Lavina Prameswari, mahasiswi semester akhir di fakultas ternama.Karena perjanjian antara Kakek Willi dan sahabat masa muda nya.Lavina tidak menyangka dan tak pernah terfikir,akan di jodohkan dengan seorang pria yang tak pernah ia kenal.
Mencoba untuk kabur dan menghindar di saat hari pernikahan.Nyatanya mobil yang dia tumpangi adalah mobil milik seorang pria Ameer Farzan Ghifari.
Berminggu-minggu melarikan diri,berbagi oksigen.Kedua nya terpergok oleh warga desa tinggal bersama dalam rumah kosong tak berpenghuni.
Bagaimana cerita selanjutnya.Ikutti terus karya ku ya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ♍Virgo girL 🥀🌸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 17 ADITAMA PRAMUDYA
Berakhir dengan jendela yang dibuka hingga pagi,kedua pasutri itu tidur dengan berpelukan.Merasa angin semilir hingga membuat gorden bergerak Lavina mencari guling yang biasa dia pakai di rumah.
Nyatanya bukan mendapatkan guling,tapi malahan tubuh kekar Ameer yang dia peluk.Sudah bukan hal yang asing lagi gadis itu di peluk saat tidur.Namun hari ini keduanya merasa terkejut dan saling melepas.
Bayangan kejadian semalam masih jelas nyata di pelupuk mata,Ameer yang bergerak di atas Lavina dengan sangat bringas dan Lavina yang menikmati sentuhan demi sentuhan.
Ameer bahkan sudah melihat betapa indah dan ranum nya buah dada Lavina,sangat cukup di tangan nya.Dan teksturnya sangat kenyal.Membayangkan pagi ini saja membuat dada nya berdebar.
Mereka sama-sama menatap,sedetik kemudian menunduk melihat pakaian yang mereka kenakan.Membuang nafas nya karena merasa lega,tadi malam tidak terjadi apapun.
"Minggir kau kak!"
"Kau yang minggir,ini kasur ku!"
"Mulai lagi kan.Aku ini sebenarnya menikah dengan manusia yang waras atau sakit jiwa sih?menyebalkan!"
Lavina akhirnya beranjak dan menuju kamar mandi.Keluar dari sana memakai baddrobe dan rambut di Gelung ke atas menggunakan handuk.
Hal itu tak luput dari tatapan tajam Ameer.Memilih baju dan masuk kamar mandi memakainya lalu keluar.
"Untuk apa malu memakai nya di kamar mandi,aku juga sudah melihat nya.Terlalu kecil,segini kira-kira"
Ameer mempraktekan dengan menangkupkan tangan nya.Lavina yang mendengar itu membulatkan mata.
"Dasar mesum!"
"Heh,kau lupa tadi malam kau menikmatinya dan mendesah di bawah ku?"
Lavina yang ingat itu pun merinding.Mendadak tangan nya menangkup telinga untuk tak mendengar kan.
Merasa malu dan seperti ditelanjangi oleh Ameer,Lavina berlari keluar dari kamar dan hampir menabrak art yang membawa nampan.
"eh eh nona,jangan lari-lari ini bukan di lapangan"
"ya,maafkan aku bik.Bibik mau kemana?"
"Ini dari nyonya untuk nona dan tuan,katanya bibi di suruh menunggu hingga kedua gelas ini habis"
"Memang harus diminum sekarang bik?"
"nggeh non" bibik pun mengangguk.
Lavina meraih gelas itu dan meminum hingga tandas.Padahal rasanya aneh dan tidak enak sama sekali.
"Non,punya Mas Ameer di kasihkan sekalian ini!"
"Hah?bibik aja yang masuk memberikan pada nya,Lavina gk mau bik!"
"Tapi non,mas Ameer sudah menikah dan punya istri,aturan di sini art tidak boleh masuk ke kamar tuan nya jika dia sudah menikah.Laundry aja harus di siapkan di depan kamar.Nona juga yang harus membersihkan kamar nantinya jika berantakan"
Lavina berfikir kenapa sejak kemarin tidak ada?
"lalu kemarin bik?"
"Itu nyonya yang menyiapkan dan membersihkan kamar mas Ameer karna nona belum mengerti".
Lavina menepuk jidatnya sendiri karena malu,mamah mertua nya yang membereskan kamar,dan baju kotor.
"Ya sudah bik,sini aku yang bawakan untuk kakak!"
Lavina mengambil gelas dari nampan dan kembali masuk ke kamar,tapi orang yang di cari tidak ada.Suara gemericik terdengar dari kamar mandi menandakan ada seseorang disana.
Menunggu dan duduk di tepian kasur,Ameer muncul dengan handuk yang membelit di pinggang.
Matanya menyorot dan menatap tajam pada Lavina.
"Kak,untukmu dari mamah!"
Ameer melihat segelas air yang berwarna kehitaman.
"Apa itu?" Lavina mengedikan bahunya.
Ameer meraih dan segera meminum hingga tandas.
"Uwekks ... rasanya sangat tidak enak,ini benar dari mamah kan,bukan kau yang ingin meracuni ku?"
"Buang-buang waktu saja!"
Lavina bicara tepat di depan wajah Ameer.
.
.
Di kampus
Sebenarnya hari ini Lavina tidak ada jam kuliah,dia hanya ingin sharing beberapa bahan untuk sekripsi yang akan dia jalankan beberapa bulan lagi.
Bertemu dengan dosen pembimbing dan sebagian teman angkatan mereka yang akan sidang juga.
"Hallo Lavi?"
"Kak Adit??" Lavina sangat bahagia bertemu dengan kakak tingkat.
"Kak Adit,ahh lama tidak bertemu.kenapa ada di sini?"
"Aku asdos disini Lav,kebetulan kakak ingat ada seseorang yang kakak kenal disini.Dan benar saja kakak menemukan mu"
Lavina yang mengembangkan senyumnya dari tadi pun sangat lah senang,Adit adalah kakak tingkat saat jaman putih abu-abu dulu.Lavina sudah menganggap dia seperti kakak nya sendiri.
Tidak memiliki kakak laki-laki membuat dirinya nyaman dengan Adit.Selain baik,Adit sering bermain di rumah Lavina menghabiskan waktu bersama keluarga Lavina.
Bukan hanya Lavina ,Nino juga sangat menyukai pria itu.Pembawaan yang luwes membuat siapa saja di sampingnya akan merasa aman dan nyaman.
"Kau tidak merindukan ku Lav?"
Lavina tersenyum lebar "Aku merindukan kakak" pelukan hangat mendarat di dada bidang Adit. Adit membalas pelukan nya dan mencium rambut indah dan wangi milik Lavi.
Tanpa mereka sadari seseorang memotret kemesraan mereka berdua.
.
.
.
to be continue