Di dalam sebuah rumah tangga, terkadang hadir pihak ketiga. Tidak selalu berwujud perempuan cantik yang ingin merebut suami kita, tetapi bisa juga berwujud mertua kejam yang selalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya.
Mertuaku tidak menyukaiku karena aku miskin. Berulang kali suamiku disuruh menceraikan aku dan menikah dengan perempuan yang lebih kaya. Aku pikir semuanya selesai setelah suamiku meninggal, ternyata aku salah, mertuaku justru semakin kejam. Sanggupkah aku menghadapinya? Namaku Emma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Ternyata Belum Usai
"Lah, memangnya anakmu kemana?"
Aku tidak segera menjawab. Aku melirik Handi terlebih dahulu. Handi diam saja tidak memberi kode apa-apa. Itu tandanya dia tidak keberatan jika aku cerita kepada Mbak Eka.
"Damar sama ibu terus. Aku hampir tidak bisa menyentuhnya." Lalu aku ceritakan semuanya kepada Mbak Eka. Mulai dari ibu yang mempersulit aku bersama Damar, sampai menyuruh Handi menceraikan aku semuanya aku ceritakan kepada Mbak Eka. Tentang ibu yang memberi Damar bubur bayi tanpa sepengetahuanku pun juga aku ceritakan tanpa ada yang aku tutupi.
Mbak Eka terlihat shock mendengar ceritaku.
"Aku tidak merasa sudah menjadi seorang ibu. Aku sering kesepian apalagi kalau Handi sedang keluar kota. Tiap malam aku tidak bisa tidur karena tidak bisa menyentuh bayiku. Sulit sekali untuk dijelaskan dengan kata-kata. Aku yakin Mbak Eka mengerti maksudku karena Mbak Eka juga seorang ibu."
"Astaga .... Pantas saja."
Handi mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengerti. "Pantas bagaimana maksudnya Mbak?"
"Pantas Emma sampai stress. Emma mungkin terkena sindrom baby blues."
"Hah? Apa itu?" Handi dan aku sama-sama tidak tahu apa yang dimaksud Mbak Eka. Baby blues? Apa itu? Aku baru mendengarnya.
Lalu Mbak Eka pun menjelaskan kepadaku apa itu baby blues. Aku dan Handi pun mendengarkan dengan seksama.
"Coba kamu baca-baca di internet. Atau kamu mau aku antar ke psikolog?"
"Ah ... Tidak usah Mbak. Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang. Selama ada Damar bersamaku aku merasa baik-baik saja."
Aku akui selama hamil aku tidak pernah membaca-baca literasi apapun, waktuku sudah habis untuk bekerja. Pulang kerja aku sudah terlalu lelah dan langsung istirahat. Setelah melahirkan pun aku tidak ada waktu untuk bermain handphone karena waktuku habis untuk mengurus rumah dan meladeni mertuaku.
Kalaupun aku sudah selesai dengan pekerjaan rumah tangga aku lanjut melamun membayangkan Damar dalam pangkuanku. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengusir kerinduanku kepada anakku. Dan satu hal lagi, aku tidak bermain media sosial, jadi pantas kalau aku tidak tahu apa-apa.
"Mulai sekarang perbanyak pengetahuan kamu tentang parenting. Tidak hanya kamu Emma, tapi kamu juga Han."
Sekali lagi aku dibuat terkagum-kagum dengan sosok Mbak Eka. Selain kaya, ramah, baik hati, dia juga pintar dan berwawasan. Benar-benar sempurna.
"Iya Mbak, nanti aku akan mulai mencari tahu."
"Handi ... !" Terdengar suara Mas Harun memanggil Handi.
"Sebentar Mbak, itu Mas Harun memanggilku." Handi pun keluar untuk mendatangi Mas Harun.
"Soal ibu bagaimana Mbak?" tanyaku lirih, setelah kepergian Handi.
"Tadi malam Harun juga hampir marah mendengar cerita Heni. Lalu aku beritahu dia, jangan dengarkan omongan sepihak karena aku tahu bagaimana watak ibu."
"Tetapi ibu selalu bersikap baik kepada kamu Mbak? Bagaimana kamu bisa tahu?"
Mbak Eka tertawa mendengar pertanyaanku.
"Aku sudah lama menjadi menantunya Emma. Meskipun dia tidak jahat kepadaku tapi aku bisa menilainya. Dia tidak pernah tulus kepadaku."
Aku tersenyum mendengar jawaban Mbak Eka. Aku lupa kalau Mbak Eka sudah lama menjadi menantu dari mertuaku. Tentu dia tahu bagaimana sifat ibu mertua kami.
