✶✶✶✶✶
*ingat, karya ini hanya cerita fiksi, dan hiburan semata, ygy..
"sungguh aku tak meminta yang lebih darimu, aku hanya meminta agar kau mau bertanggung jawab atas kelakuan yang kau perbuat padaku. sungguh aku tak meminta lebih aku hanya ingin pertanggungjawaban darimu. maaf." Qamira Nur Asyifa
*bagaimana dengan kisahnya , silahkan kan mampir dicerta saya.
Dalam kisah :
Asyifa & Adnan
jangan lupa untuk follow ig Ai
@aisya_halmairah_official
@author_ai
untuk mendapatkan info cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Almairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Kuatnya ia runtuh!
★★★★★
Panik itu lah yang dirasakan Adnan saat ini. bukan ia saja tapi orang yang ada disekitarnya merasakan hal yang sama pula. bagaimana tidak, Asyifa sedari di pemakaman sampai ia sudah berada dirumah dan dibaringkan dikamarnya masih tak sadarian diri juga.
sudah segala cara dicoba mulai dari tubuh Asyifa digoyang goyang oleh Adnan dan bahkan sampai hidungnya dioles minyak kayu putih namun Asyifa tak bangun. bahkan buk Parida juga ikut membantu membangunkan Asyifa.
Adnan tak tau harus berbuat apa, ia hanya bisa menunggu orang tuanya datang. hari semakin larut tapi orang yang mereka tunggu tak datang datang. memang bukan dekat untuk datang ke desa ini.
Mahen mencoba menelpon lagi tapi ia tunda karena suara mobil yang ia kenal masuk kedalam halaman rumah Almarhum Nek Mirna.
Mahen segera keluar untuk melihat orang itu. betul saja sebuah mobil sedan berhenti tetap di samping mobil Adnan.
orang yang didalam mobil itu keluar dengan wajah yang sangat khawatir. apa lagi Bunda Ulya saat tau kalau mantunya itu pingsan.
"Asyifa mana Mahen... apa ia sudah sadar..." tanya Bunda Ulya menghampiri Mahen yang sudah menunggunya diteras rumah.
"masih dikamar Bun... Kakak ipar belum sadar..." jawab Mahen memberitahu keadaan Asyifa saat ini yang masih belum sadar jua. Bunda yang mendengarnya bertambah khawatir.
"masuk dulu Bun.. Pa.." ucap Mahen mempersilahkan dua orang tua itu.
"ayo Pa..." ucap Bunda dengan tergesa gesa untuk melihat Asyifa.
"iya iya Bun, pelan-pelan napa..." ternyata tangan Papa Fateeh ditarik oleh Bunda Ulya. otomatis Papa Fateh tertarik dan mengikuti istrinya itu.
Mahen yang melihat orang tua penggantinya ini tersenyum. bagaimana tidak ia sudah dibesarkan sedari bayi sampai sekarang ia tak melihat ada rasa angkuh dalam hati kedua orang tuanya.
keluarga Alfarizky memandang semua orang sama saja. jika ada yang kekurangan mereka berbagi dengan yang membutuhkan. bukan itu saja keluarga mereka sudah banyak membantu orang yang membutuhkan seperti sedekah. tapi mereka melakukanya secara tertutup tak ada seorang pun tau.
tapi lain hal dengan anaknya Adnan Bardia Alfarizky ia selalu bersifat angkuh dan kurang menghargai orang. sama hal dengan Mahen ia saja harus pikir-pikir dulu untuk masuk ke kawasan kecil.
namun entah kenapa ia merasa ada yang aneh denganya. tak biasanya Mahen betah dalam rumah yang menurutnya tak ada setengah dari luasnya rumahnya.
pertama kali ia masuk ke desa ini ia sudah disambut dengan pemandangan pegunungan serta persawahan. desa ini masih Asri jauh dari kata polusi. membuat siapa saja akan merasakan kenikmatan yang sangat sulit untuk dideskripsikan.
tapi malam ini sepertinya sangat peka dengan keadaan sekarang. Mahen melihat langit malam yang tak terlihat sama sekali bintang, atau sebut juga sedang mendung. sepertinya malam juga bisa merasakan kesedihan ini, ia tak mau terang saat seseorang tengah suram.
Mahen tak mau terus berlama melihat langit malam ini. ia harus masuk untuk melihat keadaan kakak iparnya yang entah sudah sadar atau belum.
❀❀❀❀❀
Dikamar Asyifa masih terbaring tak berdaya. Bunda Ulya dan Papa Fateeh masuk dengan mengucap salam.
"Assalamu'alaikum..." ucap mereka berdua.
orang yang berada dalam kamar itu melihat ke sumber suara seraya menjawab salam.
"Bagaimana keadaan Syifa Adnan..." tanya Bunda Ulya menghampiri Asyifa yang terbaring dengan menutup matanya. ia sedih melihat musibah yang menimpa menantunya, dan ditambah dengan Asyifa yang pingsan tak kunjung bangun.
Adnan masih setia berada disamping istrinya. entah kenapa hatinya seperti tersayat melihat Asyifa pingsan tapi tak kunjung bangun, rasanya sangat sakit.
"Ya seperti yang Bunda lihat, Asyifa belum membuka mata..." jawab Adnan dengan suara sedikit serak.
