Dari dendam menjadi Cinta, dari rahasia yang tersembunyi rapat hingga terungkapnya bahwa dirinya bukanlah manusia melainkan seorang siluman.
Lantas apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah cinta ini bisa bertahan untuk selamanya atau justru terbongkarnya jati diri yang di rahasiakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutraJuli1302, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Kalah
Vahira bangun dari jatuhnya dengan pandangan mata terus menatap Syura. Syura yang menyadari hal itu, dia hanya diam dengan tatapan mata tajam mengarah ke Vahira.
"Kali ini kamu bisa bahagia Syura, namun suatu saat nanti aku akan buat kamu bertekuk lutut di hadapan ku," ucap Vahira dengan tegas.
"Kita lihat, apa kamu bisa melakukan hal itu?" tantang Syura kepada Vahira.
Vahira pergi dari hadapan Syura, dia terlihat sangat marah dan berniat balas dendam lagi dengan Syura.
Di rumah Abdi, Abdi yang terluka dia pulang ke rumah. Dia terus memikirkan ular yang menyerang dirinya.
"Kenapa aku merasa mengenal siluman ular yang menyerang aku tadi? Aku seperti pernah melihat ular itu, tapi dimana? Dimana?" ucap Abdi dengan berjalan masuk ke dalam rumah.
Saat dia masuk ke dalam rumah, Adnan keluar dari kamar ibunya dan berpapasan dengan Abdi. Dia terkejut melihat ayahnya berantakan dan terluka.
"Ada apa Ayah? Apa yang terjadi dengan Ayah?" tanya Adnan dengan khawatir.
"Tidak papa," jawab Abdi.
Mendengar jawaban ayahnya, Adnan kesal. Dia menarik kerah pakaian ayahnya dan menuduh ayahnya melakukan sesuatu yang jahat kepada Syura.
"Tidak mungkin tidak papa, apa ayah melakukan sesuatu dengan Syira? Dia tidak ada di rumah ayah, dimana Syira?" bentak Adnan dengan nada tinggi.
Dia memegangi kerah pakaian Abdi dengan erat. Abdi yang mendengar apa yang dikatakan oleh Adnan, dia tidak menjawab. Tiba-tiba, dia mengingat masa lalu ketika dia membunuh Syura. Dia melihat kalau ekor dari Syura dan siluman ular yang menyerangnya beberapa saat lalu adalah siluman yang sama.
"Ayah!" Bentak Adnan melihat ayahnya tidak menjawab dirinya.
Bentakan itu terdengar sampai di kamar ibunya, sontak Ibu Adnan yang kala itu sedang tertidur. Dia terbangun dari tidurnya dan dengan perlahan dia bangun dari terbaring nya untuk menghampiri suara teriakan Adnan.
"Ayah tidak tahu istri kamu Adnan, bukannya dia dengan kamu di dalam kamar," jawab Abdi dengan tegas.
"Ayah jangan bohong, Syura tidak ada di rumah. Aku sudah mencari dia kemanan-mana. Ingat Ayah, kalau sampai terjadi sesuatu dengan Syura. Ayah akan menanggung akibatnya," ancam Adnan kepada Abdi.
"Ada apa ini Mas?" sahut Ibu Adnan dengan di bantu Syura berjalan keluar dari kamar.
Melihat Syura berdiri di samping ibunya, Adnan terkejut. Tidak hanya Adnan, Abdi pun juga terkejut dengan kehadiran Syura yang secara tiba-tiba.
Adnan bergegas menghampiri Syura, dia memegangi Syura dan memeriksa keadaan Syura dengan panik.
"Kamu tidak papa kan? Tidak ada yang menyakiti kamu kan?" tanya Adnan dengan khawatir.
"Tidak Mas, aku baik baik saja. Ada apa? Dan ada keributan apa ini?" jawab Syura.
"Suami kamu, dia menuduh aku menyakiti kamu," sahut Abdi.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Abdi, Syura melihat ke arah Adnan. Di susul ibunya yang melihat Adnan.
"Adnan, Syira ada di dalam kamar dari tadi. Dia tidak pergi kemana mana," jawab Ibu Adnan dengan lirih.
"Iya Mas, aku memang tidak pergi kemana mana. Aku ada di dalam kamar bersama kamu dan mama," sahut Syura lalu dia tersenyum.
Ketika dia tersenyum, dia mengingat momen sebelum ibunya keluar dari kamar. Dimana di saat itu, Ibu Adnan baru saja menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur, lalu dengan bentuk ular, Syura masuk ke dalam kamar melalui jendela dan mengubah dirinya menjadi manusia. Setelah itu dia menghampiri ibu mertuanya dan membantu ibu mertuanya.
Keadaan kembali seperti semula, setelah Syura membayangkan caranya masuk ke dalam kamar ibunya. Adnan sangat bingung karena dia merasa Syura memang tidak berada di dalam kamar ibunya.
"Aku yakin, tadi tidak ada kamu di kamar Mama. Tadi hanya aku dan mama yang ada di dalam kamar," ucap Adnan dengan kukuh.
"Mas, mungkin kamu capek. Lebih baik kamu istirahat saja, aku dari tadi memang di dalam kamar dengan kamu dan kamu." Tegas Syura, untuk membuat Adnan percaya.
"Iya, mungkin aku memang kelelahan saja."
Setalah mengatakan hal itu, Adnan membantu Syura membawa ibunya masuk ke dalam kamar. Saat Adnan, Syura dan istrinya pergi, Abdi menatap tajam kepergian mereka bertiga.
"Aku merasa Syura memang tidak ada rumah ini beberapa saat lalu, aku juga yakin dia adalah siluman ular yang aku habisi dulu," ucap Abdi.
Di goa, dengan langkah tertatih Vahira masuk ke dalam goa. Dia melihat orang misterius tengah meditasi di atas batu.
"Maaf Tuan, tolong.. tolong obati luka saya, " ucap Vahira dengan sesekali mengerang kesakitan dan memegangi dadanya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Vahira, orang misterius itu tetap diam. Dia justru menyerang Vahira dengan kekuatan hingga membuat Vahira jatuh tersungkur dan terluka parah.
Melihat kemarahan orang misterius itu, Vahira terus memohon kepada orang itu untuk di beri pengampunan dan permohonan maaf. Dia juga memohon agar orang misterius itu tidak menyerangnya lagi.
Permohonan Vahira di kabulkan oleh orang misterius itu. Dia tidak menyangka Vahira lagi, namun dia juga tidak mengobati Vahira. Dia hanya pergi dengan meninggalkan sebuah botol yang sama dengan botol sebelumnya.
Melihat hal itu, Vahira berusaha keras bangun dari jatuhnya. Dia berjalan merangkak untuk mengambil botol itu, ketika dia berhasil mengambil botol itu. Dia meminum ramuan yang ada di dalam botol itu dan seketika dia langsung jatuh dan pingsan tidak sadarkan diri.
Bersambung.....
Jangan lupa like, komen, dan tambahkan ke favorit 🥰