Anggita bisa kembali kemasa lalu karena sebuah mimpi, Ia mulai mencari lebih banyak jawaban mengenai apa yang terjadi didalam dunia mimpi.
semua yang ada dimimpi Gita mulai bermunculan didunia nyata, termasuk Daniel. ada hubungan apakah dengan Daniel dan Gita Lestari..?
apakah Anggita dan Gita Lestari adalah seseorang yang sama atau ada hal rahasia lainnya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daniel versi dewasa
"eh Mas, kapan sampainya"
"kamu bengong liatin siapa sih"tanya Denis
"gak ada kok, eh maksutnya gak liat siapa-siapa" ucapku bohong.
"yaudah sini kita makan bareng-bareng"
ajaknya sambil membuka bungkusan yang tergeletak didepannya.
Aku masih memikirkan lelaki tadi, masih terheran kenapa mirip sekali dengan Daniel.
Masih saja bergelut dengan batinku, lelaki khayalan mana yang bisa datang di dunia nyata. Menurutku semuanya tentang Daniel hanyalah hayalanku Daniel itu tidak ada dan tidak nyata. Aku selalu menekankan kalimat itu agar tidak terlalu terpikirkan oleh sosok bernama Daniel.
Saking sibuknya berhayal aku sampai lupa dengan lelaki yang ada didepanku yang sangat lahap makan didepanku. Denis hanya terfokuskan dengan apa yang ada didepan matanya. Telur dadar yang aku buat untuknya telah habis tak tersisa, padahal Ia berkata akan memakannya bersamaku tapi mungkin saking laparnya sampai Ia lupa akan kehadiranku didepannya.
"kamu kok diem aja gak ikut makan, tuh kan sampai lupa mas habisin telur nya" ucapnya sembari mengunyah sisa makanan yang hampir memenuhi mulutnya.
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya, lelaki itu hanya peduli soal makanan. Ia bahkan melupakan perkataannya beberapa menit yang lalu.
"habisin mas, aku masak buat mas makan buat bukan aku. Aku udah kenyang liat mas lahap makannya"
ujarku sambil memperhatikan Denis makan.
...----------------...
Melihat anaknya mulai siuman Hanah segera memanggil dokter, setelah dokter selesai memeriksa Ratna. Hanah datang menghampiri.
"Ratna"
panggil Hanah dengan segera meraih tangan anaknya untuk Ia genggam.
Ratna hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Tetapi air matanya berhasil lolos melewati pipi mulusnya. Terlihat kesedihan yang teramat dalam dirasakan Ratna. Hanah yang melihat anaknya menangis pun ikut merasakan kesedihan itu.
Tok...tok... Suara ketukan seseorang dari balik pintu kamar tempat Ratna dirawat. Tak terdengar suara seseorang. Hanah mengelap matanya yang basah dengan tissu lalu segera membuka pintu.
Lelaki tua dengan setelan jas yang rapi seperti seorang Bos Perusahaan ternama, tampilannya tak sulit ditebak. Ia datang membawa bunga mawar putih dan menyerahkannya kepada Hanah tanpa sepatah kata.
"apa ini, Anda siapa"
ujar Hanah sambil mempercepat langkahnya membuntuti lelaki tua itu.
"Kamu Ratna"
tanya lelaki tua itu, sembari mengeluarkan secarik kertas.
"apa-apaan anda tidak sopan. Sekarang keluar dari ruangan ini. Anak saya masih terbaring lemah."
ujar Hanah dengan nada bicara yang tinggi seolah tau maksut kedatangan lelaki tua itu.
"kamu tinggalkan dan lupakan semua yang berhubungan dengan Bagas. anak tidak tahu diri itu akan saya pindahkan keluar Negri"
lanjut lelaki tua itu, tak menghiraukan sepatah kata yang dilayangkan Hanah.
"kamu segera lunasi hutangmu. apa yang kamu lakukan semuanya saya tau. Anak durhaka itu sudah menghabisnya semua hartaku. Kamu yang menyuruhnya untuk tidak bekerja di res..."
perkataannya terhenti akibat tamparan keras yang dilayangkan Hanah.
