Indonesia
NovelToon NovelToon
Balas Dendam Harus Dibayar Tuntas

Balas Dendam Harus Dibayar Tuntas

Status: tamat
Genre:Cerai / CEO / Penyesalan Suami / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:172.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuhume

Diabaikan keluarga sendiri, disiksa oleh ibunya, diabaikan keberadaannya oleh ayahnya dan adik yang juga membuatnya menderita.

Suatu hari dia menikah dengan lelaki yang sejak awal terlihat mencintainya, dia berharap banyak dengan pernikahan tersebut yang mampu mengakhiri penderitaannya, ternyata suatu ketika Erina tahu bahwa suaminya mencintai adiknya. Dia juga berhadapan dengan Ibu mertua yang otoriter dan adik ipar yang memperlakukan Erina seenaknya. Di rumah tersebut dia menantu tapi nyatanya diperlakukan layaknya seorang babu.

Erina sadar dikemudian hari saat sebuah kecelakaan menimpanya, dia sadar bahwa benar harapan semua orang yang dianggapnya keluarga menginginkan dia mati. Suatu hari dia bertemu dengan pria yang juga memiliki masa lalu dan keluarga yang suram, mereka akhirnya bekerja sama untuk saling membalas apa yang telah mereka dapatkan dimasa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuhume, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Sindi tidak memikirkan hal itu, menurutnya situasi yang ada di hadapannya sudah sering terjadi bagi kehidupan Ansel yang telah menjadi keluarga konglomerat sejak dalam kandungan.

Saat Sindi semakin dekat, rasa penasaran dalam dirinya timbul, karena wajah wanita tersebut sangat mirip dengan Erina, hanya saja kali ini yang berada di hadapannya memiliki dandanan yang sangat menakjubkan.

Kecantikan yang menggunakan polesan namun masih terlihat sangat alami.

"Apakah benar itu kakak?"Gumam Sindi dengan sesekali mengucek matanya.

Langkah Sindi perlahan semakin mendekat, dan benar saja. Matanya membulat sempurna karena ternyata benar, yang dilihatnya itu adalah Erina yang sedang bersama dengan Ansel.

Langkah Sindi dengan cepat memasuki ruangan tersebut dan mendekati mereka.

"Kakak, apa yang kakak lakukan di sini? dan bagaimana bisa kakak kenal dengan tuan Ansel?" Ucap Sindi dengan suara yang dibuat lembut dan sedikit lemah.

Di dalam hati Sindi nyatanya penuh dengan amarah yang meledak-ledak dan berusaha untuk membuat rencana kembali ingin menghancurkan Erina saat itu juga.

"Awas saja kau!" Batin Sindi.

Pertanyaan Sindi belum terjawab. Erina masih terdiam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Kakak, apa yang kalian bicarakan dan...".

Ucapan Sindi terpotong saat itu karena Ansel menaikan tangannya sebagai isyarat agar Sindi diam terlebih dahulu. Sindi ingin duduk tepat di dekat Ansel tapi dengan cepat Ansel menyadarkan Erina dari lamunannya.

"Jadi bagaimana dengan keputusanmu, yang mana yang akan kau pilih" Ucap Ansel dengan senyuman devil menatap Erina.

"Keputusan? keputusan apa? apa yang sebenarnya kalian bicarakan?" Ucap Sindi yang mulai sedikit geram menatap Erina.

Erina terlihat menarik nafasnya dan ingin menjawab ucapan Sindi terlebih dahulu, tapi Sindi yang telah terlihat geram, melangkah tepat ke samping Erina dan memegang tangan Erina.

"Kakak, bisa kita bicara sebentar?" Ucap Erina.

Erina yang mendapatkan perlakuan itu, spontan melepas tangan Sindi dengan elegan dan meraih tasnya. Erina berdiri dari tempatnya dan memegang kartu kunci kamar hotel milik Ansel.

"Maaf, aku tidak ada waktu untuk berbincang denganmu, karena kami akan menggunakan kartu ini" Ucap Erina dengan memamerkan kartu yang berada di tangannya tersebut tepat di depan mata kepala Sindi.

