Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Hati Berujung Takdir

Rahasia Hati Berujung Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Riska ulan Dary

Seseorang gadis yg mengkagumi Ank kiyai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska ulan Dary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 14

Malam hari di rumah keluarga Althair terasa damai. Di kamar tamunya yang sederhana, Raziq duduk di tepi ranjang sambil memandangi layar ponsel. Di luar, suara jangkrik sesekali terdengar, menyatu dengan hawa sejuk selepas hujan sore tadi.

Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya menekan tombol hijau di layar—panggilan WhatsApp internasional ke Kairo.

Tak butuh waktu lama, suara di seberang sana langsung menjawab, tenang seperti biasa.

"Assalamu’alaikum, Ziq," suara Fayyaz terdengar.

"Wa’alaikumussalam, Bang," jawab Raziq, tersenyum kecil. "Gimana di sana? Aman?"

"Alhamdulillah, lancar. Baru selesai halaqah sore," kata Fayyaz sambil terdengar suara angin tipis dari luar jendela kamarnya. "Kamu gimana? Sudah mulai terbiasa di sekolah baru?"

Raziq mengangguk meski tak terlihat. "Pelan-pelan. Suasananya beda, tapi menyenangkan. Walau… ada yang terasa ganjil juga."

"Kenapa?"

"Mungkin karena aku masih nyari posisi. Dulu di pesantren, semuanya terasa terarah. Sekarang harus mulai kenalan, belajar adaptasi. Tapi aku yakin ini bagian dari rencana Allah."

Terdengar tawa kecil Fayyaz. "Kamu makin dewasa aja ya sekarang."

Raziq ikut tertawa, tapi tawanya cepat mereda. Ia menunduk.

"Bang…"

"Hmm?"

"Hari ini… aku lihat dia."

Sejenak tak ada suara. Hanya desir angin dari luar jendela.

"Dia siapa, Ziq?" tanya Fayyaz, meskipun ia tahu.

"Aqiyah," jawab Raziq lirih.

"Dia kelihatan kuat… tapi pandangannya penuh rindu. Aku tahu itu, Bang. Karena aku juga lihat tatapan itu di mata Abang sebelum berangkat."

Fayyaz terdiam. Lama. Lalu terdengar helaan napasnya dari seberang.

"Jagain dia baik-baik, Ziq. Jangan terlalu dekat, jangan terlalu mencolok. Tapi cukup untuk tahu kalau dia nggak sendiri."

"InsyaAllah. Aku juga titip pesan dari dia ke langit tadi, Bang. Doanya."

Fayyaz tersenyum tipis dari jauh, meski tak bisa dilihat.

"Doakan aku cepat selesai di sini… dan segera menghalalkannya."

Raziq menahan haru.

"Aamiin, Ya Rabb."

"Dan satu lagi, Ziq."

"Apa?"

"Jagain Umi dan Abi juga. Aku tenang kalau kamu di sana."

"Pasti, Bang. Mereka sehat, aku selalu kabarin tiap hari."

Hening sejenak, seperti dua hati yang saling menguatkan meski terpisah ribuan kilometer.

"Baik-baik di sana ya, Ziq."

"Iya, dan Abang juga. Semangat, Bang."

Panggilan berakhir. Raziq meletakkan ponsel di atas meja kecil, lalu memandang langit malam dari balik jendela.

Dalam hatinya, ia tahu… tugasnya tak mudah. Tapi ini bukan sekadar amanah dari seorang kakak—ini bagian dari perjuangan hati yang lebih besar.

🌻🌻🌻

Pagi Hari – Menuju Sekolah

Mentari pagi perlahan muncul dari balik awan tipis, menyinari halaman rumah keluarga Althair dengan lembut. Udara masih segar, embun belum sepenuhnya menguap dari daun-daun. Di teras, Raziq berdiri rapi dengan seragam barunya, ransel di punggung, dan Al-Qur’an kecil dalam genggamannya.

Umi muncul dari dalam rumah, membawa bekal yang sudah dibungkus rapi.

"Ini buat kamu, Nak. Jangan lupa dimakan nanti."

Raziq tersenyum menerima bekal itu.

"Makasih, Umi. Doakan ya, biar hari ini lancar."

Umi mengelus kepala putra bungsunya dengan penuh kasih. "InsyaAllah. Kamu itu bukan cuma belajar sekarang, Ziq. Kamu sedang jaga amanah juga. Umi bangga."

Tak lama kemudian, Abi ikut keluar.

"Ayo, nanti terlambat."

Mereka pun menuju mobil sederhana yang akan mengantar Raziq ke sekolah. Sepanjang perjalanan, Raziq hanya memandang keluar jendela, menikmati pemandangan pagi yang masih sepi. Dalam diamnya, ia mengulang hafalan pelan-pelan—mempersiapkan diri untuk ujian tahfiz yang akan segera berlangsung.

Saat tiba di depan sekolah, suasana mulai ramai. Murid-murid berdatangan, sebagian besar tampak santai setelah libur panjang. Namun ada juga yang terlihat gugup—seperti Esha dan Aqiyah yang baru saja tiba bersama.

