Dalam kisah sebelumnya rahim protagonis Wena Ayu Eriyan tidak seperti yang diharapakan menghasilkan seorang anak untuk Tuan Densbosco. Sementara istri pertama Meli Aldina yang tak digadang-gadang malah justru hamil. Tak disangka ternyata Meli hamil karena berselingkuh dengan Dermawan mantan kekasih Wena Ayu Eriyan.
Amarah yang tak terbendung membuat Densbosco menembak mati Meli dan Dermawan. Dalam Novel RAHIM YANG DIKONTRAK 2 ini diceritakan Wena Ayu Eriyan hamil. Tapi kemudian datang seorang gadis cantik bernama Aldina Muszart yang ingin menggagalkan kontrak rahim tersebut.
Berhasilkah Muszart menguasai Densbosco. lalu Bagaimana nasib anak Wena kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nichi Abie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHIDUPAN KEDUA
Pagi merekah cerah. Mewarnai ruangan bercat serba putih, dimana Wena Ayu Eriyan terbaring lemah usai mengalami persalinan.
Tak ada seorang pun yang menemani. Tapi kemudian senyumnya mengembang ketika seorang perawat datang membawa bayinya yang sudah bersih dibebat kain putih.
"Selamat. Anak Nyonya sudah lahir dengan selamat dan cantik sekali," kata perawat itu sambil menimang-nimang bayi Wena.
"Oh! Perempuan ya, Ses," ucap Wena dengan nada prihatin.
"Duh cantiknya..., seperti mama," kata perawat itu bicara sendiri. Lalu meletakan bayi tersebut ke samping tidur Wena.
"Sama saja bayi perempuan atau laki-laki. Yang penting kelak menjadi anak yang pintar, bermanfaat bagi orangtua," kata si perawat seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Wena.
Wena perhatikan bayinya dengan penuh perasaan. Hidungnya, matanya dan pipinya sama persis dengan miliknya. Lalu ia bayangkan kelak anak itu akan menjadi gadis yang cantik. Yang akan mewarisi seluruh aset kekayaan Densbosco. Tapi amit-amit jangan meniru sikap dan perbuatan papanya yang jahat itu.
Tak lama setelah ditidurkan di samping Wena bayi itu menangis.
"Heee....minta mimi cucu ya," ucap suster.
Wena tahu apa yang harus dilakukan. Dia lalu mengeluarkan payudaranya dan didekatkan ke mulut bayi. Karena baru pertama menyusui rasanya geli juga mulut bayi itu menyedot ASI yang belum lancar keluar.
Bersamaan itu Wigati datang dengan tergopoh-gopoh menyalami Wena dan mengelus-elus kepala sang bayi.
"Dedeeek....Nenek datang ini. Ganti sama nenek ya," ucap suster kepada sang bayi lalu meninggalkan ruang perawatan rumah sakit bersalin itu.
"Terimakasih, Sus!" seru Wena.
"Maaf ibu terlambat datangnya karena banyak aktifitas di rumah dan toko," kata Wigati yang tak begitu didengarkan oleh Wena yang sedang menyusui bayinya.
"Hingga pagi ini Densbosco belum menjenguk kesini, Bu. Asistennya tadi telepon katanya masih berada di luar negeri," kata Wena kepada ibunya yang masih memandangi wajah bayi sambil mengelus-elus rambutnya.
"Tapi saya sudah telepon dia mengabarkan kelahiran anaknya yang pertama ini. Katanya masih ada urusan. Mungkin akhir bulan ini dia baru kembali ke Indonesia."
"Bagaimana sikapnya setelah mendengar kabar dari ibu?" tanya Wena dengan perasaan khawatir
Densbosco tidak mau menerima anak yang baru dilahirkannya itu.
"Biasa saja. Dia cuma bilang masih sibuk. Lalu hape dimatikan," jawab Wigati dengan tenang.
"Aku khawatir bila dia tidak mau menerima bayi yang kulahirlan ini. Karena jenis kelaminnya tidak seperti yang diinginkan dia," kata Wena cemas.
"Kalau tidak suka dengan bayi yang kau lahirkan ini. Kan bisa nanti anak kedua. Mudah-mudahan laki-laki jenis kelaminnya," kata Wigati dengan entengnya.
"Ibu bisa saja bilang begitu karena ibu tidak mengalami apa yang kualami tadi malam."
Kesal Wena bila mengingat bagaimana menderitanya dia merangkak dan tertatih mencari orang yang bisa menolongnya. Tapi belum sampai di loby hotel Wena minta sudah ambruk di lorong kamar.
"Tadi malam kamu kenapa?" tanya Wigati tidak tahu maksudnya.
"Harusnya ibu datangnya tadi malam menungguiku. Sehingga aku tidak sampai terkapar di depan kamar hotel karena tidak kuat lagi melangkah," jengkel Wena bila mengingat tadi malam.
"Aku kira hari ini baru muncul tanda-tanda kontraksi. Ternyata kok lebih cepat. Mungkin bayi ini sudah tidak sabar lagi ingin melihat dunia."
