Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Ruangan tersembunyi
Ayana menunduk "tidak" ucapnya
"mengapa kamu pulang jika tak ada kabar apapun!" jawab nenek
Ayana mengangkat pandangannya, menatap nenek itu dengan penuh harapan "apa anda akan terus seperti ini?" tanyanya
dia tak menjawab
"Ayana capek, nek. Kapan Ayana bisa nenek lihat sebagai cucu, seperti nenek melihat kak Thea yang aku pun nggak tahu seperti apa wajahnya, kapan nenek berhenti berharap kepada sesuatu yang tidak pasti!" ujarnya
Ayana menghela napas panjang, mengusap kasar pangkal rambutnya
"aku selalu mengalah selama ini dengan orang yang bahkan aku tak tau dia hidup atau tidak. Aku pergi dari rumahku sendiri karena dia. Bahkan warisan papa dan mama pun nenek tak memberikan nya kepadaku"
Ayana diam sebentar, mengambil napas "karena apa!? Karena nenek ingin memberikan nya kepada Kaka bukan?"
Nenek masih diam. Tidak menyangkal. Tidak membenarkan.
Dada Ayana naik turun. sakit
Tanpa menunggu jawaban, Ayana mengusap pipinya kasar. Air mata yang tadi ia tahan akhirnya kalah
"Baik." Suaranya bergetar, tapi tajam. "Kalau begitu aku bukan siapa-siapa di rumah ini."
Langkahnya menghentak ke arah pintu. Setiap hentakan sepatunya memantul di lantai marmer, sekeras detak hatinya yang marah.
Di depan pintu dia berhenti sesaat. Tidak menoleh.
"Jangan cari aku, nek. Jangan tanyakan apapun lagi tentang dia. Aku capek jadi bayangan."
BUAK!!
pintu yang besar terbanting keras. Ayana pergi
Nenek hanya mendengarkan tanpa Ayana tahu di belakangnya ia meneteskan air mata, dalam. Tangis yang di tahan pecah di ruangan sepi, nenek meraih bingkai yang ia sembunyikan tadi di belakangnya. Mengusap gambar di poto itu perlahan
"Alex..." ujar nenek, gemetar "Ayana akan selamat. 20 tahun lalu kamu berhasil menyelamatkan anak pertamamu, aku tahu dia masih hidup karena aku tahu sifatmu, demi anakmu kamu rela mati"
"dan sekarang..." nenek melirik ke arah pintu meliriknya lama "...dengan Ayana yang benci kepadaku. Aku bisa menyelamatkannya!" tetesan air mata jatuh membasahi bingkai potonya, nenek memeluk bingkai foto itu dengan tangis yang tak boleh ia perlihatkan
*nenek tak membencimu, Ayana. Nenek hanya ingin kamu selamat dari dia* batin beliau
****
Setelah pergi dari ruangan itu, Ayana mengingat sesuatu, ia mengingat ruangan yang selama ini nenek nya larang untuk membukanya. Dia mengambil keberanian untuk membukanya
Ayana berdiri di depan pintu ruangannya, tangannya sudah memegangi gagang pintu, bersiap membukanya, namun ia malah terdiam melamun
*apa aku harus membukanya!? Ini adalah ruangan yang selalu nenek larang!... Tapi aku perlu menemukan sesuatu yang di bilang Ethan!* batinnya
setelah mengumpulkan seluruh keberanian, Ayana membukanya, pelan. Pintu itu tak terkunci. Ruangannya gelap, luas, lorong panjang mengalihkan perhatiannya
Ayana menyusuri lorong itu, bingung.
*ini hanya ruangan kosong, biasa saja tak ada apapun yang harus ku curigai tapi mengapa nenek melarang ku untuk masuk!?* pikiran itu terus meyakinkan Ayana untuk tetap tinggal
Lorong itu akhirnya buntu, diakhiri dengan buku-buku tua penuh debu yang berjejer di rak, sebelah rak ada cermin besar yang menempel di tembok.
tak ada apa-apa lagi, namun entah kenapa, ruangan itu membuat bulu kuduk Ayana berdiri. Terlalu sunyi. Terlalu mati
Ayana mendekat ke arah cermin itu, melihatnya dengan seksama, debu di cermin itu yang menumpuk menjadi tanda bahwa tempat ini sudah lama tak di sentuh kehidupan.
Ayana berbalik, meninggalkan ruangannya. Tidak tahu bahwa di balik dinding, ada yang memperhatikannya, diam
***
di rumah yang sama, ada seorang pria dewasa tinggal di ruangan tersembunyi. Ia tidak pernah menampakkan dirinya kepada dunia. Bahkan orang yang satu atap dengannya pun tak pernah tahu dia ada di sekitarnya
Dia adalah Vincent Xander
Putra pertama dari Adrian Xander dan Ketty Xander. Ia dianggap orang gila yang tak pernah tampak, namun nyatanya dia tak benar-benar gila. Dia mempunyai aksesnya sendiri di ruangan itu, dan dia tak benar-benar diam seolah orang gila