Van Loon berkisah tentang persahabatan, cita-cita dan cinta. Membacanya mengingatkan kita tentang tanah kelahiran dan keluarga kita, sahabat yang setia menemani hari-hari kita, serta cita-cita yang membumbung tinggi dalam setiap fase yang kita lalui. Meski dibumbui kisah tentang cinta, namun novel ini tidaklah menyuguhkan roman-roman picisan yang membuat orang mabuk kepayang. Kisah yang diberikan mungkin dapat menjadi pelajaran bagi para pemuda bahwa mengejar cita-cita dengan belajar adalah lebih baik daripada mengejar cinta.
Jangan lupa like👍, komen💌, Vote dan Tip⭐nya juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chintya_DS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps.17
Selepas pulang sekolah cuaca terasa begitu panas di dalam rumah. Ivan melepas baju putihnya, kini ia hanya mengenakan celana panjang abu-abu dan kaos singlet. Ia buka tudung saji di atas meja makan, ada nasi yang sudah dingin namun masih terlihat segar, sayur terong bening dan goreng tempe kesukaannya. Hanya dia sendiri yang ada di rumah itu, ibunya sedari pagi buta tadi pergi ke kebun kopi. Entah mengapa, jika ia mengingat penjelasan tentang gen oleh guru Biologinya, Ivan jadi murung. Ia tak berselera makan lagi. Bukan karena bakso Salim yang ia santap bersama Ray
tadi yang membuatnya tak berselera makan, melainkan pikirannya yang mulai takut dan ragu akan statusnya sebagai anak kandung ibunya.
Ivan kembali menutup tudung saji itu, lalu beranjak ke ruang tengah mencari album foto keluarganya. Ia temukan satu dan melihat halaman demi halaman di album itu. Ternyata ada banyak foto ibu dengan makwonya semasa ibunya masih gadis dulu. Berdasarkan hal itu, Ivan menyimpulkan bahwa ibunya pasti sangat dekat dengan Makwo, mungkin suatu saat ia bisa menanyakan tentang ayahnya pada Makwo.
Atap seng rumah Ivan terasa menyengat karena ruang tengah rumahnya tak ada langit-langit. Ivan melihat jam dinding, hampir jam 2 siang, ia baru teringat hari ini ada janji untuk bertemu Huzay di sungai Jernih. Ivan langsung bergegas mengganti pakaian, lalu meluncur ke desa Sawah untuk menemui Huzay di sana.
Mobil Ts khas angkutan daerah itu meluncur dengan cepatnya, hanya Ivan penumpangnya. Angin berhembus kencang lewat jendela mobil, sementara Ivan memandang sisi-sisi jalan, ada
banyak rumah berderet di sepanjang jalan itu. Semenjak Huzay berhenti sekolah, Ivan masih setia menemuinya di sungai Jernih untuk bercerita. Hampir dua tahun ini Ivan tak pernah lelah
menemui Huzay di sana. Ini semua ia lakukan karena hatinya masih menyimpan cinta pada Huzay, walau sampai detik ini ia tak pernah berani mengungkapkan isi hatinya. Baginya dengan bercerita pada Huzay, itu sudah cukup membuatnya bahagia.
"Ada cerita apa hari ini, Van?" tanya Huzay yang sudah tak sabar untuk mendengarkan cerita Ivan. Kakinya menyentuh aliran air sungai. Sesekali ia menggoyang-goyangkan kaki kurusnya. Ikan-ikan Mujahir terlihat berenang takut-takut di dasar sungai.
"Tentang seorang anak yang masih ragu statusnya sebagai anak kandung," ucap Ivan murung.
Huzay memandang Ivan tanpa sepatah kata. Ia sadar siapa yang dimaksud Ivan. Ia tahu sebenarnya yang sedang diceritakan Ivan adalah tentang dirinya sendiri.
"Baiklah, Aku akan mendengarnya..." Huzay duduk manis bersiap mendengar cerita Ivan.
Lalu Ivan menceritakan semua keluh kesahnya sebagai anak yang status kandungnya masih diragukan. Huzay mendengarkan dengan seksama, ia mengerti dan memahami perasaan Ivan. Cerita
pun selesai, Ivan berdiri memandang sungai jernih yang mengalir tenang itu.
"Sabar ya, Van. Jika memang Kau ingin tahu dan masih ragu tentang status anak kandung, maka mulailah mencari tahu, Aku akan mendukungmu selalu." Huzay berucap lemah.
Ivan memandang Huzay dengan pandangan sayu. Gadis desa yang mulai beranjak remaja itu sejurus kemudian tersenyum.
***
Bel istirahat berbunyi, mata pelajaran Matematika yang diajarkan oleh Pak Ajri akhirnya selesai. Ivan masih murung. Ia masih enggan berbaur dengan murid lainnya saat jam istirahat, bahkan sekadar mengunjungi kantin di belakang lapangan basket
untuk jajan pun ia enggan. Ray melihat Ivan yang sedang melamun, lalu ia mendekati sahabatnya itu.
