My Lovely.
Renata dan Arkan merupakan sepasang kekasih yang sama-sama menyembunyikan jati diri dari masing-masing. Tapi siapa sangka jati diri keduanya terungkap dan Renata mengetahui apa yang kekasihnya itu lakukan di belakangnya.
Setelah putus dengan Arkan, Renata kini dekat dengan pria bernama Galih yang berstatus sebagai kakak kandung dari mantan pacarnya. Tapi Galih yang sudah terlanjur bucin dengan Renata harus berjuang untuk mendapat restu. Sedangkan Renata harus mempertimbangkan kembali tentang perasaan dan juga keinginannya untuk hidup bebas di luar sana.
Apakah akhirnya Renata akan memilih mempertahankan hubungannya dan berhasilkah Galih mendapat restu dari semua orang untuk menikahi gadis yang dicintainya?
Penuh konflik tidak terduga dan kisah asmara yang mendebarkan, ikuti terus cerita ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
“Jadi hubungan Galih dan mamahnya tidak terlalu baik ya?” gumam Renata.
Sulit sekali bagi dirinya untuk memejamkan mata malam ini. Renata ikut merasakan sedih dan sesak saat mendengar cerita tentang Galih. Bahkan Rendi mengatakan kalau masih ada banyak hal yang tidak diketahui oleh Renata karena itu kakaknya meminta dirinya untuk memikirkan semuanya dengan baik sebelum menerima Galih.
Tidak terasa pagi sudah tiba. Renata memaksa matanya untuk terbuka karena baru tertidur dua jam yang lalu.
“Renata, sarapan dulu.” Tegur Rendi kepada adiknya yang berjalan melewati ruang makan begitu saja.
“aku sudah kesiangan kak, sarapan di kantor saja nanti.”
“masih jam segini kesiangan dari mana?”
“Galih sekarang berangkat pagi terus jadi aku nggak boleh lebih siang dari dia.”
Rendi tidak mengatakan apapun lagi dan hanya melanjutkan sarapannya membiarkan sang adik berangkat kerja.
“bi, tolong masukkan makanannya ke dalam kotak bekal ya buat Renata.”
“baik tuan.”
Renata dengan terburu-buru melangkah menuju ruangannya. Tapi sebuah ruangan kosong yang menyambut kedatangannya. Renata melirik jam di pergelangan tangannya lalu kembali melihat meja kerja Galih. Dengan rasa sedikit kecewa, ia berjalan lalu duduk di kursinya. Renata mulai mencoba untuk fokus dengan sesekali melirik pintu masuk.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka membuat Renata langsung berdiri dan tersenyum. Tidak ada satu orangpun yang akan masuk tanpa mengetuk pintu kecuali itu adalah sang pemilik ruangan. Tapi senyumnya langsung luntur begitu mengetahui siapa yang datang.
“loh Galih belum datang?” tanya Rendi yang dijawab sebuah gelengan kepala oleh adiknya.
Rendi melihat wajah adiknya lalu mendekat dan meletakkan kotak bekal di meja.
“makanlah, jangan bekerja dengan perut kosong.”
“iya nanti aku makan.”
“ya sudah kakak pergi dulu.”
Setelah keluar dari gedung perusahaan milik sang sahabat dan masuk ke dalam mobil, sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya.
“aku berada di luar negeri selama beberapa hari untuk menyelesaikan masalah perusahaan, tolong jaga Renata untukku.” Isi pesan tersebut.
Rendi mendengus setelah membaca pesan tersebut.
“aku kakaknya, tanpa kamu minta juga aku akan menjaganya.” Monolognya tanpa berniat untuk membalas pesan dari Galih.
“berarti dia tidak mengatakan apapun kepada Renata sebelum pergi.” Gumamnya lagi.
Menit demi menit telah berlalu bahkan tidak terasa setengah hari sudah Renata lewati dengan terus menunggu Galih. Tidak ada kabar apapun darinya membuat Renata berulang kali mendesah kecewa sekaligus gelisah. Dengan langkah gontai, Renata berjalan menuju meja sekertaris untuk pergi ke kantin bersama Dewi dan Risma.
“pak Galih tumben belum berangkat ya?” tanya Renata kepada dua perempuan di depannya.
“kamu nggak dikasih tahu sama pak Galih?” tanya Dewi dengan nada sedikit terkejut.
“apa?”
“pak Galih saat ini sedang berada di luar negeri karena ada urusan bisnis.” Jawabnya.
Renata terdiam dan bertanya-tanya dalam hatinya mengapa pria tersebut tidak memberitahunya selama ini. Tiba-tiba saja dirinya mulai meragukan ketulusan Galih terhadapnya.
“Renata.” Panggil seseorang membuat ketiga perempuan itu langsung menoleh.
