Lima belas tahun, bukanlah waktu yang singkat. Lusi adalah seorang perempuan yang sabar dan tulus mencintai Yudi yang mempunyai sifat cemburu dan rasa curiga yang berlebihan, namun seiring dengan berjalannya waktu, kesabaran yang dimiliki oleh Lusi pun perlahan mulai luntur. Apakah Lusi masih bisa mempertahankan cintanya? Apakah Yudi bisa merubah sifatnya? Akankah cinta mereka langgeng hingga maut yang memisahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ludia Tola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Bertemu Dengan Kakak Ipar
Pagi ini Yudi bersama ayahnya pergi ke pusat kota untuk membeli mobil karena uang tabungan yang selama ini ia kumpulkan sudah cukup untuk membeli kendaraan roda empat.
Sore ini mobil Rush keluaran terbaru sudah terparkir cantik di halaman rumah. Pak Arman tak lupa menghubungi semua anak-anaknya untuk datang melengkapi kebahagiaan Yudi dengan mengadakan acara kecil-kecilan.
Rama dan Rian menyempatkan diri hadir di acara tersebut sedangkan kedua saudara perempuannya, Tice dan Tari tidak bisa hadir dengan alasan sedang sibuk.
Rama datang bersama istri dan anak keduanya yang diberi nama Geral dan Rian hanya datang seorang diri. Anak Rian baru satu orang dan masih kecil. Ia baru dikarunia anak saat umur pernikahannya memasuki usia delapan tahun.
Waktu pernikahan Yudi dengan Lusi, Rian juga tidak sempat menghadirinya karena waktu itu istrinya sedang sakit. Dan baru kali ini ia menyempatkan diri untuk bertemu dengan orang tua dan saudaranya.
Ani, istri Rama pinya sifat pendiam tapi Lusi dengan mudah bisa akrab dengannya. Keduanya tampak asyik bekerja di dapur untuk mempersiapkan bumbu-bumbu makanan.
Karena akrabnya, Ani menceritakan segala uneg-uneg dalam hatinya kepada Lusi tentang sikap suaminya yang temperamen.
Kini Lusi sadar bahwa mungkin sikap temperamen yang dimiliki orang bersaudara itu sudah menjadi karakter dalam keluarganya.
"Bisa jadi yah, ayah mertua kita juga seperti itu, makanya menurun ke anak-anaknya," bisik Lusi saat keduanya sedang mengupas bawang karena takut jika ada yang menguping.
"Intinya, kita yang jadi istri-istri mereka ini harus punya kesabaran tingkat dewa, karena kalau nggak, bisa jadi kita akan menjadi salah satu penghuni rumah sakit jiwa!" ucap Ani sambil cekikikan.
Begitulah keakraban yang terjalin di antara mereka. Ibu Dina merasa sangat terhibur menyaksikan anak-anak mantunya yang kompak dan akrab.
Usai acara makan-makan, Rama dan istrinya pamit keluar sebentar untuk suatu urusan dan ia titip Geral kepada Rian agar dijaga. Kebetulan Geral nggak mau ikut karena sedang asyik bermain dengan Dhey.
Malam itu Rian nggak ke mana-mana. Ia ingin menghabiskan waktunya untuk bersama dengan keluarga karena besok rencananya akan balik lagi ke Makassar.
Lusi tampak akrab dengan Rian. Maklum baru berkenalan karena barusan bertemu. Keduanya tampak asyik bercerita sambil memantau Dhey dan Geral yang sedang bermain rumah-rumahan.
"Bagaimana keadaan Mira, Kak?" tanya Lusi. Ia dengar dari mertuanya bahwa Mira, istri Rian sering-sering masuk rumah sakit dan mungkin hal itulah yang menyebabkan mereka baru dikaruniai momongan. Bahkan setelah melahirkan anaknya, kondisi kesehatannya malah semakin parah.
"Yah, begitulah... kaluar-masuk rumah sakit," jawab Rian dengan sedih.
"Trus siapa yang jaga sekarang?" tanya Lusi pula.
"Ibu mertua dan juga ada adik ipar saya yang sudah tinggal bersama kami karena papa mertuaku sudah meninggal setahun yang lalu." Tampak mata Rian berkaca-kaca membuat Lusi ikut sedih.
"Mudah-mudahan Kak Mira lekas pulih!
"Amin!"
Tanpa disadari oleh mereka, ada sepasang mata yang berkilat karena api cemburu melihat keakraban yang terjalin di antara keduanya.
