Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Man Standing (For Her)

The Last Man Standing (For Her)

Status: tamat
Genre:Romantis / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Tamat
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alin Ifa

Dia serius. Dia serius untuk menghancurkan hidupnya, mengebiri masa depannya. Axel tak percaya dia serius.

Mengenal Diana sebagai perempuan yang cemerlang pada sekolah dan kuliah, seharusnya orang itu sudah hidup senang sekarang. Dee seharusnya punya orang yang mencintainya, memiliki anak sepandai dan secemerlang dirinya, tanpa khawatir mereka semua akan mengecewakannya di hari nanti.

Hidup Dee seharusnya sempurna. Dia perempuan yang baik. Sayangnya, cinta mempertemukannya dengan orang yang salah. Dengan orang yang menjerumuskan Dee ke dalam titik terkelam hidupnya.

Kehidupan Axel tak tercampuri semua itu, sampai suatu malam Diana mengetuk pintu rumahnya dengan wajah putus asa, dan langsung memeluknya persis di depan pintu.

"I miss you," katanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alin Ifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16 | Come Over

Pesan yang tak berbalas itu Diana biarkan. Ia tak rongrong Gery lagi dengan kalimat cinta dan motivasi. Emosinya sendiri lebih patut untuk diperhatikan.

Sesampainya di rumah, bendera kuning dan keramaian rumah duka menyambutnya. Beberapa pelayat menoleh ke arah Diana, seakan menyambut kedatangannya. Beberapa di antaranya memeluk Diana dengan singkat dan mengucapkan bela sungkawa.

Hingga di depan pintu, perempuan itu terdiam dengan apa yang dilihatnya. Jenazah terbaring di kasur lantai, ditutupi kain putih. Pembacaan surat yasin oleh tetangga terdengar menggema di telinganya, diiringi isakan dari Citra, sementara kekakuan Inggit di sisi jenazah sungguh melukainya. Perempuan baya itu sama sekali tak menangis. Inggit hanya diam menatap kain putih di hadapannya. Sorot patah hati itu amat terlihat.

Sudut hati Diana retak melihat kedukaan dalam rumah ini. Kedukaan yang terjadi karena dirinya. Sekujur tubuhnya mendadak lemas.

Tiba-tiba dari sisi ruangan, seseorang bangkit menghampirinya. Menyangga tubuhnya dari terhuyung dan jatuh pingsan di depan sang ayah.

Namun, rengkuhan itu justru berhasil meruntuhkan pertahanan dirinya. Pelan, Dee terisak memandang jenazah Rahman tak rela. Detak orang yang merengkuhnya berangsur cepat, menandakan gemuruh emosi yang sama dengan dirinya. Ia turut berduka.

Orang itu memeluknya di depan pintu, ikut terisak. "I'm here. It's okay."

Diana semakin membisu. Tak canggung lagi kali ini, ia meledakan tangisnya dalam pelukan orang itu. Dalam diam yang menyesakkan mereka berdua.

...***...

Pemakaman berlangsung cepat. Tak ada yang menangis histeris di pusara Rahman kecuali Citra. Si bungsu itu memang paling dekat dengan ayahnya sampai terpikir berkuliah di kampus yang sama dengan sang ayah, yaitu UGM.

Pertama kalinya berjauhan dengan rumah, Citra syok berat mendengar kabar kepergian papanya. Sudah dua kali gadis itu pingsan sejak tadi pagi.

Kini, keheningan memenuhi tempat mereka berkumpul. Kamar lama Citra. Inggit menoleh pada Diana, tangannya tetap membelai helai rambut Citra dengan sayang.

"Sudah kamu pertimbangkan kemauan Papa, Dee?"

Simpatik terhadap kesedihan Citra berangsur meluruh. Dee tahu maksud mamanya. Kemauan Papa---meninggalkan Gery. Kesedihan tertahan dalam dadanya menghimpit kesadaran Diana kembali. Seketika kepalanya pengap oleh ingatan mengejutkan selama dua hari belakangan ini.

Dan, Diana hanya bisa menggeleng. "Maaf, Ma...."

"Memangnya dia bisa disembuhkan?"

