Indonesia
NovelToon NovelToon
Seseorang Sepertimu

Seseorang Sepertimu

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa-Percintaan bebas / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Poppy Indriana

Namaku Zailen, anak semester akhir fakultas ekonomi yang sedang sibuk dengan tugas akhir sekaligus kegiatan tari yang ada di kampus. Laki-laki dengan sejuta kesongongannya yang berhasil membuatku jatuh cinta dengannya. Bagaimana mungkin, seorang Zailen yang cuek dan jutek kepada laki-laki ini bisa dibuat jatuh cinta oleh seorang laki-laki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poppy Indriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Suatu hari, ketika aku selesai latihan.

"Zai, kamu masih marah sejak kejadian itu?", tanya mas Reza

Aku hanya terdiam, mulai merasa muak dengan segala sikapnya.

"Zai, kamu kenapa selalu menghindar?", tanya mas Reza

"Mas Reza harusnya tahu diri dong, aku yang waktu itu rela jauh-jauh datang untuk jenguk mas Reza yang katanya kritis dan ternyata mas Reza baik-baik aja, itu bikin waktuku terbuang sia-sia tau nggak sih", jawabku

"Iya aku tahu aku salah udah nyuruh Shinta bohong sama kamu dan udah bikin kamu kecewa, aku juga udah usaha buat bisa kamu maafin", kata mas Reza

"Udah deh mas berhenti, berhenti ngelakuin apapun buat aku karena itu nggak akan merubah perasaanku", kataku kemudian menuju parkiran meninggalkan mas Reza

Semua mengalir begitu saja, perlahan mas Reza mulai jarang menghubungiku lagi semenjak dia mengaku kalau dia sengaja menyuruh mbak Shinta berbohong kepadaku.

Aku memang tidak marah secara langsung dengan mbak Shinta, karena dia seniorku dan aku merasa tidak enak dengannya.

Aku tahu jika mbak Shinta sudah kenal lama dengan mas Reza, dan mungkin saja mbak Shinta hanya ingin membantu melancarkan usahanya untuk mendekatiku.

Lalu mengapa mas Reza baru berani jujur, sedangkan sudah berjalan cukup lama.

Hanya karena dia ingin sekali memilikiku, dia melakukan segala cara yang malah membuatku merasa risih dengannya.

Memasuki semester 6.

Aku jarang lagi melihat mas Kenzi di sekretariatnya, mungkin karena mas Kenzi sibuk dengan skripsi.

Tetapi aku masih bisa melihatnya di kosnya, ketika dia berangkat ke kampus atau mau pergi, aku masih bisa melihatnya dibalik jendela kosku.

Hari ini ulang tahunku, ayah dan mas Zaki berencana mengunjungiku.

"Zai, shareloc aja cafenya. Sepuluh menit lagi kayaknya nyampe", kata mas Zaki lewat telefon

"Cuma berdua sama ayah?", tanyaku

"Rame-rame kok, ada Melki Disya juga", kata mas Zaki

"Oh yaudah", jawabku

Aku segera bergegas make up dan berangkat menuju cafe.

Sesampai di cafe yang masih cukup sepi, aku reservasi tempat duduk yang cukup untuk banyak orang.

Mereka sampai, satu per satu keluar dari mobil.

Ayah, mas Zaki, tante Mira, om Andi, Melki, Disya dan mas Luis.

Apakah aku salah melihat? tidak dia benar mas Luis.

Tante Mira membawakan kue ulang tahun, Melki yang menyalakan lilinnya.

Mas Zaki membawa bingkisan kado, dan mas Luis membawa sebuket bunga matahari yang nampak lucu.

Hari ini perayaan ulang tahunku, banyak panjatan doa yang aku amini.

Berlanjut dengan makan, mengobrol masing-masing.

Aku yang duduk dekat dengan Melki, seketika terkejut dengan ucapannya.

"Mbak Zailen mau nikah?", tanya Melki dengan suara lirih

"Enggak, kata siapa?", tanyaku balik

"Tadi mereka ngobrolin soal persiapan tunangan", jawab Melki

"Dimana?", tanyaku

"Tadi di mobil pas mau kesini", jawab Melki

"Oh mungkin mas Zaki mau tunangan", kataku

Selesai makan, kita berlanjut ke tempat wisata.

Aku yang berjalan beriringan dengan mas Zaki, menanyakan tentang pembahasan mereka.

