Salam kenal novel toon
Aku Monica Dewi
Ini karya Perdanaku.
Dalam cerita ini mengisahkan perjuangan Bima Prasetyo mendapatkan cinta Gadisza Eka Maharani.
Pertemuan Bima dengan Gadisza tanpa sengaja disebuah kafe dikota S, meninggalkan perasaan yang mendalam dan pertama kali dirasakan oleh Bima. Jatuh cinta.
Bagaimanakah dengan perasaan Gadisza/szasza sendiri setelah Bima menyatakan cintanya. Setelah mengalami patah hati karena hanya dijadikan pelarian oleh cinta pertamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14. Meminta nomor handphone Szasza
Di ruang makan, seperti biasa papa Sonny, mama Andin, mas Denny dan Bima, sedang menikmati sarapan pagi. Suasana hening tidak ada perbincangan di meja makan, hanya terdengar suara sendok garpu yang beradu dengan piring. Beberapa menit kemudian, Bima telah menyelesaikan makannya. Setelah minum dan membasuh mulutnya dengan tissue, dirinya beranjak dari kursi makan.
" Pa, ma...aku berangkat..." pamit Bima sambil bergantian mencium kedua tangan papa Sonny dan mama Andin.
" Hati - hati Bim, ingat jangan mengebut bawa motornya. " pesan mama Andin.
" Ia, ma..." jawab Bima sambil meraih tas ransel dan jaket yang ia letakkan di sandaran kursi makan. Dengan sambil berjalan menuju pintu penghubung ruang garasi, Bima memakai jaket ke tubuhnya. Di garasi Bima segera memakai helm dan naik keatas motornya. Dan tentunya helm yang ia beli kemarin untuk Gadisza tidak lupa ia bawa juga yang ia kaitkan dengan ikatan jaring di jok boncengan. Dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu kembali dengan Gadisza. Hari ini, ia berharap Gadisza mau pulang bersama dengannya. Bima segera melajukan motornya keluar dari pintu garasi dan pintu gerbang rumahnya. Dengan kecepatan sedang motor Bima sudah melaju di jalan raya menuju tempat sekolah. Setelah memakan waktu 30 menit perjalanan, motor Bima sudah memasuki pintu gerbang sekolah dan menuju area parkir sekolah. Ditempat itu, Bima belum melihat motor Fatur dan Rio. Setelah melepas dan meletakkan helm dan jaketnya. Bima berjalan dengan langkah panjangnya menuju kelas dengan menyusuri lorong dan menaiki anak tangga. Sampai di lantai 2, ia melihat jam di pergelangan tangan kanannya. Jam baru menunjukkan pukul 06.30. Bima kembali melangkahkan kakinya menaiki anak tangga ke lantai 3. Tepat ditengah pintu kelas, Bima berhenti. Matanya menemui kursi yang ia ketahui Gadisza duduk, namun Gadisza tidak terlihat di situ.
" Kemana dia..." batin Bima.
Kehadiran Bima yang berdiri di tengah pintu, membuat siswa - siswi yang berada di kelas Gadisza melihat ke arahnya. Khususnya siswi nampak senang dengan keberadaan Bima yang sedang berdiri.
" Ya ampun Bima, ada apa dia ke sini, apa mau mengganti pak Bernard mengajar olahraga lagi? " bisik salah satu siswi kepada temannya dengan mata masih melihat ke arah Bima yang terlihat seperti sedang mencari - cari.
" Ya ampun makin tampan saja Bima. " bisik yang lain.
" Tunggu bro, boleh tau, apa Gadisza sudah datang? " tanya Bima kepada salah satu teman satu kelas Gadisza yang kebetulan lewat ingin keluar dari kelas.
" Sudah, tapi dia sedang keluar tapi nggak tau kemana. " jawab siswa itu kepada Bima.
" Ok. Thanks. " ujar Bima.
" Sip. " Siswa itupun kembali melanjutkan langkahnya keluar.
Bima memutuskan menunggu Gadisza diluar kelas dan berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di dinding samping pintu kelas Gadisza. Lalu mengeluarkan gadget dari dalam tas ranselnya dan membuka gadget untuk memeriksa notifikasi yang masuk.
Di sisi lorong menuju kelas, Gadisza dan Ayu berjalan dari toilet.
" Ssst Sza...lihat..." ujar Ayu tiba - tiba menunjuk dengan matanya.
Szasza mengikuti arah mata Ayu. Dilihatnya Bima yang sedang berdiri bersandar di tembok samping pintu kelasnya.
" Mau apa dia? " ucap Szasza dengan mata mengernyit ke arah Bima.
" Mana aku tahu... Mau temui kamu lagi kali. " goda Ayu.
Szasza mendengus mendengar godaan Ayu.
