Indonesia
NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

‎Keheningan menyelimuti ruangan sesaat setelah nama yang terucap itu terasa menyesakkan. Hanya terdengar dengungan penyejuk udara dan detak jarum jam dinding yang berirama tetap.

‎Marissa adalah yang pertama kali bereaksi.

‎‎"Anindya?!" suaranya meninggi, penuh ketidakpercayaan. "Sekretarismu? Reynand, apakah kau sudah gila?!"

‎‎Aditya tidak berteriak. Ia hanya memejamkan mata, menarik napas sedalam-dalamnya. Ketika kembali membukanya, sorot pandangannya tajam sekaligus penuh kekecewaan.

‎‎"Apakah kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu ucapkan, Reynand?" ucapnya perlahan. Namun justru karena diucapkan dengan nada rendah, kalimat itu terasa jauh lebih berat. "Tiga tahun pernikahan. Nama baik kedua keluarga. Ribuan karyawan di Reynand Group. Dan kamu mempertaruhkan segalanya... demi seorang sekretaris?"

‎‎Reynand tidak bergeming.

‎‎"Aku sadar, Pa," jawabnya tenang. "Justru karena aku sadar, aku tidak dapat berdiam diri lebih lama lagi."

‎‎"Berdiam diri?!" Marissa bangkit berdiri dari sofa, tangannya gemetar. "Mama sudah menduga sejak Gisella menelpon Mama dan mengatakan kamu mengirimkan surat cerai lewat sekretarismu waktu itu. Tapi ini... ini sudah keterlaluan! Apa kamu paham apa akibatnya jika keluarga Wijaya mendengar hal ini?"

‎‎"Aku paham," Reynand mengangguk pelan. "Penarikan dukungan finansial. Harga saham yang merosot. Perusahaan mungkin akan terguncang."

‎‎Ia terdiam sejenak, lalu menatap kedua orang tuanya dengan pandangan yang teguh.

‎‎"Tapi aku lebih memilih kehilangan perusahaan daripada kehilangan jati diriku sendiri."

‎‎Plak.

‎‎Tamparan mendarat tepat di pipi kiri Reynand. Marissa menatapnya dengan air mata yang mulai menetes di pipi.

‎‎"Itu karena egomu!" isaknya tertahan. "Itu karena kamu tidak pernah berusaha memperjuangkan rumah tanggamu! Gisella adalah istrimu! Dia mencintaimu! Dia membutuhkanmu!"

‎‎Reynand memejamkan mata rapat. Pipi kirinya memerah. Namun ia tidak menepis, tidak pula membalas.

‎‎"Ma..." suaranya terdengar serak. "Justru karena aku menghormati Gisella, aku harus melepaskannya. Menjalani hidup bersama seseorang yang tidak akan pernah mampu mencintainya... itulah yang sebenarnya kejam."

‎‎Aditya akhirnya angkat bicara. Suaranya terdengar berat, memikul beban seorang ayah sekaligus seorang pemimpin perusahaan.

‎‎"Jika ini memang pilihanmu, maka bersiaplah menerima surat penarikan dukungan dari Wijaya Group."

‎‎Reynand mengangguk. Ia telah menduga hal ini sejak awal.

‎"Dan dewan direksi akan mengadakan rapat darurat segera setelah surat itu diterima," lanjut Aditya. "Mereka akan menuntutmu mundur. Atau menuntutmu kembali kepada Gisella."

‎‎Reynand tersenyum tipis, getir dan pahit.

‎‎"Jadi pilihannya hanya dua? Perusahaan... atau hati?"

‎"Benar," Aditya ikut berdiri. "Dan sebagai ayahmu... aku tidak akan memaksamu. Usiamu sudah tiga puluh satu tahun, kamu berhak menentukan jalan hidupmu sendiri."

‎‎Reynand pun bangkit berdiri.

‎‎"Terima kasih, Pa," ucapnya pelan. "Aku tetap memilih hati."

‎‎Keheningan kembali menguasai ruangan.

‎‎Marissa menutup mulutnya dengan kedua tangan, isak tangisnya tak lagi dapat ditahan. Aditya menatap putranya cukup lama, penuh kekecewaan, kelelahan, namun juga kepasrahan untuk tidak memaksakan kehendak.