Kembali, Dee terisak. "InsyaAllah, Ma."

"Kemungkinannya kecil, sayang." Nada suara Inggit menyiratkan kesal. "Psikopat bukan kelainan mental biasa, kamu tahu itu."

Membalasnya, Diana membisu, hanya bisa mengiyakan ucapan itu. Entah apa lagi yang akan Inggit katakan soal Gery, yang jelas, Diana akan bertahan di sana mendengarkan semua keluh kesah ibundanya.

"Dia terus berjanji akan sembuh, kan?"

Lagi, Diana mengangguk dalam kebisuan.

"Gak terpikir untuk kembali sama Axel?"

Jantungnya serasa merosot ke lantai. Diana tak berani menjawab sekalipun itu dengan gelengan kepala. Seolah belum cukup teman-teman sekolahnya yang datang hari ini menyanjung Axel karena kesigapan pria itu membantu prosesi pemakaman bahkan hingga menggotong jenazah Rahman ke liang lahat, mamanya pun beranggapan demikian. Bahwa Axel selalu lebih pantas bersamanya. Bahwa tak seharusnya Diana masih bersedia tinggal untuk Gery.

Haruskah ia pergi? Pertanyaan itu menggema kembali di kepalanya.

"Dia baik, sopan, santun ... dan normal." Inggit mengangkat wajah, menatapnya. "Kenapa kamu gak pilih dia dibanding Gery?"

Pelan, Diana menggeleng. Tapi, ia masih tak bisa menemukan suaranya sendiri.

"Kenapa?" Inggit mendesaknya lagi.

"Dia gak layak dapatkan aku. Bekas."

"Setidaknya dia masih menghargai kamu." Kini Inggit mengambil sebelah tangannya. Menggenggam jemari itu seolah menguatkan Diana. "Kenapa Gery gak datang hari ini?"

"Aku yang suruh dia tinggal."

"Kenapa?"

"Takut ...." Diana tak bisa membendung air matanya lagi. "Takut dia berlaku yang macam-macam di sini."

Anggukan beberapa kalilah yang menjadi balasannya. Namun, daripada melanjutkan pembicaraan di ruangan itu, Inggit tahu-tahu membawa Diana keluar kamar Citra. Raut wajahnya berubah.

Diana mencelos, menyadari Inggit menyadari sesuatu dari keterangannya tentang Gery. "Ma--"

"Dia yang menyenggol Papa di tol?" Inggit berbisik. Untunglah rumah mereka sudah sepi dari pelayat. Namun, sorot terluka Inggit yang semakin nampak membuat Diana ciut. Ia tergagap di depan ibundanya, tak tahu harus bagaimana dan berkata apa. Wajah syok Gery saat mengetahui hal yang sama terbayang di benaknya.

Sampai kemudian Inggit terduduk di sofa dan menangis, Diana masih mematung di depan kamar Citra.

Tangis itu reda dengan paksa. Inggit menggigit bibir, menatap putri sulungnya dengan sendu. "Gak penting seberapa sering dia berjanji untuk sembuh, Diana .... Kalau dia gak berubah, ya sama aja. Ujung-ujungnya, siapa yang akan tersakiti? Kamu. Kalau kamu mau bantu dia sembuh, oke, silakan! Tapi ceraikan dulu dia. Banyak laki-laki yang lebih baik dari Gery, Nak... tolong, kamu jangan dibutakan perasaan."

Diana mematung. Ia tak membantah, tak juga mengiyakan. Dee hanya berdiri di sana. Sosok mamanya terhalang oleh kabut air mata.

"Kamu pantas mendapatkan yang terbaik ... like you used to be."

"Do I?" Dua kata itu membuat suara tegarnya sedikit lepas kontrol. Namun, kali ini Diana membiarkan kesedihannya meluap, bebas, tak terhalangi keharusan untuk tegar dan kuat. "Setelah apa yang terjadi, do I still deserve the best?"

"Tanya dia." Tukasan itu diiringi arah pandang Inggit ke arah pintu. Ia tak membiarkan Diana membantah pendapatnya dengan lekas beranjak masuk kembali ke kamar Citra.

