Iqlima Isyana Ibrahim. Wanita Cantik, mandiri, Manis, Penyayang yang harus menelan pil pahit di usia pernikahannya yang masih seumur jagung. Ia harus berusaha Tegar demi janin yang sedang ia kandung. Sendiri meratapi takdirnya yang begitu menguras air mata. Bagaimana tidak, disaat bahagia- bahagianya mendalami peran sebagai seorang istri , ia harus mendengar kabar yang tak mengenakkan hati dari suaminya. Al-Fatir Abraham. Lelaki yang telah mengucapkan janji sakral di hadapan orangtuanya dan di depan para tamu undangan yang bersahutan mengucapkan kata SAH... Namun, pernikahannya hanya mampu bertahan persekian hari saja.
'Carilah kebahagiaanmu Isyana Ibrahim....' Kata-kata yang selalu terngiang di pikiran isyana.
Akankah Isyana mampu bertahan?
Penuh tanda tanya yang belum menemukan titik terangnya.
Ikuti kelanjutan kisahnya di cerita ini!!
Berkarya tidaklah mudah.
mohon dukungannya🥰
NB : Hasil pemikiran sendiri
: No adegan ***
: Semoga suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ainha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut Kehilangan
"Memang bukan. Tapi Jiplakan"
Sahut Syila, adik perempuan Abrizzam satu-satunya.
Melihat kedatangan sang Kakak, bukannya berlari memberikan pelukan rindu seperti di drama-drama korea, Justru Asyila membenarkan ucapan sang Mama yang dibalas dengan nada mengejek.
Enggan berdebat dengan sang adik, Abrizzam berlalu meninggalkan Syila menuju sofa TV.
"Cantik ya"
"Dapat dimana, Bang?" Tanya Syila sembari menggandeng tangan Isyana dengan gayanya yang sedikit centil.
"Kau pikir barang, dapat dimana ! Jangan membuatku kesal Syila."
"Kok mau sih Kak sama Bang Azzam. Galak padahal" Gerutu Syila dengan bibir yang mengerucut.
Inilah salah satu alasan Abrizzam yang malas berkunjung ke penthouse Papanya, selain akan mendengar omong kosong Syila, pertanyaan sang Mama juga akan selalu mengusiknya. Beruntung kali ini dia sudah membawa wanita cantik sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sang Mama yang tiada hentinya.
Mendapati kehangatan dalam keluarga Renaga, berhasil membuat Isyana merasa nyaman berada disana. Apalagi dengan kehadiran Asyila yang mulutnya kadang tidak bisa terkontrol. Baru bertemu, tapi kedekatan mereka sudah lengket saja persis lem korea. Tentu saja karena Asyila yang terkesan polos dan juga sangat menyukai anak kecil.
Gelak tawa menggema dikediaman Renaga dengan kehadiran Alvian yang tingkahnya semakin hari semakin menggemaskan.
Pantauan Abrizzam menatap nanar dari kejauhan melihat kebahagian sang Istri yang berada di tengah-tengah keluarganya. Tanpa berkedip, tidak sedetik-pun dia mengalihkan pandangangannya dari sang Istri. Hingga lamunannya buyar ketika Papa Andrean menepuk pelan pundaknya.
"Manis kan, Pah" Tutur Abrizzam dengan senyum mengembang
"Emm... Persis mamamu dulu" Sambung Andrean tak mau kalah
"Lebih manis menantu Papa lah"
Andrean hanya mengangguk. Kecantikan Isyana yang terlihat natural memang tidak bisa dia bantah.
"Papa tau...?" Sambung Abrizzam kemudian.
"Tidak!! "
"Aku sangat mencintainya, Pah" ucap Abrizzam dengan mata yang sudah berkaca-kaca
"Semua yang melihat juga tau bahwa kau mencintainya, Zam"
Entah ada apa dengan Putra sulungnya itu, tiba-tiba saja mengutarakan cintanya yang membuat Andrean mendelik. Dramatis sekali pikirnya.
"Jaga dia untukku, Pah" Ucap Abrizzam kemudian dengan suara seraknya
"Kamu suaminya, Zam. Kenapa harus Papa yang menjaganya!"
Sergah Papa Andrean yang merasa Putranya makin kesini semakin aneh saja. Entah karena baru merasakan cinta efek terlalu lama membujang atau karena ingin meninggalkan wasiat. Aneh sekali pikirnya.