Rasa benci mulai menyusup ke dalam relung hati Yudi. Benci kepada kakaknya sendiri pada hal Rian dan Lusi hanya bercerita biasa saja.
"Om, Om, i.nGeral udah ngantuk!" ujar Dhey yang menghampiri Rian sambil menggandeng tangan Geral.
"Sini Sayang, Om gendong!" Rian mengulurkan tangannya lalu menggendong Geral. Matanya sudah hampir tertutup.
Dhey pun ikut-ikutan mau digendong sama Om Rian.
"Ehhh, Om Rian nggak kuat loh, kalau harus menggendong kalian berdua. Sini sama Mama aja!" Lusi mendekati anaknya yang sudah merengek-rengek di dekat Rian lalu merangkulnya. Saat itu pula Yudi lewat dan sengaja berdehem.
"Sini Yud, kita cerita-cerita!" ajak Rian dengan ramah.
"Kalian aja yang cerita, saya ada urusan!" sahut Yudi dengan wajah datar. Ia melangkah meninggalkan Rian dan Lusi dengan perasaan kesal.
Rian dan Lusi saling berpandangan melihat sikap Yudi yang aneh.
"Suamimu kenapa yah?" tanya Rian.
Lusi mengangkat bahu karena ia juga tidak mengerti dengan sikap Yudi.
Tidak lama kemudian, Rama dan istrinya pulang. Keduanya masih menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan keluarga. Pak Arman dan Ibu Dina juga sudah bergabung dengan mereka.
"Yudi ke mana, yah?" tanya ibu Dina.
"Sedang keluar, katanya ada urusan, Bu," sahut Lusi.
Hampir satu jam mereka saling bincang-bincang dan topik yang paling banyak dibahas adalah pergumulan yang sedang dihadapi oleh Rian yang tak kunjung berujung.
"Mungkin ada baiknya kalau istrimu itu mengkonsumsi obat tradisional," kata Rama.
"Semua sudah kami coba Kak, tapi tetap tidak ada perubahan," jawab Rian lesu.
Mira mengidap penyakit jantung dan menurut dokter pada pemeriksaan terakhir ini, jantungnya sudah bocor. Hanya dokter dan Rian yang tahu tentang hal ini.
Pukul 10.15 WIB, mereka bubar lalu masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Lusi sangat kaget ketika tiba di kamar karena suaminya sudah berbaring dengan tatapan lurus. Wajahnya garang membuat Lusi takut. Sangkahnya Yudi sedang keluar rumah.
Tampilan seperti ini bukanlah merupakan hal yang baru karena sudah beberapa kali ia mengalami. Lusi mulai bertanya-tanya dalam hati, "Apa gerangan yang membuat suaminya murka?"
Merasa diabaikan, Lusi pun langsung membaringkan tubuh disamping suaminya walau dengan perasaan was-was.
"Udah puas bincang-bincangnya?" ujar Yudi dengan nada yang kurang bersahabat.
"Maksud, Mas?" tanya Lusi heran.
"Bincang-bincang rianya dengan kakak ipar,"
Deg, jantung Lusi berdetak tak karuan menahan emosi. " jadi itu yang membuatnya marah," lirihnya dalam hati.
"Aduhh, Mas... penyakit lamamu muncul lagi. Harusnya kamu tadi ikut bincang-bincang dengan kita-kita biar kecurigaanmu itu tidak berlebihan!"
Nafas Lusi naik-turun karena emosi namun kali ini ia tidak mau diam saja seperti yang biasa ia lakukan jika suaminya marah.
"Mata kepala ini yang liat, kamu dan Rian sedang berdekatan bahkan hendak ciuman tapi kalian batalkan karena saya tiba-tiba muncul,"
"Pikiranmu sangat picik, Mas. Tidak mungkin saya melakukan hal memalukan itu! Saya tidak serendah yang Mas tuduhkan!"
Lusi menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya. Air matanya mengalir deras karena sakit hati yang tak terkira. Harusnya malam ini mereka bersenang-senang karena kedatangan saudara dan juga dapat berkat yang luar biasa yaitu sebuah mobil mewah menurut ukuran Lusi.
Sementara itu, Yudi yang berada di sampingnya masih tak bergeming. Rasa cemburu dalam hati telah membakar jiwanya. Jawaban dari istrinya hanya dianggap sebagai alasan dan isakan pilu istrinya hanya dinilai dengan kata cengeng.
Malam berlalu dengan kelam. Dua insan yang saling mencintai kini tidur saling memunggungi. Dua-duanya membenarkan diri masing-masing.