Baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Betti Cahaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Geri Prayuda
"Teriakanmu mengingatkanku pada malam kita, aku suka!"
Kurasa bulu kuduk Juwita meremang karena aku sengaja berbisik sangat dekat dengan telinganya. Tubuh Juwita yang kini lebih berisi dan perut buncitnya menambah daya tarik yang membuatku semakin berhasrat untuk memiliki.
"Kurang ajar kamu, Ger!" maki Juwita yang semakin marah justru terlihat semakin menggairahkan, rupanya aku semakin menggilainya.
"Tolong jaga sikapmu!" Kakak lelaki Juwita mendorongku menjauh dan Kakak perempuannya menjauhkan Juwita dari jangkauanku.
"Lebih baik kamu pulang, Juwita dan Brilian masih suami istri, tidak pantas kamu mengganggunya apa lagi terang-terangan seperti ini!"
Mengingat dia yang mungkin sebentar lagi akan menjadi kakak iparku, kuhargai larangannya. Lihat, aku bukan pecundang yang main belakang, meski Juwita milik Brilian tapi aku datang merebutnya secara terang-terangan.
"Maksud saya baik, Mas. Saya nggak akan membiarkan Juwita menderita karena kesalahan kami, aku siap menggantikan posisi Brilian dari segi apa pun. Jadi, mohon dipertimbangkan niat baik saya," ucapku mencoba meraih simpati mereka.
"Lebih baik kamu pulang!" Kini kakak perempuan Juwita angkat bicara dengan nada sinisnya.
"Oke ... tapi akan saya pastikan, untuk pertemuan berikutnya saya akan lebih diterima ... iya kan, Wit?" ucapku penuh percaya diri.
Juwita bersembunyi di belakang kakak perempuannya, kenapa dia harus gengsi, padahal jelas-jelas permainanku jauh lebih baik dari Brilian.
Lihat saja, Wit! Kau akan lebih merindukan sentuhanku dari pada suami mandulmu itu.
*
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kusempatkan mampir ke restoran untuk menemui Ibu. Berkat ketekunannya, Ibu memiliki beberapa cabang restoran termasuk di beberapa pusat perbelanjaan terkemuka, usaha ini sudah Ibu geluti sejak aku masih kecil.
"Libur bukannya nemenin ibu malah sibuk kesana kemari," ucap Ibu.
"Anak muda, Bu. Lagian ... bisnis Ibu bukan passion-ku!"
"Lalu siapa yang mau nerusin bisnis ibu ini, Ger?" tanya Ibu seperti biasanya.
Juwita, Bu. Sabar saja.
"Oh iya, ayo temani ibu ke rumah Mba Yulia, Ibu nggak enak hati sama mereka, lebih baik kita kesana biar nggak ada kesalah pahaman lagi antara kamu sama Brili."
"Ah, ngapain sih, Bu? Brilian kan udah biasa nyalah-nyalahin orang padahal dia sendiri yang salah," elakku.
"Mereka sedang bersedih, mungkin perasaannya jadi lebih sensitif. Bagaimana pun kita keluarga, semua harus di selesaikan baik-baik," ucap Ibu yang masih saja baik pada mereka.
Aku adalah orang yang sangat bahagia, ketika Om Santosa meninggal saat itu. Bagaimana tidak? Tante Yulia selalu memamerkan keluarga sempurnanya seolah tidak peduli pada luka-luka ibuku. Aku senang, karena sejak saat itu Brilian tidak lagi menyombongkan ayahnya, sosok figur yang tidak pernah kupunya.
Dengan sangat terpaksa kuturuti kemauan Ibu, dengan membawa beberapa kue dan makanan dari restoran kami untuk berkunjung ke rumah Tante Yulia.
"Makasih Feb, makasih ya Geri, aduh pake repot!"
"Aku cemas sama keadaan Mba sama anak-anak, apa mereka baik-baik aja, Brilian khusunya?" tanya Ibu perhatian,
Harusnya ibu menyombong saja! Keadaannya sekarang berhasil kubalikan, bukan?
"Iya, Feb. Aku cemas sama Brilian. Dia kaya depresi sekarang," jawab Tante Yulia dengan sedikit berbisik seolah takut Brilian dengar.
"Depresi?" ulang ibuku, sementara aku mencoba sibuk dengan ponselku.
"Sejak berhenti kerja, Brilian masih saja mengatakan kalau ini salah Geri."
"Haduh, Tante ... Brilian saja yang ceroboh saat itu," celetukku membela diri.
"Iya, Ger. Tante percaya sama kamu, cuma ... ya begini keadaan Brilian sekarang, depresi. Kerjaannya cuma mengurung diri di kamar, habis itu Juwita, istrinya, sama sekali nggak ada kabarnya," lanjut Tante Yulia.
"Masa sih, Mba?"
