Sisi adalah gadis muda yang bekerja sambil berkuliah. Dalam perjalan hidupnya dia tidak pernah mengeluh ataupun meminta karena dia anak yatim piyatu dan hanya tinggal dengan adiknya Refan.
Ekspresi Sisi sangat bersyukur setelah disambut semua rekan kerjanya, dia ditolah dibeberapa perusahaan dan pada akhirnya dia diterima di perusahaan retail dengan gaji yang terbilang besar.
kehidupannya berubah setelah bertemu dengan atasannya Denny Permana yang membuatnya jatuh cinta.
Sisi tersenyum dan mulai berbicara dengan malu malu " Sisi Maharani Adriana,Usia 23 tahun, ini adalah perusahaan pertama yang menerima saya untuk bekerja setelah beberapa perusahaan menolak saya" Sisi mengakui pengalamannya dengan miris namun tersenyum malu.
setelah perkenalan itu Sisi menjadi sosok yang menarik Dimata Denny, kehidupan cinta bersemi dari sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sahabat Nona. S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Denny memperhatikan mobil yang berhenti didepan pagar rumah Sisi, rasanya tidak asing dia mengenali mobil itu dalam sekejap. Reza? Hatinya langsung panas menyaksikan Sisi juga keluar dari dalam mobil Reza.
Dia menghubungi Sisi, mengirim pesan dan menelpon Sisi berulang kali namun tak ada respon sedikitpun dari Sisi. Hingga akhirnya Denny kerumah Sisi namun tidak mendapati siapapun dirumahnya, adiknya juga tidak ada dirumah. Denny sudah menunggu cukup lama dan Sisi baru pulang jam 8 malam.
Denny langsung menyeret kerah baju Reza “BUGHHHK” Dia memukulnya sekali dan melepasnya.
Sisi yang baru saja menutup pintu mobil terkejut menghampiri Reza yang terjerembab karena pukulan Denny diperutnya. “Ka Reza gak apa-apa?” Sisi membantu Reza berdiri.
“Gue gak papa Sisi” Reza berdiri dengan sempoyongan karena ulu hatinya sangat sakit “Denny mungkin mau bicara sama lo”
Sisi tak menghiraukan ucapan Reza “Ayo ka, bisa berdiri ga? Sakit banget ya?” Sisi memapah Reza.
Reza menggelengkan kepala dan menolak “Sisi, Denny pasti ingin bicara sama lo”
Denny mendekati Sisi dan menatapnya hangat lalu menarik tangannya “Kamu ijin sama aku mau pulang untuk istirahat kenapa justru pergi dengan Reza?”
Sisi mengibaskan tangannya kasar “Jangan ikut campur urusan saya”
“Maksudnya apa?” Denny bertanya serius.
“Kita sudah selesai Ka. Kita sudah tidak ada urusan” Sisi hanya menunduk tak berani menatap wajah Denny.
Denny menggelengkan kepala “Kenapa? Apa aku begitu buruk dimata kamu sekarang? Jawab Sisi!” Denny sedikit mengeraskan suaranya.
Sisi hanya diam, dia tidak ingin menangis lagi didepan Denny. Rasanya sudah cukup dia terlihat begitu bodoh.
“Jawab aku Sisi!” Denny mengguncang pundak Sisi, rasa takutnya membuncah seakan dia akan kehilangan Sisi. Dia tidak ingin itu terjadi.
“BUGGGHHHHK” Reza tiba-tiba menerjang Denny.
“Sudah cukup lo menyakiti Sisi dan Sinta, Den” Reza menatapnya dengan kesal
Denny yang terhempas karena pukulan Reza diwajahnya merasa sangat kesal.
Rasanya dia hanya ingin menghabisi siapapun orang yang mencoba menghalangi hubungannya dengan Sisi.
“BUGGHHK, BUGHk” Denny memukul Reza dua kali diwajahnya.
“BUGHK.BUGHK.BUGHK!” Reza juga tak mau kalah dia membalasnya dengan memukul wajah Denny dan diperutnya.
