Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Arka menatap laptop jadul di depannya, lalu menatap senyum lebar Alea yang menular. Sang pewaris mafia yang tangannya terbiasa memegang senjata api kini harus memegang mouse plastik usang demi menyelesaikan tugas desain receh anak SMA.
Dengan hela napas panjang yang sarat akan rasa pasrah, namun diam-diam terselip secercah kebahagiaan remaja normal, Arka menarik laptop itu mendekat. "Kau benar-benar eksploitator kelas kakap, Alea."
Alea hanya nyengir tanpa dosa. Arkan tak membuang waktu lagi dengan jari-jari panjangnya yang biasanya mahir membongkar pasang senjata api mematikan dalam hitungan detik, kini terpaksa menari di atas tuts keyboard yang beberapa hurufnya sudah memudar.
Ia meretas template desain itu, mengatur hex code warna, menggeser elemen grafis agar sejajar sempurna secara simetris, dan menurunkan opasitas gambar latar belakang.
Dalam hitungan menit, slide yang tadinya terlihat berantakan kini berubah wujud menjadi presentasi elegan yang tampak sangat berkelas.
Alea menatapnya dengan mulut setengah terbuka, lalu buru-buru mengirimkan hasilnya ke klien sebelum bel masuk berbunyi.
Sesi presentasi hari itu berjalan di luar dugaan. Kelompok teman Alea yang biasanya hanya menjadi langganan omelan Bu Siska, kali ini berhasil membuat guru killer itu mengangguk-angguk puas.
Begitu jam pelajaran sejarah selesai dan Bu Siska keluar kelas, ponsel retak Alea bergetar hebat.
Klien freelance-nya baru saja mengirimkan ulasan bintang lima disertai bukti transfer pelunasan ke DANA-nya.
"Yes! Saldo gue nambah lagi, jir!" sorak Alea tertahan, mencium layar ponselnya.
Namun, insting pemburu cuan Alea tidak pernah tidur. Belum sempat Arka bernapas tenang menikmati jam istirahat, gadis itu sudah kembali berselancar di internet. Jarinya dengan cepat menelusuri beranda sebuah grup komunitas.
"Nah, ini dia!" seru Alea tiba-tiba, menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah Arka. Di layar itu terpampang sebuah grup Facebook bernama KONTEN KREATOR PEMULA.
"Ada yang posting lowongan freelance dadakan. Kliennya butuh editor video buat tugas vlogging sekolahnya. Syaratnya gampang, diedit smooth, durasi semenit. Bayarannya lima puluh ribu rupiah, cair hari ini juga! Sikat nggak nih, Bos?"
Arka menatap layar ponsel itu dengan tatapan kosong.
"Trus kenapa lo natap gue, Alea?"
"Ya jelas, dong!" Alea menyeringai licik, membuka aplikasi CapCut di ponselnya.
"Kliennya minta footage tambahan untuk transisi estetis. Berhubung lo adalah aset visual paling high-end di sekolah kumuh ini, gue mau take video lo lagi jalan di koridor. Durasi tiga detik aja. Tenang, komisi buat talent... gue traktir es teh manis di kantin. Gimana?"
Sebelum Arka sempat merespons tawaran komisi yang sangat menghina harga dirinya itu, suasana di luar kelas XII-IPS 2 mendadak riuh rendah.
Suara langkah sepatu pantofel yang berderap rapi diiringi jepretan lampu flash kamera memecah keheningan koridor. Di ambang pintu kelas, Kepala Sekolah SMA Harapan Warga tampak membungkuk hormat, memandu sebuah rombongan tamu istimewa.
Di tengah rombongan itu, berdirilah Kevin Adiwangsa, saudara tiri Arka.
Penampilannya benar-benar menampar realitas kemiskinan sekolah tersebut. Kevin mengenakan seragam kebanggaan sekolah internasional elite dengan blazer navy dengan sulaman lambang emas di dada, dasi sutra merah, dan sepatu sneakers putih edisi terbatas.
Ia berjalan dengan senyum ramah bak malaikat, didampingi dua asisten ayahnya yang membawa kotak-kotak simbolis bertuliskan "Bantuan CSR Pendidikan Yayasan Adiwangsa".
Tentu saja, kegiatan amal ini hanyalah kedok pencitraan. Tujuan asli Kevin menginjakkan kaki di sekolah pinggiran ini murni untuk melihat seberapa menyedihkannya kehidupan baru kakak tirinya, sekaligus mencari muka di depan media.
Langkah Kevin dengan sengaja berhenti tepat di depan meja Alea. Ia melirik dinding kelas yang catnya mengelupas, lalu menatap laptop jadul, ponsel retak, dan kotak pensil murahan milik Alea dengan tatapan merendahkan yang gagal disembunyikan di balik senyum palsunya.
"Kak Arka," sapa Kevin dengan nada lembut yang beracun, sengaja mengabaikan anak-anak kelas lain yang berkerumun mengintip dari jendela.
"Jadi ini sekolah baru Lo, Kak? Apa bagusnya sih berbaur dengan rakyat jelata yang bahkan tidak mampu membeli sepatu sekolah yang layak?"
Mata Kevin melirik tajam, secara eksplisit merendahkan sepatu kanvas Alea yang jebol dan kusam di bagian solnya.
Suhu di sekitar meja belakang itu seketika anjlok. Mata Arka yang sehitam obsidian langsung berubah menjadi palung mematikan.
Hawa membunuh yang sangat pekat mulai menguar dari tubuh sang pewaris mafia. Ia benci panggung sandiwara ini, dan ia paling benci pada orang yang berani menganggu ketenangannya. Jari-jari Arka menegang, bersiap untuk mencabut lidah adik tirinya itu detik ini juga, tak peduli ada Kepala Sekolah atau kamera media.
Namun, sebelum Arka sempat bergerak, Alea sudah lebih dulu menggebrak meja dengan bunyi BRAK! yang sangat keras hingga membuat rombongan Kepala Sekolah di pintu terlonjak kaget.
Gadis itu berdiri tegak sambil berkacak pinggang, dan memindai Kevin serta blazer mahalnya dari ujung rambut hingga ujung kaki layaknya mesin scanner.
"Heh, Tuan Muda utusan yayasan!" sembur Alea dengan suara melengking andalannya yang memekakkan telinga, sama sekali tak peduli ada petinggi sekolah di belakang pria itu.
"Sepatu lo boleh limited edition, blazer lo boleh seharga UMR Jakarta, dan lo boleh bawa dus sumbangan banyak-banyak, tapi attitude lo minus abis! Lo sebut apa tadi, Rakyat jelata?!"
Alea mengangkat sebelah kakinya, memamerkan sepatu kanvasnya dengan bangga ke atas kursi.
"Asal lo tahu ya, sepatu butut gue ini dibeli pakai keringat sendiri, bukan hasil ngemis dari dompet bapak lo! Lagian kalau mau amal tuh ikhlas aja, nggak usah bawa-bawa fotografer segala kayak politikus mau nyaleg aja!"
Wajah Kevin seketika memerah padam. Senyum palsunya luntur tak tersisa karena dipermalukan secara brutal di depan umum oleh seorang siswi miskin.
"Beraninya lo ngomong gitu sama gue! Lo nggak tau siapa gue!"
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