Tiara Salsabila biasa dipanggil Rara adalah sosok gadis polos, sederhana dan kekanakan. Dia jatuh hati pertama kali pada Tian, sosok pria yang membuatnya iri karena Tian mempunyai kelebihan yang menjadi kelemahannya.
Namun ternyata cintanya itu membuat kecewa. Tian tidak seperti yang diharapkan gadis tersebut. Tian ternyata diam-diam sosok playboy yang mempunyai banyak wanita.
Semenjak itu Tiara tidak bisa mempercayai yang namanya laki-laki. Tiara berubah dratis dan melindungi dirinya sendiri. Hingga datang seorang pria yang dengan tulus mencintainya. Bahkan melamarnya, Namun pria tersebut tidak lain adalah dosen killernya. Dosen yang selama ini membuat Tiara kesal, emosi bahkan menangis karenanya. Akankah Tiara percaya dengan cinta sang dosen? Dan menerima lamarannya? Baca kisahnya di Lentera Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arti Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana dan Ide Aidan
" Iya Rara tahu Kak." Ucap Tiara.
" Bagaimana menurutmu?" Tanya kakak iparnya tersebut.
" Galak dan mematikan." Jawab Tiara jujur. Berharap kakak iparnya itu menyampaikan langsung penilaian terjujurnya kepada sahabat karibnya tersebut.
" Rara, tidak baik menilai orang seperti itu." Tegur Ibunya.
" Tapi Ummi, Pak Hasan memang seperti itu, Coba Ummi bertemu sendiri," Ucap Tiara polos.
" Tetap tidak boleh bilang begitu."Ibunya melarang Tiara untuk tidak menjelekkan orang lain.
" Maaf Ummi." Kata Rara lalu menundukkan kepalanya.
Aidan dan Shifa tersenyum. Sedangkan Aidan tiba-tiba mempunyai sebuah Ide untuk menjodohkan adik iparnya tersebut dengan sahabat karibnya.
" Tapi tidak ada salahnya Ummi bertemu Hasan langsung. Kapan-kapan insyaallah Aidan akan ajak Hasan untuk bertemu dengan Umi dan Abi." Celetuk Aidan yang spontan mempunyai ide tersebut. Peluang bagus baginya untuk memperkenalkan Hasan ke ibu dan ayah mertuanya tersebut.
" Boleh Nak Aidan." Sahut Ibu Darsi membuat Tiara langsung melongo.
Begitu makan malam selesai, Tiara seperti biasa sholat isya, membaca surah Al-Mulk dan lalu mengerjakan. Begitu gadis itu merasa mengantuk, Dia mematikan handphonenya, lalu lampu kamarnya dan menyalakan lampu tidurnya.
" Bismika allahumma ahya wabismika amut."
...***...
Hari berikutnya, pagi-pagi sekali Aidan ke ruangan sahabatnya tersebut. Seperti biasa Dia mengetuk pintu dan langsung masuk.
" Assalamu'alaikum."
Hening, tidak ada yang menjawab.Ternyata sosok yang dicarinya belum juga datang.
" Giliran ada berita bagus. Malah belum datang." Gumam Aidan seraya mengambil salah satu buku diatas mejanya Hasan. Sebuah buku. Tertera judul Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri.
Selang setengah jam, Hasan pun belum muncul batang hidungnya. Aidan beberapa kali melirik jam ditangannya. Apa jadwal mengajarnya berubah? pikir Aidan.
Aidan pun mengambil handphone disaku kemejanya. Saat itu pula terdengar langkah kaki menuju ruangan tersebut. Hasan terkejut Aidan sudah ada diruangannya.
" Mimpi apa Ente semalam? pagi-pagi sudah diruangan Ane." Ucap Hasan seraya menutup pintu ruangannya.
" Alhamdulillah, Ane bisa membantu Ente." Kata Aidan membuat Hasan bingung. Hasan menarik kursinya dan duduk.
" Maksudnya Ente apa?" Tanya Hasan.
" Rara, "Ucap Aidan.
" Iya kenapa dengan adik ipar Ente itu? Dia pindah jurusan. Otomatis awal ajaran baru lah, dia baru bisa masuk kuliah lagi." Jelas Hasan.
Aidan terlihat begitu semangat. Sampai pria itu bingung mau bicara dari mana dan bagaimana ke Hasan.