‎‎"Itu pilihanmu, Nak," bisik Aditya pelan sebelum berjalan menuju pintu. "Semoga kamu sanggup mempertanggungjawabkan pilihan ini sepenuhnya."

‎‎Klik.

‎‎Pintu tertutup. Bunyi itu menggema di ruangan yang luas dan sunyi.

‎‎Marissa pergi sambil menahan tangis, Aditya berjalan di belakangnya dengan punggung yang tampak lebih membungkuk dari biasanya.

‎‎Kini... hanya tersisa Reynand seorang diri.

‎‎Ia masih berdiri di tempatnya. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Pipi kirinya masih terasa perih, menyisakan jejak peringatan ibunya.

‎‎Ruangan itu hening. Terlalu hening.

‎‎Reynand memejamkan mata, menghela napas panjang yang sedari tadi tertahan di dadanya.

‎‎Selesai.

‎‎Tiga kata itu berputar tanpa henti di benaknya. Tiga tahun pernikahan. Persekutuan dua keluarga besar. Nasib ribuan karyawan. Semua dipertaruhkan dalam satu kalimat.

‎‎Anindya.

‎‎Ia mengusap wajahnya dengan gerakan kasar, berusaha menepis segala beban yang menumpuk.

‎‎"Maafkan aku, Anindya Putri."

‎‎Nama itu terucap dalam batinnya, bukan sebagai pimpinan kepada bawahan, melainkan dengan nada penuh penyesalan.

‎‎"Aku tidak bermaksud menyeretmu ke dalam kekacauan ini. Aku bersumpah."

‎‎Ia melangkah menuju jendela, memandang padatnya kota di bawah sana. Namun di benaknya hanya terbayang satu wajah: Anindya.

‎‎Reynand mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih menekan permukaan kaca.

‎‎"Aku tahu ini egois. Aku tahu aku baru saja mengubah arah hidupmu juga tanpa izinmu."

‎‎Tenggorokannya terasa tercekat.

‎‎"Namun aku tidak memiliki pilihan lain."

‎‎Ia menunduk, senyum getir tersungging di bibirnya.

‎‎"Ini adalah satu-satunya alasan yang dapat kuberikan kepada mereka untuk melepaskan diri dari ikatan pernikahan yang tidak pernah didasari cinta," bisiknya pelan kepada keheningan.

‎‎-

‎-

‎-

‎Anindya melangkah masuk ke lingkungan rumah sakit tempat ibunya dirawat. Ia menuju ruang perawatan tempat ibunya yang belakangan ini menderita gagal ginjal dan memerlukan perawatan rutin.

‎‎Sesampainya di depan pintu kamar, ia berpapasan dengan seorang pria berjas putih yang baru saja hendak melangkah keluar. Dokter Rangga, dokter yang menangani kondisi ibunya sejak awal.

‎‎"Anindya?" sapa pria itu ramah, berhenti di tempatnya. "Sudah beberapa hari ini aku tidak melihatmu kemari. Ada urusan yang menyita waktu?"

‎‎Anindya tersenyum tipis, sedikit canggung. "Iya, Dokter. Terima kasih sudah memperhatikan. Sekarang saya sudah bekerja, jadi baru sempat datang menjenguk Ibu sore ini."

‎‎Dokter Rangga mengangguk paham, senyumnya tak luntur. "Ah, begitu. Semangat bekerja ya. Jangan lupa tetap jaga kesehatanmu sendiri."

‎‎"Terima kasih, Dokter," jawab Anindya sopan.

‎‎Pria itu melambaikan tangan pelan, lalu berjalan menjauh menuju ruang perawatan lainnya.

‎‎Anindya melangkah masuk, menarik kursi di samping ranjang tempat ibunya berbaring. Ratna tersenyum lemah melihat putrinya, lalu meraih tangan itu.

‎‎"Dokter Rangga tadi..." suara Ratna terdengar pelan namun penuh makna. "Selama beberapa hari ini kamu tidak datang, dialah yang selalu datang memastikan keadaanku. Memeriksa, mengingatkan perawat, menanyakan apakah ada yang kubutuhkan... sangat telaten."

‎‎Anindya tersenyum sekilas, mengusap punggung tangan ibunya dengan lembut. "Dia memang dokter yang baik, Bu."

