Rama seorang pemuda tampan dan kaya raya yang sangat disukai oleh banyak wanita namun karena sikapnya yang Sangat dingin membuatnya susah untuk bergaul hingga dijuluki Pangeran es oleh teman temannya.
Berbanding terbalik dengan seorang gadis bernama Clara yang sederhana namun sangat ceria dan memiliki banyak teman. Clara merasa kasihan kepada Rama dan berusaha untuk mendekatinya agar bisa berteman dengan yang lain.
Rama mengetahui bahwa ayahnya yang kaya adalah ayah angkatnya sedangkan Clara tidak tahu ayah angkat Rama adalah Ayah kandungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Misbah Rusam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria harus tenang
Malam itu di saat suasana hati yang sangat buruk Ryan dikejutkan dengan kedatangan ayahnya yang sudah lama tidak ada kabar beritanya.
"Ayah? " Ryan terkejut.
"Ada apa Ryan?, apakah kau sedang patah hati? " tanya ayah Ryan.
"Bukan urusan ayah" jawab Ryan.
"Apa ini sikap yang harus kau tunjukan ketika bertemu dengan ayah setelah sekian lama? " balas ayahnya.
"Aku sudah terbiasa menghadapi semua masalah seorang diri" jawab Ryan.
"Begitukah? " tanya ayahnya lagi.
Ryan tidak menjawab lan melanjutkan pukulan nya pada samsak di depannya.
"jangan merasa hebat sampai-sampai kau mengira mampu menghadapi setiap masalah seorang diri, Bocah" lanjut ayahnya.
"Berisik, karena sudah terbiasa lah yang membuatku yakin bisa menghadapinya sendiri" jawab Ryan dengan dingin.
"Baik lah itu terserah padamu, tapi sebelum itu, maukah kau bertarung denganku? " tanya ayahnya lagi.
Ryan langsung berhenti memukul dan menatap ayahnya penuh dengan amarah.
"Tatapan yang lumayan mengerikan" ucap ayahnya seolah meremehkan.
"Apakah ayah yakin?" tanya Ryan.
"Kenapa tidak" balas ayahnya.
"Baiklah kita lakukan, tapi maaf jika aku tidak bisa menahan diri" lanjut Ryan.
"hah? kau fikir mampu menghadapi aku dengan emosimu yang seperti ini? " balas ayahnya.
Tanpa fikir panjang Ryan segera menerjang sambil melayangkan pukulan ke ayahnya tanpa menahan diri sedikitpun. Namun ayahnya bukanlah orang lemah yang mampu di kalahkan begitu saja dia menghindari semua pukulan Ryan, dan bahkan Ryan sama sekali tidak bisa menyentuh nya. Setelah beberapa lama Ryan mencoba menyerang ayahnya dengan penuh emosi saat ini Ryan kelelahan dan dengan hasil yang tidak dapat menyentuh ayahnya sedikitpun. Setelah melihat Ryan kelelahan tiba-tiba.
"bukkkk"
Ryan mendapatkan pukulan telak di berutnya sehingga membuatnya lemas kesakitan dan membuatnya bertekuk lutut. Dengan keadaan seperti itu ayah Ryan sama sekali tidak menahan diri dan melanjutkan dengan tamparan keras telak di wajahnya.
"Plakkk"
Ryan terkapar tidak mampu berdiri lagi dan membuatnya hanya mampu berbaring sambil memegang perutnya yang masih sakit.
"Apa yang kau lakukan alex, dia ini putramu? " tanya ayahnya Bima.
"Tenang saja Very, terkadang tamparan keras membuat pria tersadar dan mulai sedikit tenang" jawab Alex sambil pergi meninggalkan Ryan.
Setelah Alex pergi , Veri sebenarnya ingin membantu Ryan namun dia tidak bisa bertindak karena ini merupakan cara mendidik seorang ayah.
"Maaf Ryan Alex benar, kau harus sedikit tenang, karena bagaimanapun Alex adalah ayahmu dan aku sudah mengenal dia sebelum aku bertemu denganmu" jelas Very.
"Hah?, Apa maksudmu guru? " tanya Ryan terkejut dan membuatnya penasaran.
"Aku akan jelaskan besok, sekarang sebaiknya kau beristirahat di kamarmu dan cobalah untuk tenangkan fikiranmu" jawab Very lalu pergi.
(Nama ayah Ryan adalah Alex dan ayah Bima bernama Very).
Sementara itu Alex duduk dan meminum kopi yang telah dia bawa sebelumnya.
"Dia seorang anak yang selalu berjuang untuk suatu hal yang ingin dia raih, tanpa ingin di ketahui orang lain, Aku rasa ini yang membuat aku yakin bahwa dia benar-benar anakmu, karena mirip seperti dirimu" ucap Very yang tiba-tiba datang.
"Kau masih saja seperti dulu Very, Kau terlalu percaya padaku" balas Alex.
"Kenapa tidak?, aku sudah lama mengenalmu" jawab Very sambil duduk dan menikmati kopi bersama Alex.
"Terima kasih sudah bersedia merawat putraku" ucap Alex.
"Santai saja" balas Very meyakinkan Alex.
"Jadi apa tujuanmu sekarang" lanjut Very bertanya.
"sebenarnya..... "
Mereka pun mulai berbincang membicarakan banyak hla berdu.
...****************...
Sementara itu Bram terlihat sedang meminum kopi bersama Aman sambil membahas kejadian tadi siang.