Denny tersenyum kecut menatap Reza yang tersungkur dilantai.
“Berhentiii!!!” Sisi berteriak “Pergi kalian!!!” Sisi mendorong Denny dan Reza yang baru saja bangkit dari jatuhnya.
“Pergi kalian!! Jika ingin adu kekuatan jangan dirumah ini!!” Sisi mengusir keduanya dan bergegas masuk kedalam rumah membanting pintu tanpa menoleh sedikitpun kebelakang.
*****
Mobil Riana berhenti tepat dihalaman sebuah rumah, diseberang jalan ada taman bunga yang besar namun baru kali ini dia memperhatikan sekeliling. Riana melepas sitbeltnya melongok keluar mobil sementara tangannya menenteng tasnya dengan semangat, seketika senyumannya merekah.
“Dari kapan ada taman bunga kek gini?” Riana berbicara dengan dirinya sendiri.
Dia melihat gerbang pintu tidak terkunci sehingga dia menerobos masuk, langkahnya terhenti melihat ada mobil hitam terparkir sembarangan, samar-samar Riana mendengar suara seperti orang tengah berkelahi di sisi halaman rumah.
Berjingkat-jingkat mengintip diantara dedaunan Riana membuka sepatu haknya untuk ditenteng.
Pantas saja Reza tidak mengangkat telponnya sedari tadi rupanya dia tengah berkelahi dengan Denny. Padalah dia membawa berkas untuk ditanda tangani Reza tapi justru mendapati Reza sedang baku hantam di taman sebelah rumahnya.
“Lo gak usah ikut campur urusan gue!!” Denny melotot menatap wajah Reza yang sudah babak belur.
“Lo sudah nyakitin adik gue Rendi, sekarang lo juga nyakitin Sisi. Gue gak bisa diem aja” Reza meringis kesakitan karena wajahnya berdarah.
“Lo mau ikut campur urusan gue? Lo pikir lo siapa HAH?!?” Denny menempelkan dadanya yang kekar kearah Reza.
Reza tersenyum kaku “Gue suka sama Sisi, Den” Akhirnya kata itu yang keluar dari mulut Reza.
“Brukkk!” Riana yang tengah mengintip terjatuh kesemak belukar karena kaget dengan ucapan Reza yang gambling.
Reza dan Denny menoleh kearah sumber suara bersamaan, dan kaget melihat Riana yang tengah mengusap-usap lututnya karena kotor.
“So. Sorry gue gak sengaja denger” Riana bergegas berdiri.
Tatapan Denny dan Reza membuatnya tak nyaman “Gue telpon lo ka Reza, gue mau minta tanda tangan karena lo gak angkat akhirnya gue kesini”
Riana membuka tasnya dan menyerahkan berkasnya didekat Reza dengan setengah melempar karena gemetar “Ini berkasnya. Gue langsung pulang, anggep aja gue gak tau apa-apa oke” Riana berbalik setengah berlari meninggalkan Reza dan Denny.
Denny tersenyum kesal “Jangan pernah menyentuh Sisi”
Reza memungut berkas dilantai “Gue ngomong terus terang sama lo, Den”
Denny mencekal kerah Reza “Lo sahabat gue dan lo mau bersaing dengan gue, Za?”
Reza tidak melepaskan cengkraman Denny “Gue serius, Den”
“BUGHK!” Denny memukul Reza tepat dihidungnya, sehingga darah mengucur disana.
Reza tak ingin membalas, karena ini adalah kelemahan Denny, dia tidak akan melepaskan apapun dan siapapun yang dia genggang sampai dia sendiri yang akan melepakannya. Dia mengenalnya dengan baik.
Reza mengangkat wajahnya menatap langit agar darah dihidungnya berhenti.
Memikirkan hal yang telah dia katakan mebuatnya lebih baik karena dia tidak sepenuhnya pengecut, dia terang-terangan mengatakan isi hatinya kepada Denny.
Denny merebahkan diri direrumputan menatap langit, tersenyum seolah dia merasa gila karena ulahnya sendiri.
