Aruna Gabriella, gadis sederhana yang mampu mengobati rasa sakit Fahri terhadap ibunya yang telah meninggalkan Fahri demi pria lain.
Mereka berdua sudah bersama sejak masih anak-anak, bahkan tanpa Fahri sadari Aruna diam-diam memiliki perasaan terhadapnya.
Akankah Fahri menyadari perasaan Aruna terhadapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajarina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa lalu Tyas
Tyas dan mantan suaminya sedang berada di sebuah cafe. Mantan suaminya mengajaknya bertemu setelah pertemuan tidak sengaja mereka berdua tadi pagi.
Tyas tidak menyangka akan berjumpa kembali dengan mantan suaminya seperti ini. Dia kira tidak akan melihat pria itu lagi setelah perpisahan beberapa tahun silam.
Dia sedikit terkejut dengan wajah mantan suaminya yang seperti tidak menua. Pria itu seperti masih seumuran dengan tuan muda Taufik. Dan yang pasti tetap tampan seperti halnya dulu.
Tapi wajah tampan pria itu tidak menjamin kesetiannya. Apa yang telah dia lakukan pada Tyas adalah penghianatan terhadap janji yang telah pria itu ucapkan.
Meninggalkan dirinya dalam keadaan hamil tua dan pergi menghilang begitu saja. Meski jelas telah dicampakan Tyas masih terus berharap dengan mencari keberadaan pria yang telah lari darinya.
Rumah yang mereka tempati akhirnya di sita karena Tyas yang sebatang kara tidak mampu membayar cicilannya yang mahal. Umur pernikahan mereka baru 2 tahun dan mereka baru saja pindah ke rumah itu.
Dengan sisa tabungan yang ada Tyas menyewa sebuah apartemen sederhana sampai lahirnya putri pertamanya Seokjin. Dia sangat sedih untuk putrinya yang saat itu lahir ke dunia tanpa hadirnya sosok seorang ayah.
Setelah kelahiran putrinya Tyas melakukan berbagai macam pekerjaan untuk melanjutkan hidup mereka berdua. Mulai dari bekerja di pasar, penjaga toko dan pelayan restoran.
Sudah beberapa kali mereka harus pindah ke sana kemari mengikuti lokasi di mana pekerjaanya berada. Saat itu Tyas sudah mencoba merelakan kepergian suaminya.
Dia tidak lagi mencari-cari keberadaan pria
Itu. Dulu Tyas sangat takut jika pria itu pergi meninggalkannya. Tapi lambat-laun dia sadar pria itu tidak akan pergi jika memang ingin bersama dengan dirinya.
Tyas tidak bisa memaksakan kemauannya. Sekalipun dia menjelaskan kebenarannya kalau memang pria itu memutuskan pergi dia harus apa?
Apa yang membuat hatinya merasa berat adalah karena dia terlalu mencintai pria itu. Dan itulah kelemahannya terhadap pria itu.
Kerinduan yang selama ini menumpuk selama bertahun-tahun dan juga kebahagiaan karena Tyas dapat melihat kembali sosok yang sangat dia cintai itu.
Membuatnya meneteskan air mata haru saat pertemuan pertama denganya tadi pagi. Dia sangat senang karena takdir kembali mempertemukan mereka kembali.
Tyas tidak membenci pria yang dicintainya itu. Tapi dia membenci perbuatan yang telah pria itu lakukan padanya. Seharusnya pria itu tidak pergi begitu saja.
Karena pria itu hanya salah paham atas kejadian beberapa tahun silam. Dia tidak memberikan kesempatan pada Tyas untuk menjelaskan semuanya.
“Bagaimana keadaan kamu?” tanya pria itu pada akhirnya di tengah kecanggungan yang terjadi di antara mereka.
Pria itu justru mendapat balasan tamparan di pipinya
dari Tyas atas pertanyaan basa-basinya. Beberapa
pengunjung cafe pun memperhatikan mereka saat itu karena tindakan wanita itu.
“Kamu masih tanya keadaan aku gimana setelah kamu tinggalin aku dalam keadaan hamil anak kamu?”
Tyas sengaja menekankan kata anak kamu agar membuat pria itu sadar atas perbuatan yang pria itu telah lakukan.
pria itu terdiam saat mantan istrinya menampar pipinya barusan. Matanya berkedip beberapa kali, sepertinya dia tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu.
