Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14_Perasaan nyata sang putri

[1 Minggu Setelahnya]

Tia membuka matanya dengan pelan. Ia meregangkan badannya, wajahnya masih ngantuk.

*Hah...*

“Hmm... sudah pagi ya?” Suaranya serak pelan, mata sayu.

Ia bangun dan membuka jendelanya.

*Kriet...*

Sinar pagi menyorot kedua matanya. Angin sejuk masuk ke kamarnya dan membuat rambutnya sedikit terangkat. Dari jendela itu, ia bisa melihat ibu kota yang sudah ramai dengan hiruk-pikuk kegiatan orang-orang.

*Wussh...*

Tia yang masih mengenakan piyamanya menarik napas dalam-dalam, matanya menyipit nyaman.

“Rasanya sangat menenangkan...” sambil tersenyum tipis, pipinya hangat.

Ia berjalan ke arah lemarinya lalu membukanya. Di dalam lemari itu ada banyak sekali baju-baju yang bagus. Tapi hari ini ia memilih baju untuk latihan.

“Huhh... hari ini ada latihan lagi. Aku sudah lelah...” sambil merengutkan pipinya, bibir manyun.

Setelah berganti baju, ia langsung keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang makan, wajahnya datar lagi.

“Hari ini pasti Papa dan Kakak tidak akan datang... seperti biasanya.” Ia menundukkan kepalanya, matanya meredup.

Lalu ia mengangkat wajahnya kembali, senyum tipis dipaksakan.

“Untuk apa aku memikirkan mereka. Selama aku memiliki Ibu, aku akan baik-baik saja.”

Saat berjalan di lorong menuju ruang makan, ia melihat ibunya yang berjalan pelan. Matanya langsung berbinar.

“Ibu, tunggu aku!” Suaranya ceria.

Ibunya membalikkan badan dan menoleh ke belakang, wajahnya lembut.

“Wah... Tia, ternyata.”

Ia mengusap pipi Tia dengan lembut, matanya menyipit sayang.

“Tumben sekali kau belum berada di ruang makan?”

Tia menurunkan bahunya dan menghela napas, wajahnya manyun.

“Huhh... itu membosankan, asal Ibu tahu. Aku harus selalu makan sendiri. Papa dan Kakak selalu saja sibuk. Ayah terlalu sibuk karena terobsesi dengan kejayaan, dan Kakak sangat terobsesi dengan kepopuleran.” Alisnya bertaut kesal.

Ibu Tia tersentak kaget, matanya sedikit membelalak, bibir terbuka.

“Ehh... benarkah seperti itu?”

Tia mengerutkan dahinya, wajahnya judes.

“Benar sekali. Dan lagi, sifat mereka yang sama-sama suka mempermainkan perempuan... itu benar-benar sangat menjijikkan.” Matanya menyipit jijik.

Ibu Tia ternganga, tidak percaya dengan apa yang ia dengar, wajahnya kaget.

“Be-benarkah ya...” Alisnya naik-turun.

“Ngomong-ngomong, Tia... ada yang perlu Ibu tanyakan.” Matanya melirik curiga tapi lembut.

Tia menjawab cepat, wajah datar.

“Tentu. Apa itu?”

Ibu Tia bertanya pelan, senyum tipis menggoda.

“Sepertinya kau jadi sedikit lebih berekspresi dari biasanya ya?”

Tia langsung menundukkan kepalanya. Pipinya memerah, matanya menghindar.

“Ti-tidak juga kok.” Suaranya gugup.

Ibu Tia menaruh tangan di mulutnya, menyembunyikan senyum tipis, matanya berbinar jail.

“Benarkah? Tidak ada alasan lain?”

Tia terus menunduk. Pipinya dan telinganya merah padam, bibir digigit.

“Be-benar kok. Ti-tidak ada alasan lain...” suaranya gugup, tangan meremas baju.

Ibu Tia mengusap kepala Tia, lalu mulai berjalan lagi menuju ruang makan, wajahnya lembut.

“Ayo, Tia. Kalau kau terus berdiam diri di situ, kau akan telat sarapan loh.”

Tia terkejut. Bahunya menegak, mukanya masih merah padam, mata panik.

“Ba-baik. Aku akan segera ke sana.”

Mereka akhirnya sampai di ruang makan. Begitu masuk, mereka terkejut. Mata mereka membelalak.

Ada seorang wanita yang terlihat menangis di samping Raja. Wajahnya pucat, bahu bergetar.

“ SAYANG! Apa yang kau lakukan kepadanya, hah?!” Suara Ibu Tia meninggi, wajahnya tegang marah.

