Adreanna Berenice, gadis berusia delapan belas tahun yang harus pindah rumah dan hidup sendiri atas wasiat mendiang orangtuanya, tidak pernah menyangka ia akan jatuh cinta pada seorang siswa laki-laki bertopeng yang ia temui di acara pesta dansa sekolahnya. Ia pun menyadari bahwa siswa laki-laki di balik topeng itu adalah teman satu kelasnya sendiri, yang terkenal memiliki sifat dingin.
Namun, suatu kejadian tak masuk akal membuat Adreanna melihat sisi hangat dan peduli siswa laki-laki itu, yang tidak akan ia lihat di sekolah. Bersamaan dengan itu, Adreanna tanpa sadar telah mengikat dirinya dengan sebuah takdir yang tertulis di sebuah buku di dalam perpustakaan rumahnya.
Buku yang mengisahkan pertarungan sengit dua pangeran vampir demi memperebutkan gelar sang ‘Pangeran Terakhir’, pengorbanan seseorang, dan balas dendam manis seorang penyihir.
Di samping memperjuangkan perasaannya pada cinta pertamanya, apakah Adreanna akan mampu bertahan di dalam takdir kelam tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Magnet
“Jadi, lukamu menutup begitu saja?”
Adreanna, yang sedang berjalan di koridor, menanggapi pertanyaan Kruyina dengan anggukan.
Ditemani sinar hangat senja yang menembus jendela koridor istana, ia melanjutkan tur istananya bersama Kruyina. Selain untuk mengetahui setiap tempat di istana, Adreanna juga berharap akan menemukan sesuatu yang dapat menjawab misteri tentang bagaimana ia bisa memiliki kekuatan supranatural. Bisa-bisa ia terjebak di dalam labirin pikirannya sendiri jika ia hanya berdiam diri di dalam kamar.
“Oh? Pangeran?”
Langkah Adreanna terhenti ketika melihat Leon berjalan dari arah yang berlawanan bersama seorang pengawal. Ia membaca beberapa lembar kertas di genggamannya dengan sangat fokus, sampai-sampai tidak menyadari keberadaan Kruyina dan Adreanna.
Kruyina, yang mendengar Adreanna spontan memanggil Leon sebagai ‘Pangeran’, tersenyum geli sejenak. Kemudian, ia berkata, “Sudah menjadi pemandangan yang wajar di istana ini. Ia pernah bilang, ‘berkuasa bukan berarti hanya duduk diam’.”
Saat jarak Leon sudah dekat dengan mereka, Kruyina berbisik pada Adreanna, “Sebaiknya jangan bertegur sapa dengannya di saat seperti ini. Akan sia-sia karena ia pasti sedang membaca dokumen penting.”
Adreanna memanggil Leon dengan titelnya, mencoba membuktikan ucapan Kruyina. Dan benar saja, Leon melewati mereka tanpa melirik sedikit pun. Hanya pengawalnya yang melirik heran pada Adreanna.
“Lihat, ‘kan? Sudah kubilang. Bahkan orang yang paling membuatnya terpikat tidak bisa membuatnya menoleh,” kekeh Ruyin sembari menyenggol pelan bahu Adreanna.
“Apa maksudmu?” tanya Adreanna bingung. Kruyina menatap heran Adreanna sejenak sebelum ia terkekeh lagi.
“Bukan apa-apa, kok!” sahut Ruyin gemas sambil merangkul Adreanna dan mengajaknya kembali berjalan. Adreanna pun hanya mengangguk, tanpa berniat memikirkan ucapan Kruyina sebelumnya.
Sementara itu, Leon yang baru saja tiba di ruang kerjanya, langsung duduk di kursi tingginya dan meletakkan beberapa lembar kertas itu di atas meja. Begitu Leon selesai merapikan perpustakaannya tadi, ia memanggil para pengamat ahli dan para ahli sejarah ke sana.
Mereka adalah yang terbaik dari yang terbaik. Tidak sampai berjam-jam, cukup berbekal buku-buku di perpustakaan dan wawasan yang mereka miliki, lembaran kesimpulan kini telah berada di tangan Leon. Namun, sayangnya, hasil kesimpulan mereka tidak jauh berbeda dengan apa yang ia simpulkan setelah membaca buku di lacinya kemarin.
“Hm ...,” gumamnya, berusaha mengingat-ingat kembali setiap sikap dan ucapan Adreanna sejak kedatangannya di istana.