Tyas yang dia kenal memiliki sifat lemah lembut baru saja menamparnya. Itu menandakan betapa wanita itu sangat marah padanya. Ya, dia memang pantas mendapatkan tamparan dari wanita yang telah dia tinggalkan dalam keadaan mengandung itu.
“Aku minta maaf karena sudah tinggalin kamu dengan keadaan kamu yang masih mengandung. Aku tahu aku gak pantes dapat maaf dari kamu,” jelasnya dengan kepala tertunduk.
Dia tidak sanggup menatap wajah wanita yang sangat dia cintai itu melihatnya dengan tatapan kekecewaan. Betapa beraninya dia bertemu dengan Tyas seperti ini. Dia seharusnya malu pada dirinya sendiri.
“Semenjak aku pergi tinggalin kamu ada banyak hal yang terjadi di hidup aku. Aku dipecat dari kerjaan lama aku dan harus kerja jadi sopir pribadi. Ini semua pasti balasan karena kesalahan aku ke kamu Tyas.”
Kali ini pria itu Tyas lihat meneteskan air matanya. Dengan keadaan kepala yang masih tertunduk. Dia mengusap matanya yang berlinang air mata dengan lengan jasnya.
Beberapa orang yang duduk di dekat mereka memerhatikan pria itu untuk sesaat. Orang-orang itu kembali mengalihkan pandanganya ketika Tyas balas melihat ke arah mereka.
Tyas tidak senang melihat pria itu jadi bahan tontonan. Perlahan tangannya terulur mengusap pundak mantan suaminya itu.
“Saat aku coba cari kamu. Aku gak bisa temuin kamu
di rumah kita karena katanya kamu sudah pindah. Aku
coba tanya ke teman-teman kamu mereka juga bilang gak tahu. Aku pikir kamu sudah pergi jauh entah ke mana. Selama ini aku terus kepikiran sama kamu dan bagaimana keadaan kamu.”
Tyas pikir hanya dia yang merasakan penderitaan karena kejadian beberapa tahun silam. Ternyata pria itu juga merasakan hal yang sama.
“Jadi kamu Cuma kerja jadi sopirnya nyonya Ayunda?” tanya Tyas mengalihkan topik pembicaraan.
Dia tidak ingin membuat pria itu semakin merasa bersalah saat ini. Melihat pria yang sangat dia cintai menangis seperti itu bukanlah hal yang mengenakan
untuk dia lihat.
Pria itu mengangguk pelan di sela isakan tangisnya.
“Aku kerja jadi sopirnya baru-baru ini semenjak dia balik ke sini. Sebelumnya aku sudah gonta-ganti jadi sopir pribadi orang-orang.”
“Kamu selama ini jadi sopir? Bukanya kamu katanya
pergi ke luar negeri?”
Pria itu kembali terisak mendengar pertanyaan dari Tyas. “Aku bilang seperti itu agar kamu tidak mencari-cari aku lagi.”
Tyas tersenyum masam mengetahui kebohongan yang selama ini dia percayai. Semenjak mendengar kabar bahwa mantan suaminya pergi ke luar negeri.
Harapannya untuk mencari pria itu memang mereda. Dia tidak punya cukup uang untuk bepergian sampai harus ke luar negeri. Apalagi dengan keadaanya yang baru melahirkan.
Lagipula sekalipun dia bertemu dengan pria itu apakah mereka akan kembali bersama lagi? Lebih baik Tyas menggunakan sisa uang yang dia miliki untuk menyewa tempat tinggal.
“Sekecewa itu kamu sama aku Andrian?”
Pria itu mengangkat wajahnya menatap pada Tyas. Mendengar wanita itu memanggil namanya mengingatkannya kembali pada masa pertama kali mereka bertemu dulu.
Tyas yang sedari tadi mencoba untuk tidak meluapkan emosinya tak dapat membendung luapan perasaanya yang terasa sesak mengetahui fakta
barusan.
“Egois kamu!” kesal Tyas yang tadinya sedang
mengusap pundak pria itu kini malah memukulnya.
Andrian mengaduh kesakitan, belum reda rasa sakit
di wajahnya karena barusan ditampar oleh mantan istrinya itu, kini dia harus menerima kembali pukulan di lengan kanannya.
Dia mengusap-usap lengannya itu lalu usapnya terhenti saat melihat Tyas yang meneteskan air matanya, Andrian terdiam membisu untuk beberapa saat.
Sebelum akhirnya mengulurkan tanganya lalu mengusap pipi wanita di hadapanya itu. Kini malah Tyas yang balik terdiam membisu, ditambah mendapat tatapan seperti itu dari Andrian.