Tia menurunkan bahunya, matanya membelalak tak percaya, bibir bergetar.

“Bohong, kan... Nyonya Flora?”

Flora menghapus air matanya dengan kedua tangan, wajahnya berusaha tersenyum meski mata sembab.

“Maaf mengganggu waktu makan kalian. Kalau begitu, aku izin pergi dulu.”

Ia langsung berlari melewati mereka berdua, langkahnya goyah.

Ibu Tia mengerutkan alisnya dan menggertakkan gigi, wajahnya merah padam marah.

“Sayang, jangan bilang kau memperlakukan Flora dengan kasar lagi!?” Matanya melotot.

Tia langsung menangis dan berlari meninggalkan ruang makan, air matanya jatuh.

“Aku benci kepada Papa! Sangat benci!!” Suaranya pecah.

Ibu Tia benar-benar marah. Wajahnya mengkerut, rahang mengeras. Ia berjalan cepat ke arah Raja dan langsung menamparnya dengan sangat keras.

*PLAK!*

“Kau benar-benar sudah keterlaluan, Margo!” Matanya berkaca marah.

Raja hanya menatap istrinya dengan tatapan tajam, wajahnya dingin tanpa rasa bersalah.

“Aku melakukan hal itu, karena kau yang bilang tidak ingin berhubungan seperti itu lagi denganku.”

Wajah Ibu Tia berubah. Bahunya menurun, matanya meredup. Ia langsung membungkuk, wajahnya pucat menahan takut.

“Maafkan saya, Yang Mulia... karena telah menampar wajah Yang Mulia.” Suaranya bergetar.

Raja membuang mukanya, wajahnya datar sinis.

“Aku maafkan. Tapi lain kali jangan berbuat seenaknya seperti itu lagi.”

Tia berlari mengejar Nona Flora hingga ke taman. Napasnya memburu, wajahnya panik cemas.

_Kenapa? Kenapa Ayah membuat Nyonya Flora menangis?_

Sampai di taman, ia mencari ke sekeliling dengan tergesa, mata berkaca-kaca.

_Di mana? Di mana Nona Flora sekarang?_

Tiba-tiba dari belakang terdengar langkah kaki pelan.

*Tap... tap...*

“Ah... Tia.” Suara lembut.

Tia langsung membalikkan badan, matanya berbinar lega.

“Nyonya Flora!” Ia berlari ke arahnya, wajahnya cemas. “Apa Nona sudah tidak sedih lagi?”

Flora tersenyum pada Tia, matanya sembab tapi hangat.

“Hmm... tidak kok. Karena Tia sudah ada di sini.”

Ia mengambil sapu tangannya dan mengelap sisa air mata di matanya, tangan sedikit gemetar.

Tia murung, bibir bergetar.

“Maaf, Nyonya Flora... karena Papa, Nona jadi seperti ini.” Air matanya menetes, wajahnya tertunduk bersalah.

Flora tersenyum tipis dan memegang bahunya, matanya lembut.

“Hei, Tia. Mari duduk di bangku yang di sana.”

Tia mengangguk pelan, mata masih berkaca. Mereka berjalan ke bangku itu. Setelah duduk, Flora mengambil sapu tangannya dan mengusap air mata Tia dengan lembut.

“Tidak apa-apa kok, Tia tidak perlu bersedih.” Suaranya pelan menenangkan.

Flora lalu menggenggam tangan Tia, genggamannya hangat.

“Tia, kau tidak perlu menangis. Ini bukan salah Tia. Mungkin Raja hanya tidak ingin diganggu oleh selir sepertiku.” Senyumnya pahit, mata meredup.

Lalu ia menyandarkan kepala Tia ke pundaknya dan mengelusnya lembut, wajahnya teduh.

“Ouh, iya. Aku hampir lupa mengatakannya... terima kasih ya, Tia. Karena sudah mau berteman dengan Kai.” Matanya berbinar tulus.

Tia menggeleng pelan, wajahnya serius.

“Tidak perlu berterima kasih kok. Justru aku yang ingin berterima kasih kepada Nona.”

Ia menggenggam tangan Flora erat, matanya berkaca-kaca.

“Terima kasih... karena sudah membuat Kai ada di dunia ini.” Suaranya bergetar tulus.

Flora sedikit terkejut, alis terangkat, mata membelalak lembut.

“Memangnya ada apa?”

Tia tersenyum tipis, pipinya sedikit merona.

“Sebenarnya beberapa hari yang lalu...”

[Kilas Balik 2]

Tia berjalan menuju tempat latihan seperti biasa, wajahnya datar.

