Indonesia
NovelToon NovelToon
Selingkuhan Berhasrat

Selingkuhan Berhasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Clue

Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Vincent

"dia" gumam Vincent saat Ayana menghampiri cermin besar itu, ujarnya seolah baru pertama kali melihat Ayana

"putri kedua Alex!" ia tersenyum menyeringai "tapi... Dia bukan ancaman untukku! Ketty benci padanya. Tapi aku tetap harus waspada, bagaimana pun dia adalah anak dari Alex"

Vincent bersandar di kursi kulit yang sudah retak, jemarinya bergoyang sembari menatap sinis punggung Ayana

*Ayana! paman akan segera bertemu denganmu* batin Vincent

Lalu Ayana keluar dari ruangan yang hanya lorong itu, menutup pintunya hingga rapat, sambil mengendap, cahaya yang terlihat Vincent dari jauh mulai hilang

Ayana menoleh ke kanan dan kiri.

Sepi.

Ia mengembuskan napas lega.

Namun baru beberapa langkah berjalan—

"Ayana."

Tubuhnya langsung membeku.

Suara itu.

Ayana perlahan mengangkat kepalanya.

Di ujung lorong, Nenek berdiri dengan tatapan tajamnya

“N-Nenek…”

Nenek berjalan mendekat. Tatapannya kemudian berpindah ke pintu ruangan yang baru saja ditinggalkan Ayana.

"Kamu dari mana?" tanya nenek

Ayana diam.

"Saya bertanya. Kamu dari mana?" desaknya

"Aku…"

"Jangan bohong!" potong nenek

Suara Nenek menggema di sepanjang lorong.

Ayana tersentak.

Nenek berhenti tepat di hadapannya.

“Berapa kali Saya bilang, jangan pernah masuk ke ruangan itu?”

Ayana menundukkan kepala.

"Sekali lagi saya tanya…" Suara Nenek terdengar lebih rendah, tetapi justru semakin mengintimidasi. "Kamu masuk ke sana?"

Ayana menggenggam tangannya semakin erat.

"Aku dari ruangan itu!" jawab Ayana

Tatapan Nenek langsung berubah.

"Kamu benar-benar masuk?"

Ayana mengangguk kecil.

"Kenapa?"

"Aku hanya penasaran… mengapa anda terus melarang saya untuk masuk!"

"Penasaran?" Nenek menahan amarahnya. "saya sudah melarang mu berkali-kali, Ayana!"

"Aku hanya ingin tahu, aku hanya ingin tahu apa yang anda tutupi dari aku! Dan aku berhak untuk tahu…"

Nenek menunjuk ke arah pintu ruangan itu.

"Kamu tahu kenapa ruangan itu Nenek larang?"

Ayana terdiam.

"Karena ruangan itu adalah ruangan yang seharusnya kamu tidak ketahui, itu adalah tempat saya dan cucu saya selalu bermain!"

Ayana mengangkat wajahnya. Menatap mata neneknya, kecewa

"jadi hanya karena itu!... Dia lagi" Ayana tertawa kecil, matanya berkaca-kaca "semakin hari aku mendengar kata 'kaka' dari mulut anda.." Ayana menunjuk nenek "..semakin aku muak, semakin aku benci kepada anda! dan dia!"

Nenek diam, membisu. Ia menahan air mata di hadapan Ayana

*maaf, sayang. Jika nenek tak mengucapkan ini, itu akan membuat Vincent curiga, karena dia pasti akan mendengar perdebatan ini!* batinnya

"tapi tidak apa-apa, itu sudah biasa ku dengar" ujar Ayana, suaranya rendah. lalu ia pergi begitu saja meninggalkan neneknya

nenek menunduk. Air mata yang sudah tak terhitung jumlahnya kembali jatuh. Ia mengangkat wajah, menarik napas panjang yang terasa berat. Tangannya gemetar saat menyeka pipi, lalu ia melangkah pelan ke arah pintu itu

Gagang pintu ia pegang erat lama, namun tak kunjung ia buka.

setelah beberapa menit berlalu, akhirnya nenek memberanikan membuka pintu itu dengan perasaannya yang tidak kunjung membaik

Klek.. Pintu terbuka pelan

Ruangan sunyi itu sudah lama tak ia lihat, terasa asing

ia melangkah perlahan, berjalan mendekat dengan postur badan yang anggun, tangannya melipat rapi di depan

Ia berhenti di ujung lorong yang buntu, berdiri di dekat jendela yang besar. Ia melirik ke cermin besar itu sekilas, lalu mengalihkan pandangannya

Rak buku tua itu perlahan terbuka, di baliknya terlihat Vincent, tinggi. Bayangannya terlihat seperti iblis di lantai marmer

Puk... puk... puk... Vincent bertepuk tangan, menghampiri nenek, tersenyum lebar namun kejam

"anda sungguh pilih kasih, mama. Seperti pria tua yang sudah tidak di ketahui kabarnya di neraka!" ujarnya lantam

"jaga bicaramu, Vincent!" hentak nya, suara tinggi menggema di ruangan itu

"mengapa, mama? Bukankah apa yang saya sampaikan itu benar!?"

