Seorang gadis yang mengaharapkan kasih sayang dari orang tuanya,Tapi sayang itu semua hanya khayalan semata.Dan hal itu,Membuatnya menjadi pribadi yang dingin,Dan anti dengan namanya pertemanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RY19@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Yang Manis
Aurora masih menangis, Ia duduk termenung di bangku taman rumah sakit seorang diri.
"Kenapa, Kenapa engkau begitu yakin padaku ya tuhan. Aku juga ingin bahagia, Aku juga ingin hidup seperti orang lain, Hiks.. Hiks" Lirih Aurora.
"Kalau ini sudah menjadi jalan ku, Biarkan aku saja yang harus pergi ya tuhan, Aku rela harus menggantikan ibuku. Aku lelah, Tuhan"
Tanpa Aurora sadari, Ternyata dari tadi ada yang memperhatikannya.
"Siapa dia?, Kenapa di sangat bersedih" Gumam lelaki tersebut.
Setelah beberapa saat, Memperhatikan Aurora yang masih menangis. Membuatnya, Menjadi prihatin dengan Aurora. Akhirnya dia memberanikan diri, Untuk menghampiri Aurora.
"Izinkan Saya untuk merasakan kebahagian dulu ya tuhan. Saya mau merasakan apa itu kasih sayang dari ibu, Saya mau merasakan kehidupan seperti orang lain, Saya mau merasakan kebahagiaan seperti Mira. Saya mohon, Izinkan saya untuk bahagia dulu. Walaupun hanya sebentar, Hanya 1 jam 360 menit deh. Kalau gak, 3.600 detik ya, Ya Tuhan. Ara Mohon" Gumam Aurora tanpa sadar ada yang mendengar keluhannya dari belakang.
Cowok tersebut tersenyum mendengar keluhan Aurora, Yang nampak lucu di dengarnya.
"Bukannya itu sama aja, 1 jam sama dengan 360 menit Sama dengan 3.600 detik?" Tanya cowok tersebut, Dengan menampilkan senyuman manisnya pada Aurora.
Aurora langsung membalikkan badannya ke belakang, Lalu melihat ke kanan dan ke kiri. Untuk memastikan kepada siapa cowok yang di belakangnya berbicara.
"Saya bicara sama kamu" Ucap laki-laki tersebut.
Aurora langsung menoleh, Dengan ekspresi bingung menatap laki-laki tersebut.
"Cantik, Begitu manis. Yah, Kamu gadis yang manis" Batin cowok tersebut.
"Bukan urusan kamu!" Jawab Aurora dengan datar, Dan tatapan tajamnya.
"Ini coklat buat kamu, Biar pas pergi kehadapan tuhan, Kamu ngerasain yang manis-manis dulu. Padahal wajah kamu udah terlalu manis untuk di pandang" Ucap cowok tersebut, Dengan memberikan sebungkus cokelat persegi, Yang berukuran sedang, Pada Aurora.
Aurora masih diam, Menatap datar cowok tersebut. Tanpa Menerima coklat yang di berikan itu.
"Aku Arka" Sapa cowok tersebut, Dengan mengulurkan tanganya pada Aurora.
Aurora masih diam, Tidak membalas uluran tangan dari Arka, Membuat Arka malu.
Arka langsung menarik kembali tangannya, Dengan cengengesan tidak jelas, Dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Gak mau kenalan yah, Yaudah deh. Aku pergi dulu, Jangan Lupa di makan yah coklat nya" Ucap Arka, Dengan tersenyum tulus pada Aurora.
Saat Arka akan berbalik badan, Aurora langsung menyebutkan namanya.
"Aurora!" Ucap Aurora datar.
Arka langsung berhenti bergerak, Dan setelahnya Arka membalikkan badanya menghadap ke arah Aurora.
"Nama kamu, Aurora?" Tanya Arka, Dengan menunjuk Aurora.
Aurora hanya mengangguk kan kepalanya samar, sebagi jawaban.
Arka langsung mengembangkan senyumannya, Pada Aurora.
"Kamu begitu berharga Aurora. Maka dari itu, Tuhan sangat tahu kalau kamu itu orang kuat. Dia memberikan ujian ini padamu, Karna tuhan tahu, Hanya kamu yang mampu untuk melewatinya. Kamu harus yakin, Setelah semua cobaan pahit yang menimpamu, Suatu saat akan menjadi hal yang terindah untukmu. Jadi jangan pernah berputus asa, Apalagi menyerah, Putri Aurora " Ucap Arka, Panjang lebar.