Saat itulah ia melihat seorang anak sedang berlatih gerakan pedang sendirian di lapangan latihan ksatria, keringat bercucuran.

“Siapa dia? Kenapa dia berlatih di tempat ini?” Alisnya berkerut.

Tia menghampirinya dan melambaikan tangan, wajahnya judes.

“Oii... sedang apa kau di sini?”

Kai menoleh. Ia diam sebentar, wajahnya datar, lalu melanjutkan latihannya.

Tia kesal, pipinya menggembung.

Ia menghampiri dan menggenggam tangan Kai, matanya melotot.

“Hei! Kau!” Ia menarik Kai dengan paksa. “Cepat ikut denganku!”

Kai bingung, hanya bisa pasrah, wajahnya bingung.

“Maaf... kau mau membawaku ke mana?”

Tia merengut, bibir manyun.

“Ke ruang latihan!” Nada suaranya judes. Ia menoleh ke Kai, mata menyipit.

“Dengar ya. Sebagai Putri Kerajaan, aku tidak akan membiarkanmu latihan di tempat seperti itu. Itu berbahaya.”

Kai memiringkan kepala, wajah polos.

“Kenapa berbahaya?”

“Karena kau bisa saja dibunuh oleh seorang assassin. Itu yang biasanya aku dengar dari guruku.” Sambil terus menyeret Kai, wajahnya serius.

Sampai di tempat latihan, ia mendorong Kai ke tengah ruangan, wajahnya kesal.

“Cepatlah ke sana!”

Kai yang tidak tahu apa-apa menurut saja. Ia berjalan ke tengah lapangan sambil menggenggam pedang kayunya, wajahnya bingung.

Saat Guru Yue datang, ia terkejut melihat Kai, matanya membelalak.

“Kena... Tia, apa kau mengenalnya?”

Tia menggeleng, wajah datar.

“Tidak. Aku sama sekali tidak mengenalnya.”

Guru Yue menunduk dan berbisik di telinga Tia, wajahnya serius berbisik.

“Dengar, Tia. Orang yang sering latihan dari pagi sampai malam yang kemarin ku ceritakan... itu dia.” Matanya tegang.

Tia terkejut dan menoleh ke Kai, alis terangkat.

“Tapi dia tidak kelihatan seperti orang yang sering berlatih ilmu pedang.” Wajahnya ragu.

Guru Yue berbisik lagi, mata menyipit.

“Aku tidak bohong, Tia. Tunggu sebentar, ada yang ingin kutanyakan.” Ia menatap Kai tajam, lalu berbisik lagi.

“Apakah kau tahu julukan ‘Sang Putri Pedang’?”

Tia mengangguk, mata berbinar kagum.

“Tentu. Dia salah satu pahlawan, kan? Orang yang hampir mengimbangi teknik berpedang milik pahlawan legendaris Xenon. Dan anak ini adalah putranya.”

Tia tersentak, mulut menganga, mata membelalak.

“Ehh... bohong! Lalu bagaimana caranya dia masih bisa bertahan sejauh ini?”

Guru Yue menggeleng pelan, wajahnya merinding.

“Aku pernah melihatnya. Satu tahun lalu, mereka sparing. Walaupun Sang Putri Pedang hanya memakai satu tangan, anak ini tidak berhenti menyerang. Saat Putri Pedang menginjakkan kakinya ke genangan lumpur, anak itu langsung melompat ke udara, memutarkan tubuhnya, lalu menebas dengan sangat kencang.” Matanya berbinar mengingat.

Mata Tia berbinar, wajahnya kagum.

“Lalu... apakah dia menang?”

Guru Yue menggaruk kepala, wajahnya canggung.

“Tidak mungkin. Putri Pedang menangkisnya dengan tangan satunya lagi. Tapi... walau dia kalah, aku belum pernah dengar ada orang yang mampu bertahan lama melawan Putri Pedang yang hanya pakai satu tangan.”

Mereka berdiri tegak lagi. Tia menatap Kai, mata berbinar penasaran.

“Dari yang aku pahami... anak ini benar-benar cepat beradaptasi dan sangat jenius dalam pertarungan.”

Kai berjalan ke arah mereka. Guru Yue merinding ketakutan, wajahnya tegang.

Kai bertanya, wajahnya polos.

“Hei... jangan bilang kau membawaku ke sini karena ingin mengajakku latihan bertarung?”

Tia mengangguk pelan, pipinya sedikit merah.

“Begitulah.”

Kai tersenyum dan menunduk, wajahnya lembut.

“Aku senang atas tawaranmu. Tapi maaf, aku harus menolak.”