"Wena tidak tahu siapa yang membawa ke rumah sakit. Karena waktu itu Wena pingsan di lorong hotel. Mungkin petugas atau room boy yang membawa Wena ke rumah sakit."
"Biasa itu, Wen. Proses persalinan pertama kali memang menyedihkan bagi seorang wanita." Wigati mencoba menenangkan perasaan Wena.
"Tapi yang aku alami lebih dari persalinan pertama. Ibu seperti membiarkan aku menderita sendiri. Sedangkan Ibu bersenang-senang dengan yang diperoleh dari pengorbananku ini," Wena keluarkan unek-uneknya yang makin mengganjal di dada.
"Kamu jangan berpikiran seperti itu. Ibu tidak ada niat untuk membuat kamu menderita."
"Tidak membuat derita bagaimana kalau Ibu sekarang mengikat perjanjian lagi dengan Tuan Densbosco untuk kontrak rahim yang kedua. Ini sama saja membuka kehidupan kedua antara aku dengan Densbosco."
"Kamu salah dalam berpikir nduk. Ibu sangat menghargai pengorbanan yang sudah kau berikan. Kalau sekarang ibu pinjam uang lagi kepada Densbosco itu hanya untuk menolong kakakmu. Agar punya usaha dan penghasilan dengan membuka toko klontong."
"Tapi aku tidak mau menanggung akibatnya dari pinjaman modal itu. Ibu harus melunasi sendiri hutangnya. Jangan ibu bebankan kepadaku lagi."
"Maksud kamu apa?"
"Sekarang saya mau tanya jaminan ibu apa berani hutang sebesar itu?"
"Ibu tidak punya jaminan. Densbosco memberikan pinjaman itu pertimbangannya mungkin tidak enak dengan Ibu sebagai teman sekolahnya."
"Tidak nungkin hanya pertimbangan seperti itu Densbosco mau memberi pinjaman sebesar lima ratus juta. Sangat beresiko baginya uangnya tidak kembali."
"Lalu apa menurutmu pertimbangan dia?"
"Tuan Densbosco pasti menginginkan jaminan dari diriku hingga dia mau memberikan pinjaman itu."
"Maksudmu uang lim ratus juta itu kompensasinya adalah rahimu?"
"Saya kira Tuan Densbosco tidak bodoh mau menanggung rugi uangnya tidak kembali. Maka dia nanti pasti akan membuat perjanjian lagi berupa kontrak rahim yang kedua."
"Kamu jangan berprasangka buruk dulu padanya. Densbosco manusia biasa. Dalam sikap dan perangainya yang buruk itu pasti ada sisi baiknya. Yakni ingin menolongku."
"Memang dia mau membantu Ibu. Karena Ibu adalah teman dekatnya waktu sekolah. Tapi terhadap Wena dia pasti sudah siap dengan rencana baru untuk menderitakan Wena."
"Sudah kubilang jangan berprasangka buruk lagi kepadanya."
"Sekarang apakah ibu tidak merasakan bahwa Densbosco tidak puas dengan bayi yang kulahirkan ini?"
"Dari mana kamu bisa menilainya seperti itu?"
"Dari respon yang dia tunjukan sekarang ini. Kalau dia puas dengan bayi yang kulahirkan, mestinya dia terus menjenguknya yang sudah lahir. Malah bilangnya masih sibuk daripada bersyukur anaknya telah lahir."
"Sudah yang penting sekarang tenangkan dulu perasaanmu. Nanti kalau kamu stres memikirkan hal itu ASImu akan macet. Mau makan apa anakmu yang masih bayi ini kalau ASImu tidak keluar."
"Belikan susu instan dong. Memang Tuan Densbosco tidak kuat membelikan susu untuk anaknya sendiri?" Wena bicara makin dongkol.
"Nanti kalau dia sudah kembali ke Indonesia Ibu akan ikut bicara, agar dia mau menerima anaknya yang pertama ini. Kendati berjenis Kelamin perempuan."
"Tapi kalau ternyata dia tidak mau. Apa langkah ibu?"
"Sudahlah itu nanti saja berpikirnya. Kamu itu gimana sih. Belum apa-apa kok sudah berprasangka yang bukan-bukan."
"Saya bukannya berfikir yang bukan-bukan. Tapi hidup ini memang harus dinalar dengan pikiran, Bu. Jangan hanya dengan perkiraan saja."
"Dulu dalam perjanjian kontrak rahim itu memang dia menginginkan anak laki-laki. Tapi itu kan dulu. Mungkin karena masih terbawa ambisinya. Kalau nanti sudah melihat bayinya yang cantik ini pikirannya pasti akan berubah."
"Pikiran Densbosco memang sering berubah-ubah. Sesuai dengan ambisi dan arogansinya."
"Ibu pun berharap semoga Densbosco mau menerima anakmu yang cantik ini. Setelah itu terserah kamu mau kemana. Apakah lepas dari Densbosco yang tak pernah membuatmu bahagia. Atau tetap menempuh hidup yang kedua bersamanya."
Wena kurang senang ibunya berkata begitu. Dia sudah punya rencana sendiri untuk menghadapi Densbosco nanti.
\*\*\*\*\*\*
BERSAMBUNG