Indonesia
NovelToon NovelToon
Cake Cinta dari Chef Cakep

Cake Cinta dari Chef Cakep

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Umul Falah

Dari kenyaman menjadi rasa sayang, itu yang kurasakan, namun karena terlalu lama kusadari ucapanku menyakiti perasaannya, dia kini menjauh.
Demi meluluhkan hatinya yang kusakiti, kubuatkan cake ini kesukaannya, apa aku terlalu lebay dengan membuat cake untuk mendapatkan hati istriku sendiri?
Ya chef Akbar seorang chef terkenal dengan kegeniusannya dalam menciptakan makanan terutama cake, dan istri kecilnya Umi yang dia dapatkan dari perjodohan paksa kedua orang tuanya sangat mencintai cake hingga dia mencintai pembuatnya, yaitu aku, namun karena perasannya sering kusakiti dia kini merajuk dan tak menampakan kelembutan serta kecantikan senyumannya seperti biasa, meski perasaan ini bingung apakah artinya aku sudah jatuh cinta? dengan gadis ABG yang masih bocil ini? atau ini hanya rasa bersalah?
Nantikan keseruan romantisme antara keduanya guys

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umul Falah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

menangis

"Hehe kok mama disini?" tanya Sefi saat kepergok keluar dari kamar mandi belakang, tempat biasa mbaknya gunakan.

Kalian tahu, kondisi Sefi saat ini adalah hanya berbalut handuk yang melilit dari dadanya sampai paha atasnya, rambutnya dia biarkan tergerai basah , pundak putih mulusnya terekspos sempurna, padahal Umi selalu menjaga auratnya tertutup, bahkan pembantu dirumah pun tak ada yang tahu rambut asli Umi, namun sekarang apa?.

"Hehe, kirain ngga ada orang ma, besok ngga akan lagi, ini tadi basah kuyup jadi mandi dibelakang aja biar ngga buang waktu, dingin!" ucap Umi masih dengan gemeretakkan gigi itu.

Mama Maya pun hanya bisa geleng-geleng seraya menghampiri Umi dan mengambil satu lagi handuk kering di kamar mandi untuk diusapnya di rambut putrinya.

"Yuk kekamar nak" ucap Bu Maya membimbing Umi masuk kamarnya di lt.3 itu, setelah memasuki kamar itu, Bu Maya dikejutkan karena perabotan disana ada dua pasang dengan milik Akbar, Bu Maya tersenyum tanpa sadar, semoga Umi dapat menerima Akbar begitu pula Akbar juga menerima Umi dengan segala kekurangannya dan menjalani hari dengan bahagia sampai hari tua.

"Ma, Sefi ganti baju dulu yaach" ucapnya riang seringan bulu terbang karena berasa seperti masa kecilnya yang selalu diperhatikan mamanya kala beliau libur kerjanya.

Umipun berjalan ke walk in closet untuk memakai baju, selang 10 menit kemudian dia sudah siap dengan rambut lurus itu karena habis keramas dia tak mengenakan kerudungnya.

"Dari meja rias kok ngga sisiran sekalian sih, sini mama sisirin" ucapnya seraya bangkit dari kasur tidur menuju meja rias Umi, yang disisir hanya menurut saja.

"Mama kesini kok ngga ngabarin? Mama ngga sibuk?" tanya Umi penasaran sejak tadi dia kaget itu, di tatap wajah ibunya yang terpantul dicermin itu, memang cantik, apalagi kini ibunya memakai hijab meski yang ringan.

"Mama kangen sama kamu sayang, biasanya rumah rame kalo ada kamu, hehe, mama ngga sibuk sih, tadi kerjaan lagi sedikit jadi mama kesini siang tapi kalian lagi keluar semua" ucap mama Maya sambil menyisir penuh rasa sayang.

Baru selesai menyisir terdengar pintu terbuka, datang Akbar menatap mereka dalam diam, Bu Maya sudah menyadari kedatangan Akbar namun Umi masih dengan asyiknya berbicara tanpa menyadari suaminya sudah kembali, baru setelah Bu Maya hanya tersenyum saja menatap putrinya, Umi menoleh ke arah pintu, dan terkaget.

"Mas kapan pulang?" tanya Umi sambil gelagapan mencari kerudungnya, ternyata belum diambilnya dari lemari, Akbar hanya tersenyum saja.

"Yuk makan dulu" ucap Akbar mengajak mereka makan, meski dalam hati niatnya mau mandi dulu, namun melihat tingkah istrinya kala tak berkerudung dan gelagapan mencarinya membuat hatinya menghangat.

Akbar menghampiri Umi dan Bu Maya, lalu mencium punggung tangan bu Maya tanda hormat itu, Bu Maya menatap Umi, Umipun akhirnya meraih tanga Akbar dan mencium punggung tangannya, reflek tanga kiri Akbar mengelus rambut yang harus dan masih sedikit basah itu.

Umi merasa mukanya udah panas, dan memang kaya kepiting rebus akibat ulah Akbar itu.

"Yuk makan" uca Umi sambil Lalu berjalan dahulu menuruni tangga, tak elaknya dia tak berkerudung, mentolerir hanya untuk malam ini saja, batin Umi.

Saat sampai di meja makan, dia berjalan ke dapur dan ternyata mbak yu sudah pulang, karena jadwalnya hanya sampai jam 5 sore saja.

Beruntung mbak yu sudah memasak untuk makan malam, ada oseng cah buncis, telur dadar, ayam kecap, dan sayur sop serta sambalnya, langsung ditata oleh Umi dimeja dan mengambil piring serta gelasnya.