"Aku tidak menyangka orang seperti mu melakukan hal cukup ceroboh seperti tadi, tapi tidak apa-apa Aman kau menolongku dengan melakukan hal itu, seandainya kau tidak bertindak aku pasti melakukan hal yang sama dan itu bisa menghancurkan reputasi kita sendiri" ucap Bran yang menenangkan Aman yang penuh penyesalan.
" Maaf tuan, Aku sudah tidak dapat membendung emosi itu lagi" balas Aman.
"Sudah ku bilang bukan, aku senang kau melakukannya, jadi Terima kasih " ucap Bram lagi.
Aman tersenyum melihat tuannya yang begitu baik dan bijaksana.
Sebenarnya yang terjadi siang tadi adalah Pertemuan dua pemimpin perusahaan besar yaitu Kujang group yang terbagi menjadi dua bagian yaitu Kelompok Harimau putih yang di pimpin oleh Bram dan Kelompok Naga emas yang di pimpin oleh Baron.
Perusahaan Kujang awalnya adalah perusahaan besar yang di pimpin oleh mertua dari Bram, namun ketika beliau mati perusahaan tersebut terbagi dua kelompok yang masing-masing kelompok meyakini bahwa pemimpin mereka saat ini berhak menjadi penerus dan membuat persaingan antara dua kelompok untuk mengambil kepemimpinan.
Di pertemuan tersebut terlihat suasana yang cukup mencekam di mana Bram dan wakilnya Aman bertatap wajah Baron dan wakilnya saat ini Ady. Bram dan Aman yang mengetahui penyebab kematian anggotanya Yaitu Arya di sebebkan oleh Baron, jelas datang dengan amarah. Namun sebagai pemimpin yang bijak Bran mencoba menenangkan anggota nya agar tidak terjadi kekacauan.
Mereka ber empat saat ini berada dalam satu ruang untuk berdiskusi sementara semua bawahan berada di luar untuk berjaga.
"Selamat datang kembali di Indonesia tuan Bari" sapa Bram dengan sopan.
"Terima kasih, karena tuan Bram bersedia menemui saya saat ini" balas Baron.
Pada awalnya pembicaraan mereka hanya mengenai bisnis yang sedang berjalan saat ini dan semua itu berjalan lancar, namun semua itu hanya sesaat saja dan berubah ketika mulai ada pembicaraan yang cukup sensitif.
"Setelah kurang lebih saudara Arya meninggalkan kita saya turut berduka cita, bagaimanapun kalian terlihat seperti saudara" ucap Baron.
"Terima kasih"
Balas Aman dan Bram.
"Saya juga turut berduka cita atas kepergian tuan Arya yang sangat di sayangkan" sambung Ady.
"Tunggu dulu apa maksud anda tuan Ady" tanya Aman yang mulai emosi.
"Sangat di sayangkan orang berbakat seperti tuan Arya yang saya tau beliau adalah seorang pemabuk, jadi saya hanya berspekulasi mungkin saja hal itu juga yang membuat beliau kecelakaan" Baron menambahkan dan mencoba untuk memprovokasi mereka berdua.
Jelas sangat raut wajah Bram dan Arya berubah menjadi amarah yang membara.
"Yah mungkin itulah mengapa pemerintah menganjurkan agar pengemudi tidak dalam keadaan mabuk. apa lagi orang seperti tuan Arya adalah pem... " Ady yang belum selesai bicara tiba-tiba.
"Bruakk"
Aman dengan penuh amarahnya membenturkan wajah Ady ke meja sambil teriak.
"Brengsek"
Baron yang melihatnya sontak Berdiri karena kaget. Akibat kehebohan di dalam para bawahan yang berada di luar masuk dari kedua sisi ruangan dan membuat keadaan saat ini dua kubu yang saling berhadapan.
Adi yang menerima serangan dari Aman kini terkapar lemas dengan wajah penuh darah dari hidungnya. Baron menghampiri Aman dan mencekik leher Aman, namun ketika Baron hendak menghajar Aman Bram segera menghentikan nya.
"Cukup!! " bentak Bram.
Melihat Tatapan memetikan dari Bram jelas membuat Baron takut dan melepaskan Aman begitu saja.
"Bawa Aman segera" Bram memerintah bawahannya.
Setelah Aman di bawa keluar Baron memerintah bawahannya membawa Ady yang terluka dan mulai duduk kembali. Namun setelah Baron duduk Bram malah berdiri dan berkata.
"Sepertinya kita sudahi saja sampai di sini tuan Bari, Terima kasih atas waktunya" ucap Bram sambil melangkah keluar.
Terlihat Baron cukup kesal dengan semua yang terjadi. Sebelum Bram keluar dari ruangan dia berhenti sejenak dan berkata lagi.
"Baron, Pada dasarnya kami adalah petarung, jadi terkadang tangan kami lebih cepat bertindak dibanding mulut. Maka dari itu jangan coba-coba untuk bermain api" ucap Bram sambil menatap Baron penuh kebencian.
Semua bawahan Baron maupun Baron itu sendiri dibuat ketakutan oleh Bram dan tidak berani bertindak.
Begitulah yang terjadi siang tadi.
Kembali ke tempat Bram dan Aman kini berada mereka mulai membicarakan banyak hal sambil menikmati kopi di malam hari sampai tiba-tiba ponsel milik Bram berbunyi dan mendapatkan sebuah pesan dari Rama. Ketika membuka pesan tersebut sambil meneguk kopi dia sangat terkeju sampai menyemburkan kopi di mulutnya.
"Apa? " teriak Bram kaget.
Terima kasih banyak, jangan lupa like dan follow ya.