Reza mengikuti Denny dan merebahkan diri disamping Denny.
Memikirkan mereka meninggalkan rumah Sisi dan menyetir berbalapan demi menuntaskan hasrat mereka untuk baku hantam dirumahnya adalah sesuatu yang lucu. Mereka bersahabat sedari SMA hingga hari ini, dari dulu mereka selalu berkelahi ketika ada kekesalan satu sama lain, mengingat usia mereka yang akan memasuki 30 tahun membuat hal itu sangat diluar nalar.
Kini mereka berkelahi hingga babak belur, Ya mereka memperebutkan satu gadis kecil.
Emosi dan kekesalan mereka tersalurkan dengan berkelahi seperti ini.
“Gue harus gimana, Za?” suara Denny terdengar serak
“Hahaha” Reza tertawa rasanya lucu sekali seperti ini. “Lo sudah selesai dengan Sinta, sekarang apa yang lo rasakan?”
Denny tertawa kecil “Hhaha. Gue bukan hanya kehilangan Sinta, gue juga kehilangan Sisi sekarang”
“Lo harus rela jika gue bisa bahagiakan Sisi” Reza menatap langit, ada satu cahaya bintang disana.
Denny terdiam, semua hal buruknya ditutupi Reza, dia terlihat baik selama ini dan hanya Reza sahabat yang paling bisa dia percaya. Tapi mungkinkah dia sanggup melepasakan Sisi untuk sahabatnya? Rasanya tak rela.
Reza tersenyum menatap langit “Gue pasti akan jauh lebih menyakiti Rendi sekarang”
Denny mengingat adik Reza yang terlihat tulus melepaskan Sisi untuk Denny, berharap Denny tak menyakiti Sisi, namun pada akhirnya dia menghancurkan kehidupan Sisi. Bukan hanya hatinya yang dia sakiti tapi juga mencoreng nama baik Sisi. Denny sudah melakukannya.
*****
“Dipukulin siapa lo, Za?” Aldo memperhatikan wajah Reza yang bengkak dan memar
Reza menggelengkan kepalanya tak ingin menjawab.
“Gue yang mukulin” Suara Denny menghampiri Reza dan Aldo yang sedang menunggu lift naik.
Aldo menoleh kesumber suara “Weeeh, gila kalian” Aldo mengusap pipi Denny yang memar, kurang lebih kondisi keduanya sama.
Denny tersenyum menyingkirkan tangan Aldo yang menjijikan itu dari wajahnya “Minggir Lo, jijik gue”
“HAHAHA, dimana kalian baku hantam?” Aldo setengah berbisik untuk mengolok Denny dan Reza.
Reza menoleh dengan kesal “Diem gak lo, Do. Sekali lagi lo nanya gue hajar Lo!” Reza melotot kepada Aldo mengancamnya.
Aldo mengangkat kedua telapaknya “Waah gila takut gue” Aldo masih meledek Reza.
“Tiiing” Pintu lift terbuka.
Mereka masuk kedalam lift dan segera menutupnya.
“Tunggu!” Terlihat Lukas setengah berlari langsung menerobos memasuki lift.
“Waaah akhirnya kita berkumpul di lift ini” Lukas bergegas menekan tombol angka. Dia memperhatikan Denny dan Reza yang wajahnya babak belur.
“Lo gak usah heran, Denny si bajingan dan Reza si malaikat memiliki selera yang bagus hingga mereka baku hantam seperti ini” Aldo memberikan gambarannya kepada Lukas.
Lukas menganggukan kepala mengerti “Ok. Jadi keduanya sudah mengakui untuk memperebutkan Sisi?”
“Hahahaaaa!!” Aldo dan Lukas tertawa bersama
Denny dan Reza melotot kearah mereka berbarengan, darimana mereka langsung mengerti hal ini.
Reza mencekal kerah Lukas “Jangan sembarangan kalo ngomong!” Ancamnya, dia merasa rahasianya terbongkar begitu cepat.
