Seorang gadis yang hidup sendirian dipertemukan dengan seorang pria yang baik hati dan memberinya penuh cinta juga perhatian, namun hubungan yang dijalani tidaklah berjalan mudah karena ternyata Kai Crawford memiliki trauma dalam sebuah hubungan... Apakah mereka dapat meraih kisah membahagiakan mereka sendiri? Dapatkah Raine menaklukkan Kai dan membuatnya lepas dari bayangan masa lalu yang menyedihkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Azzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Bayangan Masa Lalu
"Raine?"
Toko kue nya sudah tutup saat Kai tiba di sana, pintunya juga sudah dikunci—— menandakan sudah tidak ada orang lagi di dalamnya, jadi dia memutuskan untuk pergi ke rumahnya saja sekaligus mengecek keadaan, takutnya ada sesuatu yang terjadi.
Beruntung Flynn waktu itu pernah memberitahu pin keamanan apartemen Raine jadi dia bisa masuk tanpa harus menekan bel. Ruangannya tampak bersih dan rapi ketika dia tiba di rumahnya, tidak ada sahutan juga saat Kai memanggil namanya sampai akhirnya dia meraih gagang pintu kamar dan membukanya secara perlahan—— dia dapat melihatnya sedang duduk menghadap meja belajar. Gadis itu tampak fokus pada apa yang ada di depannya sampai tidak sadar dokter tampan itu sudah berdiri di belakangnya.
"Wah, uang mu banyak sekali. Ternyata kau sangat kaya, ya" tutur katanya berhasil membuat Raine mendongak.
Raine tersenyum, dia meletakkan uangnya di atas meja belajar kemudian memutar kursinya hingga menghadap Kai yang perlahan mundur dan duduk di bibir ranjang di mana di sana juga ada Sunny yang anteng memainkan mainannya.
"Apa itu hasil dari usaha kue mu?"
Raine menggeleng "bukan"
Kai ingin bertanya lagi, tapi takut dinilai tidak tahu sopan santun dan batasan secara hubungan mereka masih berjalan di tempat, mungkin keduanya terlihat sangat dekat padahal jika diperhatikan lagi, jelas mereka sangat canggung antara satu sama lain. Raine juga masih terus memanggilnya dengan sebutan 'tuan'.
"Itu uang yang dikirim Taylor, saya sudah tidak menggunakan uangnya selama 2 tahun terakhir ini"
"Kenapa?"
"2 tahun yang lalu, saat itu masih musim semi. Dia mengirim uang lebih banyak dari biasanya, saya pikir dia salah mengetik nominalnya tapi saat itu juga bertepatan dengan hari ulang tahun saya, jadi saya pikir dia sengaja melebihkan nya agar saya bisa merayakannya"
Saat itu usia Raine masih 18 tahun, itu adalah tahun terakhirnya di SMA dan bertepatan dengan itu juga, dirinya berulang tahun. Awalnya dia pikir kakaknya salah mengirim jumlah uang, namun ketika melihat kalender di rumahnya—— hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dia senang mendapatkan uang lebih karena dia pikir Taylor bukan salah mengirim jumlah uang, tapi sengaja mengirimnya lebih sampai akhirnya hal itu berlangsung selama satu bulan, dua bulan, tiga bulan hingga dua tahun dan kemudian dia menghilang—— berhenti mengirim uang dan tidak bisa dihubungi.
"Mungkin dia sengaja mengirim lebih banyak uang untuk membuangku. Melebihkan nominalnya agar saya punya tabungan dan bisa bertahan sampai saya bisa menghasilkan uang dan hidup mandiri" duga Raine.
Taylor benar-benar tidak bisa dihubungi lagi setelahnya, mereka putus kontak cukup lama hingga akhirnya tanpa ada angin dan hujan, seseorang meletakkan kardus berisi bayi di depan pintu rumahnya yang tidak lain bayi itu adalah Sunny. Raine kembali mencoba menghubungi nomor lama Taylor, nomornya aktif kembali tapi dari semua panggilan yang dia lakukan—— semuanya tidak mendapat jawaban.
Kai memasang ekspresi datar, jauh di lubuk hatinya dia juga ikut terluka mendengar Raine yang berjuang dan berusaha tegar di situasi sulit itu sendirian.
"Apa yang akan kau lakukan jika bisa bertemu lagi dengan Taylor?"
"Saya akan berterima kasih padanya, mengembalikan Sunny padanya dan akan melanjutkan hidupku sendiri"
Jawabannya jauh dari dugaan Kai, bagaimana bisa dia mengatakan itu semua setelah luka dan kesulitan yang dia lalui? Kai pikir Raine akan mengamuk dan menghakimi nya.
"Saya tidak bisa marah padanya, dia orang yang menggantikan ibu setelah ibu tiada. Darinya saya belajar untuk menjadi lebih kuat dan tidak bergantung pada orang lain, saya akan menunjukkan padanya bahwa saya sudah bisa hidup sendiri dan tidak manja"
Ada kebohongan dalam kalimatnya, bohong saat dia bilang dia tidak marah pada Taylor, hanya saja dia tidak bisa mengungkapkan kemarahan itu dengan kata-kata.