Nenek mengepalkan tangannya di depan dada, tubuhnya yang renta bergetar, bukan karena takut... tapi karena terlalu marah

"benar?" ujar nenek pecah "yang benar adalah kamu tidak berhak mengungkit masa lalu di hadapanku! Ayahmu sudah mati, Vincent. Dan kamu... Kamu yang membunuhnya dengan keserakahan mu!"

Vincent tertawa. Suaranya menggema di ruangan kosong itu, dingin dan tanpa rasa.

Puk... puk... ia menepuk bahu Nenek pelan, seperti mengejek.

"Oh mama... masih saja membela orang mati. Pantas saja Ayana lebih memilih membencimu"

Mata Nenek membelalak. "Jangan membawa-bawa nama anak itu di pembicaraan kita, dia hanya pembawa sial. Setelah dia lahir semuanya berantakan!"

"kejam, aku suka kekejaman mama ini" bisik Vincent di telinga Nenek. Napasnya bau tembakau

Rak buku di belakang mereka berderit. Angin dingin menyusup dari celah jendela, membuat tirai berkibar

Nenek menutup mata. "sampai kapan pun kamu tak akan pernah mendapatkan warisan itu, sampai matipun tak akan kuberikan!"

Vincent mengangkat dagu Nenek dengan dua jari. Senyumnya makin lebar.

"mati? Jika kamu mati maka akan lebih mudah untukku mendapatkan warisannya"

"dan sekarang... Aku ingin kamu mengumumkan bahwa aku kembali dari luar negeri kepada publik, aku ingin bertemu dengan keponakanku yang hanya tersisa satu itu" ujar Vincent

"kamu ingin apa" tanya nenek, panik

"tenang, mama. Jika dia matipun, bukankah itu akan membuat anda senang. Kamu membencinya kan?"

"T-tentu saja aku akan sangat berterima kasih kepadamu!"

Kata-kata itu keluar dari mulut Nenek seperti pisau yang memotong lidahnya sendiri. Tangannya mengepal kuat sampai kuku menancap di telapak.

Vincent terdiam. Alisnya terangkat.

"Oh?" Suaranya rendah, penuh selidik. "itu bagus..."

Nenek menatap lurus ke mata Vincent. Matanya merah, tapi tidak ada air mata.

"Dia adalah pengingat. Pengingat akan anakku. Pengingat akan kematian cucuku. Setiap kali aku melihat wajahnya... itu penuh kebencian"

*Bohong. Semua itu bohong, jangan anggap benar ucapanku, Tuhan* batin nenek

Vincent mendecak, lalu tertawa pelan. "Bagus. Sangat bagus, mama."

Ia bertepuk tangan sekali. Puk...

"Kalau begitu tidak akan ada masalah jika aku mengurus dia, kan?"

"Mengurus bagaimana maksudmu?!" Nenek langsung melangkah maju, paniknya pecah, tapi tak ia Perlihatkan

"Tenang." Vincent mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah. "Aku hanya ingin bertemu. Mengenal keponakanku. Sebagai keluarga, bukankah itu wajar?"

Nenek menggeleng cepat. "Tidak. Kau tidak boleh mendekatinya!"

"Mama." Vincent mendekat lagi. Kali ini suaranya hanya bisikan. "Dulu mama juga bilang begitu padaku. Dan lihat apa yang terjadi."

Vincent mengusap jarinya sendiri, seperti jijik.

"Besok pagi. Jam 9. Konferensi pers. Umumkan aku. Perkenalkan aku pada dunia. Atau..."

Ia menatap foto keluarga tua di atas meja. Foto yang sudah retak kacanya.

"Aku akan memperkenalkan diriku sendiri. Dan menceritakan semua rahasia keluarga ini ke dunia."

Ia berbalik, berjalan menuju pintu rahasia di balik rak buku.

Sebelum menghilang, ia menoleh sekali lagi.

"Oh ya... selamat ulang tahun, mama. Sudah 70 tahun ya? Sayang sekali jika ini jadi ulang tahun terakhirmu."

Pintu tertutup. Brak...

Nenek jatuh berlutut. Tubuhnya bergetar.

"Ya Tuhan..." isaknya tertahan. *lindungi Ayana... Lindungi cucuku...*

1
Hamzah
W untuk mbok Lastri ❤️‍🩹
Hamzah
noo mertua matre 🥲
Hamzah
belum apa - apa udah tegang aja nih🗿
Hamzah
halo kak, aku mau baca kalau ada waktu, jangan lupa saling support 😇
Starval
Waduh kak jadi takut, jangan lupa mampir ya kak saling suport
Maharani Martosono
😄
Nona Cloe: rating dong kak, makasih 😘🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!