"Ivan, nanti siang kita ada ekskul teater, Kau sudah siap mengumpulkan naskah drama untuk perpisahan yang ditugaskan oleh Pak Dedi pada seluruh anggota teater?" tanya Ray.
"Aku tak konsen mengarang, Ray... Aku masih memikirkan tentang statusku..." Ivan menghela nafasnya lemah.
"Sudahlah, Fren, jangan terlalu dipikirkan. Percaya saja bahwa kau anak kandung ibumu, semuanya pasti akan baik-baik saja." Ray menasihati perlahan.
"Kalau Aku belum mendapatkan penjelasan yang akurat, Aku tak akan bisa tenang, Ray. Tapi Aku juga takut menanyakan hal ini pada ibu. Kau tahu sendiri kan, selama ini ibu tak pernah bercerita padaku tentang ayah? Bahkan sampai saat ini Aku tak pernah tahu siapa ayahku. Yang Aku tahu ia sudah mati." Masih dengan ucapan lemah Ivan menjelaskan keluh-kesahnya pada Ray.
"Aku paham ini berat bagimu, tapi ingat, naskah drama itu harus Kau selesaikan. Aku berharap naskahmu yang diterima oleh Pak Dedi untuk acara perpisahan kakak kelas kita nanti. Ayolah...
Kau bilang Kau ingin jadi penulis, kan? Nah, inilah saatnya Kau buktikan, Van." Ucap Ray yang tengah berusaha menyemangati dan
mempengaruhi Ivan.
"Aku tak akan menulis naskah itu jika Aku belum
mengetahui siapa diriku sebenarnya!" Ucap Ivan tegas.
"Ivan, please..."
"Terserah, biar yang lain saja yang membuat naskahnya..."
"Tapi ide cerita yang Kau ceritakan itu sangat bagus untuk dibuat drama," ucap Ray.
"Aku tak peduli lagi dengan semuanya! Yang Aku pedulikan sekarang adalah siapa aku!" Tegas Ivan pada Ray.
"Baiklah kalau begitu, terserah Kau saja. Lantas apa yang bisa kubantu? Aku ingin sekali membantumu agar Kau bisa segera tahu siapa dirimu sebenarnya." Ucap Ray menyerah.
Ivan hanya diam, sebenarnya ia masih bingung apa yang akan ia lakukan, tapi ia tetap harus mengetahuinya.
"Nanti siang Kau ke rumahku, ya!" Ucap Ivan.
Ray mengangguk tanpa berkata apapun. Ivan memandang ke luar jendela kelas. Di luar pagar sekolah terlihat hamparan sawah yang mulai menguning.
"Aku harus tahu siapa diriku sebenarnya!" Bisik hati Ivan.
***
Siang selepas pulang sekolah, Pak Dedi membawa seluruh anggota ekskul teater ke tengah-tengah lapangan sekolah. Mereka semua duduk melingkar dalam posisi meditasi, kecuali Ivan yang duduk dengan posisi tidak bersemangat. Ray melihatnya dengan iba. Sebenarnya dari semula, Ivan tak ingin mengikuti ekskul ini, tapi bujuk rayu Ray lah yang meluluhkannya dan membuatnya kemudian ikut dalam kegiatan ekskul ini.
Selama setahun ia menggeluti ekskul teater, sudah beberapa pementasan baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah yang sudah ia lakukan. Menjadi pemeran utama pernah ia lakoni, bahkan hanya sebagai pemeran figuran pun juga sudah pernah ia rasakan, meskipun dengan hati setengah-setengah.
Dan hari itu, Pak Dedi menugaskan seluruh anggota teater untuk membuat naskah pementasan acara perpisahan kakak kelas mereka tiga tahun ini. Naskah yang terbaik akan dipilih untuk pementasan. Ray sudah mengandalkan Ivan karena menurutnya Ivan memiliki bakat di bidang ide cerita dan tulis-menulis. Tapi kesempatan itu tak pernah dipedulikan oleh Ivan. Ia bahkan nyaris tidak membuat naskah karena saat itu pikiran Ivan benar-benar sedang galau. Pikirannya terkuras memikirkan jati dirinya dan statusnya sebagai anak kandung.
jangan lupa meninggalkan jejak LIKOVOTI (Like,Komen,Vote, dan Tip). Terimakasih😍😍
mampir yaaa, semoga suka....😊
.
m
.m
Kalau kakak ada waktu, mampir ya ke karyaku dengan mengklik profilku kak ❤️❤️
Teriamkasih kak 💃🏻💃🏻
TERJEBAK PERNIKAHAN SMA
makasih 🙏🙏