Sehari sebelum pernikahan, Selena Anderson ditinggalkan tunangannya. Ethan Carter pergi ke luar negeri tanpa berpamitan hanya meninggalkan pesan bahwa ia belum siap menikah.
Ketika kepergian Ethan mengancam nama baik dua keluarga besar, Jason Carter, kakak Ethan datang dengan sebuah tawaran yang tak pernah Selena bayangkan. Ia bersedia menggantikan Ethan di altar.
Selena akhirnya menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Namun kehidupan bersama Jason perlahan mengubah segalanya. Di balik sikap dinginnya, Selena menemukan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari Ethan.
Sampai Ethan kembali. Dan ingin mendapatkan Selena kembali. Sayangnya, perempuan yang dulu ia tinggalkan kini telah menjadi istri kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Kamu sudah tidak waras, Ethan! Jika kamu berani melakukannya aku akan membencimu seumur hidupku!" Kata selena saat tangan ethan mulai masuk ke dalam dressnya.
Ethan membeku dengan tangan tertahan di balik kain gaun Selena, napasnya terengah menahan gejolak emosi.
Ancaman itu menghantam Ethan bagai tamparan keras. Jemarinya yang baru saja menyentuh kulit hangat Selena seketika kaku. Kata 'benci' yang meluncur dari bibir wanita itu terasa begitu tajam, meremukkan sisa kewarasan yang berusaha ia pertahankan di bawah pengaruh alkohol.
Ethan perlahan menarik tangannya keluar. Ia tidak menjauh, melainkan menjatuhkan keningnya di ceruk leher Selena, mengembuskan napas panas yang bergetar hebat. Kedua tangannya kini mencengkeram jok mobil di samping tubuh Selena hingga buku-buku jarinya memutih.
"Membenciku seumur hidupmu?" Ethan tertawa sumbang, suara seraknya teredam di helai rambut wanita itu. Getaran luka terdengar begitu kentara, menelanjangi betapa rapuh perasaannya saat ini. "Bahkan kebencianmu terdengar lebih manis daripada harus dilupakan sepenuhnya olehmu, Selena."
Namun, di balik kata-katanya yang keras, cengkeramannya pada jok melonggar. Ethan mengangkat kepalanya perlahan, menatap wajah Selena dengan mata memerah yang dipenuhi kepedihan tak berdasar.
"Lihat aku..." gumamnya lirih, suaranya nyaris menyerupai rintihan putus asa. "Apakah pria itu benar-benar bisa membuatmu menghapus semua kenangan kita begitu saja?"
"Pria itu, kakakmu sendiri, Ethan. Aku sekarang kakak iparmu... sadarlah!"
Sebutan itu menghunjam telak ke ulu hati Ethan, merobek sisa keberanian yang tadi dipicu oleh alkohol. Tubuhnya membeku kaku, lalu perlahan ia menarik dirinya menjauh, menciptakan jarak di antara mereka di ruang sempit yang pengap itu. Ethan bersandar lunglai pada pintu mobil di seberang, menyugar rambutnya dengan kasar sembari menatap langit-langit kendaraan dalam keputusasaan yang sunyi.
"Kakak ipar..." kekeh Ethan lirih, getir dan penuh racun penyesalan. Kata-kata itu terdengar asing sekaligus menjijikkan saat meluncur dari bibirnya sendiri.
Dada Ethan naik turun tak beraturan, menahan gelombang sesak yang mendesak keluar. Ia memalingkan wajah, menatap siluet Selena dari sudut matanya yang kelam. Status sialan itu menjadi batas tak kasat mata yang meremukkan seluruh egonya malam ini.
"Harusnya aku yang berdiri di sampingmu di altar itu, bukan dia," bisik Ethan, suaranya parau dan tercekik rasa sakit yang teramat nyata. Tangannya terkepal kuat di atas lutut, menahan dorongan liar untuk kembali merengkuh tubuh yang kini terlarang baginya. "Status itu tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan siapa yang lebih dulu mencintaimu, Selena."
"Apa kamu amnesia?" Decih Selena. "Kamu yang meninggalkanku di hari pernikahan kita... Kalau tidak ada Jason aku sudah jadi bahan olok-olok semua orang."
Ethan terbungkam dalam kepedihan masa lalu, menatap Selena dengan tatapan hancur dan rasa bersalah yang teramat dalam.
Kata-kata Selena bagaikan hantaman godam yang meremukkan seluruh pertahanan Ethan. Rasa sesak yang luar biasa seketika menyumbat tenggorokannya, membuat napasnya terasa berat dan menyakitkan. Bayangan hari sialan itu... saat ia melakukan kebodohan terbesar dalam hidupnya kembali menghantui pikirannya tanpa ampun.
Ethan menundukkan kepala, kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang pias. Bahunya bergetar halus di tengah kesunyian kabin yang kian mencekik.
"Aku tahu..." Suara Ethan terdengar begitu parau dan rapuh, kehilangan seluruh nada angkuhnya yang biasa. Ia menurunkan tangannya perlahan, memperlihatkan sorot mata yang sarat akan penyesalan tak berujung. "Aku tahu aku bajingan hari itu. Aku membiarkan rasa takut dan kebodohanku menghancurkan kita."
Ethan menatap Selena dengan keputusasaan yang telanjang, mencoba meraih udara yang terasa menipis di sekeliling mereka.
"Tapi Jason menyelamatkanmu bukan karena dia tulus, Selena. Dia mengambil keuntungan dari kekacauan yang kubuat, dan rasa bersalah ini... membunuhku perlahan setiap hari."
"Persetan dengan rasa bersalahmu, Ethan. Aku sudah muak denganmu!" Selena merapihkan rambutnya. "Buka pintunya! Aku mau keluar."
Ethan kehilangan kendali dan menarik paksa Selena ke dalam dekapannya.
Penolakan mentah-mentah itu memutus sisa benang kewarasan di kepala Ethan. Alih-alih meraih tombol kunci di pintu kemudi, gerakannya justru berubah liar dan tak terduga. Sebelum jemari lentik itu sempat menyentuh gagang pintu, Ethan menyambar pinggang ramping Selena, menarik tubuhnya tanpa ampun hingga jatuh tepat ke pangkuannya.
"Tidak akan kubiarkan," desis Ethan berbahaya, tepat di depan bibir Selena.
Dengan satu gerakan tergesa yang dipenuhi keputusasaan gelap, Ethan menangkup rahang Selena, menahan wajah itu agar tak berpaling. Tanpa memberi celah sedikit pun bagi wanita itu untuk meloloskan diri, bibirnya menyambar bibir Selena dengan ciuman yang kasar, menuntut, dan penuh bara kerinduan yang telah lama membusuk menjadi obsesi.
Rasa asin dari sisa air mata bercampur dengan panas napas yang saling memburu di dalam kabin sempit. Ethan memperdalam lumatannya, mengabaikan segala batas kesopanan maupun norma keluarga yang baru saja wanita itu peringatkan. Seluruh tubuhnya menolak kenyataan bahwa wanita ini milik pria lain, terlebih lagi kakak kandungnya sendiri.
"Bencilah aku sesukamu," gumam Ethan di sela ciumannya yang kian menuntut, napasnya terengah berat saat jemarinya mencengkeram tengkuk Selena, memenjarakan wanita itu sepenuhnya dalam kungkungan gairah yang terlarang. "Tapi jangan pernah bermimpi untuk melangkah pergi dariku malam ini."