Melati rekan kerja Leoni di sekolah Yayasan Gonzaga, menyukai dan terobsesi dengan Wiliam yang staf personalia di yayasan tersebut. Segala sesuatu dilakukannya untuk dapat membuat Wiliam senang walaupun perasaannya tidak mendapat tanggapan dari sang pujaan, malah Wiliam jatuh hati pada Leoni yang seorang guru baru di yayasan tersebut. Wiliam tahu bahwa Leoni adalah calon istri bos nya namun dia tetap melancarkan aksi untuk menjebak Leoni, pada akhirnya jebakannya itu malah yang membuat dia sendiri yang terjebak di dalam permainan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filychia Lala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku mencintai
Wiliam menatap ketiga orang lawan bicara secara bergantian, dia sendiri bingung harus berkata apa pada mereka atau bagaimana menanggapi permintaan kedua atasannya itu yang memintanya untuk bertanggung jawab.
Melati pun sama dengan Wiliam, dia bingung harus menaggapi bagaimana kepada kedua atasannya itu, walaupun dia sebenarnya menyukai Wiliam namun dia tidak mau menikahi pria itu dengan cara yang seperti ini, dia tahu Wiliam tidak mencintainya maka kalau sekarang mereka menikah maka yang akan tersiksa adalah dirinya, lebih baik dia mengambil resiko dari sekarang.
“Apa yang telah dilakukan oleh Wiliam pada Melati semalam adalah hal yang tidak terpuji, perbuatan tercela dan tidak dapat di kompromi sedikitpun, untuk itu kami berharap Wiliam secepatnya pergi ke rumah orang tua Melati dan melamarnya sebelum ada hasil dari perbuatan kalian itu pada tubuh Melati.” Kata Pak Lukas, dia menatap Melati dan Wiliam secara bergantian.
Melati paham apa yang di katakan oleh pak Lukas yaitu mengharapkan Wiliam menikahinya, secara spontan dia langsung menghitung masa suburnya dan dia yakin saat ini dia lagi pada masa tidak subur sehingga dia yakin perbuatan Wiliam semalam tidak akan berdampak pada dirinya untuk saat ini, urusan pria yang akan menikah dengannya di masa depan itu nanti diurus berikut kalau mau atau tidak dengan wanita yang tidak suci lagi, yang terpenting adalah saat ini menyelamatkan diri dari Wiliam. “Tidak mau.” Wiliam dan Melati menjawab secara bersamaan.
“Hah?” Pak Lukas dan George bingung dengan kedua orang yang kompak menolak perkataan pak Lukas yang meminta Wiliam untuk segera melamar Melati.
“Maksud kalian apa?” Pak Lukas mengkerutkan kedua alisnya pertanda bingung dengan ekspresi kedua orang yang berbuat kesalahan.
“Wiliam kamu harus bertanggung jawab pada Melati karena perbuatanmu, kamu sudah berani menidurinya berarti kamu harus menikahinya.” Kata Pak George jelas.
“Apa menikah? Aku tidak mau menikah dengannya walaupun aku mencintainya, aku tidak mau menikah dengannya karena terpaksa, bisa saja aku disiksa olehnya dan aku akan semakin sengsara.” Batin Melati.
“Tapi pak.” Wiliam berusaha membantah.
“Tidak ada tapi-tapian.” Pak Lukas dan pak George tiba-tiba jadi kompak.
Wiliam menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, rasanya saat ini dia menjadi orang bodoh yang hidupnya ditentukan oleh kedua atasannya.
“Pak bisa kah aku bicara sebelum kalian mengambil keputusan untuk menikahkan aku dengan laki-laki bejat ini? Aku punya hak untuk bicara kan? Karena dalam hal ini aku adalah korbannya.” Tanya Melati dengan hati-hati namun penuh penekanan dan ekspresi marah bercampur sedih.
“Kamu mau bicara apa?” Tanya pak George dengan lembut walaupun sebenarnya dia tahu bahwa pasti Melati akan mengatakan bahwa dia akan menolak permintaan mereka untuk menikah dengan Wiliam.
“Aku memang sangat mencintai Wiliam dan dia juga sangat tahu itu, benarkan Wil? aku sangat pingin untuk hidup bersamanya selamanya.” Melati memulai pembicaraan dan pengakuan itu membuat kedua pria paru bayah yang merupakan atasannya di kantor menjadi kaget mendengarkan perkataannya itu, begitu juga dengan Wiliam.
“Melati, jangan bilang kamu benar-benar ingin menikah denganku?” tebak Wiliam memotong perkataan Melati yang belum dia selesaikan.
“Iya, aku memang ingin sekali menikah denganmu.” Tambah Melati yang membuat Wiliam semakin emosi mendengarkan perkataannya.
“Jangan-jangan kamu yang sengaja menjebakku?” tebak Wiliam lagi.
