Ruby yang menemukan armor robot perang 10 tahun yang lalu di tumpukan sampah kota, lalu memperbaikinya dengan dibantu temannya Zack sang ahli komputer berhasil menghidupkan kembali armor tempur itu.
pada suatu hari mereka bertemu 2 orang gadis bernama Maya dan Lily, 2 orang gadis yang pintar dan baik . dan mereka menjadi sahabat,
dan ketika suatu hari ada kekacauan di kota Neo-Terra, akibat insiden virus bug yang menjangkit hampir semua robot keamanan kota.
akankah Ruby dengan armor robot nya serta 3 sahabat nya bisa menghentikan kekacauan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 – Rencana Rahasia Dr. Vex
Markas Besar Arkheon – Hanggar Utama
Suara deru mesin dan dentingan logam memenuhi hanggar utama saat pasukan elit Arkheon ,akhirnya mereka kembali ke markas besar. Setelah pertempuran besar itu Tubuh mereka penuh debu dan goresan, namun langkah mereka tetap tegap.
Kapten Krios, yang memimpin pasukan, berjalan mendekat dengan tatapan bangga. Helmnya dilepas, terlihat keringat menetes di dahinya.
“Kerja bagus kalian semua… Terutama kau, Ruby,” ucap kapten Krios dengan suara berat.
Ruby menunduk sedikit, menahan rasa nyeri di bahunya yang terkilir.
“Terima kasih, Kapten,” jawab Ruby.
“Kau dan timmu menunjukkan keberanian dan kerjasama yang luar biasa. Kalian pantas mendapat pujian,” tambah Krios sambil menepuk pelan bahu Ruby.
Setelahnya
Ruby dan kawan-kawan berjalan perlahan menuju ruang perbaikan armor. Di sana, teknisi Arkheon sudah menunggu.
Ruby membuka dan meletakkan Iron-X MK II ke atas meja perawatan. Armor itu tampak penuh goresan, retakan, dan lapisan cat yang terkelupas akibat ledakan dan benturan hebat.
Zack juga menyerahkan armornya, yang sebagian pelindung pundak nyaris copot.
Maya melepaskan kaki armor dengan hati-hati, karena kakinya masih belum pulih sepenuhnya.
Lily menyerahkan sarung tangan mekaniknya yang retak.
“Istirahatlah… Biar kami yang urus sisanya,” kata salah satu teknisi sambil mulai membongkar armor Ruby.
Ruby mengangguk, menepuk bahu teknisi itu singkat sebagai ucapan terima kasih.
Beberapa menit kemudian
Mereka berempat digiring ke ruang medis Arkheon. Bau antiseptik langsung menyengat hidung mereka, dan lampu putih terang menyinari ruangan.
Ruby duduk di ranjang periksa, bahunya diperban oleh petugas medis.
“Ruby… kau nggak papa, kan?” tanya Lily yang berdiri di samping ranjang, wajahnya tampak sangat khawatir.
Ruby tersenyum tipis, menahan rasa sakit di lengannya.
“Aku baik-baik saja,” jawab Ruby, sambil perlahan mengelus rambut Lily untuk menenangkan hatinya.
Wajah Lily memerah, sedikit tersipu.
“Syukurlah…” gumamnya, hampir tak terdengar.
Di samping mereka
Zack sedang minum air sambil tetap duduk. Namun tiba-tiba…
“Uhuk! Uhuk!!” Zack tersedak.
Maya, yang duduk tak jauh, menahan tawa sambil menggeleng.
“Kau minum sambil bernapas, Zack? Kau Mau mati konyol?” ejek Maya.
“H-halah! Setidaknya aku nggak takut waktu di atas bahu Reaper!” balas Zack sambil batuk-batuk.
Maya mencibir, lalu tertawa kecil.
Ruby memandangi mereka bertiga, senyum tipis muncul di wajahnya meski tubuhnya lelah.
Di balik luka dan rasa sakit, ada kelegaan yang besar: mereka selamat… dan tetap bersama.
****************
Markas Rahasia NOVA – Kota Bawah Tanah
Lampu redup dan suara mesin terdengar di ruang kontrol markas rahasia NOVA. Dr. Vex berdiri tegak, tangan disilangkan di dada, memandangi proyeksi hologram dari pertarungan yang baru saja terjadi.
Profesor Marlo, berdiri di sampingnya, mengerutkan dahi.
“Unit Reaper-Omega kita gagal. Bocah itu… dia sudah jauh lebih kuat dari yang kita perkirakan,” gumam prof.Marlo.
Dr. Vex hanya tersenyum tipis, seolah ia sudah menduga hal ini.
“Reaper hanya tahap awal;0 dari rencana kita, Marlo. Rencana kita masih jauh dari kata selesai,” jawabnya tenang.11
Dr. Vex menyentuh layar hologram, memunculkan rancangan robot baru yang, lebih berbahaya. Tertulis label:
PROJECT: CHIMERA PROTOTYPE-α
“Kau benar-benar akan menurunkannya…?” tanya Marlo, sedikit terkejut.
“Tentu saja,” jawab Dr. Vex, nadanya dingin.
“Chimera lebih dari sekadar robot. Ini adalah puncak evolusi AI—didesain untuk belajar, menyerap, dan berevolusi. Bahkan Iron-X milik Ruby tidak akan mampu mengimbanginya.”
“Dan Ruby?” tanya Marlo, suaranya merendah.
Dr. Vex memandang ke layar, menatap bayangan Ruby dengan armor Iron-X MK II.