‎‎Ratna menggeleng pelan, menatap putrinya dengan pandangan yang penuh arti.

‎‎"Bukan sekedar baik, Nak..." bisiknya pelan. "Menurut perasaanku, Dokter Rangga menyukaimu. Caranya menatapmu, bertanya tentangmu... sepertinya hatinya sudah tertuju padamu."

‎‎Wajah Anindya seketika memerah.

‎‎"Jangan bercanda, Ibu..." ucapnya pelan, berusaha menutupi kegelisahan. "Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai dokter yang berdedikasi."

‎‎Ratna tersenyum tipis, namun matanya menyiratkan keyakinan yang tak tergoyahkan.

‎‎"Perasaan tidak dapat disembunyikan selamanya, Anindya..." ucapnya lembut, namun tegas. "Ibu berharap kamu mendapatkan seseorang yang dapat menjagamu sepenuhnya. Andai nanti Ibu dipanggil Tuhan lebih dulu... Ibu ingin pergi dengan tenang, mengetahui ada orang yang akan mendampingimu seumur hidup."

‎‎Jari-jemari Anindya mencengkeram tangan ibunya erat. Matanya berkaca-kaca, dadanya terasa sesak. Bayangan wajah seseorang yang tak seharusnya dia pikirkan tiba-tiba muncul di benaknya.

‎"Ibu..." suaranya bergetar. "Jangan bicara seperti itu. Ibu akan sembuh. Dan... aku belum memikirkan hal-hal seperti itu."

‎‎Ratna mengusap pipi putrinya dengan punggung tangan yang kurus namun hangat.

‎‎"Kamu menyembunyikan sesuatu, Nak..." bisiknya pelan. "Matamu bercerita hal lain. Ada seseorang di hatimu, bukan?"

‎‎-

‎-

‎-

‎Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
erai kan gak harus kedua belah pihak setuju
〈⎳ FT. Zira
ancamanya aja yg gak efisien🤧
〈⎳ FT. Zira
sebutannya tetep pelakor ya walau mereka saling suka dan terjebak keadaan.. mulut netizen kan emng paling bener🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
Rey sih gak bakal mundur nin
Bunda HB
bu lady yg trhormat ank mu tdr dgn pria lain yg bernama Gavin .di namakan istri gatal...makanya di cerai sama suami nya 😅😅
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣 lady Gaga 🤭🤣✌️
total 1 replies
Fay
Kutunggu lanjutannya thor biar semangat ku kasi vote deh💪💪
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 🙏😘
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
ehh... gak bisa komen.. lagi revisi katanya🤧🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
dirimu punya hak apa nglarang, suami bukan/Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira
anakmu yg nyosor duluan loh nyonyaaa
〈⎳ FT. Zira
sengaja banget ngasih terapi jantung yak🤧
🍓ADIRA🍓
Ayooo cari tau Rey... 🧐
🍓ADIRA🍓
sepertinya si binik sama kekasih gelapnya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
yg salah y statusnya Reynand 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
MBOK YA JANGAN LANGSUNG PLAK TOH BUK 😎 TANYA DULU BAEK-BAEK GTU LOH 😠
🍓ADIRA🍓
iya iya yg lgi lope lope dah /Heart/🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Terbawa perasaan sesaat??? plis deh ya buk 😎 Reynand itu bukan anak 17 tahun lagi loh 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
🍓ADIRA🍓
maap sya klarifikasi y nyonya... anakmu itu loh yg demen ambil kesempatan dalam kesempitan dluan 😂😂😂🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk calon besan tak boleh galak^ loh NyoMar 😂😂😂
kymlove...
beresin dulu aja ray hubungan mu sama gisella... cari taulah tentang gisella biar kamu tau keburukkan gisella, jadi jika beneran cerai km punya alasan yg kuat. untuk menggugat... biar semua tidak menyalahkan anindya jadi pihak ketiga terus...
kymlove...
hadeh.... udah ketebak pasti bakalan nyalahin nindya.... tapi ibuuuu..... kalau nindya pergi siapa. yang bakalan nanggung pengobatan mu!!!! mbok ya tolong jangan cuma lihat jeleknya aja!!! emang anak ibuuu jg mau terjebak sm. suami orang!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!