Aurora sempat tertegun dengan apa yang di ucapkan Arka, Tapi setelahnya ia mengubah wajahnya kembali datar, Seperti biasanya.
"Aku pergi dulu yah Aurora, Semoga suatu saat kita bisa di pertemukan kembali" Pamit Arka.
Aurora masih diam, Menatap kepergian Arka yang kini mulai menjauh dari pandangannya.
Aurora menatap cokelat yang di berikan Arka untuknya, Lalu Aurora kembali melihat punggung Arka yang kini mulai jauh dan tak terlihat. Aurora langsung tersenyum kecut, Dengan bergumam.
"Semuanya boleh hilang, Tapi jangan orang yang kita sayang. Semua akan terasa hambar dan hampa, Jika kita kehilangan orang yang berharga bagi kita. Apalagi jika itu, Seorang ibu" Lirih Aurora, Lalu pergi dari taman tersebut. Dengan hati dan pikiran yang masih kacau.
***
Di sisi lain, Kini Ares mengajak Alkan untuk bertemu di sebuah kafe. Karna ada yang ingin Ares bicarakan dengan Alkan.
Setelah beberapa saat menunggu, Akhirnya Alkan pun datang.
"Sorry gua lama, Lo jadi nungguin" Ucap Alkan, Yang tidak enak pada Ares.
" Gapapa, Gua juga baru sampai kok"
"Gua mau tanya sesuatu sama lo" Ucap Ares, Langsung membuat Alkan heran.
"Tanya apa?"
"Ini tentang Livy" Jawab Ares, Dengan menatap Alkan serius.
Alkan hanya menganggukkan kepalanya.
"Lo suka sama Livy?" Tanya Ares, To the poin.
Bukanya menjawab Alkan malah terkekeh mendengar pertanyaan dari Ares.
"Pasti lo tahu dari anak-anak kan?" Tanya Alkan, Ares hanya diam tidak menjawab.
"Yaelah, Omongan mereka mah gak usah lo percaya" Elak Alkan.
"Gua serius, Kalo lo suka sama Livy. Gua cuma mau berpesan, Jangan sakiti dia" Ucap Ares, Yang langsung membuat Alkan menatapnya tajam.
"Apa?!, Lo bilang gua gak boleh nyakitin dia?, Trus apa kabar dengan lo yang selalu acuhkan dia, Saat dia butuh elo. Atau jangan-jangan lo sengaja cuekin dia?" Tanya Alkan, Yang sedang mengutarakan apa yang menurut Alkan benar.
Ares hanya diam, Mendengar ucapan Alkan. Bahkan ia bingung harus menjawab apa sekarang.
"Kenapa diem, Omongan gua emang bener kan?, Lo tahu kenapa sampai saat ini gua belum mengungkapkan isi hati gua ke Livy?" Tanya Alkan, Yang lagi-lagi Ares hanya mampu diam.
"Karna dia cintanya sama lo Res, Percuma gua maju atau seberusaha apapun itu. Kalau yang ada di hatinya Livy itu ya cuma elo!" Tunjuk Alkan pada Ares.
"Gua mengalah Res, Gua tahu. Gua gak bisa memaksakan perasaan orang buat suka sama gua, Apalagi yang Livy suka itu elo. Sahabat gua sendiri" Lirih Alkan.
"Tapi gua udah janji sama Livy, Dari waktu kita sahabatan dari kecil, Kalau kita Gak boleh ngelibatin perasaan cinta pada persahabatan kita" Jawab Ares, Yang membuat Alkan terkekeh.
"Trus sekarang gua tanya, Lo cinta gak sama Livy?" Tanya Alkan.
Ares lagi-lagi diam membisu, Membuat Alkan hanya bisa menyunggingkan senyumnya menatap Ares.
"Gua salut sama lo Res, Lo ternyata orang yang egois. Dengan mudahnya lo permainkan hati cewek, Satu sisi gak mau melepas Livy, Di Satu sisi lain, Lo yang ngejar-ngejar Aurora"
"Hebat banget lo, Bisa nyakitin perasaan orang dengan mudahnya. Termasuk gua, Gua yang udah mundur untuk gak ngejar Livy, Karna lo Res. Gua menghargai lo sebagai sahabat gua, Tapi apa feedback yang lo beri, Lo malah nyakitin perasaan orang-orang terdekat lo Res" Ucap Alkan, Lalu pergi meninggalkan Ares yang kini sedang termenung.
"Apa gua beneran egois?" Gumam Ares sendirian.