"Raine, sebenarnya Flynn memintaku untuk menyimpannya karena tidak ingin kau terluka, tapi aku tidak bisa melihatmu seperti ini"
~*~
"Apa kau sedang kerja rodi?"
Sudah dari sejam yang lalu Devon menunggu Jesse menyelesaikan pekerjaannya, waktu pulang juga telah lewat dari satu setengah jam yang lalu namun Jesse masih belum beranjak dari tempatnya membuat Devon tidak bisa berhenti menggerutu. Pemerintah jelas telah menerapkan aturan bagi para pegawai di mana atasan dilarang memperkerjakan karyawannya lebih dari 8 jam sehari.
"Berisik, aku tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu karena Flynn terus mengoceh di telepon. Aku tidak bisa fokus"
"Ada apa lagi dengannya?"
"Orang tuanya pergi di tengah kegiatan perayaan ulang tahunnya"
"Dasar tua bangka brengsek"
"Dia bibi dan pamanku"
"Aku tahu, di mana dia sekarang?"
"Di pantai"
Devon berlalu meninggalkan Jesse yang masih sibuk dengan pekerjaannya, netra nya menatap ke sekeliling yang sudah terlihat gelap karena satpam telah memadamkan seluruh lampu—— dia panik karena Devon tiba-tiba pergi tanpa kata. Angin malam yang dingin menusuk masuk ke dalam tulang-tulangnya.
"Aku yakin ada penunggu yang tinggal—"
Bruk!
Suara bising dari luar ruangannya membuat Jesse terperanjat, terakhir kali dia mendengar suara wanita menangis lalu sekarang dia menduga ada benda atau sesuatu yang jatuh di luar ruangan kerjanya.
"Dave, itu kau, kan?"
Ya ampun, bulu kuduk nya sudah berdiri. Jika ingin pergi dari sini itu artinya dia harus berjalan maju dan membuka pintu ruangan ini, tapi dia terlalu takut untuk bergerak. Di sisi lain, jika dia tidak bergerak, mungkin dirinya bisa terjebak di sini sampai pagi tiba dan tidak ada jaminan hantu itu tidak akan mengganggunya.
"Dave, berhenti bercanda! Ini sudah malam"
Dengan kaki bergetar dan jantung berdetak kencang Jesse bangkit dari duduknya, jika itu hantu kemungkinan terburuk nya dia mungkin akan pingsan di tempat.
"Apa itu?"
Bayangan hitam terlihat dari ujung lorong, tampak berjalan mendekati posisinya. Sungguh Jesse ingin lari atau paling tidak pingsan di tempat agar tidak perlu melihat sosok menyeramkan yang terus berjalan ke arahnya.
"HAHAHA..." tiba-tiba suara pria yang familiar terdengar tertawa lepas "apa-apaan itu? Jesse, kau mengompol"
Kedua tangannya memegangi perut yang sakit karena tidak bisa berhenti tertawa, menyaksikan Jesse ketakutan sampai mengompol adalah hiburan yang sangat menyenangkan.
"Dave? Itu kau?"
"Kenapa?" Devon mengusap ujung matanya yang basah "jangan bilang kau mengira aku hantu"
~*~
"Dingin sekali, aku akan kembali setelah mengambil jaket" kata Sean.
Sekarang hanya tersisa Leonardo dan Flynn, keduanya duduk di tepi pantai sambil memandangi langit oranye yang indah bersamaan dengan mentari yang turun perlahan.
"Apa yang membuatmu menjadi seorang pilot, ayah?"
Yah, sudah lama dia ingin menanyakan ini, tapi tidak pernah ada kesempatan karena Leonardo selalu sibuk dan tidak pernah tinggal di rumah lebih dari dua hari. Waktu mereka benar-benar terbatas hingga terkesan seperti bukan keluarga. Mereka sangat jarang bicara, jarang menghabiskan waktu bersama—— kecuali saat Flynn masih kecil.
"Jadi pilot, ya? Sebenarnya itu bukan mimpi ayah"
"Lalu? Apa mimpi ayah? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?"
"Ayah tidak berubah pikiran. Mimpi ayah adalah menjadi seorang musisi, tapi itu hanya sekadar mimpi"
Menurutnya mimpi adalah sesuatu yang indah yang seharusnya tidak menjadi nyata agar semuanya tidak ada yang berubah dan tetap menjadi sesuatu yang indah.
"Dan mengenai kenapa ayah menjadi seorang pilot itu karena kakek mu"
"Kakek? Apa dia yang meminta ayah untuk menjadi seorang pilot?"
"Tidak, tapi dia yang mendorong ayah untuk menjadi seseorang yang lebih sibuk"
Flynn memiringkan kepalanya—— bingung dengan pertanyaan ayahnya, mungkin ini juga yang menjadi salah satu kenapa mereka sangat jarang berkomunikasi.
