—terkejut dengan tingkah dirinya sendiri.

Cakra membalas pelukan Istrinya, lalu mencium kening Citra sayang. "Oke, gue percaya. Aaa." Peka, Citra memasukkan potongan buah pisang ke mulut Cakra.

"Enak!" puji Cakra.

Citra mengembangkan senyumnya. "Cakra tau, berapa kalori jeruk per 100 gramnya?" tanya Citra melanjutkan topik pembicaraan tadi.

"Jeruk? Jeruk tadi 50 kilo gram."

"Hah? 10 gram, Cakra. Bukan 50 kilo," jelas Citra tak mengerti.

Kemudian Cakra mengerti. Ia tertawa kecil. "47?" tebaknya.

Citra bertepuk tangan, "Betul! Kalo kalorinya telur rebus?"

Cakra terdiam sebentar. "150—155 per 100 gramnya? Bener?" jawabnya.

"Yey bener! Terus, kalori beras putih per 100gramnya?"

"Kaga tau, deh."

Citra mengerutkan bibirnya, "Ayo, jawab."

"Gue laper, butuh tenaga buat jawabnya." Cakra menyelimuti tubuh Istrinya.

Dengan wajah lucunya, Citra menatap wajah Cakra seraya tersenyum. "Harus jawab dulu, baru makan." Cakra semakin dibuat gemas oleh Citra.

Menyerah, Cakra mengambil ponselnya. "130 kalori!" jawab Cakra antusias.

Citra merebut ponsel Suaminya. Ia tidak terima jika Cakra mencari jawabannya di kakek google. Itu cara curang.

"Curang!" tuduh Citra kesal.

"Sekarang giliran gue."

"Gak mau. Cakra curang."

Cakra mencubit hidung Citra, "Giliran gue, oke? Lo harus bisa jawab."

Citra meremas selimutnya kesal. Ia pasrah. Namun, diam-diam Citra tersenyum senang. Ternyata, topik ini berhasil membuat Suaminya berbicara lagi dengannya.

"Nih, berapa banyak kuman atau virus, ketika kita bersin?" tanya Cakra kepada Istrinya.

Citra terdiam cukup lama, "Berapa ya?"

"Lo jawablah. Bisa gak?" Suara Cakra terdengar meremehkan.

"100ribu kuman!"

Cakra mengangguk sekali, membuat Citra tersenyum senang. Cakra memberikan hadiah cubitan pada hidung Istrinya. "Aduh!" Cakra melebarkan matanya.

"Sakit?" panik Cakra.

Citra menggeleng pelan. "Ini, kenapa hidung Citra di cubit terus?" tanya Citra menahan kesal.

"Itu hadiah."

Citra menatap lekat Suaminya, "Hadiah?"

Cup

"Satu kecupan kening untuk jawaban yang benar," jelas Cakra.

Citra tidak berani bergerak di ranjang. Citra terdiam kaku. Ini benar-benar mengejutkannya. Sementara Cakra yang melihat raut wajah Istrinya, melengkungkan senyumnya.

"Lanjut?"

Cakra menepuk pelan pipi Citra. "Mau dilanjut gak?" tanya Cakra sembari terkekeh geli.

Citra mengangguk lemah, "Oke, berapa volume otak manusia dan  memiliki berapa sel saraf?"

Cakra tersenyum miring. "Bisa?" Citra menautkan kedua alisnya, berpikir keras.

"Volume otak manusia berkisar antara 1.350 cc dan mempunyai 100 juta neuron," jawab Citra yakin.

Citra menyengir memperlihatkan gigi putihnya. "Bener?" tanyanya penuh semangat.

"Bener." Cakra tercengang.

Satu kecupan berhasil mendarat di kening Citra. Tubuh Citra menegang mendapat serangan tiba-tiba.

"Pertanyaan terakhir, sebelum kita makan," putus Cakra.

Jujur saja, Cakra ingin lebih banyak lagi memberikan pertanyaan kepada Istrinya ini. Tetapi, Cakra tidak kuat jika terus menerus memberi kecupan sayang untuk Citra. Sekarang, jantung Cakra sudah dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Citra menghembuskan napasnya pelan-pelan. Citra jelas mendengar detak jantung Suaminya. Mungkin, Suaminya ini mendengar hal yang sama. Pipi Citra bersemu merah dengan jantung berdebar kencang.

Gila. Pertanyaan terakhir membuat Citra ingin pingsan.

"Seberapa besar cinta lo ke gue?"

Selama beberapa detik, mereka sama-sama diam. Cakra masih menunggu jawaban Istrinya. Sedangkan Citra masih tidak berani untuk mengatakannya.

"Besar. Lebih besar dari banyaknya sel saraf otak manusia," jawab Citra.

"Mungkin 200juta, atau lebih."

Tidak ada percakapan diantara mereka. Cakra bingung harus merespon apa. Benarkah? Apakah banyaknya ada sampai 1 miliar?

"Lo sayang—sama gue?" tanya Cakra lagi.

Citra mengangguk tanpa ragu, "Sayang. Kan Cakra Suaminya Citra."

Cukup. Cakra segera bangkit dari tidurnya, lalu memakai sandal. "Cakra!" panggil Citra berteriak.

"Ayo makan bakso cicak," ajak Cakra gugup.

Cepat-cepat Citra menghampiri Suaminya. "Kamu tau gak kalori bakso komplit? Ya, maksudnya, bakso cicak? Banyak tau. Kalorinya lebih dari angka 300," tutur Citra.

Cakra mengusap wajahnya kasar, "Perut gue laper."

Citra menatap kepergian Suaminya. Memakai sandalnya, Citra berlari menyusul Cakra.

"Cakra nanti makan bakso cicak sambil main piano, ya!!"

...-CICAK🦎-...

Sekian untuk acara BAPER hari ini, sampai jumpa💓❤

1
Zhu Yun💫
ikut nyimak kakak.. semangat update 💪🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!