Tiba-tiba, matanya membelalak mengingat Adreanna pernah berkata bahwa ia dan Kruyina tidak memberitahunya alasan mereka membawa gadis itu ke istana.
Leon mengerjapkan matanya. Ia segera membereskan dokumen-dokumennya. Lalu, ia berjalan keluar ruang kerjanya.
...***...
Di balkon utama istana, Adreanna berdiri di sebelah Kruyina sambil menatap kejauhan. Langit jingga menaungi rumah-rumah penduduk yang terlihat begitu kecil dari balkon. Laut tenang di ujung sana seolah menjelma menjadi cermin raksasa yang memantulkan sinar keemasan dari langit.
“Indah sekali. Pemandangan ini benar-benar sulit dipercaya,” ucap Adreanna dengan mata berbinar. Kruyina hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.
“Kau beruntung sekali bisa ke balkon utama dan berkeliaran layaknya putri sungguhan di istana besar ini. Asal kau tahu saja, Pangeran tidak pernah mengizinkan tamu berkeliaran seenaknya sepertimu,” celetuk Kruyina.
Adreanna terkikik pelan sebelum menyahut, “Aku, ‘kan, berkeliaran di istana karena ada yang mengajak."
“Hmm ... benar juga, sih. Tapi, biasanya para tamu diawasi dari jauh oleh para pengawal istana. Mungkin kau adalah perkecualian karena Leon sangat percaya padamu?” balas Kruyina sambil tersenyum penuh arti pada Adreanna.
“Reanna.”
Adreanna berbalik terkejut, sedangkan Kruyina hanya menoleh ke belakang dengan santai. Tentunya karena ia sudah hafal pemilik suara itu, yang tak lain adalah orang paling berkuasa di istana itu.
“Oh, kau lagi. Ada apa?”
Leon menatap datar Kruyina karena ia menyahut panggilan yang ditujukan Leon pada gadis satunya. Adreanna menoleh dan menatap heran Kruyina.
“Aku hanya ingin bicara sebentar dengan Reanna,” ucap Leon dengan santai.
Meskipun begitu, Adreanna dapat merasakan Kruyina dan Leon sedang saling mengusir melalui tatapan mereka. Karena itu, Adreanna berujar pada Kruyina, “Ruyin, tidak apa-apa. Aku sudah merasa baikan, kok.”
Kruyina terdiam sejenak, memicingkan matanya, melihat gerak-gerik Leon yang tidak mencurigakan sama sekali. Lalu, dengan ketus ia berkata, “Kau mau kulaporkan ke petinggi? Sikapmu itu sangat berlebihan saat kau berada di kamar Adreanna.”
“Aku yang akan melaporkanmu duluan karena kau sudah berani-beraninya menggangguku,” sahut Leon, tak kalah ketus.
“Ayolah. Masa kalian ingin membuatku menonton perdebatan kalian sampai matahari benar-benar terbenam?” lerai Adreanna, menatap jenuh keduanya. Kruyina meliriknya sejenak sebelum menghela napas dan memasuki istana.
Melihat Kruyina mengalah, Leon melangkah dengan penuh percaya diri menuju balkon. Ia menyandar di tembok pembatas balkon dan bertanya pada Adreanna, “Bagaimana keadaanmu?”
“Sudah lebih baik. Ada apa? Aku sedang ingin sendiri,” sahut Adreanna, tak menoleh sedikit pun ke arah Leon.
Tetapi, karena tak mendengar jawaban dari Leon, ia akhirnya menoleh dengan alis mengernyit. Lelaki itu hanya diam, seolah-olah tak mendengar pertanyaan Adreanna.
“Selalu saja begini. Jawab, dong, kalau ditanya,” kata Adreanna, berusaha berbicara selembut mungkin, mengingat nyawanya nyaris melayang akibat pangeran itu.
“Hah ... ?! O-oh, memangnya aku harus punya alasan untuk bertemu denganmu?” tanya Leon, berlagak angkuh, padahal ia sudah tertangkap basah melamun oleh Adreanna.
“Tentu saja! Setiap orang pasti memiliki alasan untuk bertemu orang lain!
“Tetapi, aku bukan ‘orang’! Ada masalah dengan itu?”
Adreanna menatap sebal Leon yang tersenyum penuh kemenangan. Saat Leon menawarkan telapak tangannya pada Adreanna, gadis itu menggeleng tegas.