" Intinya akhir pekan ini. Ane mau ngajak Ente ke rumah." Jelas Aidan langsung beranjak dari tempat duduknya dan menuju pintu.
" Oya jangan lupa berpenampilan yang rapi." Tambah Aidan seraya membuka pintunya dan keluar dari ruangan sahabatnya tersebut, secara Aidan buru-buru mau mengajar mata kuliah dijam pertama.
Hasan mengerutkan dahinya. Mungkin Aidan mau mengadakan syukuran dirumah. Pikir Hasan. Pria itu tidak berpikir aneh-aneh pada sahabatnya itu. Pikirannya saat ini sedang kacau gara-gara keadaan dan kondisi Ayahnya. Apalagi tadi malam Ayahnya seperti memberi kode padanya. Permintaan untuk segera menikah.
Pria berkacamata mata itu mengingat pembicaraannya dengan dokter dan juga Ayahnya.
Seperti biasanya Hasan menjenguk Ayahnya dirumah sakit. Dokter yang menangani Ayahnya berbicara serius pada Hasan.
" Saya sudah berusaha. Namun penyakit Ayahmu sudah termasuk komplikasi. Saya hanya bisa membantu sebisa Saya." Jelas Sang dokter.
"Hipertensi dan diabetes. Jika kita ingin mengobati hipertensinya, diabetesnya semakin parah dan sebaliknya. Jarang ada yang sembuh dari kasus komplikasi seperti ini, San. Apalagi diusia seperti Ayah Anda." Tambah sang dokter membuat Hasan terdiam, lemas dan tidak tahu harus bagaimana lagi, selain berdoa untuk ayahnya tersebut.
" Abi ingin jalan-jalan San." Pinta Ayahnya. Hasan pun menurutinya. Apapun yang diinginkan Ayahnya saat ini. Hasan akan berusaha mengabulkannya. Ayahnya bagi Hasan adalah separuh nafasnya. Cuaca malam ini sudah terasa dingin, walaupun suasana baru selesai sholat Maghrib. Hasan hanya mengajak ayahnya keliling rumah sakit.
" Gimana mengajarmu dikampus?" Dan bagaimana dengan perusahaan Kita?"
" Alhamdulillah baik dan berjalan lancar semua Bi."
"Bagaimana dengan adikmu Tian? Akhir-akhir ini sepertinya sibuk sekali, jarang menjenguk Abi."
" Alhamdulillah Dia juga nilainya bagus-bagus. Mungkin Dia lagi banyak tugas Bi." Ucap Hasan berusaha tetap menilai baik adik tirinya tersebut.
" Owh bisa jadi."
Malam mulai larut, hampir satu jam Mereka mengelilingi rumah sakit.Hasan pelan-pelan mendorong kursi rodanya.Hingga Mereka melewati suatu tempat yang menarik perhatian Ayahnya. Sebuah ruangan parinatologi, banyak kotak-kotak inkubator didalamnya. Ayahnya pun meminta berhenti sejenak.
Ayahnya memandang lekat bayi-bayi itu, dan lalu berkata,
" Mungkin Abi tidak sempat menggendong cucu Abi, Tapi setidaknya Abi ingin melihatmu menikah, San. Setidaknya Abi jadi tenang meninggalkanmu di dunia ini. Ada sosok wanita yang akan selalu menemani putra Abi saat suka duka, merawat putra Abi disaat sakit dan memberikan kasih sayang keluarga yang tulus padamu." Kata Ayahnya tersebut membuat mata Hasan berkaca-kaca. Karena Hasan merasa belum menemukan jalan untuk mengabulkan keinginan Ayahnya itu. Bagaimana mau menikah, sosok calonnya saja belum ada. Sedangkan menikah bagi Hasan adalah ibadah seumur hidup. Bukan hanya untuk sehari atau dua hari. Dia tidak mau salah dalam memilih pasangan. Tapi kalau kondisi Ayahnya seperti ini. Hasan pun jadi bingung. Bagaimana Dia bisa mengabulkan keinginan Ayahnya tersebut.
" Abi, jangan bilang seperti itu. Abi akan panjang umur, akan melihat Hasan menikah dan mempunyai keturunan yang soleh dan solehah." Jawab Hasan tetap husnudzon dengan kesehatan ayahnya tersebut.