Tia kaget. Ia mengerutkan dahi, mengira Kai meremehkannya, wajahnya kesal.

“Kau... benar-benar...” Alis bertaut.

“Karena aku tidak bisa mengarahkan pedangku kepada perempuan.” Sambil tersenyum tipis ke Tia, matanya tulus.

Tia tersipu. Pipinya merah padam, mata membelalak, jantung berdegup.

“Hah? Apa yang kau bicarakan?!” Suaranya panik.

Guru Yue menggenggam bahu Tia, wajahnya panik menahan tawa.

“Aku keluar dulu sebentar. Kau tetap tunggu di sini ya.” Lalu ia keluar cepat.

Tia memegangi dadanya, wajahnya merah, mata bergetar. _Kenapa rasanya begitu hangat?_

Ia bertanya pelan, suara gugup.

“Kenapa kau berkata seperti itu?”

Kai menjawab, senyumnya hangat, matanya lembut.

“Karena orang yang paling kucintai pernah berkata padaku, bahwa aku tidak boleh mengarahkan pedangku kepada perempuan.”

Tia memegangi dadanya lagi, wajahnya bingung. _Ah... tadi rasanya hangat. Tapi sekarang jadi dingin._

Ia tersenyum tipis, mata meredup.

“Siapa orang yang kau cintai itu?”

Kai tersenyum lebar, matanya berbinar bangga.

“Dia ibuku. Namanya Flora.”

Tia terkejut, ternganga, mata membelalak. _Flora... jadi anak ini anak Nyonya Flora? Dan ternyata Nona Flora adalah seorang pahlawan._ Wajahnya tertegun.

_Tapi begitu ya... dia sangat mencintai orang seperti itu._ Sambil tersenyum tipis, matanya hangat.

Setelah itu Kai langsung berlari meninggalkan Tia, wajahnya ceria.

“Kalau begitu, selamat tinggal.”

Tia menatap punggung Kai dari jauh, pipinya masih merah, matanya berbinar.

_Baru pertama kali ini ada yang menganggapku sebagai seorang perempuan biasa._

Keesokan harinya, Tia mengubah penampilannya. Rambutnya digerai. Ia memakai gaun putih yang indah. Wajahnya bersinar, pipi merona.

Saat berjalan, ia melihat Kai sedang istirahat di bangku taman, wajah lelah.

Tia berjalan ke arahnya, lalu berdiri di hadapannya dan tersenyum manis, pipi merona.

“Hei! Kamu! Mau jadi temanku?” Matanya berbinar harap.

[Akhir Kilas Balik 2]

Flora tertawa tipis mendengar hal itu, matanya menyipit senang.

“Jadi begitu... tidak kusangka Kai kecilku akan mengatakan hal seperti itu.” Wajahnya bangga.

Tia langsung tersipu malu. Pipi dan telinganya berubah menjadi merah padam, mata menghindar.

“Sudahlah, Nyonya Flora... aku benar-benar sangat malu.” Suaranya kecil.

Flora langsung menutup mulutnya dan mencoba menahan tawa dengan cara pura-pura batuk, mata berbinar jail.

“Jadi... apa jangan-jangan perubahan dirimu yang benar-benar mencolok ini karena kau menyukainya?”

Tia tersentak. Mulutnya bergetar karena panik. Matanya melirik ke segala arah, ditambah wajahnya yang jadi lebih merah dari sebelumnya, hampir menangis malu.

“Be-begitulah... ahh, aku sangat malu!” Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahu bergetar.

Flora tersenyum lembut lalu menidurkan kepala Tia ke pangkuannya, mengelus rambutnya.

“Begitu ya... kalau kau menyukainya, tidak ada yang bisa kukatakan lagi. Jika kalian ingin melangkah ke arah yang lebih jauh... itu masih boleh loh.” Matanya lembut menggoda.

Tia langsung duduk dan menatap wajah Flora dari dekat. Matanya berbinar kaget, mulut terbuka.

“Benarkah?!” Wajahnya cerah.

Setelah sadar, ia langsung membuang mukanya karena malu, pipi merah padam.

“Tapi... kami kan bersaudara. Jadi tidak mungkin...” Suaranya pelan, mata meredup.

Flora tersenyum tipis dan memalingkan wajah Tia ke arahnya, tangannya lembut.

“Karena kalian bukanlah saudara kandung, harusnya itu diperbolehkan. Tapi... semuanya tergantung kepadamu sendiri, Tia.”

Ia mengusap pipi Tia pelan, mata berkaca sayang.

“Pokoknya... aku sangat mendukung kalian berdua.”

[akhir kilas balik]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!