Ropy seorang ibu rumah tangga yang berasal dari kampung, dia menikah karena perjodohan dari ayah mertuanya sebelum meninggal karena berhutang budi kepada abahnya yang pernah menolongnya. Dan mereka menikah dengan latar belakang kebiasaan yang berbeda. mereka punya anak dua yang cerdas dan tampan². Ropy yang pendiam namun gesit dan cekatan melaksanakan tugas rumah tangga, sering mendapat perundungan/bully dari ipar dan mertuanya. walaupun dia tahan dengan sikap mertua dan iparnya, tapi dia tidak mau di madu ketika suami pertamanya ingin menikahi selingkuhannya dan dia memilih bercerai dengan suami pertamanya.
Setelah lama menjanda Ropy bertemu cinta sejatinya.... apakah Ropy menikah lagi dan hidup bahagia? yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rorop, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Istimewa
"mah ayok dong entar telat ini sudah setengah tujuh, acaranya jam delapan takut macet di jalan" kata Hartono kepada mamanya..." iya sebentar dik mamah lagi pake parfum dulu..." jawab Ropy sambil menyemprot parfum ke tubuhnya, dan mengambil tas jinjing yang sudah di siapkan di meja rias... Setelah itu keluar kamar yang sudah di tunggu suami dan anaknya... "ayok kita berangkat" kata Wendy sambil menggandeng tangan istrinya....
Nyampe di sekolah lalu mereka mencari tempat duduk yang masih kosong... untung acaranya belum di mulai masih sepuluh menit lagi. Jarak ke sekolah SMA Hartono sebetulnya kurang lebih hanya tiga puluh menit kalau hari - hari biasa, tapi kalau sabtu dan minggu atau acara kenaikan sekolah kadang macet jadi satu jam lebih.
"gak terasa ya yah si bungsu sudah perpisahan SMA, dan si kakak sebentar lagi wisuda" kata Ropy haru... merasa baru kemarin pindah rumah, ternyata sudah tiga belas tahun berlalu... " iya mah alhamdulillah anak - anak prestasinya bagus, dan tingkahnya tidak aneh - aneh... Terima kasih sudah membesarkan mereka dengan baik dan sabar, walaupun mas selalu sibuk pulang malam terus kadang akhir pekan juga lembur tapi anak - anak tumbuh dengan baik dan berprestasi" jawab Wendy panjang lebar sambil menggenggam tangan istrinya penuh haru.
Setelah beberapa acara perpisahan dan kenaikan kelas selesai lalu mereka keluar dari gedung pertemuan sekolah menuju ke parkiran... "mas jangan dulu masuk aku mau ganti baju santai dulu di mobil kita langsung ke mall belanja kebutuhan dapur dulu ya mas. Baju santai buat mas dan si adik juga tadi sudah aku siapin di mobil" kata Ropy sambil membuka pintu mobil... "Hah panasnya... Mas aja duluan ganti bajunya nyalain ac nya dulu panas banget di mobilnya" kata Ropy keluar lagi dari mobil sambil mengipas - ngipas badannya ke gerahan.
Selesai ganti baju lalu mereka meluncur ke mall untuk belanja.
"Mah kita makan dulu di sana, aku laper ... tadi nasi box dari sekolah adik kasih ke pak satpam sekolah" kata Hartono sambil menunjuk rumah makan padang.
"ayok ayah juga lapar" jawab Wendy... " iya hayu dik" jawab Ropy juga kepada anak bungsunya.
Merekapun makan dengan santai tanpa obrolan, setelanya mereka berlalu ke super market mengantar Ropy belanja.
Tidak terasa beberapa bulan berlalu akhirnya hari wisuda Hartanto tiba juga, mereka menginap di hotel dekat universitas tempat si sulung kuliah. Karena universitas si sulung berada di ibu kota, jadi selama kuliah dia kost di sekitar kampusnya. Hartono juga kuliah di kampus yang sama dengan kakaknya baru masuk beberapa minggu yang lalu, tapi jurusan yang berbeda.
"Alhamdulillah kakak sudah selesai S1 nya ya yah, tinggal nunggu si adik empat tahun lagi selesai kuliah S1nya di sini juga... Mudah - mudahan kakak cepat kerja di tempat yang sesuai dengan pendidikan kakak dan mendapatkan gajih yang besar ya yah... Aamiin" kata Ropy menoleh ke suaminya "aamiin mah" jawab Wendy.
"mah ayo sini kita poto - poto dulu buat kenang - kenangan... Acaranya masih setengah jam lagi belum mulai ini" kata Wendy sambil memegang tangan Ropy... "ayo kak, dek" kata Ropy kepada anak - anaknya. Lalu merekapun poto bersama dengan berbagai gaya ala - ala poto wisuda...
Karena jatah masuk gedung acara hanya dua orang pengantar, bertiga dengan wisudawan. Hartono yang tidak ikut masuk ke aula akhirnya dia berkeliling di samping aula untuk melihat - lihat mading siapa tau ada pengumuman penting...