“Ruby… adalah kunci terakhir dari Proyek IRONBORN. Entah dia mau bergabung… atau dia akan dilenyapkan.”
Matanya menyala merah, menandakan tekad gelap yang tak terbendung.
“Segera… fase berikutnya dimulai.”
Kembali ke markas Arkheon
Di ruang medis, Lily masih menggenggam tangan Ruby.
Zack dan Maya kini duduk santai di ranjang periksa, meski badan mereka masih nyeri.
“Apa pun yang terjadi,” kata Lily pelan,"aku akan tetap berjuang bersamamu"
Ruby menatap teman-temannya, kemudian mengangguk mantap.
“Aku tahu… Terima kasih. Teman-teman Kita akan hadapi apapun yang akan terjadi, bersama-sama.”
****************
Markas Rahasia NOVA – Ruang Riset Tertutup
Suara kipas pendingin berdengung pelan, udara dipenuhi aroma logam panas dan ozon.
Di tengah ruangan, Dr. Vex dan Profesor Marlo berdiri mengitari sebuah meja kerja raksasa yang dipenuhi rangka mekanik, kabel serat optik, dan layar hologram biru yang menampilkan desain detail.
Di depan mereka terpampang rancangan robot tercanggih:
> CHIMERA PROTOTYPE-α
Sebuah desain robot tempur yang bisa berubah fungsi menjadi armor wearable untuk manusia. Bukan sekadar mesin, tapi senjata hidup yang mampu belajar dan beradaptasi.
---
Dr. Vex, dengan jubah lab putihnya sedikit kotor oleh noda oli, menatap lekat hologram itu. Jemarinya menyentuh proyeksi digital, memperbesar detail inti reaktor dan sistem sendi nano-hidrolik.
> “Ini… adalah desain yang pernah kita ajukan sebelum Proyek IRONBORN dimulai,” gumamnya dengan nada penuh nostalgia dan getir.
> “Tapi mereka tidak pernah menyetujuinya…” lanjut Dr. Vex, suaranya kini terdengar getir bercampur kesal.
“Mereka bilang proyek ini terlalu berbahaya, terlalu tidak stabil. Mereka takut Chimera akan melampaui kendali manusia.”
Profesor Marlo yang berdiri di sampingnya, menatap rangka baja hitam di atas meja kerja.
> “Dan kini… kita akan mewujudkannya sendiri,” ucap Marlo pelan, matanya menyorot antusiasme gelap.
“Robot ini… bukan hanya sekedar robot. Ia bahkan bisa berubah menjadi armor, menyatu dengan penggunanya.”
Dr. Vex mengangguk, suaranya lebih dalam.
> “Tepat. Konsep Chimera adalah bentuk puncak simbiosis manusia dan mesin. Jika Iron-X hanyalah armor, maka Chimera adalah evolusi.
Robot tempur mandiri, atau jika diperlukan—ia bisa menjadi armor tak terkalahkan.”
> “Dan kau tahu,” sambung Dr. Vex sambil menatap Marlo, “Chimera juga kita desain untuk belajar beradaptasi. Sehingga Setiap pertarungan yang dia jalani akan membuatnya semakin kuat.”
Marlo menahan napas, meski ia sendiri terbiasa menghadapi hal gila, ide ini tetap membuatnya bergidik.
> “Kalau begitu… apa rencanamu, Vex?” tanyanya hati-hati.
Dr. Vex menoleh, tatapannya tajam dan senyuman tipis muncul di bibirnya.
> “Kita biarkan Arkheon dan bocah bernama Ruby merasa menang dulu.
Sementara kita menyempurnakan Chimera… dan begitu waktunya tiba, Chimera akan turun langsung ke medan perang.”
> “Dan saat itu tiba,” Dr. Vex mengepalkan tangannya, “Ruby takkan punya pilihan selain menghadapi ciptaan yang lebih tua dan lebih sempurna dari Iron-X miliknya.”
---
Marlo menatap desain itu lagi, matanya menyipit.
> “Tapi bukankah proyek AETHER yang dikembangkan Arkheon juga luar biasa? Sebuah armor generasi terbaru?”
Dr. Vex mendengus kecil.
> “AETHER memang canggih… tapi tetap saja ia terbatas. Ia hanya alat, tergantung siapa yang memakainya.
Sedangkan Chimera adalah makhluk hidup, maksudnya ia seperti makhluk hidup yang bisa beradaptasi, chipset AI nya lebih mandiri dan cerdas. Mesin yang memiliki kehendak, insting, dan kemampuan untuk berevolusi sendiri.”
---
Hologram berputar, menampilkan mode robot dan mode armor Chimera, lengkap dengan detail senjata tersembunyi, sistem penyamaran, dan reaktor plasma mikro.
Prof.Marlo bergumam pelan, suaranya hampir seperti doa jahat:
> “Jika ini berhasil… maka tak ada satu pun di Arkheon atau Neo-Terra yang bisa menghentikan kita.”
---
Dr. Vex menoleh, matanya berkilat merah dalam remang cahaya laboratorium.
> “Dan itulah tujuannya.
Bukan hanya untuk menghancurkan Arkheon… tapi untuk membuktikan bahwa proyekku—Proyek Chimera—adalah puncak sejati evolusi mesin dan manusia.”
Ia menepuk rangka baja hitam itu, suaranya berat dan penuh tekad.
> “Bersiaplah… Chimera. Sebentar lagi kau akan bangkit dan memperlihatkan pada dunia… apa artinya ciptaan yang sempurna itu.”
semangat author!
jadi ini kayak armor Ironman?
aku tau itu...