Kisah tentang seorang kakak laki-laki yang tega menghabisi nyawa adik kandung nya sendiri, hanya demi menguasai harta warisan almarhum orang tua nya. Hingga membuat arwah sang adik terus gentayangan dan menghantui hidup nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Batam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Kevin
Kring kring kring...
Suara ponsel Caroline berdering nyaring di atas nakas. Ia kembali mengambil ponsel itu lalu menekan aikon hijau.
"Ya halo, Pak."
"Ya halo, Bu. Ini saya kurir mau mengantarkan makanan pesanan Ibu," Jawa sang kurir.
"Oh ya, tunggu sebentar ya, Pak. Sebentar lagi suami saya turun," balas Caroline.
"Oke, Bu."
Selesai menerima panggilan dari sang kurir, Caroline pun beralih kepada Robert. Ia menyuruh lelaki itu untuk segera mengambil makanan yang sudah ia pesan melalui aplikasi online.
"Mas, makanan nya udah datang tuh. Ambil sana gih!" ucap Caroline sembari meletakkan ponsel nya kembali ke atas nakas.
"Ya," balas Robert melangkah dengan malas keluar dari kamar.
Sesampainya di lantai bawah, Robert pun langsung membuka pintu dan menerima beberapa bungkus makanan dari tangan sang kurir.
Setelah membayar semua tagihan nya, Robert pun kembali menutup pintu dan meletakkan semua bungkusan itu ke atas meja makan.
Tak lama berselang, Caroline pun muncul dengan mengenakan setelan tidur minim dan rambut di cepol ke atas. Ia menghampiri Robert yang sedang sibuk menyalin semua makanan itu ke dalam mangkuk dan juga piring.
Setelah selesai, Robert pun menghidangkan semua makanan itu ke atas meja. Kemudian ia menyiapkan piring, gelas, dan alat-alat makan lain nya untuk mereka berdua.
"Duuuhhh... Rajin nya suamiku, hihihi..." ledek Caroline terkikik geli.
"Bukan aku nya yang rajin, tapi kamu nya aja yang pemalas. Nyuruh-nyuruh suami terus kerjaan nya. Ini kan seharusnya tugas mu, bukan tugas ku," omel Robert ketus.
"Hehehe... Sekali-sekali boleh lah, Mas. Masa aku terus yang nyiapin makanan mu. Sesekali gantian dong," balas Caroline nyengir kuda.
"Yaaa, pertama hanya sesekali, seterusnya jadi berkali-kali," cibir Robert mulai sewot.
Robert memasang wajah masam. Ia mulai menyendok kan nasi dan lauk pauk ke atas piring, lalu menyantapnya dengan acuh. Ia tidak menghiraukan tatapan mata Caroline yang sedari tadi terus saja memperhatikan pergerakan nya.
"Tunggu apa lagi? Ayo cepetan di makan, entar keburu dingin."
"Iya, baweeel..." balas Caroline tersenyum tipis.
Pasangan suami istri itu menyantap hidangan yang ada di atas meja dengan suasana hening, tanpa ada nya perbincangan apa pun.
Setelah selesai, Caroline pun langsung membersihkan meja dan menyimpan sisa lauk pauk ke dalam lemari makan. Selanjutnya ia berjalan ke arah wastafel, lalu mencuci alat-alat makan yang baru saja mereka gunakan.
Sementara Robert, ia melenggang pergi begitu saja ke arah ruang tamu. Ia duduk bersandar di atas sofa kemudian menyalakan televisi yang ada di depan nya.
Setelah semua nya beres, Caroline pun menyusul Robert ke ruang tamu, lalu menghempaskan bokong nya di samping sang suami.
Sedang asyik menonton film kesukaan nya, tiba-tiba Caroline dan Robert pun dikejutkan dengan bunyi bel pintu beberapa kali.
Ting tong ting tong...
Mereka berdua pun langsung reflek menoleh ke arah pintu utama, kemudian saling pandang-pandangan dengan alis bertautan.
"Siapa itu, Mas?" tanya Caroline heran.
"Mana ku tau, kan kita sama-sama duduk disini," jawab Robert ketus dan kembali menatap layar televisi.
"Hmmmm, bener juga sih. Kenapa aku gak kepikiran sampai kesitu ya, hehehehe..." ucap Caroline terkekeh. Ia merasa geli dengan pertanyaan nya sendiri.
"Huuuu, dasar plin-plan!" umpat Robert sembari menoyor jidat lebar Caroline.
Ting tong ting tong... Suara bel pintu kembali terdengar.
"Buka sana gih! Berisik terus dari tadi," seru Robert menyikut lengan Caroline yang masih saja bersandar di bahu nya.
"Malas ah, kamu aja sono yang bukain! Aku lagi mager (malas gerak) banget nih," tolak Caroline meluruskan kedua ke atas sofa.