“Maksudmu?” tanya Melati pura-pura tidak mengerti.
“Iya, jangan-jangan kamu sengaja menukar kamarmu dengan Leoni, karena kamu berpikiran pasti aku akan menjebak Leoni sehingga kamu menyuruh Leoni dan Paula tidur di kamarmu agar kamu bisa tidur di kamar Leoni. Kamu pasti sudah mengecek kamar yang akan ditempati terlebih dahulu kan? Dan apa yang ada dalam pemikiranmu jadi kenyataan, aku masuk ke kamar ini dan kita tidur bersama. Kamu pasti senang kan sekarang bisa dituntut untuk menikah denganku?” Kata Wiliam dengan marah.
“Aku bukan orang licik dan jahat sepertimu, kamu yang kebiasaan menjebak dan merekayasa cerita sehingga kamu punya pemikiran seperti itu, jelas-jelas bahwa itu semua rencanamu, sekarang kamu memutar balik cerita dan mau menyalahkan aku?” Bantah Melati. “Aku belum selesai bicara.” Bentak Melati saat melihat bibir Wiliam yang hendak mengeluarkan kata-katanya lagi kemudian menatap pak George dan pak Lukas agar mereka bisa membatasi perkataan Wiliam dan memberi kesempatan pada dirinya untuk bicara.
Pak George memberikan tatapan tajam pada Wiliam pertanda memberi isyarat agar diam.
“Lanjutkan!” Pak Lukas menatap Melati dan memberikan ijin untuk melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
“Apa yang aku katakan sebelumnya adalah benar adanya, aku mencintai Wiliam dan aku ingin menikah dengannya tapi itu dulu, itu sebelum kejadian semalam terjadi di antara kami.” Lanjut Melati. “Pasti kalian berpikir bahwa seharusnya ini menjadi kesempatan bagiku untuk mendapatkan Wiliam, iya kan Wil? Kamu juga punya pemikiran seperti itu sehingga menuduhku barusan. Maaf sekarang aku tidak ingin menikah denganmu.” Jelas Melati.
“Kenapa begitu Mel?” Tanya Pak Lukas.
“Sebelumnya, aku pernah berusaha untuk mendapatkan cinta Wiliam sehingga aku rela melakukan apapun untuk dapat bersama dengannya, tapi aku tidak pernah menyangka kalau dia akan se tega ini padaku, dia tega memperkosaku dengan kasar dan dia menganggapku wanita lain. Sungguh hatiku sakit sekali rasanya, kejadian ini membuatku sadar kalaupun aku menikah dengannya aku pasti tidak akan pernah bahagiah dengannya, apalagi karena dipaksa. Yang ada malah mungkin aku akan menderita dibuatnya karena wanita yang dia harapkan seharusnya bukan aku melainkan mba Leoni.” Tambah Melati mencurahkan isi hatinya.
“Bagaimana kalau kamu hamil? Kamu tidak kasihan dengan anakmu nanti tidak punya ayah?” Tanya Pak George yang sudah memprediksikan masa depan.
“Aku sangat yakin kalau aku tidak akan hamil, tapi sekiranya pun aku hamil lebih baik aku menjaga dan merawat anaku sendirian daripada dia memilik ayah tapi ayahnya tidak mencintainya dan ibunya.” Tambah Melati.
“Kau!” perkataan Melati memang logis namun semakin membuat Wiliam geram.
“Kenapa? Apa salah yang aku katakan?” Tanya Melati menantang Wiliam dengan tatapan mematikan.
Wiliam merasa harga dirinya sebagai laki-laki di injak-injak oleh Melati, apalagi saat berbicara mengenai anak, dia tahu perbuatannya ini dia lakukan bukan atas dasar suka namun tidak mungkin juga dia mengorbankan anak yang jelas dia tahu adalah darah daginggnya.
“Kalau seandainya kamu hamil….” Wiliam belum sempat menyelesaikan perkataannya.
“Aku tidak akan hamil, kalaupun hamil, aku akan mencarikan ayah yang bertanggung jawab bagi anakku. Kamu sendiri juga tidak mau menikah denganku kan?” Kata Melati.
“Kamu beraninya!” Bentak Wiliam yang kini tidak sadar apa yang dia bicarakan, sebenarnya dia mau menikahi Melati atau tidak. Di sisi lain dia tidak mau menikahi Melati karena tidak memiliki perasaan apapun pada wanita itu namun di sisi lain dia menyadari perbuatannya itu bisa menghasilkan anak di rahim Melati walaupun nampak menurut Melati dia tidak akan hamil, entah atas dasar apa dia berkata seperti itu.
jdjnxhrj
hduycufjfifumfuthjjdjky
hdyydydnchjfufugujfitijttjfiufyfuu
uuftjjiyyiutyuuudursfvjjjjkgyk
entah kenapa aku bisa menulis kata2 ini guysss😭😭😭