"Kalau kamu ingin tahu lebih banyak lagi dan ingin tahu bagaimana cara menghadapi mertuamu, lebih baik kamu tanya Mbak Rina. Dia sudah suhu, karena paling lama menjadi menantunya," terang Mbak Eka sambil terkekeh.
"Mertuamu juga Mbak," ujarku tidak terima.
Setelah beberapa saat mengobrol, Mbak Eka pun pamit untuk melihat keadaan ibu mertua lagi. Tinggallah aku dan Damar di dalam kamar. Aku melihat keluar jendela apakah ada Handi di depan rumah karena sejak dipanggil Mas Harun tadi aku tidak mendengar suaranya.
Lalu aku teringat jika air untuk membuat susu Damar habis. Aku berniat pergi ke dapur untuk mengambil air agar nanti aku tidak perlu keluar masuk kamar jika sewaktu-waktu membuat susu untuk Damar.
Kurang beberapa langkah lagi aku sampai di dapur tetapi kemudian aku mendengar Mas Harun sedang memarahi Handi tetapi dengan suara yang pelan, hampir berbisik. Pantas saja tidak terdengar sampai kamarku.
"Ini terakhir ya Han, jangan sampai ibu sama Emma ribut lagi. Beritahu istrimu, suruh dia diam saja kalau ibu marah, jangan melawan! Ibu memang seperti itu. Harusnya istrimu sudah hafal."
"Bukan melawan Mas, Emma tidak melakukan apa-apa. Ibu jatuh tidak sengaja. Emma mendorong pintu sementara ibu berdiri di belakang pintu. Itu saja," jawab Handi lirih.
"Sama menantunya yang lain ibu tidak pernah ribut. Sama Mbak Rina atau sama Eka? Tidak pernah! Cuma sama istrimu saja!"
Entah kenapa Handi yang dimarahi tetapi aku yang merasa sakit hati. Jelas saja mertuaku tidak pernah ribut dengan Mbak Eka dan Mbak Rina. Itu karena mereka kaya, mana berani mertuaku mengganggu menyuruh mereka atau membuat mereka kesal. Coba saja mereka mendapat perlakuan seperti yang aku dapatkan, pasti lain ceritanya.
"Itu karena mereka tidak pernah tinggal serumah dengan ibu. Ibu bersikap keras kepada Emma, berbeda dengan Mbak Eka atau Mbak Rina. Wajar kalau Emma marah, aku pikir Mbak Eka maupun Mbak Rina juga akan bersikap sama seperti Emma jika diperlakukan sama seperti ibu memperlakukan Emma."
"Iya, aku tahu! Kita sama-sama tahu bagaimana sifat ibu. Hanya saja, untuk menghindari keributan seperti tadi malam, lebih baik Emma yang disuruh mengalah saat saat ibu marah. Suruh dia diam saja! Lagi pula sebagai orang yang lebih muda bukankah dia seharusnya menghormati ibu?!
Rasanya tidak terima mendengar kata-kata Mas Harun. Selama ini aku sudah diam dan mengalah. Kenapa aku melakukannya? karena aku menghormati ibunya, ibu mertuaku, menjaga perasaannya dan juga perasaan Handi! Apa selamanya aku harus seperti itu?
"Aku sibuk, banyak pekerjaan. Aku tidak ada waktu melayani rengekan ibu seperti ini! Kalau ibu memang sakit sih tidak apa-apa, tapi ini sebenarnya ibu tidak kenapa-kenapa!"
Tidak terdengar jawaban dari Handi.
"Dengar ... Aku tidak menyalakan Emma. Hanya saja kuncinya ada di Emma. Ibu marah, Emma diam, setelah itu ibu berhenti marah, masalah selesai, tidak ada konflik, tidak ada drama. Selesai!" ucap Mas Harun pelan tapi penuh penekanan.
Aku berbalik dan tidak jadi mengambil air. Lebih baik aku kembali ke kamar. Aku tidak ingin mendengar percakapan ini lebih jauh lagi. Perasaanku yang sudah tenang kembali bergejolak setelah mendengar kata-kata Mas Harun. Aku tidak menyangka ternyata Mas Harun seperti ini. Sungguh berbeda dengan yang terlihat di depanku.
Kenapa kuncinya ada di aku? Kenapa aku? Enteng sekali Mas Harun berkata seperti itu. Kenapa bukan ibunya saja yang dia minta untuk memperbaiki sikapnya kepadaku? Kenapa bukan ibunya saja yang dia minta untuk melihat hal lain dariku selain kemiskinanku.
keluarga besar heni belum tulus ngakui kesalahannya...huhuhu
Semangat ka author,di tunggu upnya ka
Terima kasih telah menghadirkan cerita bagus untuk kami