Indonesia
NovelToon NovelToon
BERANDAL

BERANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Urban
Popularitas:607
Nilai: 5
Nama Author: Denis Suhendar

JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya

***

"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."

***

Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."

Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Sisi Lain Sang Monster

Suara sorak-sorai riuh dari para anggota geng Black Cobra di lantai bawah perlahan-lahan mulai meredup, tergantikan oleh kesunyian yang mencekam saat Eksan menuntun langkah Nasya menaiki tangga besi menuju lantai dua markas. Kamar yang berada di bagian paling atas gudang kontainer itu ternyata cukup luas, meskipun tampilannya sangat minimalis dengan dinding semen ekspos khas bangunan industrial. Hanya ada sebuah tempat tidur besar dengan sprei hitam, sebuah lemari pakaian kayu yang tua, dan sebuah meja kerja yang dipenuhi oleh beberapa obeng serta suku cadang mesin motor.

"Masuk," ucap Eksan dengan nada suara yang berat dan pelan sambil membukakan pintu kayu kamar tersebut untuk Nasya.

Nasya melangkah masuk dengan sangat canggung, memegang ujung rok seragam sekolahnya yang masih menyisakan noda debu jalanan akibat insiden penculikan tadi siang. Ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan, merasa asing sekaligus berdebar kencang karena menyadari bahwa malam ini dia akan berada di bawah satu atap yang sama dengan seorang berandal paling ditakuti di kota ini.

Eksan menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam sebelum berjalan mendekati tepi tempat tidur. Tanpa memedulikan kehadiran Nasya yang sedang menatapnya dengan cemas, Eksan langsung membuka kancing seragam putihnya secara perlahan. Ketika kain seragam itu terlepas, mata jernih Nasya seketika membelalak sempurna melihat kondisi tubuh Eksan. Dada bidang dan perut pemuda itu dipenuhi oleh bekas luka sayatan lama, dan perban putih yang melingkari perut kirinya kini telah berubah warna menjadi merah pekat akibat darah segar yang merembes deras.

"Eksan! Lukamu benar-benar parah, darahnya tidak mau berhenti!" seru Nasya panik, mengabaikan rasa canggungnya dan langsung berlari mendekat ke arah tempat tidur. "Di mana kotak obatmu? Aku harus mengganti perbanmu sekarang juga sebelum jahitannya semakin rusak!"

Eksan melirik ke arah Nasya dengan sepasang mata elangnya yang tampak sedikit meredup menahan rasa perih yang luar biasa di perutnya. Bukannya menjawab, pemuda itu justru terduduk lemas di tepi kasur sambil mengembuskan napas panas yang terengah-engah. "Ada di dalam laci lemari pakaian. Ambil saja semuanya," jawab Eksan dengan suara yang terkesan serak dan menahan sakit.

Nasya bergerak secepat kilat membuka laci lemari, mengambil kotak obat besar milik markas, lalu segera berlutut di atas lantai semen tepat di hadapan Eksan yang sedang bertelanjang dada. Dengan jemari tangan yang kembali bergetar hebat karena cemas, Nasya mulai memotong perban lama Eksan dengan hati-hati menggunakan gunting kecil. Setiap kali kain kasa itu ditarik dan menyentuh luka robek yang menganga, Nasya bisa melihat otot-otot di tubuh tegap Eksan refleks menegang keras, meskipun pemuda itu tidak mengeluarkan suara keluhan sedikit pun dari mulutnya.

"Maaf... maaf kalau ini terasa sangat sakit," bisik Nasya dengan suara yang mulai tercekat menahan haru, air matanya perlahan kembali menggenang di sudut kelopak matanya saat melihat pengorbanan Eksan yang begitu besar demi menyelamatkan nyawanya dari cengkeraman geng Red Wolf siang tadi.

Eksan menundukkan kepalanya, menatap lurus ke arah wajah polos Nasya yang saat ini sedang fokus membersihkan darah di perutnya menggunakan cairan antiseptik. Kilauan sinar lampu neon kamar yang temaram membuat wajah gadis itu tampak begitu lembut dan bersih. Sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan dunia hitam penuh kekerasan yang biasa Eksan hadapi setiap harinya.

Secara perlahan, Eksan mengulurkan tangan kanannya yang kasar, lalu jemari besarnya dengan sangat lembut mencengkeram dagu mungil Nasya, memaksa gadis itu untuk mendongak menatap matanya. "Kenapa kau selalu menangis saat melihat lukaku, hah? Yang terluka itu tubuhku, bukan tubuh ringkih," tanya Eksan dengan nada suara rendah yang dipenuhi kelembutan yang posesif.