Akbar dan Bu Maya pun turun dan ikut duduk di meja untuk makan malam, setelah berdoa dan fokus dengan makanan masing-masing itu, hanya denting piring beradu dengan sendok yang terdengar.

"Mas mau minum?" tanya Umi karena merasakan tatapan Akbar sejak tadi tak elaknya dari memandangi wajah Umi yang polos tak berkerudung itu terlihat cantik dan manis sekali, apalagi pipi chubby itu mengunyah makanan ingin dicubit gembul banget kaya hamster nyembunyiin kuacinya.

Akbarpun hanya berdehem dan tersenyum saja seraya makan lagi, Umi yang sudah menawari itu bangun dan menuangkan air minum untuk Akbar dan Bu Maya.

Selang 10 menit kemudian, makan sudah selesai dan Umi membereskan peralatan makannya dan mencucinya di wastafel.

"Rajinnya putri mama" ucap Bu Maya seraya mengelus puncak kepala Umi sambil menatapnya sibuk mencuci piring itu.

"Iya dong, kalo ngga rajin nanti banyak kecoanya looh" ucap Umi iseng karena tahu mama Maya takut kecoa, sontak mukanya sedikit pucat dengan menatap kesana kemari.

"Hihi ngga ada mamaku sayang, kan baru dibilang rajin biar ngga ada kecoa" ucap Umi lagi, membuat Bu Maya lega seraya mengelus dadanya itu.

"Ngerjain mama ya?" tanya Bu Maya sambil sedikit mencubit pipinya.

"eeh maap maa ngga senguajhaa" ucap Umi sambil di cubit pipinya itu, Akbar hanya menatap kebersamaan istrinya dan ibunya dengan mata menghangat, manis sekali perlakuan mereka, Akbar juga ingin seperti itu namun dia ingat istrinya, masih ada rasa sedikit sebal, namun jika ditelaah lagi sejak hari pertama disini Umi tak pernah sekalipun mencoba menggoda Akbar, jika Umi mengajaknya bicara itu hanya bukti kesopanan dan kehormatannya sebagai seorang istri, Akbar akhirnya harus mengakui bahwa apa yang dipikirkannya hanya kesalahpahaman saja.

Akbarpun berjalan menuju ruang televisi menunggu kedua perempuan cantik itu selesai dengan kegiatannya.

"Nak mama pulang dulu ya, udah ditelfon papa suruh pulang" ucap Bu Maya menghampiri Akbar, yang diajak bicara sontak menoleh dan menatap istrinya, dan mengangguk saja lalu menyalaminya, istrinya mengantar ibunya sampai ke pintu dan berpelukan.

"Mas, maaf tadi Sefi ngga ijin keluar" ucap Umi seraya menunduk saat ibunya sudah pulang, itu menjadi kegundahan hatinya sejak Akbar pulang itu, namun dia tutupi saat ada ibunya, Akbarpun sejak tadi masih diam saja.

Akbar menatap Sefi dengan tatapan menyelidik, lalu mendekatinya.

"Kalau berani minta maaf kenapa ngga berani bilang kalo mau pergi?" ucapnya denga nada datar itu, namun sebenarnya buka itu yang ada dalam pikirannya, yang mau dia ucapkan 'besok-besok ijin dulu, sekarang ngga papa'.

Namun Umi hanya memahami apa yang keluar dari mulut Akbar, bulir air matanya jatuh dipipinya itu, membuat hati Akbar teremas.

"Iya maaf mas, saya sudah durhaka" ucap Umi

Akbar yang tak mengerti justru hanya mengangguk dan berbalik ke arah ruang kerjanya.

Anggukkan Akbarpun tak terlihat oleh Umi karena dia sibuk mengusap air matanya.

Dengan perasaan sakit hati yang dipendam Umi, dia melangkah gontai menuju kamar sebelah, bukan kamar mereka berdua, lalu langsung menangis dikasur hingga akhirnya tertidur.

Akbar yang masih kalut melihat istrinya menangis itu beranjak ke kamarnya, namun tak mendapati istrinya disana, biasanya dia akan menatap lama wajah istrinya yang tertidur disampingnya, itu membuat hatinya terasa damai, dengan kalut dan marah dia mencari sosok istrinya ada dimana, salah dia juga sih tadi ngga menangin waktu Umi lagi nangis, sebenarnya hatinya ingin sekali merengkuh tubuh mungil itu kedalam dekapannya, namun egonya terlampau besar.

Akbar hanya bisa merutuki sikapnya yang jahat kepada istrinya sendiri, dia tahu itu, dia melukai perasaan istrinya yang diakuinya sebenarnya sangat baik hati dan penyayang itu, setelah lelah mencari dari lantai1 ke lantai 2, diapun menatap kamarnya lalu menoleh ke kamar disebelahnya.

Pintu dibuka dan ternyata tak dikunci, terlihat Umi berbaring disana, lega hati Akbar menyeruak seketika, membuat tengkuknya sampai berdiri.

Di samperi Umi yang terlelap itu, matanya sembab berarti dia menangis sampai tertidur...

1
Yuyun Rohimah
next
Yuyun Rohimah
hehhehe next
Yuyun Rohimah
next
Umul Falah
oke/Smile/
Yuyun Rohimah
lanjut
Yuyun Rohimah
next
Yuyun Rohimah
lanjut
wwwvvhy
Semangat thor!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!