Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Kania
Suara bising mesin cetak ploter berukuran besar terdengar mendengung di sudut Laboratorium Komputer FSD. Bau khas tinta segar bercampur pendingin udara menyelimuti ruangan tempat belasan mahasiswa tengah sibuk berkutat dengan tugas mereka.
Di salah satu meja kayu panjang, Nadhira sedang merapikan beberapa lembar kertas kalkir yang baru saja dipotongnya.
Tangannya bergerak cekatan, memasukkan draf sketsa ke dalam tabung gambar hitam miliknya. Namun, raut wajahnya sama sekali tidak bisa membohongi orang yang sudah bertahun-tahun mengenalnya.
Kania, yang duduk di samping Nadhira sambil menopang dagu di atas laptop, memperhatikan setiap gerak-gerik sahabatnya itu dengan kening berkerut.
Tatapan matanya tajam, mengamati bagaimana jemari Nadhira beberapa kali salah memasukkan penggaris besi ke dalam tas.
"Nad," panggil Kania pelan, memotong denting mesin cetak di belakang mereka.
Nadhira tersentak pelan. "Eh? Kenapa, Kan?"
"Gue yang harusnya nanya, lo yang kenapa," Kania menggeser kursinya mendekat, menatap lurus mata Nadhira. "Dari tadi pagi lo linglung banget. Kertas kalkir lo aja terbalik pas mau dipotong. Ada masalah?"
Nadhira tertawa kecil, berusaha mengibaskan tangan dengan santai. "Nggak ada apa-apa kok. Cuma agak cape aja semalem ngerjain revisi."
"Cape ngerjain revisi atau cape mikirin hal lain?" Kania menyilangkan tangan di dada, mendesah pelan. "Soal Vektorika, kan?"
Mendengar nama perusahaan itu disebut, gerakan tangan Nadhira langsung terhenti seketika. Ia terdiam sejenak sebelum berpura-pura kembali sibuk merapikan alat tulisnya. "Oh... itu. Gue udah batalin proyeknya."
Kania membelalakkan mata, suaranya naik setengah oktav. "Batalin? Nad, lo bercanda ya? Proyek itu kan udah lo persiapin matang banget dari minggu lalu. Lo bahkan sampai begadang nyari referensi visual, bikin riset kompetitor, sampai nyiapin draf kalkir tiga alternatif. Kenapa tiba-tiba dibatalin gitu aja?"
Nadhira menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak mungkin menceritakan kejadian sebenarnya, tentang Bram yang bersikap kurang ajar, tentang ancaman blacklist, apalagi soal kehadiran Reyhan yang pasang badan sebagai suaminya sekaligus dosen pendamping.
"Kliennya... rasanya kurang cocok aja sama gaya desain gue, Kan," alibi Nadhira berusaha terdengar rasional.
"Pas ketemuan kemarin sore, gue ngerasa visi kita beda jauh. Daripada nanti bermasalah di tengah jalan, ya mending gue mundur dari awal."
Kania menatap Nadhira lama. Bagi orang lain, alasan itu mungkin terdengar wajar di dunia freelance. Tapi bagi Kania yang tahu betapa gigihnya seorang Nadhira, alasan itu terasa sangat mengganjal dan mengada-ada.
Nadhira bukan tipe orang yang gampang menyerah hanya karena 'beda visi', apalagi untuk proyek bernilai jutaan rupiah yang sudah dipersiapkannya setengah mati.
"Beda visi gimana maksud lo?" Kania makin penasaran. "Bramantyo itu kan pengusaha muda yang namanya lumayan gede di jaringan alumni. Pas mereka ngirim brief awal lewat surel lo minggu lalu, lo sendiri yang bilang kalau konsep dia sejalan banget sama gaya lo. Kok pas ketemu langsung tiba-tiba dibilang beda visi?"
"Ya... pas ketemu langsung beda dinamikanya, Kan," jawab Nadhira makin gugup. Ia tidak berani menatap mata Kania secara langsung.
"Pokoknya gue ngerasa nggak nyaman aja. Udah ah, nggak usah dibahas lagi. Lagian proyek dari dosen buat pameran minggu depan juga masih numpuk."
Nadhira buru-buru menggendong tas ranselnya dan membawa tabung gambar di bahu. "Gue ke perpustakaan dulu ya, mau nyari buku referensi tipografi."
Sebelum Kania sempat merespons atau bertanya lebih jauh, Nadhira sudah setengah berlari melangkah keluar dari laboratorium komputer, meninggalkan Kania yang masih terpaku di tempat duduknya.
Kania memperhatikan punggung Nadhira yang menghilang di balik pintu kaca laboratorium. Rasa penasarannya bukannya surut, justru makin menyala.
Ada sesuatu yang tidak beres, dan Kania bisa merasakan hal itu dengan sangat kuat sebagai seorang sahabat.
"Ada yang Nadhira sembunyiin dari gue, gak mungkin cuma gara-gara beda visi dia ngelepas proyek segede itu gitu aja," batin Kania curiga.
Setengah jam kemudian, suasana laboratorium mulai agak senggang saat jam makan siang tiba. Kania yang masih penasaran tidak langsung pergi ke kantin.