“Aku tidak akan pergi ke mana-mana denganmu. Toh, sebentar lagi mataharinya akan terbenam,” ujar Adreanna sambil meluruskan kepalanya, kembali menikmati pemandangan senja di hadapannya.
“Heh, kamu takut aku akan melakukannya lagi saat matahari sudah terbenam, seperti waktu itu?” gurau Leon, tapi justru membuat Adreanna mematung. Kejadian di balkon mansion malam itu seketika terputar kembali di otaknya.
Gadis itu menoleh, menatap sinis Leon dan berkata, “Kalau tidak ada yang mau kamu bicarakan lagi, maka aku akan kembali ke kamarku.”
Melihat Adreanna berpaling darinya, Leon seketika menyadari ada yang salah. Oleh karena itu, ia dengan cepat menahan pergelangan tangan Adreanna. Alis Leon mengernyit melihat tangan Adreanna yang mengepal kuat dan bergetar.
“Ada. Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu. Tapi, bisakah kamu tenang dulu?” tanya Leon, membuat Adreanna melirik tangannya yang mengepal kuat. Adreanna membuka kepalan tangannya dan menghela napas.
“Apa itu?” tanya Adreanna.
“Ini ... soal pertanyaanmu di awal,” jawab Leon, menjeda sejenak, lantas berujar, “Kamu sendiri tahu, kan, kalau kehadiranku di mansion akibat kamu membunyikan lonceng itu?”
Mata Adreanna membesar mendengarnya. “... Sudah kuduga itu bukan mansion biasa,” gumam Adreanna, memicingkan mata sambil menekuk alisnya.
“Kamu takut?” tanya Leon.
“Sedikit. Tapi berkat ucapanmu itu, aku jadi mendapatkan sedikit informasi mengenai mansion yang kuhuni,” jawab Adreanna, mengingat-ingat kembali ruang perapian usang dengan lonceng antiknya.
“Mansion … si dermawan … ah, itu dia! Aku pasti bisa menemukan—”
“Ehem. Bisa tolong simpan kesimpulanmu itu untuk nanti, Reanna? Aku harus mengatakannya sekarang, berhubung aku sedang ‘senggang’,” potong Leon, membuat Adreanna meringis. Ia lalu mengangguk kecil, mempersilakan Leon melanjutkan ucapannya.
“Alasan kami membawamu ke sini tentunya untuk mengamankanmu dari John dan orang-orang itu. Yah, tadinya kupikir itulah satu-satunya alasan kami. Tapi, Reanna, apakah kamu tahu sebuah buku yang berjudul Sang Pangeran Terakhir?” tanya Leon, membuat Adreanna teringat akan percakapannya dengan Ruyin.
“Ruyin pernah bercerita sedikit soal itu. Isinya mengenai perebutan gelar sang Pangeran Terakhir dan kekuatan tersembunyi, 'kan?” tanya Adreanna memastikan.
“Benar. Di mana buku itu? Apakah kamu pemiliknya?” tanya Leon penasaran, membuat Adreanna seketika menjadi was-was.
Aneh. Mereka berdua terus membahas buku itu. Sebenarnya, buku apa itu?
Leon, yang tanpa sengaja membaca pikiran Adreanna, tersenyum tipis, lalu berkata, “Sepertinya kamu bukan pemiliknya. Lantas, apa kamu pernah membaca atau mungkin melihat sekilas bukunya?”
Adreanna memandang Leon, yang menatapnya seolah-olah ia harus menjawab ‘ya’.
“Tidak?” jawab Adreanna ragu.
Leon memejamkan matanya sejenak. Kemudian, ia mengembuskan napasnya perlahan.
“Baiklah kalau begitu. Selamat sore, Reanna,” ucap Leon sambil berbalik pergi.
Adreanna menatap punggung lelaki itu sejenak sebelum hilang ditelan persimpangan koridor. Gadis itu menoleh, memandang mega merah yang telah melebur dengan warna nila di langit. Sedikit demi sedikit, lampu bangunan dan jalanan di bawah sana menyala dengan warna hangat.
Angin pun berembus ke wajahnya, seakan-akan menyuruhnya masuk ke dalam istana. Memang, untuk saat ini, tidak ada yang bisa ia lakukan selain masuk ke dalam istana.
Tentang rasa penasaran Leonel, tentang rasa penasarannya terhadap rasa penasaran Leonel, dan tentang rasa penasarannya terhadap dirinya sendiri, Adreanna yakin semua itu akan terjawab apabila ia memutuskan untuk tinggal lebih lama lagi di istana itu.