Gus Fatih diberikan pilihan oleh kedua orang tuanya. Menikahi seorang gadis sholeha yang merupakan seorang ning atau menikahi seorang wanita malam.
Kira-kira siapa yang akan gus Fatih pilih? Apakah gadis sholeha yang pandai agama, atau seorang wanita malam yang hidupnya tak tahu arah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skyl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~Wanita Pilihan Gus Fatih~ part 17
Mendadak Fatih ada urusan di luar kota membuat lelaki itu harus pergi sekarang. Tapi Fatih janji pulang secepatnya kepada sang istri.
"Mas enggak akan bermalam, kok sayang. Atau kamu mau ikut mas? Sekalian kita bulan madu di Jogja?" tanya Fatih.
Saat ini Fatih tengah menggendong istrinya yang tiba-tiba saja ngambek karena dia harus keluar kota. Padahal mereka masih pengantin baru.
"Emang boleh? Nanti kamu enggak fokus lagi," jawab Inara mendongak ke atas menatap manik mata suaminya.
"Jelas sih mas enggak akan fokus, sebab ada kamu mana bisa aku fokus."
Inara mengerucut bibirnya. Fatih pun langsung mengecupnya dab menurunkan istrinya di pinggiran ranjang.
"Mau ikut apa enggak, Humaira?" tanya Fatih.
"Enggak deh mas, mas pergi aja sendiri. Lagian kalau aku ikut malahan repotin mas dan enggak fokus sama pekerjaanya, lagian mas enggak bermalam kan, di sana?"
Fatih mengangguk, seraya tersenyum ia mengusap dengan lembut kepada sang istri untung saja istrinya itu bisa mengerti keadaannya.
"Yaudah jaga diri baik-baik di rumah, Hem? Habis mas pulang dari jogja, kita bulan madu di tempat yang kamu bilang."
"Benaran? Nanti perginya naik motor kan?" tanya Inara, Fatih berdehem.
Hal itu membuat Inara mencium pipi Fatih membuat Fatih terkekeh dan beranjak berdiri dari jongkoknya.
"Yaudah bentar aku kemasin pakaian kamu dulu." Inara membuka lemari lalu mengambil tas ransel yang berukuran sedang.
Fatih memang menyuruhnya untuk mengizi pakaian dua pasang saja, sebab dia tidak akan lama di jogja ia akan langsung pulang setelah ini.
Setelah semuanya beres, Fatih menarik tangan istrinya dan memeluknya dari belakang. Hal itu membuar Inara tersenyum dab mengusap pipi suaminya dari depan.
Tok-tok!
Saat sedang asik bermesraan, pintu di ketuk membuat Fatih melepaskan pelukannya dan membuka pintu kamar. Di sana ada umi Tifa yang memanggil mereka berdua untuk turun sarapan.
"Udah selesaikan siap-siapnya, nak? Kalau sudah ayo turun abi dan Devano, Alfin sudah menunggu kalian."
"Iya umi, sebentar lagi kami turun," jawab Fatih membuat umu Tifa mengangguk dan pergi dari sana.
Setelah uminya pergi. Fatih kembali menutup pintu kamar sdab menyuruh istrinya untuk berhijab dan memakai cadarnya.
ෆ╹ .̮ ╹ෆෆ╹ .̮ ╹ෆ
di meja makan, mereka bercanda riang membuar suasana kembali hidup datangnya keduanya sepupu Fatih yang sepertinya akan menatap cukup lama di sana untuk kuliah.
"Andai Fatir juga ada, mungkin akan sereceh mereka. Gimana iya keadaan anak kita, bih? Dia sehat-sehat kan di luar sana? Apa dia sudah makan? Apa dia mengurus dirinya sendiri?" tanya umi Tifa.
Fatir orangnya periang, suka menghidupkan suasana dikeluarga mereka, tapi kini lelaki jadi lelaki yang berwajah dingin dan bersikap ketus. Itu semua terjadi saat uminya melakukan kesalahan, dan abinya ketahuan selingkuh dengan istri rekan kerjanya sendiri.
Alasan mengapa Fatir sebenci itu pada orang tuanya? Entahlah, apa alasannya, padahal Fatih sudag maafkan mereka.
"Kak, boleh request enggak?" tanya Devano membuat Inara dan Fatih menatapnya. "Request, nanti keponakan gue kembar lima aja."
Inara keselek mendengar ucapan remaja itu barusan. Kembar lima? Gimana nanti besarnya perutnya? Kembar dua aja ia enggak kepikiran untuk memilikinya.
"Boleh juga tuh ide, kamu Dev," jawab Fatih. "Sayang nanti kita bikin anak kembar lima."
"Enggak apa-apa sih, asalkan kamu yang hamil terus yang lahirin aku manut aja," ucap Inara membuat mereka kembali tertawa keras.
"Udah-udah, mending kita serius makan. Kalian bercanda terus dari tadi," ucap abi Farhan.
Mereka pun menyelesaikan sarapan. Dan habis itu abi Farhan serta Fatih pamitan untuk pergi.
"Jaga baik-baik di rumah, Hem? Kalau mas udah sampe di Jogja mas bakal ngasih kabar ke habibatinya, mas." Fatih mencium begitu lama kening istrinya.
Inara mengangguk dan mencium punggung tangan Fatih setelah itu melompat dan mencium pipinya.
"Makanya tinggi, jangan jadi kurcaci," ledek Fatih membuat istrinya mengerucut bibirnya. "Yaudah antar mas ke bawa, atau mas tunda aja dulu? Kita main sebentar," goda Fatih membuat Inara mencubit perutnya dan mendorongnya keluar dari kamar.
Inara melambaikan tangannya saat Fatih dan Farhan sudah berada di atas mobil dan akan segera pergi.
"Umi jagain istri Fatih, iya," teriak Fatih pada uminya.
"Iya deh bawel. Perasaan dari tadi kamu bilang gitu mulu padahal kamu pergi cuma sehari," sahut umi Tifa.
Fatih pun menyengir dan kembali melambaikan tangannya. Mobil pun keluar dari perkiraan rumah. Kepergian keduanya umi Tifa dan Inara masuk ke dalam rumah.
Kini tinggal mereka di rumah. Devano dan juga Alfin sudah berangkat ke kampus baru saja.