Sudah banyak waktu yang mereka habiskan bersama. Dari kecil, Jio dan Haura sudah berteman karena mereka tetangga.
Suatu hari, Jio terbangun di kamar hotel bersama gadis yang sangat ia kenali. Tidak ada apapun di tubuh mereka kecuali selimut yang menutupinya. Jio tidak ingat apapun tentang malam itu. Kebingungan Jio semakin menjadi saat Haura bangun dan menangis histeris.
Sebenarnya apa yang membuat mereka berdua berakhir disini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arunika Ebi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Sehari Bersama Tetangga
Haura memandangi hujan yang turun dari jendela kamarnya. Cuaca hari ini tidak cukup bagus. Hujan disertai gemuruh membuat orang-orang malas melakukan aktivitas.
Cewek itu menghela napas. Memandang cowok yang sedang terbaring tidur di kamarnya. Padahal Jio ingin mengajaknya jalan-jalan tadi. Katanya ada restoran yang baru dibuka dan wajib dicoba.
Namun, karena hujan yang deras membuat mereka tidak bisa kemana-mana. Akhirnya Jio bermain ponsel di ranjang Haura dan ketiduran.
Haura berjalan perlahan mendekati tempat tidurnya. Gadis itu duduk di atas karpet memandangi wajah kalem yang sedang tidur itu. Dia berpikir wajah Jio terlihat lebih tampan saat cowok itu tertidur. Biasanya kalau bangun selalu saja ada hal yang diusilinya.
Lingkar hitam di bawah matanya menandakan waktu tidurnya yang kurang.
"Lo berusaha sekeras itu," gumam Haura disertai senyum kecil.
Tangan Haura terangkat membelai dengan hati-hati pipi cowok itu. Perlahan-lahan mulai menuju rambut, mengelusnya pelan-pelan. Saat tangannya kembali ke pipi Jio, mata cowok itu terbuka.
Bola mata Haura membesar karena terkejut dan refleks memukul pipi Jio.
"Aduh..." Jio meringis. Baru bangun sudah mendapat serangan tiba-tiba membuat kepalanya sakit sebelah.
Jio berusaha duduk sedangkan Haura masih di bawah beralaskan karpet. Cowok itu memegang pipinya kemudian memegang kepalanya.
"Lo kenapa nampar gue?" tanya Jio dengan suara serak khas bangun tidur.
"Itu, anu, apa namanya itu loh," Haura benar-benar gugup. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Jio mengernyit heran melihat Haura. Menguap sekali dan berbaring lagi.
"Lo kenapa tidur lagi?"
"Kepala gue pusing bangun tiba-tiba, udah gitu lo tampar lagi," balasnya.
"Ini udah sore. Jangan tidur dong, Jio." Haura menarik lengan Jio agar duduk kembali.
"Sebentar lagi, Ra. Gue ngantuk banget," bisik cowok itu serak.
Haura mengalah. Ia memilih membiarkan Jio tidur lagi. Sembari menunggu cewek itu memainkan ponselnya.
Sudah hampir setengah jam, Haura lama-lama bosan. Cewek itu merangkak naik ke tempat tidur. Duduk di sebelah Jio lalu menepuk pipinya pelan.
"Jio, bangun," ucapnya pelan.
Jio nampak terusik. Cowok itu membuka matanya dan mengulurkan tangan. Haura mengernyit tidak paham.
"Haus," bisik cowok itu halus.
Haura membulatkan bibirnya dan mengangguk. Kemudian dia berdiri untuk mengambil minum di dapur.
Sampai di dapur cewek itu mengambil minum. Dapat dilihat ibunya sedang memasak.
"Mama masak apa?" Tanya Haura.
"Oh, ini lagi masak udang kecap." Jawab sang ibu.
Haura mengangguk.
"Kalian gak jadi keluar?"
Cewek itu cemberut, "tadi Haura lagi siap-siap tapi hujannya dateng tiba-tiba. Jadi nunggu hujan reda, eh malah Jio ketiduran. Bikin males aja itu anak."
Silvi terkekeh. "Namanya hujan, Dek. Kalau hujan emang lebih enak tidur."
Haura mendengus, "emang dasarnya di Jio kebo. Makanya tidur aja kerjanya."
"Gak salah kamu ngomong gitu? Bukannya kamu yang paling susah dibangunin kalau udah tidur, ya?"
Haura menahan napas. Ingin menampik tapi perkataan ibunya memang benar. Ah, sudahlah, ibu-ibu memang selalu benar, pikir Haura.