" Tapi Abi sudah mengetahui kalau sakit Abi ini jarang ada yang bis sembuh, San." Kata Ayahnya.
" Insyaallah Abi akan tetap sembuh." Ucap Hasan meyakinkan Ayahnya tersebut untuk tetap berbaik sangka.
Pembicaraan tadi malam dengan dokter dan Sang Ayah masih terngiang-ngiang dibenak pikiran pria berkaca mata tersebut.
Setelah selesai mengajar, Hasan pun mengajak Aidan untuk makan siang bersama. Disitu Dia menceritakan kondisi Ayahnya yang semakin memburuk, serta keinginan Ayahnya untuk segera menikah.
" Kebetulan sekali, sebetulnya ajakan ane tadi pagi, karena ane ada rencana buat Ente, San."
" Maksudnya?" Hasan bingung dan belum paham dengan kata-kata sahabatnya tersebut.
" Bantuin Ente untuk mengabulkan keinginan Ayah Ente." Jelas Aidan.
" Menikah? " Tanya Hasan.
Aidan menganggukkan kepalanya.
" Jadi sebenarnya tadi pagi Ane menyuruh Ente datang kerumah akhir pekan agar bisa bertemu orang tua Tiara, maksud Ane mertua Ane. Sekalian tuh Ane ijin sama orang tuanya untuk mengkhitbah putri Mereka." Jelas Aidan.
" Gak lucu." Sahut Hasan spontan. Dia ragu akan rencana itu.
" Ayolah, coba pikirin tawaran dari Ane, San." Aidan berusaha mencarikan solusi atas permasalahan Hasan.
"Jadi alasan Ente ngajak Ane ke rumah akhir pekan ini Biar bertemu dengan orang tuanya?"
" Ya Ane sebagai kakak iparnya tidak ada salahnya memilihkan pasangan yang benar-benar bagus buat bimbing Rara di dunia dan akheratnya. Karena Ane sudah benar-benar mengenal Ente. Dan siapa tahu orang tuanya setuju, lalu ngaruh ke anak gadisnya." Jelas Aidan mempengaruhi sahabatnya tersebut.
" Kalau Abi ente, ingin ente cepat menikah, ya sudah berarti langsung khitbah." Tambah Aidan.
" Tapi ente kan tahu, Dia masih muda banget. Pikirannya masih cita-cita. Logis saja lah, Dan." Kata Hasan.
" Ini saran paling logis, tidak ada larangan atau undang-undang menikah muda kan?" Dan ingat, Ente belum berusaha? Siapa tahu hasilnya tidak seperti yang Ente pikirkan." Aidan terlihat begitu berusaha untuk menjodohkan Hasan dengan adik iparnya tersebut.
Hasan menarik nafas panjang. Pria berkacamata itu terlihat sangat meragukan rencana sahabatnya itu akan berhasil.
" Terus Apa yang akan dikatakan teman-temannya kalau Ane benar-benar mengkhitbah Dia." Kata Hasan sepertinya berpikiran panjang.
" Ente pernah bilang kalau Kita tidak perlu memikirkan pandangan orang lain terhadap Kita. Yang penting pandangan Allah ke Kita. Ente ngelak itu karena Ente merasa tidak pantas seorang dosen jatuh hati terhadap mahasiswanya, iya kan?" Tebak Aidan.
"Dengerin Ane, ini solusi paling ideal untuk masalah yang sedang Ente hadapi. Tidak baik juga ente memikirkan gadis itu terus. Itu namanya zina pikiran." Tegas Aidan membuat Hasan tersadar.
Benar juga apa yang dikatakan Aidan. Gadis itu telah mengganggu pikirannya. Dan berarti gadis itu sudah masuk ke dalam hatinya. Namun sayangnya gadis itu menyukai orang lain. Pria berkacamata itu ragu untuk mengikuti ide sahabatnya yang menyuruhnya untuk mengkhitbah Tiara. Sebelumnya, Dia jujur telah terpikat pada gadis itu dan tertarik untuk mengenal Tiara lebih jauh. Bahkan sengaja membuat kesal gadis itu agar rasa terpikatnya berkurang atau hilang. Namun sepertinya sia-sia.
"Pikirkan baik-baik. Istikharah, agar Ente tidak menyesal." Saran Aidan.
To be continued
Jangan lupa like dan komentar