"Ya Allah...Asyifa sayang bangun nak. Bunda disini..." ia sangat berharap agar Asyifa bangun. Bunda Ulya tak kuasa menahan air matanya, yang dengan mudah lolos begitu saja.
"Asyifa pasti bangun sayang. Kau tenang lah..." ucap Papa Fateeh seraya mengusap punggung sang istri.
Buk Parida masih setia berada dirumah mendiang Nek Mirna. ia ditugaskan pak RT untuk menemani keluarga suami Asyifa sampai para tamu takziah pada datang. sedangkan pak RT sudah pulang.
Buk Parida janda anak juga sudah pada menikah, ia sendiri jika ada waktu luang ia pasti berkunjung ke rumah Nek Mirna dan mengobrol bersamanya. tapi sekarang teman untuk ia bercerita sudah tak ada dan bahkan tak akan kembali lagi.
"Asyifa kenapa kau belum bangun. apa kau mimpi indah sehingga kau tak mau bangun. Asyifa aku mohon, bangun.." sadar atau tidak tanpa sengaja Adnan memohon dalam hatinya agar Asyifa segera bangun. ya walau ia sempatkan dengan sedikit sindiran.
sebuah keajaiban tangan Asyifa bergerak dan perlahan matanya terbuka. ia melihat orang yang ada dalam kamarnya itu. "Asyifa kau sudah sadar sayang..." Bunda Ulya menghapus jejak air matanya.
Asyifa belum membuka suara tapi ia mencoba bangkit dan duduk. Adnan yang melihat Asyifa ingin bangun dengan sigap membantunya.
"Bunda kenapa nangis..." Asyifa membuka suara dan memegang pipi wanita paruh baya itu. ia melihat ada air mata yang mengalir dari mata indah wanita tua tapi masih terlihat muda itu.
"Bunda tidak nangis kok..." bohong Bunda Ulya tapi Asyifa bukan anak kecil ia bisa melihat wajah Bunda Ulya yang sembab dan itu menandakan Kalau Bunda Ulya habis nangis.
"Asyifa yang sabar ya, kamu harus kuat nak..." ucap Bunda Ulya menyentuh pundak Asyifa dengan elusan lembut.
Asyifa tersenyum tapi senyum itu berubah. bagaimana dengan hati kecilnya yang tak bisa membawa kesedihan. walau dipaksa tetap tak muat dihati kecil Asyifa untuk menampung kesedihannya.
Asyifa tersenyum sebagai tanda bahwa ia kuat. tapi ternyata kuatnya ia runtuh. Asyifa tak kuat bila berhubungan dengan kematian orang tersayang. Ia tumpahkah semua tangisnya dalam pelukan hangat yang sekarang ia punya.
"Menangislah jika itu membuat mu lega, tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan kasihan nenek Asyifa yang melihat diatas sana. pasti nenek tak kalah sedih dengan Asyifa yang menangis..." ucapan Bunda Ulya membuat hatinya teduh. ia seperti merasakan pelukan ibunya sendiri.
"Bunda tau kalau Asyifa pasti kuat dan ikhlas. teruslah berdoa untuk nenek ya, sayang..." Bunda Ulya mengelus-elus pucuk kepala Asyifa dengan lembut.
Asyifa lantai mengangguk sebagai jawaban. ia nyaman berada dipelukan Bunda Ulya.
tak berselang lama tiba-tiba Mahen datang dengan mengejutkan. "Ya ampun Bunda Papa gawat..." ucap Mahen masuk tanpa salam.
"Kau bisa tidak jangan mengejutkan orang..." Adnan menatap dengan tajam kearah Asyifa.
"Ada apa Mahen..." tanya Papa lembut. Kalau dibiarkan akan meninggalkan panjang ocehan Adnan dan Mahen.
"Itu Pa banyak sekali orang yang datang..." Mahen malah panik sendiri.
"Oh pak sepertinya orang takziah sudah pada datang..."buk Parida tiba-tiba membuka suara, dan semua orang melihat kearahnnya.
" Takziah..."Mahen bingung dengan kata 'Takziah'.
" kalau begitu saya lihat dulu ya, pak..."ucap buk Parida dan mendapatkan anggukan dari Papa Fateeh. buk Parida pun lantas keluar dari kamar Asyifa ia mau melihat tamu yang berdatangan.
"Bun kalau gitu kita keluar juga yuk..." Papa Fateeh berniat keluar, ia tak mungkin tak menyambut tamu. sekarang ia sudah menjadi saudara pemilik rumah ini.
"Ini ada acara apasih..." Mahen masih tak mengerti.
"Tak usah banyak tanya Mahen ikut Papa keluar lebih dulu..." Bunda Ulya memotong pertanyaan Mahen.
"Adnan kau temani Asyifa Bunda ingin menyusul dua lakik itu..." timpal Bunda Ulya segera bersiap, dan tak lama Bunda sudah menghilang.
Dapat perintah dari Bundanya Adnan pun menghampiri Asyifa, ia tadi sudah berdiri untuk melihat tamu-tamu itu. tinggallah mereka berdua, mata mereka sama-sama menatap satu sama lain.
Bersambung
ʂҽҽ ყσυ ιɳ ƚԋҽ ɳҽxƚ ƈԋαρƚҽɾ
salam sayang dari saya🥰
see you👋