"Ck, punya bini kok gini amat sih. Pemalas banget," gerutu Robert kesal.
Dengan terpaksa akhirnya Robert pun mulai bangkit dari sofa lalu melangkah gontai ke arah pintu utama.
Ceklek ...
Setelah pintu terbuka lebar, Robert pun langsung menautkan kedua alisnya. Ia memandangi sesosok lelaki tampan yang ada di depan nya dari atas sampai bawah, dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Siapa kamu? Ada perlu apa datang kesini?" tanya Robert langsung to do poin.
"Perkenalkan, nama saya Kevin. Saya adalah pacar Melisa, adik bungsu anda."
Lelaki tampan yang bernama Kevin itu memperkenalkan diri sebagai kekasih Melisa. Ia tersenyum tipis lalu mengulurkan tangan kepada Robert.
Visual : Kevin Sanjaya
Usia : 27 tahun
Status : Pacar almarhumah Melisa, adik kandung Robert
-
Mata Robert langsung membulat sempurna. Ia terlihat begitu terkejut dan juga syok, setelah mendengar pengakuan lelaki yang ada di hadapan nya itu.
"A-apa...? Ka-kamu pacar Melisa?" tanya Robert gugup.
"Ya, benar sekali."
Kevin mengangguk lalu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Ia mengedarkan pandangan ke dalam rumah Robert dengan tatapan yang tidak biasa. Kevin seperti sedang mencari keberadaan seseorang di dalam rumah bertingkat satu itu.
"Apakah Melisa ada disini?" Kevin melontarkan pertanyaan yang sama seperti Hera, sahabat Melisa.
"Ada perlu apa kamu mencari adik ku?" tanya Robert balik.
Robert berusaha untuk tetap tenang. Ia tidak ingin terlihat panik atau keceplosan pada siapa pun, terutama pada orang-orang yang dekat dengan Melisa.
Mendengar pertanyaan Robert yang tampak tidak suka dengan kehadiran nya, Kevin pun kembali tersenyum. Ia menghela nafas terlebih dahulu, lalu menjawab...
"Saya ini pacar nya. Jadi ya wajar-wajar saja kalau saya mencari tahu keberadaan nya," tutur Kevin tersenyum miring.
Kekesalan Robert pun semakin bertambah, saat melihat kesombongan lelaki yang ada di hadapan nya.
"Kurang ajar betul nih orang. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu dengan ku. Gak sopan banget," batin Robert geram.
Robert menatap tajam pada Kevin. Ia tidak menyangka, jika sang adik memiliki seorang kekasih yang tidak punya sopan santun kepada yang lebih tua seperti Kevin.
"Lagian sejak kapan sih Melisa punya pacar model beginian? Udah lah jelek, sombong, kere pulak tu. Bikin emosi saja," umpat Robert dalam hati.
Melihat keterdiaman Robert, Kevin pun melambaikan telapak tangan ke arah wajah Robert sampai berulang-ulang untuk menyadarkan nya.
"Hellooo... Kok malah diem sih? Melisa nya ada?" ucap Kevin kembali mengulang pertanyaan yang sama.
Melihat lambaian tangan Kevin, Robert pun langsung tersadar dari lamunan nya. Ia kembali memasang wajah sinis lalu menjawab pertanyaan kekasih sang adik.
"Melisa sudah pergi ke London beberapa hari yang lalu," jawab Robert.
Ia membohongi Kevin dengan mengatakan hal yang sama, seperti yang pernah ia katakan kepada Hera waktu itu.
"Ke London...?" tanya Kevin dengan alis bertautan.
"Ya," Robert mengangguk sembari melipat kedua tangan di atas perut.
"Ada urusan apa Melisa pergi ke London?" selidik Kevin seakan tidak percaya atas kepergian sang kekasih.
"Dia melanjutkan kuliah nya disana," balas Robert masih dengan mode ketus dan wajah datar.
Kevin terdiam sejenak. Ia mengambil ponsel dari saku celana kemudian mencari nomor kontak Melisa. Setelah menemukan nya, Kevin pun langsung menghubungi nomor tersebut.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Coba lah beberapa saat lagi..."
Kevin mendengus kesal saat mendengar suara operator seluler yang sedang menjawab panggilan nya.
Karena tidak berhasil menghubungi nomor kontak Melisa, Kevin pun kembali beralih kepada Robert.
"Boleh minta nomor baru Melisa? Soal nya nomor yang ini sudah tidak aktif lagi," jelas Kevin.
Bukan nya menjawab, Robert malah tersenyum miring kemudian membatin...
"Ya iya lah, nomor itu sudah tidak aktif lagi. La wong ponsel nya saja sudah hancur berkeping-keping, hahahaha..." gelak Robert dalam hati.
🌼 Terima kasih atas kunjungan nya man teman. Jangan lupa subscribe dan tinggalkan jejak like dan komen untuk mendukung karya author ya 🙏🤗🌼