Nasya menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang perban baru. Sepasang mata jernihnya menatap langsung masuk ke dalam manik mata pekat Eksan yang sedari tadi menguncinya. "Karena kau terluka karena aku, Eksan... Jika semalam kau tidak pingsan di teras rumahku, dan jika tadi siang kau tidak datang menghancurkan motor musuh di depan sekolah, tubuhmu pasti ini," suara Nasya dengan jujur, sebutir air mata akhirnya lolos membasahi pipinya.

Mendengar pengakuan tulus dari lubuk hati Nasya, ada sebuah getaran asing yang mendadak merayap di dada bidang Eksan. Selama hidup di jalanan sejak kecil, tidak pernah ada satu orang pun yang menangis atau peduli pada setiap tetes darah yang keluar dari tubuhnya. Di dunia geng motor, terluka adalah hal yang biasa, sebuah risiko yang harus diterima tanpa perlu dikasihani. Namun, tangisan tulus dari gadis sekolah di hadapannya ini mendadak membuat benteng es di hati sang monster jalanan runtuh dalam sekejap.

Eksan melonggarkan cengkeramannya di dagu Nasya, lalu beralih mengusap lembut pipi gadis itu menggunakan ibu jarinya. "Dengar baik-baik, Nasya. Aku bertarung bukan karena terpaksa, tapi karena aku ingin melindungi mu," ucap Eksan dengan nada suara yang bergetar penuh penekanan mutlak yang mengikat. "Di dunia luar sana, aku adalah monster yang ditakuti semua orang. Tapi di dalam kamar ini, di hadapanmu... aku hanyalah seorang Eksan yang telah bersumpah untuk memastikan tidak akan ada satu orang pun yang bisa membuatmu menangis lagi."

Nasya tertegun membeku mendengar deklarasi cinta posesif yang begitu kuat dari Eksan. Jantungnya berpacu liar, memicu debaran asing yang membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi. Dengan wajah yang sedikit merona alami, Nasya memilih untuk menundukkan kepalanya kembali dan melanjutkan proses membalut perut Eksan dengan perban baru hingga selesai dengan sangat rapi.

Setelah semua luka terbalut dengan aman, Eksan menyuruh Nasya untuk beristirahat di atas kasur empuknya, sementara ia memilih untuk berjaga di kursi kerja dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah gerbang luar kawasan industri. Malam semakin larut, dan gerimis tipis kembali mengguyur kota, menciptakan atmosfer sunyi yang mencekam di sekitar markas Black Cobra.

Nasya yang kelelahan akhirnya perlahan-lahan mulai memejamkan kedua kelopak matanya, tertidur pulas berselimutkan kain hitam milik Eksan yang memancarkan aroma maskulin pemuda itu secara pekat.

Sementara itu, di bawah temaram lampu jalanan di luar pagar besi markas, suasana sunyi mendadak terusik. Melalui celah kaca jendela yang berembun, sepasang mata elang Eksan yang pekat seketika menyipit tajam penuh nafsu membunuh saat menangkap pergerakan mencurigakan di kegelapan malam.

Tiga buah mobil van hitam tanpa plat nomor tampak berhenti secara perlahan di seberang jalan kawasan industri tua tersebut. Pintu mobil terbuka tanpa suara, memuntahkan belasan pria berbadan tegap yang mengenakan jaket kulit merah dengan logo kepala serigala di punggungnya. Mereka memegang balok kayu, pipa besi, dan senjata tajam yang berkilau di bawah siraman air hujan.

Geng Red Wolf tidak menunggu esok hari. Mereka telah membawa seluruh pasukan inti mereka untuk melakukan pengepungan total dan siap membakar markas Black Cobra malam ini juga demi merebut Nasya dari tangan Eksan.

Eksan berdiri secara perlahan dari kursi kerjanya agar tidak membangunkan tidur lelap Nasya. Ia merogoh saku jaket kulit hitamnya, menarik keluar sebilah pisau lipat taktis hitam kesayangannya, lalu menatap bayangan dirinya di kaca dengan senyuman tipis yang sangat dingin dan mengerikan. Sang penguasa berandal tertinggi telah siap untuk menumpahkan darah musuh-musuhnya di bawah guyuran hujan malam ini.

1
ARDICK
semngat nulis nya k👍
Denis Suhendar: semangat ganbate 💪💪
total 1 replies
Rudik Irawan
sering² up Thor
ARDICK: mampir KA berikan ulasan agar aku bisa Berkembang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!