Mata Sindi membulat sempurna, dia sangat tahu kartu apa yang dipegang oleh wanita yang panggil kakak saat ini, mata Sindi memerah dan dia sangat ingin mulai mengintimidasi Erina tapi itu gagal.

"Bagaimana tuan Ansel?" Ucap Erina dengan dingin.

"Menarik," Batin Ansel.

"Tentu saja, ayo kita ke lantai atas" Ucap Ansel.

Ansel kemudian berdiri dari tempatnya dan membetulkan setelan jasnya, setelah itu dia menggenggam jemari Erina dan berjalan meninggalkan Sindi yang mematung melihat Erina dan Ansel pergi meninggalkannya.

"Ada apa ini??!".

"Sialan!!!" Teriak Sindi dengan sedikit menekan suaranya.

Dia masih menatap punggung Ansel dan Erina yang semakin jauh dan menghilang. Mereka menjadi pusat perhatian, tidak hanya karena terlihat serasi tapi mereka berdua juga sangat terlihat mesra.

Ansel merangkul pinggang ramping Erina dan juga sesekali menggegam erat tangannya. Semua orang berbisik karena melihat mereka membuat Sindi benar-benar ingin menghancurkan tempat tersebut karena amarahnya yang ingin meledak.

Bayangan Ansel dan Erina kemudian menghilang, mereka berdua terlihat telah memasuki sebuah lift khusus VIP dengan pengamanan yang ketat, tidak semua orang bisa menggunakan lift tersebut, hanya tamu VIP saja yang terletak bagian atas hotel tersebut yang bisa menggunaknanya.

Dengan panik, Sindi kemudian meraih ponsel yang berada dalam tasnya dan menekan nomor Gusti, dia terlihat panik dan tidak bisa melakukan apapun. Jalan satu-satunya adalah meminta bantuan Gusti adalah yang terbaik.

Sindi yakin bahwa Erina masih sangat mencintai Gusti, karena itu dengan kehadiran Gusti bisa menyadarkan Erina bahwa posisinya bukanlah bersama dengan Ansel.

Air mata Sindi mengalir, dia sangat tidak terima perlakuan tersebut, kali ini untuk pertama kalinya dia kalah dan kekalahan itu sangat besar perbandingannya jika dibandingkan selama ini apa yang Sindi dapatkan dari Erina, pikirnya!

Beberapa menit kemudian Gusti yang sedang berada di kediamannya dengan terburu-buru mendapatkan panggilan Sindi untuk bertemu, dia dengan segera melajukan mobil sportnya.

Ada sedikit rasa bahagia mendapatkan panggilan Sindi untuk pertama kalinya setelah masalah yang belakangan ini membuatnya stres.

Sedangkan di tempat lain, ada Erina dan Ansel yang menjaga jarak saat berada di dalam lift.

Mereka berdua bahkan berjalan dengan jarak yang sangat jauh membuat Ansel tersenyum devil, dia tahu wanita yang bersamanya saat itu hanya berusaha untuk tampil berani di hadapannya, padahal yang sebenarnya adalah dia sangat penakut.

"Buka pintunya," ucap Ansel.

Erina yang mendengar itu terlihat dengan jelas di wajahnya, dia sangat gugup. Tangan Erina kemudian berusaha menyentuhkan card yang berada di tangannya ditempelkan ke pintu tersebut namun pintu masih menolak untuk terbuka.

Ttttttttiiiiiiiitttt

Tttttiiiiiiiittttttt

Masih sangat sulit, Erina gelisah hingga membuat cardnya terbalik, tangan yang bergerak karena panik membuat card tersebut tidak bisa terdeteksi dengan jelas.

"Apakah kau ingin aku memakanmu disini? atau kau justru mengulur waktu untuk aku tidak bisa memakanmu dengan cepat?" Bisik Ansel tepat di hadapan wajah Erina.