Malam pun semakin larut. Menghembuskan angin dinginnya yang mulai terasa merusuk jiwa. Akhirnya, Abrizzam pamit undur diri pulang menuju apartemen pribadinya. Usaha Mama Hana untuk membujuk Putranya yang terkenal keras kepala agar tidur dikediamannya semalam saja, tidak jua membuahkan hasil.
.
.
Selama dalam perjalanan, tangan Isyana tidak pernah lepas dari genggaman Suaminya. Pria itu menggenggam tangan Istrinya begitu erat. Seolah takut istrinya akan kabur berlari kencang meninggalkannya. Tepatnya takut kehilangan.
Senyum Isyana mengembang menatap nanar keanehan sang suami. Bahagia sekali rasanya padahal. Suaminya yang selalu memanjakannya persis bayi sebenarnya.
Setibanya di apartemen, Balitanya akan diambil alih oleh Bi Ratni. Ya, semenjak kepindahan Isyana ke Jerman bersama sang suami, Bi Ratni juga ikut serta menemani Nyonya keduanya tentunya atas usulan Mama Syifa. Dengan suasana tempat tinggal yang baru membuat Mama Syifa khawatir jika putri sulungnya akan kesepian disana nanti.
Seperti biasa. Jika sudah memiliki waktu berdua. Dua insan yang mencinta akan melepas penat. Abrizzam hendak melakukan rutinitas malamnya bersama sang istri yang tidak boleh terlewatkan. Kenikmatan surga dunia membuat dua insan itu candu dengan kegiatan ranjang mereka.
Kegiatan Panas mereka berakhir dengan erangan panjang dengan keringat membasahi tubuh polosnya.
Cup
Kecupan singkat diakhir percintaan mereka adalah salah satu tindakan Abrizzam yang paling berkesan bagi Isyana. Sebagi bukti, jika Suaminya tidak hanya menganggapnya sebagai pemuas ranjang saja.
Hingga pagi dini hari, seperti biasa, Abrizzam sudah siap dengan setelan jas hitamnya yang dia kenakan menuju kursi kebesarannya. Dia termasuk salah satu orang yang paling berpengaruh di kota Jerman. Selain karena kekuasaannya, Pria itu juga pesaing bisnis terhebat yang sangat di segani lawan bisnisnya. Dia juga memiliki kepribadian ganda jika berhadapan dengan setiap rekan kerjanya.
"Mungkin nanti Mas pulangnya agak larut, Na"
"Gpp Mas.. Ada Bi Ratni juga yang bantu jaga Vian"
Ucap Isyana sambil memasangkan dasi sang suami.
"Maaf, Sayang. Ada beberapa hal yang harus segera diselesaikan" Tutur Abrizzam yang merasa bersalah. Untuk kesekian kalinya dia harus rela membagi kasihnya dengan pekerjaan.
"Jangan khawatir, Mas.. Aku baik-baik saja"
"Hubungi Mas jika butuh sesuatu !!"
Sebuah kecupan lembut tepat dibibir sang Suami. Sebuah tindakan yang berhasil membuat Abrizzam melupakan sejenak masalahnya. Senyum mengembang dari bibir jingga sang Istri yang selalu mengiringi kepergiannya selalu terngiang di benak Abrizzam sepanjang hari.
Entah kenapa langkahnya terasa begitu berat meninggalkan sang istri yang terlihat sedikit pucat sejak pagi tadi.
Isyana menatap punggung sang suami yang semakin jauh semakin menghilang.
"Lindungi dia, Tuhan" lirih Isyana dalam do'anya.
.
.
Setelah menutup rapat kembali pintu utama, Isyana merebahkan tubuhnya yang terasa lemas diatas sofa. Hingga rasa mual hebat melanda dirinya segera beranjak berlari menuju bathroom. Dia mencoba memuntahkan isi perutnya yang terasa mengganjal, tapi yang keluar hanya air saja.
Dengan langkah gontai dia berjalan menuju sofa pembaringannya tadi, rasa pusing kini juga dia rasakan di hulu kepalanya. Padahal dia tidak salah makan tadi pagi.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan diluar sana membangunkan Isyana dari istirahatnya, dengan menghela napas panjang dia berjalan lemah mendekati pintu dan segera menarik gagangnya.
Ceklek
"Katanya mau lembur. Kok sudah pulang Mas? Kang...."
Suara Isyana tercekat. Matanya membulat sempurna melihat Pria yang kini ada dihadapannya. Usahanya tetap terlihat segar dengan senyum mengembang yang ditujukan untuk sang Suami, Redup seketika.
...*To Be Continued*...