Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Mau
Bab 17 Istri Polos Tuan Garra
"Boleh suatu hari jika aku ingin menemuinya?"
Bukannya langsung tanda tangan dan 20 milyar jadi millik nya, Elisa justru mendongak sembari melontarkan sebuah pertanyaan klise.
"Tergantung. Kita lihat nanti!"
Jawaban Anggara tidak menentu, membuat Elisa terdiam. Anak itu satu-satunya yang tersisa. Bagian dari dirinya. Yatim piatu, tidak ada saudara. Punya satu bibi juga sifatnya sangat kejam dan sadis.
Jika bisa, Elisa tetap ingin memiliki anak itu.
"Pak Anggara, bisa tidak aku tetap memilikinya?"
Sorotan mata pria itu berubah tajam, tapi wajahnya kelihatan tenang.
"Kau tidak ingin uangnya?" tanya Anggara.
Elisa menggeleng. "Tidak. Saya tidak ingin uangnya."
Anggara bertepuk tangan, "Gadis pintar. Daripada uang 20 M, kau lebih memilih investasi jangka panjang. Anak ini bisa kau jadikan alat nantinya. Kau sekarang kelihatan semakin serahkan Elisa."
Tuduhan Anggara membuat Elisa terhenyak, ia tak menyangka dinilai serendah itu.
"Maaf, Pak Anggara. Anda sudah salah paham."
"Sudah ... sudah, tidak perlu susah payah menjelaskan. Aku sudah hapal wanita sepertimu."
"Tapi ..." Elisa mau membela diri. Namun, sepertinya di mata pak Garra tersebut, dia sudah dicap wanita mata hijau, mata duitan.
"Lebih baik kamu tanda tangan, sebelum aku berubah pikiran. Aku rasa, 20 milyar sudah cukup besar untuk mu!"
"Maaf, saya tidak bisa!" Elisa berdiri. Mendorong map itu menjauh dari dirinya.
"Jadi kurang? Kau pandai bernegosiasi ... baiklah. 30 Milyar. Setelah itu, jangan muncul lagi di hadapan kami setelah anak itu lahir." Garra menatap dingin. Merendahkan dan seperti Elisa tak punya harga diri sama sekali.
"Ini bukan tentang uang," sela Elisa.
Terdengar tawa Anggara yang meremehkan.
"Jangan lupa, kau jual keperawanan mu Elisa!"
Tangan Elisa mengepal. Andai ibunya tidak kritis, dia juga tak Sudi menjual satu-satunya harta berharga tersebut.
"Saya tidak lupa! Dan sekarang saya sudah berbuah pikiran. Saya mau anak ini!"
"Tidak bisa!" Tangan Anggara mengebrak meja.
"Saya gak mau menjual anak ini! berapapun yang anda tawarkan! Saya menarik keputusan saya. Saya tidak setuju menyerahkan anak ini!"
Elisa melawan. Dia hanya punya anak itu. Kalau diberikan pada pria tersebut. Dia yakin akan menyesal seumur hidupnya.
Anggara menghela napas dalam-dalam, kemudian menatap Elisa tajam.
"Jadi ... sekarang apa maumu? Kau miskin! Kau tak layak membesarkan seorang anak! kau bahkan tidak punya pekerjaan! Kau tak punya tempat tinggal!!!"
"Saya akan mencari kerja! Saya bisa melakukan apa saja! Jadi ... apa boleh sekarang saya keluar dari sini? Saya akan besarkah anak ini sendiri. Kedepannya, saya tidak akan menuntut macam-macam pada anda," janji Elisa.
Janji yang diucapkan Elisa mendapatkan respon yang yang tak enak. Ia ditertawakan oleh pria kaya tersebut.
"Aku bukan tak percaya pada ucapanmu! Hanya saja .... yang kau kandung itu darah Anggara Wijaya. Dia tak pantas hidup menderita bersamamu!"
Hening.
"Tanda tangan saja. Aku tidak suka buang-buang waktu! Daripada kau menderita dan membusuk dalam kemiskinan. Tawaranku ini jauh lebih baik!" ucap Anggara dengan nada penuh kesombongan.
Tangan Garra merogoh saku celana, mengeluarkan kartu hitam dari dompetnya.
"Di dalam sini terdapat 1 M. Sisanya aku berikan bertahap, asal kau tak macam-macam."
Elisa menggeleng, tangannya mengusap perutnya yang masih rata. Dia tidak mau menukar anaknya dengan uang. Pikirannya berubah, dia mau anak itu tetap jadi miliknya.
"Jangan suruh aku pakai kekerasan, Elisa!" desis Anggara.
Elisa mendongak, jantungnya berdegup kencang. Saat Garra beranjak dan jalan ke arahnya, dia perlahan tahan napas.
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,
dan punya anak sudah tipis harapan nya lontong sayur jangan di makan ontong
ehhh si Eneng meh kabur ta,,,mugo mugo di sirep wong penjaga hahah jadi bisa kabur deh Elisa,,,, mimpi bukan tu malah nyambung ya ketangkap duhh ngelu ko bisa ya ga jadi di serep yae orang orang itu
di bim salabim Abra kadabra jadi cacing semua dalam satu jam saja 🤣 pasti ketangkep nih sama KPK wahh gaswat Gatot tenan ki 🤔🤔 cari jalan tembus Mba Elisa biar biar ga ketangkap ayo brojol tu anak baru juga beberapa minggu melas men yo,,,Mas Bro Gara kejam tapi ganteng 😁😁
Bukti kan kalau kamu bukan gadis matre , kamu masih mengutamakan hati nurani 👍👍👍