Apakah Riana sangat bermulut besar? hingga kejadian semalam langsung diketahui oleh kedua temannya. Sepertinya bukan tapi karena mereka berteman sedari kuliah sepertinya mereka memahami sendiri keadaannya, atau mungkin semalam mereka ada ditempat kejadian perkara? Luar biasa!
Rasanya mereka terlalu tua untuk memperebutkan gadis yang usianya beberapa tahun dibawah mereka. Itu memalukan!
Denny mencomot mulut Lukas dan Aldo dengan kedua tangannya “Jangan membuat gosip. Gue gak akan rela Reza ngambil Sisi dari gue”
“Hahahahaa” Setelah dilepaskan Aldo dan Lukas tertawa bersama lagi dengan lebih keras, artinya Denny membenarkan bahwa Reza juga menyukai Sisi. Mereka tengah memperebutkan Sisi sekarang.
*****
“Apakah anda baik-baik saja, Pak Denny?” Perempuan dengan setelan biru tua itu menaruh map berwarna hijau dimeja Denny sambil memperhatikan wajah Denny yang bengkak.
Denny menggelengkan kepala mengetahui perempuan ini adalah orang Sinta. Denny tersenyum hangat “Duduklah, siapa nama kamu?”
“Saya Diana, pak” Perempuan itu memperkenalkan diri
Perempuan itu langsung duduk disofa tamu “Saya datang untuk meminta tanda tangan, Silahkan tanda tangani berkas ini”
Denny langsung tau maksud kedatangan orang suruhan Sinta.
Denny tersenyum kecewa, rupanya Sinta benar-benar serius dengan tindakkannya, kejadian bertengakar dengannya baru saja berlangsung kemarin dan hari ini dia memutus kontrak kerjasamanya dengan perusahaan Denny.
“Bisakah Sinta sendiri yang mengantarkan surat ini untuk saya?” Denny berbasa basi, dia yakin Sinta bahkan tak ingin melihat Denny lagi.
“Bu Sinta mengutus saya, dia sedang dinas keluar kota” Perempuan itu menjelaskan.
“Saya periksa berkasnya” Denny membuka map hijau dan membacanya.
Setelah membaca isi berkas pemutusan kontrak kerjasamanya cukup lama Denny mengangguk mengerti dan langsung menyetujuinya. Tak lupa dia membubuhkan tanda tangannya diakhir perjanjian.
Diana terbelalak kaget karena Denny bahkan tak mempersulitnya “Saya ingin mengatakan yang sebenarnya kepada anda, pak Denny”
Denny menatap dengan serius “Katakan”
“Kapitalisasi pasar saham emiten kita termasuk besar nilainya lebih dari 500 miliar tergolong sehat, Sebenarnya pertumbuhan saham perusahaan Global berkembang sangat pesat dividen juga rutin diberikan namun, ibu Sinta memutuskan kontrak kerjasama tanpa pertimbangan apapun” Diana menjelaskan kondisi apa adanya.
Denny mengerti Sinta melakukan ini karena sakit hati kepadanya.
“Perkembangan saham-saham tersebut tentu dapat di prediksi memiliki prospek baik dimasa yang akan datang” Denny mengakui kondisi perusahaan sehat.
Diana mengangguk mengerti “Tapi ibu Sinta sepertinya sudah bulat dengan tekadnya, direktur perusahaan juga mendukungnya”
“Baiklah, saya setuju dengan pemutusan ini. Katakan saja pada Bu Sinta bahwa saya berterima kasih atas kerjasama yang telah terjalin baik selama beberapa tahun ini” Denny mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Diana.
Diana tersenyum dan menyambut tangan Denny “Saya juga berterima kasih karena pak Denny tidak mempersulit saya”
Denny tersenyum hangat “Silahkan diminum dulu kopinya”
“Terima kasih pak Denny” Diana mengambil secangkir kopi dan menyeruputnya perlahan.
