Menikahi gadis gila seperti Aluna George merupakan suatu bencana yang terjadi di dalam kehidupan Bintang Abigail Winata . Tak pernah Bintang bayangkan sebelumnya jika dia akan menjalani pernikahan itu bersama Aluna. Segala kegilaan dan setiap tindakannya selalu diluar nalar seorang Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nedl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 SURABAYA
Bintang menutup folder terakhir di atas meja, menghela napas panjang saat rekan bisnisnya mulai beranjak pergi satu per satu meninggalkan nya dan David. Meeting terakhirnya di Surabaya akhirnya selesai. Lebih lama dari perkiraan—tadinya dia pikir hanya tiga hari, tetapi ternyata hampir seminggu.
Pekerjaan yang menumpuk membuatnya tak punya banyak waktu untuk hal lain, bahkan sekadar menikmati suasana kota ini. Ia meremas tengkuknya yang terasa kaku, lalu melirik arlojinya. Sudah hampir pukul delapan malam.
"Tuan, penerbangan untuk besok sudah saya atur. Jam 11.00 siang." Ucap David sambil melihat tablet nya.
Bintang mengangguk. "Baiklah, sekarang istirahat. Bangunkan saya jam 9 pagi karna kita harus mengecek progres proyek terakhir sebelum ke bandara."
Davin mengangguk patuh. "Baik tuan."
Tanpa banyak basa-basi, Bintang segera kembali ke kamar hotel, dia sangat lelah, dia butuh istirahat. Setibanya di lantai tempat kamarnya berada, ia melangkah santai menuju pintu. Namun, begitu ia membukanya, langkahnya langsung terhenti.
Di dalam kamar, berdiri seorang wanita dengan dress hitam ketat diatas lutut yang memperlihatkan lekuk tubuh wanita itu dengan sempurna. Rambut panjangnya yang bergelombang dibiarkan tergerai, bibir merahnya melengkung membentuk senyuman yang penuh arti.
Yup dia adalah Laura.
Bintang mengerutkan kening. “Bagaimana kamu bisa ada di sini?”
Laura terkekeh pelan, lalu berjalan mendekat. “Ah itu .... Aku ada kerjaan di sini dan aku dengar kamu juga ada di sini. Jadi aku cari tahu dimana hotel tempat kamu menginap, setelah itu aku sedikit merayu pemilik hotel ini yang sedikit bodoh untuk memberiku akses ke kamar mu. Kamu kan tahu sayang aku selalu punya cara cerdik."
"Dan ya setelah kupikir-pikir, tidak buruk jika menghampiri mu dan menghabiskan malam bersama. Bukan begitu sayang?"
Bintang menghela napas. Dia terlalu lelah untuk meladeni permainan Laura.
“Aku sibuk, Laura.”
“Oh? Sibuk dengan apa?” Laura menyentuh dasi Bintang, menariknya sedikit ke bawah. “Dengan istrimu?”
Bintang meraih pergelangan tangan Laura dan melepaskannya dari dasinya. “Bukan urusanmu.”
Laura tertawa, lalu berbalik dan duduk di pinggiran ranjang dengan posisi yang sangat menggoda. Kakinya yang jenjang disilangkan, dan ia memainkan ujung rambutnya dengan jari.
“Ayolah, Bintang. Aku tahu kamu merindukanku. Aku tahu kamu masih menginginkanku.”
Bintang mendengus. “Jangan mengada-ada.”
Laura bangkit, mendekat lagi, dan kali ini tangannya menyentuh dada Bintang. “Kalau begitu, biarkan aku membuktikannya.”
Tanpa peringatan, bibirnya langsung mendarat di bibir Bintang. Ciumannya panas, penuh gairah. Awalnya, Bintang refleks mendorongnya, tetapi Laura tidak menyerah.
“Bintang…” desis Laura di antara napasnya yang memburu. “Jangan pura-pura menolak kalau kamu juga sebenarnya menginginkannya.”
Bintang memejamkan mata. Sial. Biar bagaimanapun dia adalah pria dewasa, dan Laura tahu persis bagaimana menggoda seorang pria. Laura tahu titik kelemahan Bintang. Dan Bintang bisa merasakan tubuhnya merespons sentuhan wanita itu.
Nafas Laura yang memburu, aroma parfumnya yang menggoda, dan lenguhan kecil yang keluar dari bibirnya membuat Bintang nyaris kehilangan akal sehat.
Tangannya yang tadi menolak, kini justru bergerak ke pinggang Laura, menariknya lebih dekat. Ciuman mereka semakin dalam, semakin liar. Bintang bisa merasakan desahan Laura yang semakin dalam, tangan wanita itu mencengkeram lehernya dengan kuat untuk memperdalam ciuman mereka.
Namun, tiba-tiba…
Bayangan Aluna muncul di kepalanya.
Mata bulat itu yang selalu memandangnya penuh kebencian. Sikap keras kepala Aluna. Suaranya saat menggerutu setiap kali mereka bertengkar.
Sial!
Dalam sekejap, Bintang sadar. Ia segera mendorong Laura dengan kasar, membuat wanita itu terhuyung ke belakang.
"Ahh sayang."