"Kakek adalah seorang family man. Dia sangat cerewet dan selalu ada di rumah, ayah tidak suka mendengar ceramah dan nasihatnya, terdengar sangat menyebalkan"
Leonardo adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarga Moore, maka dari itu ayahnya kerap bersikap overprotective padanya. Pria tua itu tidak terlihat seperti businessman lainnya yang selalu sibuk dan kerap pulang larut membuat Leonardo tidak betah berada di rumah. Dia tidak suka dihujani pertanyaan, diperlakukan seperti anak kecil dan dilindungi secara berlebihan.
Flynn menyimak cerita ayahnya, ada rasa iri yang dia rasakan. Jadi itulah alasan kenapa ayahnya jarang ada di rumah dan lebih memilih profesi yang mengharuskan dirinya siap pergi jauh dari rumah.
Flynn mengerti yang dirasakan Leonardo, mungkin dia risih diperlakukan sebegitu nya oleh sang ayah, tapi hal itu justru yang didambakan Flynn sejak dulu. Dia lebih suka diperhatikan dan keluarga yang bising dibanding keluarganya yang sekarang.
~*~
"Dokter Crawford, kau di sini?" suaranya lirih tapi sudah terdengar lebih jelas dari sebelumnya.
"Bagaimana keadaan mu hari ini?"
"Lebih baik, aku sudah tidak muntah lagi dan bisa tidur dengan baik"
"Syukurlah, aku senang mendengarnya"
Kai menatap wajahnya yang sekarang tidak terlalu pucat dan kering seperti sebelumnya, perkembangannya cukup pesat dalam beberapa hari terakhir setelah Kai meminta dokter yang menanganinya mengganti beberapa resep obat. Itu artinya mereka bisa berbincang dan menyelesaikan kesalahpahaman yang sudah 2 tahun ini membuat kedua belah pihak menderita.
"Oh, ya, aku membawa seseorang yang ingin bertemu denganmu hari ini"
"Siapa?"
"Masuklah"
Mereka berdua melihat ke arah pintu masuk secara bersamaan lalu muncullah seorang gadis muda yang sedang menggendong bayi perempuan. Air matanya seketika membanjiri pipi Taylor—— melihat sang adik yang sudah dia abaikan selama beberapa tahun ini membuat perasaannya campur aduk, antara senang dan sedih.
Dia belum siap dengan reaksi Raine yang mungkin akan menghujani nya dengan berbagai pertanyaan dan menghakimi nya dengan kejam, Taylor sendiri menyadari bahwa perlakuan nya selama ini sangat menyakitinya. Bukan karena dia membencinya, dia hanya tidak ingin Raine ikut menderita karena kondisinya.
"Kakak!"
Raine duduk di brankar menghadap Taylor, senyum tipis terukir di bibirnya. Dia bersyukur masih bisa bertemu dengan kakaknya, tapi juga sedih karena harus bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini.
"Maaf, Raine. Kakak sungguh minta maaf"
Meninggalkan Raine dan membiarkannya menderita sendirian merupakan penyesalan terbesar dalam hidupnya, adik kecilnya adalah satu-satunya harta berharga yang dia punya, namun dia tidak bisa menjaganya dengan baik.
"Aku kakak yang buruk. Bisanya hanya membuat mu menderita saja"
Sebelah tangannya yang bebas jarum infus mengelus pipi Raine, tidak disangka adiknya ini bisa tumbuh dengan baik meski tanpa seseorang di sisinya. Dia sudah tumbuh besar dan menjadi gadis yang cantik, pikirnya.
"Maafkan aku, kakak. Aku pikir kakak sudah tidak menginginkan aku lagi dan berniat membuangku, oleh karena itu kakak mengirim banyak uang untukku"
"Dasar bodoh! Kakak sengaja mengirim banyak uang agar kau bisa makan enak dan bersenang-senang bersama teman-temanmu"
Di tengah pertemuan yang mengharukan ini, seorang pria paruh baya datang. Raine menoleh ke belakang saat mendengar suara pintu terbuka, seketika tubuhnya bergetar hebat dan kakinya perlahan berdiri lalu mengambil langkah mundur. Dia panik, kedua tangannya memeluk Sunny dengan sangat erat hingga bayi perempuan itu menjerit kesakitan.
"Raine?"
Kai yang sejak tadi hanya diam menonton interaksi kakak-beradik itu akhirnya bergerak mendekati Raine, mencoba menenangkan nya, tapi dia malah berteriak histeris hingga Sunny juga ikut menangis ketakutan. Ingatan masa lalu yang berputar memberinya ketakutan yang tidak bisa dia kendalikan, melihat bagaimana sang ayah pulang sebagai pemabuk dan menghancurkan barang-barang yang ada di dekatnya, memukul dirinya kala dia merasa kesal, dan berteriak lantang ditengah malam—— meratapi nasib buruk yang tidak pernah berubah dan terus mengikutinya.
"Raine..." Haven mencoba mendekatinya namun Raine semakin kencang berteriak.
"Hei, tenanglah"
"Pergi! Pergi dari sini!"
"Raine, dia ayah mu"
Raine menggeleng, sebelah tangannya memegangi kepalanya "argh... kepalaku sakit..." lirih nya.
Raine semangat ya, namanya hidup pasti banyak cobaan. kalau banyak cucian ya laundry. 🙏