Denny tersenyum sekali lagi meski ada kekecewaan, selama ini dia telah menghabiskan banyak upaya untuk kerjasama ini, menekan berita miring diinternet tentang perusahaan kala itu, masalah yang terus mencuat hingga pada akhirnya pasar saham melonjak dengan pesat setelah kegagalannya berulang kali. Dia tidak pernah membayangkan konsekuansinya akan seperti ini.
*****
“Pulanglah” Satu kata itu terdengar begitu Denny mengangkat ponselnya.
Denny bingung darimana ayahanya mengetahui nomor telponnya, sudah lama dia mengganti nomor ponselnya.
Setelah diam beberapa lama Denny akhirnya berkata “Belum sekarang, Pah” Denny menolak dengan berbagai pertimbangan.
Suara laki-laki diujung telpon adalah ayah Denny “Papa tidak akan memberikan saham yang kamu beli untuk seseorang yang tidak kamu nikahi”
Denny berfikir keras, rasanya dia sudah menghindari ayahnya selama beberapa tahun agar tidak perlu lagi berkomunikasi dengannya, sialnya ayahnya mengetahui semua yang dia simpan selama ini dengan rapat.
“Datanglah keperusahaan sekarang” Ayahnya menyuruh Denny bergegas.
Denny mematikan ponselnya, memegangi kepalanya yang terasa berat. Dia kehilangan satu perusahaan pendukungnya kemudian ayahnya mengetahui sejumlah saham yang dia beli untuk invesatasi masa depan. Tujuannya adalah untuk memberikan Sinta kehidupan yang mewah dikemudian hari, pikirnya hal itu tidak akan diketahui oleh ayahnya, dia tidak pernah berfikir gagal menikah dengan Sinta meski demikian dia tidak ingin membatalkan niatnya untuk memberikan semua saham miliknya kepada Sinta.
Meski Sinta tidak mengetahui niat baiknya anggaplah itu sebagai kompensasi untuk Sinta.
Dihadapkan dengan tatapan ayahnya, Denny tidak ingin berdebat atau membela dirinya, mengetahui bahwa ayahnya seorang pemilik perusahaan ternama dikota ini dia tidak pernah menggunakan privilagenya selama ini hingga tak ada yang mengetahui bahwa Denny adalah pewaris perusahaan besar.
“Apa yang kamu dapatkan dari perusahaan kecil seperti itu?” Dharma Permana, ayah Denny berbalik karena kedatangan Denny putra semata wayangnya yang telah lama menghindarinya.
Denny membungkukkan badannya sebagai tanda hormat kepada ayahnya. Bagaimanapun Denny tidak membenci ayahnya, etika dan adab sebagai seorang anak kepada orang tua tetap dia junjung tinggi. Denny memutuskan pergi dari rumah sejak dia membuat bangkrut perusahaan ayahnya.
“Duduklah” Ayah Denny menyambut dengan tatapan dingin, sebenarnya hatinya merasa senang dengan kedatangan putranya.
Denny duduk dan memperhatikan ruang kantor ayahnya, tak ada banyak perubahan, hanya saja kini foto keluarga mereka sudah tak ada lagi didinding.
“Sudah semakin besar dan tampan kamu, Den” Ayahnya tersenyum menatap Denny, rasanya dia sudah terlalu tua untuk berselisih dengan putranya “Kapan kamu akan kembali?”
Denny hanya diam, dia tidak sepicik itu untuk mengambil keuntungan dari ayahnya.
“Masa lalu sudah terlewat jauh, keruagian yang kamu perbuat tidak perlu kamu sesali kala itu kamu terlalu muda, papa tidak menyangka kamu yang membereskan masalah perusahaan kita kamu juga berjasa didalamnya. Papa menyadari kamu berkompeten dalam dunia bisnis. Kembalilah, Nak” Ayah Denny berkata sambil memperhatikan wajah Denny.
Denny tersenyum “Papa mengetahui semua?” Ada kegembiraan yang dia rasakan, usaha kerasanya selama ini secara sembunyi-sembunyi untuk menyelamatkan perusahaan akhirnya mendapatkan apresiasi ayahnya. Ini menyenangkan.