Raziq turun dari mobil, menatap gerbang sekolah dengan napas yang ia tarik dalam-dalam.

“Bismillah…” gumamnya.

Abi menepuk bahu putranya. "Luruskan niat, Nak. Kamu pasti bisa."

"Aamiin," jawab Raziq, sebelum melangkah masuk ke lingkungan sekolah, menyatu kembali dengan dunia yang kini mulai ia kenali pelan-pelan.

Dari kejauhan, ia sempat melihat Aqiyah dan Esha berbincang ringan sambil berjalan ke arah kelas. Raziq tidak menghampiri—hanya mengangguk kecil dari kejauhan sebelum memalingkan pandangannya, menjaga hati dan niat yang sejak awal sudah ia tetapkan.

----

Langkah-langkah ringan terdengar di antara jalanan menuju sekolah. Aqiyah baru saja tiba, wajahnya bersih dan segar setelah menempuh perjalanan pagi dari rumah. Seragamnya rapi, tas selempangnya tergantung di bahu, dan jemari halusnya menggenggam botol minum kecil.

Di depan gerbang, sosok yang sudah sangat akrab baginya berdiri sambil memainkan ujung lengan bajunya.

"Esha!" sapa Aqiyah sambil tersenyum.

Esha menoleh cepat, senyumnya merekah. "Aqiyah! Alhamdulillah, barengan lagi deh kita hari ini!"

Mereka pun berjalan berdampingan, langkah keduanya pelan tapi penuh semangat. Suasana pagi di sekolah terasa sedikit lebih ramai—beberapa siswa sudah mulai berdatangan, bersiap untuk hari pertama setelah masa libur dan wisuda kelas 12.

"Eh, gak kerasa ya, Yaa…" gumam Esha sambil menatap gedung kelas yang semakin dekat.

"Kita udah di penghujung tahun juga. Sebentar lagi ujian kenaikan kelas."

Aqiyah mengangguk. "Iya. Rasanya baru kemarin masuk sekolah, sekarang udah harus siap-siap ujian lagi."

Matanya sempat melirik ke arah taman belakang yang kosong. Sekilas, ia teringat suasana hening saat ia sendirian di sana beberapa hari lalu.

"Gimana menurut kamu pelajaran reguler kita? Bisa kejar target gak nih, Sha?"

Esha menoleh sambil nyengir. "Bisa… asal malamnya gak ketiduran waktu belajar! Tapi serius, targetnya lumayan padat sih. Fiqh aja banyak banget bab yang harus diulang."

"Iya, belum lagi Nahwu, Sharaf… Aku juga mesti lebih fokus. Apalagi kita ada kelas tambahan juga." jawab Aqiyah pelan.

"Multitasking mode on deh, pokoknya." canda Esha sambil mengangkat tangan pura-pura semangat.

Mereka tertawa kecil, langkah mereka kini sudah tiba di depan kelas. Beberapa teman sudah duduk di dalam, suasana cukup riuh tapi tetap teratur.

Tak lama kemudian, guru mereka masuk ke kelas membawa beberapa lembar berkas.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."

Seluruh siswa langsung berdiri.

"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh!"

Aqiyah dan Esha saling pandang sekilas. Mata mereka sama-sama menunjukkan kesadaran: hari ini bukan hari biasa. Ini awal dari perjuangan baru—di kelas, di hafalan, dan juga… di dalam hati masing-masing.

🌻🌻🌻🌻

"Baik, anak-anak. Hari ini kita mulai masuk ke materi akhir sebelum ujian kenaikan kelas. Mohon semuanya fokus, karena apa yang kita pelajari hari ini akan muncul dalam ujian nanti."

Suasana di dalam kelas mendadak lebih tenang. Suara kursi yang bergeser, buku yang dibuka, dan pena yang mulai mencatat jadi suara latar yang akrab.

Aqiyah duduk di bangkunya sambil membuka buku catatan. Matanya memperhatikan papan tulis, namun pikirannya sempat teralihkan sesaat—teringat akan jadwal kelas tambahan sore nanti dan ujian tahfiz yang semakin dekat.

Di sebelahnya, Esha mulai mencoret-coret kata kunci di bukunya. Ia sempat berbisik,

"Konsentrasi penuh, Yaa. Jangan melayang ke taman belakang lagi."

Nada suaranya pelan namun menggoda.

Aqiyah menahan senyum. "Aku nggak melayang, kok. Cuma… banyak yang harus diinget."

Guru mereka, Ustazah Hanifah, melirik ke arah mereka sambil tersenyum tipis. "Aqiyah, Esha. Kalau ada yang mau ditanyakan, boleh angkat tangan. Bukan angkat kepala buat ngobrol, ya."

Keduanya langsung duduk tegak.

"Maaf, Ustazah," jawab mereka hampir bersamaan.

Pelajaran pun berlanjut. Hari itu mereka membahas Fiqh bab muamalah—tema yang cukup menantang namun juga menarik. Ustazah Hanifah menyampaikan materi dengan interaktif, sesekali melemparkan pertanyaan ke siswa-siswi yang terlihat mengantuk.