Mereka saat ini sudah berada di kantin dan duduk berempat seperti biasanya.
“aku benar-benar minta maaf untuk yang kemarin. Aku tidak tahu kalau kamu memiliki trauma semacam itu.” Ucap Rafli dengan raut yang pernuh dengan penyesalan.
Renata melirik Dewi dan Risma secara bergantian meminta penjelasan bagaimana Rafli bisa mengetahui tentang traumanya.
“mbak Dewi sudah cerita semuanya sama aku.” Jelas Rafli saat tidak ada tanggapan apapun dari Renata.
“tidak apa-apa, itu bukan kesalahanmu. Kamu tidak tahu saat itu, seharusnya aku yang minta maaf karena sudah membuatmu terkejut.”
Rafli tersenyum canggung lalu kemudian mereka berempat mulai menyantap makan siang. Sebenarnya pria itu merasa gelisah melihat kedekatan Renata dengan bosnya malam itu. Apalagi setelah mengetahui fakta tentang trauma yang dialami oleh Renata.
Seharusnya dia juga tidak bisa dekat dengan Galih, tapi saat Renata mulai tenang saat berada dalam pelukan sang bos membuat Rafli merasa sangat-sangat tidak nyaman.
Selesai makan, mereka berempat beriringan menuju lift seperti biasanya.
“Renata.” Panggil Rafli membuat Renata menoleh.
Dewi dan Risma sudah berjalan lebih dulu menuju lift meninggalkan Renata berdua bersama dengan Rafli.
“kalau kejadian waktu itu tidak terjadi, apa kamu tidak akan mengatakan apapun kepadaku?” tanya Rafli membuat Renata sedikit kebingungan menebak ke mana arah pembicaraannya.
“tentu saja aku tidak akan mengatakan apapun, itu adalah kejadian mengerikan jadi untuk apa aku menceritakannya.”
“bahkan jika kita sudah dekat?” tanyanya lagi dengan hati-hati membuat Renata akhirnya mengetahui tujuan pria itu bertanya demikian.
“tidak akan, menceritakannya hanya akan membuka luka lama dan juga tolong untuk memanggil saya dengan seharusnya saat berada di kantor. Saya tidak ingin karyawan yang lain salahpaham dengan kita.” Ucapnya dengan serius lalu pergi lebih dulu meninggalkan Rafli yang masih mematung di tempatnya.
Sejak hari itu, Rafli tidak pernah lagi bergabung dengan mereka bertiga saat jam makan siang. Tapi itu tidak mengganggu Renata sama sekali karena pikiran gadis itu hanya tertuju kepada pria bernama Galih. Tidak ada kabar selama berhari-hari membuat Renata semakin yakin kalau pria itu hanya bermain-main saja dengannya.
“adik dan kakak sama saja.” Gumamnya lalu kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.
Baru saja ia membuka dokumen di mejanya, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Renata dengan cepat melirik siapa orang yang menelepon. Tapi dirinya hanya bisa kembali menelan pil pahit setelah mengetahui nama penelepon.
“halo kak.”
“adik kakak sedang sibuk ya?”
“sudah tahu sibuk malah nelfon.”
“kakak mau tanya, sebentar lagi kan kamu tiga bulan di sana, apa keputusanmu?”
“hmm.”
“kebanyakan mikir.” Ucap Galih dengan tidak sabaran.
“ya dipikirlah ini kan menyangkut masa depanku.”
“ya sudah, bagaimana?”
“sesuai rencana awal saja, aku akan keluar setelah tiga bulan bekerja di sini.” Ucapnya dengan penuh keyakinan.
Kalau saja ada satu kabar dari pria itu, mungkin keputusan Renata akan berbeda. Tapi pria itu benar-benar menghilang seperti ditelan bumi. Bahkan pesan darinya tidak dibaca sama sekali. Jika ada urusan dengannya harus melalui sekertaris karena hanya mereka yang bisa menghubungi Galih melalui David.
“sebenarnya aku ini asisten apa bukan sih?” gumamnya pada dirinya sendiri.
“tentu saja bukan.” Ucap seorang pria dari arah pintu.
Renata mematung sesaat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu. Dirinya tidak menyadari apapun karena sibuk bertelepon dengan sang kakak dan otaknya sibuk memikirkan pria yang entah berada di mana.
“kalau bukan asistenmu terus kenapa aku harus bekerja keras seperti ini di perusahaan ini?” ketus Renata kepada Galih yang masih berdiri di depan pintu.
Galih berjalan mendekati Renata lalu memutar kursi gadis itu hingga menghadap sempurna ke arahnya. Dua tangan kekar Galih bertumpu di pegangan kursi mengurung tubuh Renata.
“kamu calon istriku, bukan asistenku.” Jawabnya.