Dee mematung di sana, bersitatap dengan Axel di ambang pintu. Pria itu membawab empat kresek berukuran sedang berisi makanan untuk tahlilan malam nanti. Di dekat kakinya ada kresek merah berisi dus snack yang belum dilipat.

Axel menatapnya grogi. "Eh, little help?"

Diana tersadar, segera mengangkat kresek dus itu dan membawanya ke dalam. Axel mengekorinya, membawa empat kresek itu ke atas meja makan, sebagaimana Diana yang meletakan dusnya ke atas sana juga.

"Kamu dengar yang dibilang mama tadi, iya?"

"Hm?" Axel menoleh, nadanya berucapnya terdengar bingung. "Soal apa?"

Diana bimbang untuk melanjutkan obrolan kaku mereka dengan cerita tentang Gery dan restu mamanya terhadap mereka, atau diam saja.

Tapi, apa juga untungnya bagi Axel setelah tahu Gerylah yang mencelakakan Rahman, dan restu Inggit pada mereka berdua yang ternyata tak pernah memudar? Diana mengerjap, menggeleng membalas pertanyaan Axel. Akhir-akhir ini mereka tak bersapa. Siapa tahu Axel tengah pendekatan dengan perempuan lain? Diana jelas tak mau menjadi orang ketiga.

Axel menghela napas. "Gue cuma dengar do i deserve the best."

Sedikit saja, Diana mengangkat wajah. Melirik Axel dengan sendu. "Do I?"

"Iya." Sementara tangannya lanjut melipat satu dus, Axel melanjutkan pula jawabannya, "Iya, lo pantas dapat yang terbaik."

"Apa salah kalau aku jadikan yang udah kudapat itu sebagai yang terbaik?"

"Gak salah," Axel tersenyum, "itu namanya bersyukur. Gak ada yang salah sama mensyukuri sesuatu."

Jeda sejenak, Diana hanya mengangguk menyetujui ucapan itu. Rasanya cukup mereka mengobrolkan soal-soal detail seperti emosi dan perasaan.... Saatnya bergeser ke topik yang domestik.

"Kamu sengaja dari Jakarta ke sini?"

"Nop." Axel menyeringai. "Tugas dadakan sebenernya dari ibu bos."

"Bu Lin?"

"Bos beneran," Axel tersenyum tipis, "dia ada meeting dengan CEO toko buku Horison di Hotel Arya Duta. Gue ikut ke sini karena ada penulis yang pengen SP besar-besaran ke Drupadi, dan khusus request gue sebagai editor dia."

Diana hanya mengangguk. Tak berani bertanya penulisnya perempuan atau bukan, tak berani pula meneruskan pembicaraan bertopik pekerjaan itu. Dee merasa rendah diri. Di sela kalimat Axel barusan terselip optimisme dan positivitas, kerja keras dan kerja sama ... kepandaian, ketegasan, dan entah apa lagi yang dulu pernah ada dalam dirinya juga.

Sekarang, ke mana semua itu? Selepas bekerja setahun di Harian Jakarta, Diana sudah berurusan dengan Gery yang memintanya menjadi ibu rumah tangga saja. Diana yang enerjik rasanya lenyap tak bersisa. Namun, tetap saja tiba-tiba ia rindu bekerja lagi.

"Kalo lo tanya gue nginep sama bos atau enggak, yep, kami sehotel."

"Kenapa gak sekamar?" Dee iseng bertanya.

Pertanyaan itu ditanggapi dengan santai oleh Axel, "Nanti bukannya kerja, dia malah curhat semaleman ke gue."

Diana terkekeh, kiranya ia bisa menerka latar belakang Axel menjawab demikian. Sejak dulu orang itu memang pendengar yang baik. Tak hanya kepada teman, terhadap bosnya pun Axel berlaku sama.

Diana lanjut membantu Axel melipat dus snack itu.

"Dee, boleh tanya gak? It's a bit personal."

"Silakan." Dee mengangguk.

"Susah gak move on dari gue?"

Apa tuh maksudnya? Diana mengernyit, melirik Axel dengan aneh. "Kenapa nanyanya gitu?" Ya, kenapa? Dari sekian banyak topik yang bisa bergulir di antara mereka berdua, kenapa pertanyaan itu yang harus muncul?