"Baik, siapa yang bisa sebutkan tiga syarat sahnya jual beli dalam Islam?"

Beberapa tangan terangkat. Salah satunya milik Aqiyah.

"Silakan, Aqiyah."

"Harus ada penjual dan pembeli yang baligh dan berakal, barang yang dijual halal dan jelas, serta ada keridhaan antara dua belah pihak, Ustazah."

"Bagus. Lengkap jawabannya, barakallahu fiiki."

Sementara itu, Esha sibuk membuat rangkuman di bukunya, dan sesekali mengangguk-angguk tanda mengerti.

Pelajaran berlanjut ke bahasa Arab, lalu dilanjutkan dengan Tafsir. Waktu istirahat terasa datang begitu cepat, namun semangat para siswa belum padam—terutama mereka yang mengikuti kelas tambahan.

Ketika bel istirahat berbunyi, kelas mendadak hidup kembali dengan obrolan dan suara kursi bergeser.

"Lanjut hafalan siang nanti ya?" tanya Esha sambil membereskan bukunya.

"Iya… dan semoga hari ini lancar," jawab Aqiyah, menghela napas sambil menatap catatannya yang penuh coretan warna-warni.

🐰🐰🐰

Waktu Istirahat –

Bel istirahat baru saja berbunyi, dan seperti biasa, suasana kelas langsung berubah menjadi lebih hidup. Beberapa murid bergegas ke kantin, terdengar suara tawa dan langkah kaki yang cepat menuju luar kelas.

Ada yang saling berebut tempat duduk di bawah pohon favorit, ada juga yang sekadar berjalan-jalan kecil di koridor untuk menghirup udara segar.

Namun, tidak semua ikut dalam keramaian itu.

Di dalam kelas, Aqiyah membuka kotak bekalnya dengan tenang. Makanan buatan Mama-nya hari itu cukup sederhana: nasi hangat, ayam goreng madu, dan sedikit sayur tumis. Esha duduk di sebelahnya sambil mengeluarkan bekalnya sendiri—roti isi dan potongan buah.

"Aduh, enak banget baunya. Tukeran gak, Yaa?" goda Esha sambil mengintip isi bekal Aqiyah.

Aqiyah tertawa pelan. "Kalau cuma satu potong, boleh banget."

Tak jauh dari mereka, Raziq duduk di bangku belakang. Ia pun membuka bekalnya sendiri—makanan yang disiapkan oleh umi-nya pagi tadi. Isinya sederhana, tapi rapi dan tertata dengan penuh kasih sayang.

Ia sempat melirik ke arah dua gadis itu, lalu menunduk kembali, pura-pura fokus dengan makanannya.

"Eh, Raziq, makan di sini aja yuk," ucap Esha sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Raziq sedikit terkejut, tapi akhirnya tersenyum dan membawa kotak makannya ke meja mereka.

"Makasih, kk Esha. Gak ganggu, kan?"

"Enggak lah. Btw panggil nama aja Kita semua satu kelas, santai aja," balas Esha dengan ramah.

Aqiyah hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Meski Raziq tampak tenang, ada kesan dewasa dan kalem yang membuatnya terlihat berbeda dengan kebanyakan anak laki-laki seusianya.

Mereka bertiga makan bersama sambil mengobrol ringan. Topik yang dibahas pun seputar hafalan, pelajaran, dan sedikit candaan soal guru-guru yang suka memberi tugas dadakan.

"Aqiyah, Esha, biasanya uas itu dari semua pelajaran masuk ke ujian?" tanya Raziq dengan nada serius tapi sopan.

Aqiyah berpikir sejenak. "Dari semester 2 aja, Ziq.."

"Yang penting dari semester 2 ini kita ulang lagi aja pelajaran nya ziq,oiya kamu kan baru masuk ni,pasti ada catatan yg belum kamu tau" tambah Esha, sambil tersenyum.

"Kamu boleh pinjam catatan kita aja ziq kalo kamu mau"ucap aqiyah sambil makan.

"Hm boleh deh,nanti lihat cacatan nya qi,sha"jawab raziq sambil melanjutkan makannya

"Aman azahh"ucap ehsa ketiganya tertawa ringan

.

Meski mereka baru duduk bersama beberapa kali, suasana terasa akrab. Mungkin karena mereka sama-sama berada di jalan yang sama—

1
Kartini Saparwan
lanjuttt thorrr
Kartini Saparwan
semangat ya
Kartini Saparwan
lanjuttttttt thorrrr
Kartini Saparwan
lanjut minnnnn
Kartini Saparwan
ceritanya bagus, baik, sopan dan sesuai manteppp benerrrr rajin banget outhor nya post
Kartini Saparwan
keren lanjut
Kartini Saparwan
keren
Riska ulan Dary
bagus
Afiq Danial Mohamad Azmir
Mantap!
Yuri Lowell
Capek tapi puas baca cerita ini, thor! Terima kasih sudah membuatku senang.
Kuroi tenshi
Thor ini keren banget, cara bikin alur dan plot twist!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!