Ia sangat geram kepada lelaki tua yang cerewet itu. Anaknya sedang merasakan sakit dan terbaring lemas malah di cerca pertanyaan dan pernyataan yang sulit diterima di pikiran Hanah.
"PERGII"
suara teriakan yang terdengar lantang dari mulut Hanah. Ia sudah tidak mampu menahan kesabarannya kali ini.
Lelaki itupun pergi dengan sangat cepat sambil memegangi pipi kanannya yang masih nyeri akibat tamparan keras dari Hanah. Tangis Hanah pecah saat itu juga.
...----------------...
"Git makasih ya"
ucap Denis sambil meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat.
senyuman manisnya selalu membuatku jatuh cinta lagi dan lagi padanya. Tapi ada hal yang tiba-tiba melintas dibenakku, apakah Denis merasakan hal yang sama denganku. Atau hanya aku saja yang merasakan rasa cinta itu. Ia mulai bangkit dari tempat duduknya, genggaman tangan yang begitu erat terlepas begitu saja.
"Aku balik dulu ya Git, udah ditunggu sama yang lain nih mau rapat. Aku gak anter kedepan gak papa ya" ucapnya sambil terburu-buru meninggalkan kantin tanpa menunggu jawaban dariku.
mungkin pikiranku terlalu berlebihan terhadap Denis. Aku terlalu lebay mencintainya. ia mungkin merasa kasihan karena aku hidup sebatang kara. Aku segera menyusun kembali makanan yang sudah selesai disantap Denis kedalam tas.
suasana kantor kembali sepi, menandakan jam istirahat sudah usai. Aku berjalan sendiri menyusuri lorong yang tak begitu jauh. didepan kantor terdapat area taman mini yang dipenuhi bunga-bunga berwarna merah. Karena gojek pesananku belum datang, aku berfikir untuk menunggu sambil duduk di kursi dekat taman.
butuh berjalan kurang lebih lima menit untuk sampai ditaman tersebut, karena area parkir dan lapangan diperusahaan cukup luas.
Braakkkkkk.......
"aduhhhh" ucapku spontan saat tubuhku terjatuh akibat ditabrak.
aku sudah berusaha mencoba menghindarinya tetapi seseorang itu menabrakku cukup keras hingga aku terjatuh. Padahal Ia tidak sedang mengikuti lomba lari tapi nasip sial tidak ada di kalender Ia entah sadar atau tidak menabrakku.
Lelaki tersebut untungnya membatuku bangun. andai saja Ia tidak menolongku pasti aku sudah mengucap sumpah serapah dan kata-kata yang tidak pantas.
"maaf gak sengaja" hanya kalimat itu yang terdengar dari mulutnya.
Lelaki tersebut membatuku berjalan menuju kursi taman. Benar saja rasa nyeri yang aku rasakan berasal dari jempol kaki yang berdarah. Ia langsung mengambil botol minum yang ia bawa dalam tasnya untuk memcuci lukaku.
dan bodohnya aku baru menyadari bahwa lelaki yang didepanku ini adalah Daniel versi dewasa. Kegugupanku baru muncul beberapa detik setelah menyadari hal tersebut. Aku mencoba tenang dan mengamati dengan sejelas-jelasnya.
"Daniel?" mulutku ini sudah tidak bisa dicegah dan direm. tidak singkron dengan apa yang aku pikirkan.
"hah, apa kata kamu?" jawabnya seraya menatapku dengan lekat.
aku tidak menjawab hanya menggelengkan kepala. Lalu ia melanjutkan aktivitasnya memplester lukaku yang tak begitu parah. Aku hanya memandanginya dengan kagum.
"Aku Daniel, ini nomorku. Hubungi aku kalau luka kamu infeksi. Aku siap tanggung jawab" ucapnya seraya memberikan kartu namanya kepadaku.
Aku hanya melongo mendengarnya berucap Daniel. Aku segera mencoba menyadarkan diri dengan mencubit lenganku. Tapi rasanya sakit, ini bukan mimpi. Aku sungguh bertemu dengan Daniel sungguhan.
"Gita" panggil seseorang dari belakangku.
" Ngapain Lo disini, mau cari gara-gara lagi" ucapnya kembali dengan suara lantang.