" hehehe... Tuh lihat pangerannya melihat ke sini, Sza. Tampannya. Apa kamu nggak senang, pria setampan Bima dekati kamu. Banyak cewek-cewek sekolah kita berharap Bima. "
" Bima hanya ingin berteman saja Ayu, ingat itu. " tegas Szasza.
" Kita lihat saja nanti, apa Bima murni hanya ingin berteman denganmu. Karena aku lihat dari matanya itu menyimpan sesuatu kepadamu, Sza. "
" Sudah, jangan sok tahu. Kalaupun itu benar, gue nggak tertarik, Yu. "
Langkah Ayu dan Gadisza hampir mendekati posisi Bima berdiri. Langkah mereka membuat Bima mengalihkan pandangannya dari gadget yang dipegangnya. Senyuman Bima langsung mengembang ketika melihat Szasza dan meluruskan tubuhnya dari bersandar sambil membetulkan tas ransel di bahunya.
" Kamu lihat sendiri, mata dan senyumnya saja mengarah hanya kepadamu." bisik Ayu kepada Szasza dengan mata tetap ke depan.
Szasza membuang wajahnya dan berpura-pura tidak melihat Bima dan ketika ingin melewati Bima, namun langkah Szasza terhenti karena Bima menghadang langkahnya. Szasza bergerak kesamping agar bisa melanjutkan langkahnya, namun sekali lagi Bima menghadangnya. Szasza menghunuskan tatapan kesal kepada Bima. Sementara Bima hanya menarik bibirnya membentuk senyuman.
" Gue masuk dulu ya, Sza..." Ayu mendahului Szasza masuk ke dalam kelas, karena ia sadar mungkin Bima hanya ingin bertemu dengan Szasza.
" Ayu tunggu..." seru Szasza, namun Ayu hanya menoleh sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya setelah itu kembali melangkah masuk ke dalam kelas.
Matanya beralih kembali kepada Bima yang masih tetap berdiri di hadapannya tanpa memberi celah jalan untuknya.
" Ada perlu apa lagi sekarang sampai lo harus halangi jalan gue. " ucap Szasza kesal.
" Kemarin aku lupa meminta nomor handphonemu. Jadi masukan nomormu di sini. " Bima menyodorkan gadgetnya kepada Szasza.
" Apa nomorku penting? " tanya Szasza dan melihat gadget yang dipegang Bima.
" Tentu saja. Apa kamu lupa, kalau kita sekarang berteman, jadi sudah sewajarnya kalau aku harus tahu nomor handphonemu kan. Supaya kita bisa saling komunikasi. " Bima beralasan.
" Gue rasa tidak perlu, kita satu sekolah tentunya setiap hari akan bertemu terus, jadi kalau lo mau bicara, bisa di sekolah saja. " ujar Szasza dengan nada ketus.
" Sekarang tolong jangan halangi jalan, gue mau masuk, beberapa menit lagi bel sekolah akan berbunyi, apa lo mau masih tetap di sini? " lanjut Szasza meminta, karena dirinya sudah merasa risih lagi-lagi seperti kemarin harus jadi bahan perhatian dari teman sekelasnya dan siswa-siswi kelas lain yang berjalan melewati dirinya dan Bima.
" Tidak masalah, aku akan tetap di sini dan itu berarti kamupun tidak akan bisa masuk ke dalam kelas, karena aku tidak akan memberi jalan untukmu. "
Szasza akhirnya mengambil gadget dari tangan Bima. Dan mengetik nomor handphonenya di gadget Bima. Sementara ada senyum kemenangan di bibir Bima.
" Sudah..." Szasza memberikan kembali gadget kepada Bima.
" Namamu..." ujar Bima setelah melihat ternyata Szasza tidak memasukkan namanya di gadgetnya.
Szasza memutar bola matanya sambil menarik napas dan berujar kesal.
" Lo kan sudah tahu nama gue. Jadi ketik saja sendiri. "
" Ok. " Bima mengetik di gadgetnya.
" Ini namamu..." Bima memperlihatkan layar gadget kepada Szasza dengan menahan senyum.
Mata Szasza terbelalak ketika melihat yang di ketik oleh Bima.
Kekasihku.
Segera direbutnya gadget itu dari tangan Bima, dan mengganti dengan namanya.
Szasza.
Setelah itu dengan tangan kirinya Szasza meraih tangan kanan Bima dan menghentakkan gadget tersebut ke tangan Bima.
" Sekarang tolong minggir lah. " pinta Szasza.
" Baiklah. " Bima menggeser tubuhnya ke samping.
mampir yuk ke novelku@Rafa Adelia Sanjaya
baru karya pertama sih kak maaf ya kalau ngak terlalu asik.