Nafas Ansel tercium di indera penciuman Erina dengan sangat jelas, bau mint itu melekat dipikiran Erina yang sudah tidak karuan. Dia terdiam dengan wajah yang tegang, matanya membulat sempurna dan tubuhnya terlihat kaku, saat Ansel mencondongkan tubuhnya dekat dengan Erina.

"Ada apa dengan wajah itu" Ucap Ansel.

Erina masih berdiri terdiam, dengan tubuh yang kaku dan nafas yang cepat.

Tatapan Ansel belum berpaling, mereka saling menatap dalam diam. Tangan Ansel dengan pelan menyentuh pundak Erina yang membuat desir darah Erina saling berpacu dengan cepat.

Tangan Ansel kemudian dengan lembut menelusuri lengan hingga ke jemari Erina. Dan yah, dia kemudian meraih card tersebut dan membuka pintu kamar hotel itu dengan sangat mudah.

Ciklikkk.

Ansel mundur selangkah dan tersenyum tipis kembali menatap wajah Erina yang kebingungan.

"Bernafas dengan benar, apakah kemampuanmu hanya sejauh ini?" Ucap Ansel yang berusaha memberi tantangan kepada Erina.

Ansel kemudian membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Erina masuk. Dengan langkah yang ragu, Erina menginjakan kakinya dalam ruangan tersebut. Ansel masih dengan senyum devilnya melihat wajah Erina yang tegang.

"Kau takut?" Tanya Ansel.

"Tidak!!" Timpal Erina dengan spontan.

Ansel kemudian tersenyum sangat manis, dia sudah tidak bisa menahan tawanya karena melihat Erina begitu menggemaskan, Ansel untuk pertama kalinya merasa nyaman dan tenang bersama seorang gadis, biasanya dia menggunakan mode arogannya karena dia percaya, wanita yang mendekatinya adalah wanita yang hanya membutuhkan uang, uang dan uang.

1
yuyunn 2706
Thor kok ada peran cewek sebodoh Erina ya,mau balas dendam tp balik lgi kermh Nugroho ya jelas sangat mudah utk dikurung atau disiksa
nichtnoir
Keren 🙌🏻
Sussy Andriany
alur cerita nya kek mna seh, amburadul bnget
Nuhume: Sabar yaa kak.. baca episode selanjutnya ya🙏🙏
mungkin aja langsung nangkep maksdnya gimana 🙏🙏🌻
total 1 replies
babygirl♡
lh bukannya udh bilang ya tdi sama gusti..?
babygirl♡
bagus...
Hendra Afs
mantappppp...plotnya ringan dan berkelas
khayalan
crpat ansel,selamatkan erina😭
khayalan
nak call apa,hp kena sita,nape erina blk ke umah horor tu,kan dh kena kurung,aish😭..cian erina
Elis Mulyawati
lanjut
Dewilakstri Astini
Luar biasa
Diajeng Ayu
yg di bahas masa lalu mulu anjay bukannya bahas rencana kedepannya jual kesedihan mulu😌 kebanyakan drama
Diajeng Ayu
Kon**l jadi perempuan lemah bgt najiss
Vien Habib
Luar biasa
Nuhume: Makasih kak❤️
total 1 replies
ayularasati91
ini novel bagus, tp koq sepi 🥹 semangat terus berkarya kak 💪
Nuhume: Siap kak, makasih kak❤️❤️
total 1 replies
Emma Jhordan
persis semua jalan ceritanya dengan yang saya tonton di Drakor
Emma Jhordan
jalan ceritanya mirip sama Drakor yang blm lama aku tonton...lupa judul nya Thor,,,but ITS okay semua org bebas berkarya
Nuhume: Siapp kak, aku emang ambil beberapa dr adegan drakor n dracin kak..
makasih udah mampir kak🌻🌻🙏😇😇
total 1 replies
Luzi
anak Gusti
Luzi
emaknya kaliii
Luzi
naaahhh cocok nih Aditya sama Nindy,,beti2 kelakuan mrka
Luzi
akhirnya kena juga kau Gusti...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!