“Apakah kamu berfikir perusahaan akan mempercayakan semua kerjasamanya kepadamu?” Ayah Denny menyeringai, menghirup udara segar setelahnya.
“Hahahaa” Denny tertawa kecil.
Benar saja Denny tak pernah menyadari pengaruh ayahnya dalam dunia bisnis. Direktur utama perusahaan sempat meragukannya dalam beberapa hal, namun dalam waktu singkat jabatannya naik diposisi yang bagus, jelas saja itu ulah ayahnya.
“Kembalilah, atau kamu ingin papa membeli perusahaanmu?” Ayah Denny melemparkan cek kearah Denny “Katakan pada bosmu berapapun nilainya tuliskan”
Denny terdiam sejenak memikirkan tindakan apa yang harus dia ambil sekarang.
“Papa sejak awal tidak menyetujui hubunganmu dengan Sinta, bagus jika akhirnya kamu memutuskan untuk berpisah” Ayah Denny menyandarkan punggungnya di kursi empuknya yang megah.
Denny tersenyum “Papa tidak perlu ikut campur dengan urusan pribadi Denn, pa”
“Baiklah, urusan pribadimu tidak akan papa campuri lagi” Ayah Denny mengerutkan alisnya “Papa tidak ingin terus berselisih denganmu, Den”
Denny melirik tanpa ekspresi yang jelas kewajah ayahnya yang sudah berumur, dalam pandangannya terakhir kali temperamen ayahnya sangat buruk, dia bakan memukuli Denny jika tidak ada yang menghentikannya kala itu mungkin Denny sudah cacat sekarang. Dia tidak percaya ayahnya telah berubah sekarang? Meskipun tatapannya tajam tapi dia tidak ingin bermusuhan dengan Denny.
“Bereskan urusanmu diperusahaan kecil itu dan kembalilah keperusahaan ini segera” Ayah Denny menyeruput kopinya yang tersaji menggunakan cangkir porselen “Meski itu perusahaan kecil jangan tinggalkan jejak buruk disana”
Denny masih diam tidak menolaknya ataupun mengiyakan.
“Pulanglah kerumah, papamu ini sudah tua” Ayah Denny meraih jasnya dan meninggalkan Denny diruangannya.
Denny juga tetap diam, tak bersuara tapi dia memperhatikan langkah ayahnya. Ayahnya terlihat bugar dia terlihat awet muda hanya saja temperamennya berubah dengan jelas, apa dia berusaha menekan amarah kepada Denny? Denny tidak bisa mencerna apa yang telah berubah sekarang.
Dia memeriksa ponsel memutar-mutar ponselnya dengan jari-jari lalu memutuskan menghubungi dokter keluarga mereka. “Dok, berikan laporan medical chek up papa, terima kasih” Denny langsung menutup telponnya.
@HARTIN MARLIN
@Saputri Sapila terima kasih selalu ikutin terus ya kisahnya
@HARTIN MARLIN
@piscess16_
lanjutkan
semangat Thor💪
dan @piscess16_
yuk nongol
semoga kalian suka ya sama kisahnya.
@⏤͟͟͞Ratunya es
@HARTIN MARLIN
@Marlina Ryn
@D_Ratnawati
@Tulisan Brilian
@Ros sy
@Nikfyni
@baby sophie
@Putri Aprilianti
@Mustarika
@༺☁ᛒɪʀͣᴜᷓᷓᷓⷤທͣᴅᷡᴀs͠ɪʜ🫐༻
@lisma salwa
@Angge Mustika
@Harti Malinda
@Tya 💜🥰🥰🥰
@A
@🙃 ketik nama 💝🎀🌈🌴
@Wanti Suswanti
@riski adi setiawan
@ᴀ᩸ʀᷧʀᷠᴏͥɢͫᴀͥɴ᩺ᴛ᩺ₛₑᴇᴍᴛᴇ🍂
@❁્᭄͜͡Köcëng🐈⚞ል☈⚟ᝰ
@Oooooo22🍉
@piscess16_
@Alfan
halo teman teman