"Iya, bahkan Brilian minta kami memblokir nomor Juwita," ucap Tante Yulia membuatku senang, kutahan senyum kemenangan itu agar tidak nampak jelas.
"Aku nggak ngerti masalahnya dimana, apa keluarganya Juwita masih marah karena aku belum minta maaf sama mamanya soal perjodohan itu, ya? Lagi pula Brilian melarangku ke sana atau menghubungi keluarga Juwita sekali pun!" ungkap Tante Yulia bersedih.
"Ya ampun, Mba! Padahal kehamilan Juwita sangat mereka nantikan, kenapa malah jadi begini?" ucap ibuku mencoba mengerti duka Tante Yulia.
"Nah itu dia, aku juga awalnya sangat senang menyambut kehamilan Juwita, tapi ... apa jangan-jangan anak dalam kandungan Juwita-lah yang membawa nasib buruk?" Kalimat Tante Yulia mulai keterlaluan.
"Hust, mana ada yang kaya gitu, Mba!" tegur ibuku.
"Buktinya, banyak banget musibah justru setelah Juwita hamil," ucap Tante Yulia bersikukuh dengan pendapatnya yang di luar nalar.
Sifat buruknya mulai keluar, harusnya Tante Yulia introspeksi diri pada setiap masalah yang datang padanya. Lihat, dia malah menyalahkan anakku yang bahkan tidak tahu apa pun!
"Haduh Tante, bayinya aja belum lahir, udah Tante jadiin kambing hitam. Coba Tante renungi dulu semua yang terjadi, yang paling paham situasi bisa seburuk ini bukan orang lain tapi diri Tante sendiri, jadi jangan menyalahkan orang lain, apa lagi bayi!" ungkapku tidak bisa menahan diri, enak saja anakku mau disalah-salahkan!
"Hust, kamu nggak boleh gitu, Ger!" tegur ibu sambil menepuk pundakku.
"Bu ... harusnya sesama saudara itu mengingatkan jika Tante Yulia salah ibu ngasih tau, bukannya iya-iya aja, semua orang tau gimana menderitanya Juwita selama menjadi menantu keluarga ini, sekarang sudah hamil-pun dia masih jadi sasaran empuk buat orang-orang yang enggan mengoreksi dirinya sendiri!"
"Geri!" sentak ibu.
Sementara itu, Tante Yulia hanya tertunduk malu.
Ibu segera berpamitan setelah kubuat Tante Yulia diam tak berkutik, meski ibu terus memintaku untuk meminta maaf, tapi aku enggan melakukannya.
"Kalau butuh apa-apa jangan sungkan ngomong sama aku ya, Mba! Kalau bisa pasti kubantu!" ucap ibuku bermurah hati.
"Iya, makasih ya, Feb. Aku nyesel dulu menolak ajakanmu berbisnis," ucap Tante Yulia.
Saat hendak pulang, kami berpapasan dengan Brilian yang baru saja datang. Melihatku keluar dari rumah ibunya, dia memelototiku dengan garangnya. Sayangnya, aku tidak takut pada pengecut macam dirinya.
Benar sekali ucapan Tante Yulia, Brilian tampak kacau dengan brewok yang dia biarkan tumbuh liar dan tidak tertata rapi seperti biasanya. Aku sangat senang melihatnya.
"Ngapain kamu ke sini!" tanya Brilian kalang kabut.
"Jangan, Bri! Tante Febri sama Geri kesini mau nengokin ibu, kenapa kamu kasar sama mereka!" cegah Tante Yulia.
"Bu, Geri ini penjahat yang sebenarnya, pergi kau dasar b r e n g s e k, jangan berani-beraninya menyentuh keluargaku!" usir Brilian membuat semua terkejut, tampaknya Brilian sudah menyadari jika aku bukan lawan yang mudah dia tangani.
"Brilian!" bentak Tante Yulia.
"Ibu jangan tertipu ... dia ini b r e n g s e k, dia sudah menjebakku ... dan dia sudah mengha-...."
"Sudah apa, Bri? Kenapa nggak diterusin?" ucapku mengejek.
Kuat juga mentalnya, menyimpan kebenaran soal anak yang ada di perut Juwita. Padahal, aku memperburuk keadaannya agar dia tertekan, dan bisa jujur pada Tante Yulia, dan ... mempermudah jalanku mendapatkan Juwita.
"Ayo katakan, Bri! Mumpung kita semua ada di sini," ucapku memprovokasi.
"Katakan, biar kita bisa meluruskan yang salah, atau menegaskan yang benar!" lanjutku menantangnya.
Brilian diam menahan marahnya, anak yang dulu gemar berbangga diri, sekarang ... entah dimana rimbanya kesombongan itu, dia hanya penge cut.
Ayo katakan, Bri!
Hahahaha!
.
.
.
.
.
.
.