"Mas Zaki masih sama yang kemarin?", tanyaku

"Siapa?", tanya mas Zaki balik

"Yang kata ayah itu", jawabku

"Udah putus lama", jawab mas Zaki

"Trus mas Zaki mau nikah sama siapa?", tanyaku

"Hahaha, kenapa kamu nanya gitu?", tanya mas Zaki balik

"Kata Melki kalian lagi ngobrolin soal persiapan tunangan", jawabku

"Oh itu, nanti sih kamu bakalan tau", kata mas Zaki

"Jawab aja kenapa sih", kataku

"Enggak ah, ayah nanti yang bilang sendiri", kata mas Zaki

Kemudian kita beristirahat sambil makan dan mengobrol.

"Zai, papanya mas Luis berencana untuk melamar kamu buat mas Luis", kata ayah

Seketika aku langsung tersedak kue yang aku makan, terasa berat untuk ditelan setelah mendengar ucapan ayah.

Mas Zaki dengan sigap memberiku minum.

"Aku kan masih belum lulus yah", kataku

"Tunangan dulu Zai, kayak tante Mira sama om Andi dulu juga gitu", kata tante Mira

Benar-benar mengagetkanku, sebuah rencana yang tanpa sepengetahuanku.

Mas Luis hanya terdiam menunduk, tanpa menatapku.

"Aku butuh waktu buat itu", kataku

"Zai", kata ayah

"Tunangan dulu aja Zai", kata tante Mira

"Kamu nikahnya setelah lulus", kata ayah

Kalimat-kalimat yang malah menambah beban buat aku.

"Nggak papa kok Zai, kamu pikirkan aja dulu", kata mas Luis dengan tersenyum kepadaku

Mereka semua menoleh ke arah mas Luis.

"Kamu mungkin juga lagi pusing dengan tugas-tugas kuliah, nggak usah jadi beban", kata mas Luis

"Tapi papa kamu maunya semester ini tunangannya", kata ayah kepada mas Luis

"Kesiapan Zailen lebih penting buat saya om", jawab mas Luis

"Zai, udah waktunya buat kamu", kata ayah

"Kenapa nggak mas Zaki aja yang ayah jodohkan", jawabku

"Mas Zaki cowok, dia bisa nyari sendiri", kata ayah

"Aku juga bisa nyari sendiri", jawabku dengan cukup kesal

Semua hening, satu per satu mulai menunduk.

Disya dan Melki datang menghampiri.

"Ayo mama, kita lihat dinosaurus", kata Disya kepada tante Mira

"Iya ayo", kata tante Mira kemudian pergi

"Om Andi mau nyusul juga", kata om Andi juga pergi

"Ayah mau ke toilet", kata ayah kemudian pergi

"Ayo Mel ikut mas Zaki", kata mas Zaki mengajak Melki kemudian mereka juga pergi

Hanya ada aku dan mas Luis, sama-sama terdiam merasa canggung untuk memulai obrolan.

"Maaf untuk ketidaknyamanan ini Zai", kata mas Luis

Aku hanya terdiam, tidak tahu apa yang harus aku katakan.

"Aku juga awalnya kaget dengan rencana papa dan ayah kamu, tapi aku hanya bisa mengikuti apa kata ayah Zai", kata mas Luis menatapku

"Tetapi jika memang kamu tidak mau, nggak papa kok Zai. Kamu cantik dan pintar, banyak di luar sana yang bisa dapetin kamu", kata mas Luis kemudian menunduk

Mas Luis memang selalu mengikuti kemauan papanya, hingga cita-citanya menjadi desainer pun dilupakannya karena papanya memintanya untuk fokus dengan dunia entrepreneur.

Mas Luis tidak pernah pacaran, sama sepertiku. Ah tidak, aku pernah pacaran dengan Endrew meskipun harus berakhir dengan tidak mengenakkan.

Mas Luis sangat tekun dalam bekerja, walaupun bukan pekerjaan yang ia harapkan.

Mas Zaki bisa membuka cabang kedai lain juga karena kerja sama dengan mas Luis yang sangat baik.

Mas Luis cukup menjadi sosok yang pengertian walaupun ia tidak begitu banyak bicara.

Berkali-kali aku mengabaikan pesannya yang sering ia kirimkan, namun tetap menunjukkan kepada mas Zaki jika dia masih baik-baik saja.

Ketika aku membantu di kedai, yang paling perhatian kepadaku memang mas Luis dibandingkan dengan mas Zaki yang lebih sering bodo amat dengan adiknya.

Mas Luis orangnya baik, jiwa sosialnya tinggi, tekun, optimis, dan selalu humble dengan semua orang.

1
Himawari
Lanjut terus Thor. ☺️ Jangan lupa mampir dan like novel aku ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!