Cewek itu kembali ke kamar dengan segelas air putih. Jio langsung meminumnya hingga tandas begitu menerima gelasnya.
"Haus banget lo? Sampe abis gitu."
Jio mengangguk, "gue mimpi dikejar-kejar dinosaurus, pas bangun haus beneran kaya abis lari."
Haura mengulum senyum geli, "random banget mimpi lo."
"Mana tau beneran 'kan? Bisa aja di masa depan gue bakal dikejar-kejar dinosaurus persis kaya di mimpi."
Haura menyentil kening Jio, menggeleng pelan. "Pikiran lo aneh."
"Lo sekarang suka banget melakukan kekerasan, ya? Tadi tiba-tiba gue ditampar, sekarang jidat gue lo sentil. Gue laporin polisi baru tahu," ucap Jio yang mengerucutkan bibirnya, pura-pura ngambek.
"Lo mau laporin atas kasus apa?"
"KDHT," jawab cowok itu.
Haura mengernyit heran, "apa itu?"
Cowok itu menatap malas dan berdecak pelan. "Kekerasan Dalam Hubungan Tetangga."
Gadis itu terpingkal-pingkal. Candaan Jio terdengar freak, namun entah mengapa Haura menikmatinya.
Setelah puas tertawa, Haura mengajak Jio untuk keluar.
"Ayo kita pergi sekarang. Hujannya udah reda, lagi pula belum terlalu sore," ajaknya dengan semangat.
Jio tampak malas, "udah sore ini, Ra. Di luar juga becek abis hujan. Kasihan motor ganteng gue yang baru dicuci."
"Yaudah, naik mobil aja. Biar gue minta kuncinya sama Pak Mamat," cewek itu langsung keluar mencari sopirnya yang berada di halaman depan.
Jio pasrah, sebenarnya dia sudah malas keluar karena hujan yang lebat memang cocok untuk tidur. Tapi dia menyesali mengapa hujan berhenti begitu cepat. Padahal hujan sudah turun sejak dua jam yang lalu.
"JIO CEPETAN TURUN!" Suara teriakan Haura terdengar sampai lantai atas.
Cowok itu menggosok kedua telinganya. "Buset, itu bocah kenceng amat suaranya dari bawah bisa tembus sampe sini," gumamnya.
"Iya, ini gue turun," jawab cowok itu sedikit kencang.
Jio menuruni anak tangga satu persatu. Saat sudah sampai di bawah dia malah mendapati Haura yang misuh-misuh.
"Kenapa lagi?"
"Ban mobilnya bocor abis dibawa Jean tadi."
"Kenapa gak dibawa ke bengkel?"
"Itu dia masalahnya. Katanya bocor di portal komplek. Karena deket sama rumah jadi sama dia dilanjut aja sampe sini," ucap Haura.
"Abang lo emang ada-ada aja. Bikin kerjaan Pak Mamat aja."
"Jadi ini gimana?" Haura cemberut. Tampaknya cewek itu benar-benar ingin jalan-jalan.
"Naik motor gue aja kalo gitu," tawar Jio.
Senyum Haura langsung merekah, "oke. Cuss langsung otw."
Giliran begini saja cewek itu semangat, batin Jio.
Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit mereka sampai di restoran yang baru buka itu.
"Lumayan bagus juga tempatnya," ucap Haura melihat sekeliling. Restoran itu terlihat elegan dengan warna cokelat yang mendominasi.
"Lo mau pesan apa?" Tanya Jio.
Mereka memanggil pelayan dan menyebutkan pesanannya. Sekarang Haura dan Jio sedang menunggu makanan mereka datang.
Mata Haura sedari tadi sibuk memandangi restoran itu untuk mencari tempat berfoto yang bagus. Namun, matanya tak sengaja melihat gadis yang mirip dengan Sarah. Haura memicingkan matanya, memastikan orang itu. Ternyata itu memang Sarah. Dia duduk di pojok bersama seorang cowok. Tapi Haura tidak bisa mengenalinya karena cowok itu duduk membelakangi Haura.
"Hey, lo kenapa bengong? Ini makanannya udah dateng. Cepat makan nanti keburu dingin," perintah Jio.
"Oh, iya."
Cewek itu menyuapkan makanan ke mulutnya. Dia mengunyah secara perlahan. Tanpa sadar Haura memikirkan cowok itu. Dilihat dari punggungnya, Haura seperti merasa tak asing. Tapi ... siapa?
Tak ingin ambil pusing, Haura kemudian melanjutkan makannya dengan tenang. Lebih baik dia menikmati makanan yang enak ini.