Laura, yang sudah ngos-ngosan dan wajahnya merah karena gairah, menatap Bintang dengan ekspresi bingung dan kesal.
“Kenapa?!” serunya.
Bintang tidak menjawab. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan berjalan ke kamar mandi, menutup pintunya dengan keras.
Di dalam, ia menatap bayangannya di cermin. Matanya masih gelap oleh hasrat yang tertahan. Nafasnya berat, dadanya naik-turun. Ia mengguyur wajahnya dengan air dingin, berharap itu bisa menenangkan pikirannya.
Sial.
Apa yang tadi sudah ia lakukan? Kenapa wajah Aluna bisa muncul di benaknya di saat seperti itu?
Bintang memejamkan mata, lalu menggumam pelan.
“Aluna … dasar gadis menyebalkan.”
...----------------...
Sedangkan di sisi lain, Aluna menatap layar ponselnya sekali lagi. Kosong. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Apalagi dari Bintang.
Bukan berarti dia mengharapkan kabar dari pria itu. Tidak, tentu saja tidak. Mereka sudah sepakat untuk menjalani hidup masing-masing tanpa saling mengganggu. Dan sejauh ini, hidup Aluna berjalan baik-baik saja tanpa Bintang.
Tapi … entah kenapa, malam ini perasaannya tidak enak.
Ia menghela napas, meletakkan ponselnya di meja, lalu meregangkan tubuh. Hampir seminggu Bintang di luar kota, dan selama itu pula Aluna menikmati ketenangan di rumah. Tidak ada debat, tidak ada tatapan tajam penuh sarkasme dari pria itu. Namun, justru karena itulah ada sesuatu yang terasa … kurang bagi Aluna.
Aluna menggelengkan kepala cepat-cepat. Ah, sudahlah. Ngapain juga mikirin laki-laki itu?
Ia beranjak dari tempat duduknya, mengambil dompetnya, lalu keluar ruangan untuk menemui Agatha dan Nayla yang sudah lebih dulu berada di salah satu cafe yang tidak jauh dari Rumah Sakit.
Begitu Aluna tiba, suara Nayla langsung menyambutnya dengan antusias.
“Lo tahu nggak, Lun? Gue lihat Dokter Dimas kemarin jalan sama cewek cantik di mall waktu gue baru keluar dari salon!”
Aluna mengangkat alis. “Oh, ya?” Aluna mengambil buku menu dan memilih makanan yang cocok di lidahnya untuk saat ini. Karena jujur nafsu makannya akhir-akhir ini berkurang. Entah kenapa.
Agatha yang duduk di sebelah Nayla ikut menimpali. “Iya! kata Nayla cewe itu cantik buangetttt.”
Aluna mengangkat bahu, berusaha tidak menunjukkan ekspresi tertarik. “Ya udah, terus kenapa?” Aluna kemudian memanggil pelayan dan memesan salah satu makanan yang terlihat sedikit mengiurkan baginya.
Nayla menatapnya seolah Aluna adalah makhluk aneh. “Lun emang lo nggak penasaran?”
“Kenapa gue harus penasaran?”
“Lah, kalian baru dinner dua hari lalu, kan? ” ujar Agatha sambil menyipitkan mata. “Jangan-jangan Dimas itu tipe tipe cowok buaya darat. Mengandalkan kegantengannya untuk ngedeketin cewek-cewek cantik. Baru aja dua hari lalu sama cewek lain eh besoknya sama cewe lain lagi. Gak like gue cowok modelan gitu.”
Aluna menahan diri agar tidak tertawa.
Sebenarnya, dua hari lalu Dimas memang mengajak nya makan malam sehabis pulang kerja, tetapi bukan dalam konteks kencan atau semacamnya. Mereka hanya membicarakan alasan batalnya dinner saat Aluna ke Paris waktu itu. Dan hal itu mengharuskan Aluna membuat alasan kalau ia harus liburan dengan kakaknya, padahal aslinya—
Ah, sudahlah. Tidak perlu mengingat kejadian di Paris.
Ia akhirnya memilih menjawab dengan nada datar. “Ya, terserah dia mau jalan sama siapa. Gue nggak peduli.”
Nayla dan Agatha saling pandang, lalu tertawa kecil.
“Benar-benar nggak peduli atau pura-pura nggak peduli, nih?” goda Nayla.
“Serius. Gue bahkan nggak ada hubungan apa-apa sama Dimas,” sahut Aluna santai. “Lagipula, kalau pun dia buaya, gue bukan salah satu korbannya.”
“Baguslah.” Agatha mengangguk setuju. “Setidaknya teman gue gak terperangkap dalam jeratan buaya si Dimas."
Tidak lama pesanan mereka datang, dan percakapan pun beralih ke topik lain—tentang tren fashion terbaru, film yang sedang tayang di bioskop, hingga rencana liburan akhir pekan. Namun, di sela obrolan mereka, pikiran Aluna sesekali melayang entah ke mana.
Atau lebih tepatnya—melayang ke seseorang.
Sial.
Kenapa dia jadi kepikiran tentang Bintang?
Next bab......
Bintang terbukalah kepada Luna tentang perasaan terhadap luna.siap" asa yang nikung.wkwk