"Bukan mau ngebahas soal kita," jelas Axel pelan-pelan, "cuma... gue mau jadiin apa yang lo rasain sebagai example aja. I'm a man, perasaannya beda."

"Contoh ke siapa?" Ke bu bosnya---

"Bos gue."

"Hmm...." Diana pura-pura berpikir walau sebenarnya ia mulai jengah dengan maksud pertanyaan Axel. Kenapa Axel tak sampaikan saja tanggapan sebenarnya terhadap masalah asmara si ibu bos? Rasanya orang itu tidak akan keberatan.

"How hard to move on from me?"

"Sebagai teman apa pasangan?"

Axel mendengkus. "Lo tau maksud gue, Dee...."

Diana terkekeh, menyembunyikan perasaannya yang mulai terganggu karena desakan itu. "Yang jelas, kelakuan kamu susah dilupakan."

"Jadi?"

"Jadi?"

"Jadi, susah? Terus kenapa lo jadinya sama Gery?"

Mungkin kalau kalimat itu diucapkan Axel dengan raut wajah dan nada yang serius, Diana akan memberenggutkan bibir dan balas berkata ketus. Axel berkedip dan tersenyum lebar setelah ucapannya. Genit. Membuat Diana tertawa.

"Maksudnya apa, nih?" Diana mendorong pria itu pelan, tawanya surut dengan cepat, tapi senyumnya masih tertinggal di sana. Entah kenapa Diana lega setelah tawa itu. Seperti sekian persen beban di dadanya lenyap hanya karena lelucon renyah Axel barusan.

"Gak bermaksud apa-apa." Tawa Axel turut surut, tapi masih tersenyum. "Tapi kalau menurut lo begitu, berarti gue harus memastikan lagi...."

Firasat Diana tidak bagus. Ucapan Axel yang menggantung mengisyaratkan kebingungan yang asing bagi Diana. "Memastikan apa?"

"Orang mabuk itu mungkin aja gak selalu jujur."

Senyuman kecut ditampakkan keduanya. Axel entah karena memikirkan apa, tapi Diana karena mengingkari dugaan Axel barusan. Setahunya, orang mabuk selalu berkata jujur.

Entah apa yang bos Axel katakan saat mabuk, tapi Diana yakin kalau ucapan itu jujur.

.

.

.

BERSAMBUNG ....

1
Laundry Cilla
wowwww
Laundry Cilla
❤️❤️
Laundry Cilla
sedihh yaa d part ini 🥺🥺
Laundry Cilla
keren ..aku lanjutt..penasarann ini.
lady El
tolong segera akhiri penderitaan Dee kak,,aku nggak tega
Iim
Imaginasi nya author GILAAAAAAAK
top banget
Iim
Sweet bgt bu lin & pak hasbi
Iim
Kerennnnnnn
Ga bisa ditebak ceritanya
Alin Ifa: Terima kasih! <3
total 1 replies
Iim
Novel keren kyk gini ga ada yg nge-like??
Hellowwwwww
Alin Ifa: Ayoo share sebanyak2nya ka 🙇😸 Thank you sudah membaca! Enjoy lebih banyak chapter dari TLMS yaps! :*
total 1 replies
lady El
semangat ka,,
lady El
lagi dong thor,,pngn lihat Dee bahagia,,😁😁
lady El
aduh Dee,,kmu ngapain lg sh?🙄🙄 kasihan Axel
lady El
Andah terlanjur baper,,
lady El
smg Diana c4 sembuh,,
lady El
semoga kamu bahagia Dee,,
lady El
berasa ikut gila ,,🤪
lady El
oh Dee,,,,😢
lady El
Axel Diana,, cinta gila,,
lady El
tragis,,tp jangan bunuh diri donk dee itu perbuatan yg dbenci Tuhan,biarlah malaikat yg menjemput mu dan membawa mu ke syurga,,
😭😭😭😭😭
lady El
adakah kebahagiaan untukmu Dee,,,😢😢
Alin Ifa: Huhuhuuu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!