Kania menghampiri meja kerja Dimas di ujung ruangan. Dimas adalah teman seangkatan mereka yang terkenal punya jaringan luas dan sering mengurus administrasi serta proyek-proyek perantara antara mahasiswa dan pihak luar kampus.
"Dim," sapa Kania sambil mengetuk pelan permukaan meja kayu Dimas.
Dimas yang sedang mengunyah keripik kentang sambil bermain gim di ponselnya langsung mendongak. "Kenapa? Ada revisi maket lagi?"
"Bukan," Kania menarik kursi kosong dan duduk di samping Dimas. "Gue mau nanya soal Bramantyo Satria. Lo yang awalnya ngenalin proyek Vektorika ke Nadhira, kan?"
Dimas menurunkan ponselnya, mengingat-ingat sejenak. "Oh, Mas Bram? Iya. Dia kan alumni jurusan sebelah yang sekarang punya brand apparel. Dia nyari desainer muda yang fresh buat rebranding produknya. Gue inget Nadhira yang paling antusias pas gue kasih infonya. Kenapa emang? Udah ttd kontrak mereka?"
"Nah, itu dia," Kania merendahkan suaranya, memajukan tubuhnya ke arah Dimas.
"Nadhira baru aja bilang ke gue kalau dia membatalkan proyek itu secara sepihak setelah pertemuan mereka kemarin sore di kafe."
Dimas membelalakkan mata kaget, hampir tersedak keripik yang sedang dikunyahnya. "Hah?!Batal, yang bener lo, Kan? Padahal kemarin lusa Mas Bram sempet nelepon gue, dia semangat banget bilang pengen ketemu Nadhira karena kagum sama portofolio awal yang dia kirim."
"Makanya!" seru Kania pelan namun penuh penekanan.
"Nadhira cuma bilang alasan 'beda visi'. Tapi gue kenal Nadhira bukan dari kemarin sore, Dim. Dia tuh kalau udah megang proyek pasti diperjuangin sampai berdarah-darah. Aneh banget kalau tiba-tiba mundur gitu aja."
Dimas mengerutkan keningnya, ikut merasakan kejanggalan itu. "Iya sih... Nadhira kan ambisius banget soal portofolio. Aneh emang kalau mendadak lepas gitu aja. Apa Mas Bram ngasih harga yang terlalu murah?"
"Gak tau deh. Tapi pas gue tanya-tanya tadi, gestur Nadhira tuh gelisah banget, kek orang ketakutan atau mau nutupin sesuatu," ujar Kania serius. "Lo tahu gak sih karakter si Bramantyo itu gimana sebenarnya di luar sana? Lo kenal dia dekat?"
Dimas tampak berpikir sejenak, mengelus dagunya. "Gue gak kenal dekat banget sih, cuma sebatas relasi acara alumni. Tapi... kalau denger-denger dari anak-anak angkatan atas yang pernah magang di agensi itu. Mas Bram itu emang agak... gimana ya. Agak flirty kalau sama cewek. Suka tebar pesona dan pedes kalau ngomongin masalah target bisnis."
Mendengar penuturan Dimas, mata Kania makin melebar. Sebuah spekulasi langsung terbentuk di kepalanya.
"Jangan-jangan si Bram ini bersikap nggak sopan atau kurang ajar pas ketemu Nadhira kemarin? Pasti ada sesuatu yang terjadi di kafe itu yang bikin Nadhira kapok dan ngerasa terancam," pikir Kania bergidik.
"Dim, lo tahu gak kemarin mereka ketemu di kafe mana?" tanyakan Kania cepat.
"Kalau gak salah kemarin Nadhira bilang mau ketemu di Kopi & Artisanal yang di dekat simpang tiga Jalan Cendana itu," jawab Dimas ragu.
"Kenapa emang? Lo mau nyamperin Mas Bram?"
"Nggak," Kania berdiri dari kursinya, merapikan tasnya dengan raut wajah mantap.
"Gue cuma mau nyari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Nadhira itu polos banget, Dim. Gue takut dia jadi korban perlakuan gak enak dari klien nakal tapi gak berani cerita ke siapa-siapa karena diancam."
Dimas mengangguk setuju dengan raut khawatir. "Iya juga sih... kalau ada apa-apa atau butuh bantuan backup anak-anak cowok, kabarin gue ya, Kan. Jangan sampai anak angkatan kita dikerjain sama orang luar."
"Sip. Thanks informasinya, Dim!"
Tanpa membuang waktu, Kania melangkah mantap keluar dari laboratorium. Tangannya bergerak cepat membuka aplikasi percakapan di ponselnya, mengetik pesan singkat ke grup chat lain untuk mencari tahu lebih banyak tentang seluk-beluk Bramantyo Satria.
Bagi Kania, ada dua misteri besar yang harus ia pecahkan saat ini. Pertama, apa yang sebenarnya dilakukan Bram hingga membuat Nadhira ketakutan dan membatalkan proyek impiannya?
Dan kedua bagaimana bisa seorang Nadhira yang penakut bisa lepas begitu saja dari cengkeraman klien sekelas Bram tanpa ada masalah panjang?
...Bersambung... ...